
Reno terlihat gelisah di ruang tunggu bandara ditemani Dio. Begitu mendengar kabar Chelsea menghilang, ia langsung memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan meninggalkan pekerjaannya pada Karina.
“Bisa-bisanya Hanum nggak diajak dalam kondisi begini. Kenapa juga Kak Revan harus tinggalin Sea sendirian,” gerutu Reno dengan wajah kesal.
Beberapa kali pria itu mengusap wajahnya dengan kasar dan melihat handphonenya, berharap ada yang memberi kabar baik soal Chelsea.
“Reno, istri lo lagi ke toilet, masa iya Kak Revan harus ngintilin sampai ke dalam.”
Reno menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Nih lihat !” Dio menunjukkan pesan yang dikirim Nia berupa foto pesan Chelsea yang dikirim untuk Reno.
Handphone Chelsea ditemukan di depan toilet dalam keadaan mati total karena kehabisan daya dan Nia langsung mengecek semua pesan yang ads di handphone itu setelah baterainya terisi penuh.
“Elo tahu kalau 3 hari ini Chelsea bangun dan datang ke kantor dengan mata sembab ? Apalagi dari kemarin sampai siang ini elo nggak kasih kabar apapun sama dia.”
“Semalam gue udah kirim pesan bilang selamat malam ke Sea, terus elo tahu sendiri kalau pagi ini ada masalah mendadak di proyek. Belum lagi handphone gue sempat hilang, nggak tahunya jatuh di mobil.”
“Reno, handphone itu bukan lagi barang mewah yang hanya bisa dimiliki kalangan terbatas. Hampir semua orang di proyek bahkan tukang batu pun punya handphone. Apa susahnya elo pinjam kalau perlu bayar ke salah satu dari mereka ? Lupa kalau elo ninggalin istri yang lagi hamil muda dan emosinya lagi nggak stabil ?”
Reno terdiam, membenarkan ucapan Dio dan menyesali dirinya terlalu fokus pada pekerjaan.
“Udah berapa kali Om Robert ajarin elo supaya merekrut karyawan yang bisa ditempatkan di lokasi proyek sebagai pimpro supaya kesibukan elo nggak melebihi presiden. Toh biaya gaji mereka bisa diperhitungkan dalam budget.
Sekarang Chelsea udah ada dalam genggaman tangan elo bahkan kalian langsung dikasih kepercayaan untuk mendapatkan keturunan, tapi bukannya elo jaga baik-baik malah tetap kerjaan nomor satu. Udah lupa gimana susahnya membuat Chelsea mencintai elo lagi ?”
“Tujuan kerja keras gue kan buat anak istri juga, Yo, bukan untuk kesenangan sendiri.”
“Tapi nggak sampai overload begini ! Kalau nggak mana mungkin Om Robert sampai menasehati elo supaya cari orang baru untuk membantu elo.” Wajah Dio terlihat kesal karena Reno masih mencari alasan untuk pembenaran diri.
“Kenapa nggak ada yang kasih tahu kalau Sea nangis terus 3 hari ini ?” lirih Reno dengan wajah lesu.
__ADS_1
“Memangnya elo peduli ?” sindir Dio sambil tersenyum sinis.
“Kalau sudah berhadapan dengan urusan proyek, otak elo pintar mikirin keselamatan orang banyak tapi di luar itu hati elo masih cetek untuk mikirin istri sendiri.”
Reno kembali menghela nafas dan beranjak bangun untuk naik ke pesawat sambil berharap semoga Chelsea dan bayinya baik-baik saja.
****
Chelsea berusaha melepaskan ikatan tali di tangannya sementara kakinya dibiarkan bebas Bau lembap memenuhi seluruh ruangan yang diterangi satu buah lampu berwarna kekuningan.
Ruangan yang mirip gudang ini hanya memiliki 3 jendela kecil yang letaknya jauh dari jangkauan tangan dan semuanya dipasang jeruji besi.
Chelsea duduk di lantai yang beralaskan tikar. Sebagian kemejanya basah karena tidak ada ventilasi yang terbuka, hanya mengandalkan celah dari bawah pintu.
Chelsea yakin kalau pria yang mengancamnya di rumah sakit tidak bekerja sendirian karena di parkiran rumah sakit sudah ada pria lain yang menunggu di dalam mobil yang menyala. Ingatannya hanya sampai di parkiran, selebihnya Chelsea tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di sini.
Chelsea mencoba berdiri, perutnya sedikit kram. Dengan berpegangan pada dinding, perlahan Chelsea bangkit dan menyandarkan tubuhnya pada dinding yang ada di dekat situ.
Tidak lama pintu ruangan terbuka dan seorang pria berpakaian serba hitam bahkan memakai masker hitam masuk sembari membawa nampan makanan.
Chelsea bergeming saat pria itu semakin mendekat. Ia menarik semacam meja kayu yang sudah setengah rusak ke dekat Chelsea untuk meletakkan makanan.
“Mendekatlah !” pinta pria itu dengan suara lembut membuat ketakutan Chelsea sedikit berkurang.
Dengan gerakan mata dan jarinya ia memberi isyarat pada Chelsea untuk mengintip ke arah piring yang dibawanya.
Chelsea mengerutkan dahi mencoba mengamati benda yang sepertinya diselipkan di bawah piring. Pria itu mengedip dua kali sebagai jawaban dari tatapan Chelsea yang terlihat bingung.
“Aku akan melepaskan ikatanmu supaya bisa makan, tolong jangan bertindak macam-macam. Habiskan makan malammu, setidaknya makanan ini bisa menjadi asupan untuk bayimu”
Chelsea mengangguk perlahan dan mengerti dengan gerakan isyarat pria itu, Chelsea langsung mengambil lipatan kertas yang ada di bawah piring begitu ikatan tangannya terlepas.
__ADS_1
Jangan cemas dan bersikaplah kooperatif.
Tunggu sampai besok
Pria itu terus berbicara saat Chelsea membaca selipan kertas karena ingin mengalihkan perhatian CCTV yang dipasang dalam ruangan. Chelsea melipat dan menyelipkan kertas itu kembali di tempat yang sama.
“Aku akan kembali 15 menit lagi untuk mengambil piring kotor, jadi jangan terlalu lama menghabiskan makananmu.”
“Bolehkah saya minta tambahan minuman ? Saya bisa menahan lapar tapi sulit menahan haus.”
Pria itu hanya menatap Chelsea dengan wajah datar dan berjalan kembali ke pintu meninggalkan Chelsea sendirian.
Mata Chelsea berkaca-kaca sambil menyuap makanan yang dibawakan pria tadi. Kalau tidak ingat dengan bayi yang ada di dalam kandungannya rasanya Chelsea enggan menelan makanan.
Hatinya merindukan Reno dan bertanya-tanya apakah suaminya masih di Surabaya atau sudah di Jakarta dan sedang mencarinya ? Akhirnya air mata itu luruh juga meski sekuat tenaga Chelsea menahannya. Selain rindu, rasa takut dan cemas memenuhi hati dan pikirannya.
Sambil mengunyah makanan entah sendok yang ke berapa, Chelsea mengusap perutnya yang mulai sedikit menonjol. Berdoa semoga bayinya tetap baik-baik saja dan bisa melewati semua ini dalam keadaan selamat.
Pria itu benar-benar tepat waktu, 15 menit dia kembali ke dalam ruangan dan kali ini membawakan bantal kecil yang biasa ada di sofa.
“Pakai ini untuk alas kepalamu dan jangan mencoba kabur karena semua pergerakanmu diawasi oleh CCTV.”
Pria itu menekankan kata CCTV supaya Chelsea lebih hati-hati.
“Usahakan tidur bukan untuk dirimu sendiri tapi juga bayimu,” ujar pria itu dengan dengan wajah datar namun suaranya tidak menyeramkan.
Chelsea mengangguk dan pria itu pun kembali meninggalkanny sendirian dalam ruangan.
Chelsea mencoba merebahkan badan di atas tikar tipis, sekujur badannya terasa sakit entah karena tegang atau terlalu lama duduk di lantai.
Dalam posisi terlentang, Chelsea mencoba menajamkan telinganya berharap mendengar sesuatu yang bisa menjadi petunjuk tempatnya berada sekarang, tapi yang ada hanya keheningan.
__ADS_1
Ia pun mencoba memikirkan tindakan pria tadi dan maksud tulisan di kertas kecil itu. Apa hanya harapan palsu untuknya atau memang ada 2 kubu di dalam kelompok penculiknya ? Apa benar ini semua perbuatan Mike ?
Rasanya sulit memejamkan mata meski tubuh dan hatinya lelah. Chelsea berdoa semoga mereka bisa segera ditemukan.