
Chelsea bergegas kembali masuk ke lobby kantor karena ingin mengambil dokumen yang tertinggal.
Hari ini Nia tidak masuk karena sakit padahal ada sejumlah pertemuan penting yang harus diikuti Chelsea di luar kantor untuk bertemu klien baru.
“Maaf,” ujar Chelsea yang berjalan tergesa sambil menunduk.
Sepatu setinggi 5 cm hampir saja membuatnya jatuh namun dengan sigap tangan kokoh itu menahannya.
“Hati-hati kalau jalan dengan sepatu tinggi, Sea,” ujar suara yang familiar di tengah Chelsea.
Chelsea buru-buru melepaskan diri dari pelukan Reno dan menatap Reno dengan senyuman terpaksa.
“Terima kasih,” Chelsea hanya menganggukan kepala sekilas lalu kembali melanjutkan langkahnya ke dalam kantor.
Di dekat lift ternyata Papi Agam baru saja berbincang dengan salah satu staf dari divisi keuangan.
“Mau kemana, Sea ?”
“Balik ke ruangan, Pi, mau ambil dokumen yang ketinggalan. Lupa kalau Nia sudah siapkan dari kemarin.”
“Nianya kemana ?”
“Nia ijin sakit hari ini, jadi Sea pergi sama Pak Mus.”
Papi Agam tidak melanjutkan ucapannya karena pintu lift sudah tertutup membawa Chelsea naik ke ruangannya.
Tidak sampai 10 menit Chelsea sudah kembali ke lobby namun dahinya langsung berkerut saat melihat Pak Mus ditemani Reno dan seorang karyawan lain sedang mengutak atik mesin mobil.
“Kenapa, Pak ?” tanya Chelsea dengan nada cemas.
Papi Agam masih berdiri di lobby dan tengah berbincang di handphone.
“Mendadak mati mesin, Non. Lagi dicek kerusakannya.”
Chelsea makin gelisah dan melirik penunjuk waktu di layar handphonenya.
“Nggak ada mobil pengganti, Pak ?”
“Nggak ada Non, mobil kantor pada keluar dan Bapak juga mau buru-buru ketemu orang jadi saya nggak bisa pinjam mobilnya.”
Chelsea mendekati Papi Agam yang baru saja menutup panggilan telepon saat Chelsea menanyakan rute perjalanan Papi yang ternyata tidak searah dengannya.
“Mau aku antar, Sea ? Kebetulan aku nggak ada jadwal kemana-mana,” ujar Reno yang sudah berdiri di dekat mereka.
“Udah diantar Reno dulu aja, kalau mobil sudah beres biar Mus langsung jemput kamu di sana,” ujar Papi Agam.
“Sea naik taksi aja,” tolak Chelsea halus sambil menatap Papi, berharap pria itu mendukung niatnya.
__ADS_1
“Bastian nggak akan marah kalau cuma mengantar,, apalagi urusan kerjaan. Biar Papi yang menghubungi Bastian dan memberitahu soal Reno.
Cilla memutar bola matanya dengan sedikit kesal karena Papi malah mendesaknya supaya diantar Reno. Bukan sekedar masalah Bastian, tapi rasanya canggung diantar oleh Reno.
“Sekalian Reno temani dulu. Yang mau kamu temui kan klien baru, siapa tahu pengalaman Reno bisa membantumu lebih mudah meyakinkan klien.”
Chelsea menghela nafas dan kembali melirik penunjuk waktu yang semakin mendekati waktu meetingnya.
“Beneran nggak masalah kamu anterin aku ?” tanya Chelsea yang berharap Reno menolaknya.
Di luar harapan, Reno malah mengangguk dan langsung pamit pada Papi Agam.
Chelsea menghela nafas berkali-kali karena merasa kalau Papi seperti memberi kesempatan untuk Reno supaya bisa dekat dengan Chelsea.
Dengan terpaksa Chelsea pun masuk ke dalam mobil Reno dan mengirim pesan pada Bastian kalau siang ini Chelsea harus pergi dengan Reno menemui klien.
Hingga jam 4 sore akhirnya ketiga meeting yang sudah dijadwalkan oleh Nia selesai semua.
“Terima kasih sudah menemani aku, untung aja ada kamu yang membantu aku menjawab pertanyaan mereka,” ujar Chelsea sambil mengulurkan tangannya setelah klien mereka pergi.
Chelsea tersenyum tulus dan hatinya benar-benar bersyukur karena Reno ikut mendampinginya, membantunya menjawab pertanyaan soal masalah di lapangan yang sama sekali Chelsea tidak tahu.
“Sama-sama, senang bisa membantu dan bekerjasama lagi denganmu,” sahut Reno tersenyum tulus dan menjabat tangan Chelsea.
Gadis itu buru-buru melepaskan tangannya dari genggaman Reno yang dirasanya sudah cukup lama sambil tersenyum canggung.
Ia meraih handphone yang ada di atas meja dan tatapannya terlihat kecewa saat semua pesan yang dikirim untuk Bastian belum ada yang terbaca.
“Nunggu Bastian, kamu pulang aja dulu,” ujar Chelsea dengan senyum bahagia yang dibuat-buat.
“Aku akan menunggu sampai Bastian menjemputmu dan menjelaskannya supaya dia tidak marah padamu karena salah paham.”
“Nggak usah Reno, kamu pulang duluan aja. Papi pasti menepati janji untuk memberitahu Bastian jadi nggak bakalan dia marah sama aku. Lagipula Bastian terlalu baik dan cinta sama aku, jadi nggak akan gampang marah-marah.”
“Kamu nyindir aku, Sea ?” tanya Reno sambil tertawa.
“Nggak ! Siapa juga yang nyindir, nggak ada gunanya juga,” sahut Chelsea sambil mencibir.
Reno masih tertawa pelan dan mengambil handphone miliknya. Chelsea terlihat sedikit gugup, entah karena dekat-dekat Reno atau karena Bastian tidak membalas pesannya, Reno tidak mau menduga-duga.
Hingga jam setengah enam sore, Bastian tidak membaca pesan Chelsea apalagi menghubunginya. Chelsea hanya bisa menghela nafas beberapa kali
Meski keduanya menyibukkan diri dengan handphone masing-masing dan hanya sekali-sekali ngobrol, Chelsea bersyukur karena ada Reno yang menemaninya.
“Kita pulang aja gimana, Sea ? Aku antar ke rumah.”
Chelsea terlihat ragu mengiyakan namun badannya mulai terasa lelah karena pekerjaan dan menunggu lama.
__ADS_1
“Kamu kasih kabar Bastian aja kalau pulang denganku karena sudah terlalu sore.”
Chelsea akhirnya mengangguk dan menuruti Reno berjalan ke parkiran mobil.
“Mau makan dulu ?” tanya Reno sambil tersenyum saat mendengar perut Chelsea berbunyi begitu keduanya sudah duduk di dalam mobil.
“Boleh, cari yang searah aja ya, aku pingin cepat sampai rumah dan tidur.”
“Mau makan apa ?”
“Apa aja, aku nggak pilih-pilih.”
Reno mengangguk dan melajukan mobilnya meninggalkan parkiran. Jalanan mulai padat dan sedikit tersendat.
“Tidurlah kalau kamu ngantuk, Sea,” ujar Reno saat melihat kepala Sea mulai bergerak ke kanan kiri.
Tanpa sadar tangan Reno mengusap kepala Chelsea sambil tersenyum. Gadis itu mengangguk dan menyandarkan kepala ke pintu.
Seandainya aku bisa kembali ke masa lalu saat kamu masih mencintaiku, Sea. Aku selalu rindu masa-masa itu dan menyesal sudah menyia-nyiakannya.
Tangan Reno kembali mengusap kepala Chelsea yang ternyata langsung kehilangan rasa kantuknya namun tidak berani membuka mata.
Dada Chelsea berdesir karena tangan Reno tidak hanya sekali mengusap kepalanya. Ia mengutuki hatinya yang mendadak mulai tidak karuan, padahal sejak bersama Bastian, Chelsea mulai kehilangan debaran hatinya saat berdekatan dengan Reno.
Chelsea menggeliat supaya tangan Reno lepas dari kepalanya dan matanya mengerjap seolah baru bangun.
“Masih jauh, Ren ?”
“Iya, jalanannya macet. Tidur aja, Sea, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai di tempat makan.”
“Udah nggak ngantuk.”
Suasana kembali hening karena Chelsea lebih banyak diam, tidak sebawel biasanya.
“Kamu kapan menikah dengan Bastian, Sea ?” dengan hati yang berat Reno bertanya pada Chelsea.
“Sekitar 3 bulan lagi, semuanya sedang dipersiapkan. Keluarga Bastian ingin pesta besar padahal kita berdua maunya sederhana aja.”
“Aku diundang, Sea ?” tanya Reno sambil tertawa pelan.
“Memangnya kamu mau datang ? Yakin ?” Chelsea malah balas meledek sambil mencibir.
Reno hanya tertawa dan tidak terasa mobil sudah sampai di rumah makan yang dituju.
“Loh ini ….” mata Chelsea membola melirik Reno.
“Seafood kesukaan kamu, pasti mau pesan pecel lelenya.”
__ADS_1
“Udah lama banget aku nggak kemari, Ren. Kamu tahu aja kesukaan aku. Kangen aku udah lama nggak kemari.”
Chelsea bergegas mencari tempat dengan wajah sumringah membuat Reno bahagia melihatnya karena bisa menikmati senyuman Chelsea yang tidak lepas tersungging di wajahnya.