
Chelsea mondar mandir di depan ruangan UGD menunggu dokter keluar dan berharap memberi kabar kalau Reno baik-baik saja.
Chelsea menyesal mengabaikan pesan yang dikirim oleh Reno. Setelah mendapat kabar dari Mama kalau Reno mengalami kecelakaan mobil dalam perjalanan dari bandara menuju rumah, Chelsea baru memeriksa pesan yang masuk.
Ternyata dalam pesannya Reno meminta Chelsea menjemputnya sore ini karena ada yang ingin dibicarskan.
Hati Chelsea semakin gelisah melihat wajah dokter terlihat sendu saat keluar dari ruangan UGD.
“Maaf.”
Satu kata yang keluar dari mulut dokter membuat jantung Chelsea tidak karuan dan tanpa minta ijin pada dokter, Chelsea melesat masuk ke dalam ruangan UGD.
Air mata tidak mampu berhenti berderai membasahi wajahnya. Chelsea mendekati tubuh Reno yang sudah ditutupi kain putih.
“Reno ! Reno bangun, jangan tinggalkan Sea seperti ini. Reno bangun !”
Tangisan Chelsea semakin kencang saat tubuh itu tidak juga bereaksi bahkan degupan di dadanya sudah tidak terasa lagi.
“Reno bangun !” pekik Chelsea di sela isak tangisnya.
“Aku d sini, Sea.”
Chelsea menajamkan telinganya dan perlahan membuka matanya yang terpejam. Wajah Reno terlihat sedang berbaring di sampingnya.
Dengan mata membola Chelsea beranjak bangun dan melihat ke sekeliling ruangan. Ruangan ini bukan kamar tidurnya ? Atau justru Chelsea yang sudah meninggalkan dunia ?
Chelsea kembali mengedarkan pandangannya dan aroma khas yang disukainya begitu tajam menusuk hidungnya. Wangi kamar Reno ! Oh No !
Chelsea menoleh untuk memastikan kalau pria yang dilihatnya terbujur kaku di atas brankar masih duduk di sampingnya.
Dahinya berkerut saat melihat senyum mengembang di wajah pria itu. Perlahan tangan Chelsea terulur dan menyentuh pipi Reno. Terasa hangat dan nyata. Berarti kematian Reno justru hanya mimpi ?
“Sea, kamu barusan mimpi,” ujar Reno sambil meraih jemari Chelsea yang masih betah di pipinya, lalu menggenggamnya dengan erat.
“Kenapa aku bisa ada di kamarmu ?” tanya Chelsea dengan dahi berkerut.
“Seharusnya aku yang tanya Sea, sedang apa kamu di kamar aku ? Mama bilang sehabis makan malam di sini, kamu minta ijin masuk kamarku dan sejam kemudian Mama melihatmu sudah tertidur pulas di atas ranjang,” sahut Reno sambil terkekeh.
“Maaf, aku nggak bermaksud…”
Cup !
__ADS_1
Reno mencium pipi Chelsea yang langsung merona dan menundukkan wajahnya.
“Ini sudah jam 2 pagi, nggak perlu balik ke rumahmu. Kedua orang tua kita sudah tahu kalau kamu tidur denganku di sini. Papi percaya padaku dan kalau sampai aku berani melanggarnya, Papi akan membuat suram masa depanku,” ujar Reno sambil tertawa.
Reno mengambil botol air mineral yang ada di nakas dan menyuruh Chelsea minum.
“Aku tidur di kamar lain aja,” Chelsea sudah menyibakkan selimut dan bersiap turun.
“Tidak usah ! Temani aku malam ini, aku janji nggak akan berbuat yang aneh-aneh. Aku hanya ingin kamu menemaniku.”
Chelsea terlihat ragu saat Reno menepuk-nepuk ranjang yang sempat ditiduri Chelsea. Akhirnya gadis itu menurut dan Reno langsung menarik Chelsea ke dalam pelukannya.
“Biarkan begini dulu, kamu pasti akan lebih tenang setelah mimpi buruk,” ujar Reno saat Chelsea berusaha melepaskan pelukan Reno namun pria itu malah semakin mengeratkannya.
“Kayaknya aku malah nggak bisa tidur, Reno.”
“Kenapa ?” Reno melerai pelukannya dan menatap Chelsea dengan alis menaut.
“Kita belum pernah sedekat ini apalagi tidur seranjang berdua. Jantungku rasanya nggak enak jadi mana bisa tidur dengan tenang.”
Reno tertawa dan mengusap-usap punggung Chelsea lalu kembali memeluknya.
Chelsea menghela nafas dan menuruti ucapan Reno sambil berharap ia bisa tidur kembali dalam pelukan Reno.
Reno tersenyum dengan mata terpejam karena tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari mulut Chelsea.
***
Sejak membuka mata sampai di dalam mobil Reno yang akan mengantarnya ke kantor, Chelsea lebih banyak diam.
Malunya bukan kepalang saat turun dari kamar Reno, Papa dan Mama masih duduk di meja makan padahal Chelsea keluar kamar sekitar jam 8.
Hari ini dia bangun kesiangan, biasa jam 6 pagi, tadi baru jam 7.30. Chelsea sempat protes ke Reno yabg tidak membangunkannya. Saat Chelsea membuka mata, Reno sudah mandi dan berpakaian rapi, sudah siap ke kantor.
Chelsea hanya menyapa dan menolak ajakan sarapan bersama dengan alasan harus segera bersiap-siap karena sudah terlambat ke kantor.
“Sea,” Reno meraih jemari Chelsea karena sejak tadi gadis di sebelahnya hanya diam dan membuang pandangan ke jendela samping.
“Kenapa kamu nggak bangunin aku pas kamu bangun ? Kan aku nggak enak sama Papa Mama,” protes Chelsea menatap Reno dengan wajah kesal.
“Mana mungkin aku membuang kesempatan bisa menatapmu sampai puas di atas ranjangku pula,” sahut Reno sambil tertawa.
__ADS_1
“Kamu sampai jam berapa semalam ? Aku ingat masih mengecek email masuk sekitar jam 9.30 terus tertidur.”
“Jam setengah sebelas aku sampai rumah. Rasanya semua rasa khawatir dan kangen aku langsung terobati melihat kamu tertidur di kamarku.”
“Maaf aku nggak ada rencana tidur di kamarmu.”
“Nggak apa-apa, nanti malam mau diulang lagi juga boleh,” sahut Reno sambil tertawa. Chelsea hanya mencibir.
“Kamu lagi kangen sama aku, ya, sampai masuk ke kamar aku segala,” ujar Reno sambil membelai kepala Chelsea.
Reno sedikit terkejut karena Chelsea tidak menghindarinya meski bibirnya mengerucut karena masih kesal soal insiden tidur di kamar Reno.
“Mama bilang kamu baru pulang hari Sabtu, kenapa sudah sampai semalam ?”
“Karena khawatir dapat laporan kamu nggak ke kantor 2 hari dan nggak bisa dihubungi karena handphone kamu ditinggal di rumah. Papi juga nggak tahu kamu kemana.”
“Aku pergi ke Medan,” ujar Chelsea dengan suara pelan.
Tangan Reno sempat terhenti di kepala Chelsea,’terkejut mendengar kota tujuan Chelsea.
“Ada masalah soal Bastian ?” Meski rasanya berat mengucapkan nama Bastian namun Reno mengustkan diri untuk terlihat biasa saja.
“Iya, aku ke kota dimana Bastian hidup untuk terakhir kalinya,” sahut Chelsea sambil tersenyum getir.
“Mau berbagi cerita denganku ?” tanya Reno setelah menepikan mobilnya. Reno tersenyum saat Chelsea mengangguk.
Reno mengambil handphone, memberi kabar pada Papa, Papi dan Dio kalau hari ini ia ingin menghabiskan waktu dengan Chelsea untuk membicarakan tentang hubungan mereka.
“Kita mau kemana ?” tanya Chelsea menautkan alisnya saat melihat Reno memutar arah menuju gerbang tol.
“Pacaran,” sahut Reno sambil terkekeh.
“Aku sudah minta ijin sama Papi untuk menculik putrinya seharian dan bilang ke Papa kalau aku libur sehari demi calon menantu kesayangannya.”
“Jangan PHP terus, pas ulangtahun Mama, kamu ngomong doang pas Papi suruh tanggungjawab karena berani mencium aku di depan umum.”
“Bukan PHP, tapi mana berani langsung ajak kamu nikah, cinta aku aja ditolak terus. Memangnya sekarang udah mau jadi pacar aku lagi ?”
Chelsea terdiam dan kembali menoleh ke jendela samping, menutupi bibirnya yang terseyum dengan tangan yang menopang di sisi pintu.
Reno pun tersenyum dan sudah bisa menduga kalau Chelsea kesal dengan kejadian di rumahnya saat ulangtahun Mama Siska.
__ADS_1