Takdir Untukku

Takdir Untukku
Pertengkaran yang Tak Bisa Dihindari


__ADS_3

Robert dan Siska yang belum mengetahui tujuan undangan makan malam di rumah Agam dan Nina terlihat senang karena berpikir kalau Chelsea akan membahas masalah pernikahan.


Revan sendiri tidak datang dengan alasan pekerjaan belum bisa kembali ke Jakarta, hanya ada Reno yang ikut malam ini meskipun Papa Robert tidak terlalu menganggap kehadirannya penting.


“Papa dan Mama sudah tidak sabar menunggu kabar baik darimu, Sea,” ujar Mama Siska membelai rambut calon menantu yang duduk di sebelahnya.


Selesai makan malam, semuanya duduk santai dan berbincang di ruang tengah. Malam ini Carmilla yang bebas dari jadwal fashion show ikut hadir juga.


“Sepertinya memang ada yang harus Sea sampaikan pada Papa dan Mama,” ujar Chelsea dengan senyuman tipis.


“Jadi kamu sudah memutuskan, Sea ?” tanya Papa Robert dengan senyumannya.


Chelsea menarik nafas dalam-dalam lalu menghelanya perlahan sambil tersenyum. Memang tidak mudah menyampaikan sesuatu yang tidak menyenangkan.


“Maaf kalau Sea sudah membuat Papa dan Mama kecewa, tapi 2 hari yang lalu Sea sudah bertemu dengan Kak Revan dan memutuskan untuk membatalkan pertunangan kami,” ujar Chelsea yang berusaha bicara lugas dan tidak terbata.


“Apa maksudmu, Sea ? Kamu bertemu dengan Revan ?” tanya Mama Siska.


“Iya Ma, Sea bertemu langsung dengan Kak Revan di Jakarta, Ma.”


“Tapi Revan mengabarkan Mama dan Papa kalau ia masih harus mengurus pekerjaan di Medan dan baru bisa kembali besok sore.”


“Sea nggak bohong, Ma. Sea ketemu dengan Kak Revan dan berbicara langsung dengannya.”


“Pa…” Mama Siska menatap wajah suaminya dengan wajah bingung sekaligus cemas.


“Lalu apa alasanmu memutuskan pertunangan kalian ? Apa salah satu dari kalian mulai bosan dan menyukai orang lain ?” tanya Papa Robert dengan tatapan menelisik bahkan sempat melirik Reno.


“Masalah penyebabnya biar Kak Revan yang menjelaskannya pada Papa dan Mama,” sahut Chelsea sambil tersenyum.


“Atau jangan-jangan Reno yang membuat hatimu beralih dari Revan ?” tanya Papa Robert kembali.


“Pa..” protes Reno.


Papa Robert tidak menanggapi ucapan Reno dan menatap Chelsea dengan wajah menuntut penjelasan.


Chelsea sempat menatap Reno yang terlihat kecewa dengan ucapan Papa Robert. Sejujurnya hati Chelsea juga kecewa karena Papa Robert berprasangka buruk padanya padahal pria paruh baya itu mengenal sifat Chelsea sejak kecil.


“Keputusan yang Sea ambil sama sekali nggak ada hubungan dengan perasaan Sea ke Reno.”


“Kamu yakin ?” Papa Robert tersenyum dengan wajah agak sinis.

__ADS_1


“Papa tahu kalau belakangan ini Reno semakin gencar mendekatimu apalagi kalian memang punya banyak kesempatan untuk berduaan dengan alasan pekerjaan.”


“Tapi sungguh keputusan yang Sea ambil tidak ada hubungannya perasaan Sea di masa lalu pada Reno,” tegas Chelsea dengan dahi berkerut.


Chelsea yakin kalau Revan sudah mendahuluinya berbicara dengan Papa Robert:


”Kamu masih mencintai Reno ?” tanya Papa Robert dengan mata menyipit.


”Papa agak kecewa denganmu Sea karena masih menyimpan perasaan sama Reno tapi menerima cinta dan lamaran Revan.”


“Tapi sungguh keputusanku tidak ada hubungannya dengan Reno, Pa, Ma,” protes Chelsea mulai merasa kesal.


“Kenyataannya Reno sering datang ke kantormu saat jam kerja berakhir, kan ? Papa tahu kalau Reno terus berusaha mempengaruhimu untuk tidak menikah dengan Revan sampai kalian bertengkar di kantormu beberapa hari lalu. Benar, Sea ?”


Chelsea nampak terkejut mendengar ucapan Papa Robert. Bagaimana bisa masalah pertengkarannya dengan Reno yang terjadi dalam ruangan tertutup bisa sampai ke Papa Robert ?


“Aku memang minta Sea mengulur permintaan Kak Revan untuk segera menikah tapi tidak memaksa Sea untuk menerimaku kembali, Pa. Lagipula aku punya alasan kuat kenapa sampai meminta Sea untuk menunda pernikahannya dengan Kak Revan.”


“Tidak usah ikut campur ! Papa bertanya pada Sea bukan padamu. Tidak ingat kalau kamu sudah membuat malu keluarga dengan kelakukanmu 4 tahun lalu ? Dan sekarang dengan seenaknya kamu berniat merebut calon istri kakak kandungmu sendiri !” tegas Papa Robert sambil melotot menatap Reno.


“Aku tahu kalau perbuatanku pada Sea sudah membuat Papa kecewa tapi tidak ada niat sedikit pun untuk merebut Sea dari Kak Revan. Apa yang aku lakukan pada Sea hanya karena aku tidak ingin Sea disakiti oleh siapapun apalagi oleh kakakku sendiri.”


“Tidak sadar kalau kamulah yang pernah menyakiti Chelsea ? Memangnya apa yang kamu ketahui sampai berani mengatakan kalau kakakmu akan menyakiti wanita yang dicintainya.? Papa tahu kalau sudah lama kamu sering iri pada kakakmu yang begitu mandiri dan bisa membuat Papa dan Mama selalu bangga padanya. Kamu selalu menganggap kami tidak adil dan pilih kasih pada kalian. Kamu tahu kenapa Reno ?” Papa Robert menunjuk-nunjuk bahu Reno dengan jadi telunjuknya.


“Karena sampai detik ini hidupmu penuh dengan masalah, masa bodoh pada keluarga dan hanya bisa membuat malu keluarga ! Bahkan kakakmu meredam perasaan cintanya pada Chelsea karena peduli padamu !”


“Papa bisa bilang begitu karena Papa tidak pernah mau mencari tahu seperti apa Kak Revan di luaran,” suara Reno meninggi sambil beranjak dari kursinya, berhadapan dengan Papa Robert.


Mami Nina memberi isyarat pada Papi Agam untuk memisahkan ayah dan anak itu.


“Apa lagi yang ingin kamu tunjukkan sekarang ? Belum puas dengan perbuatanmu yang berhasil menggagalkan pernikahan kakakmu dan menghancurkan cintanya ?” bentakan Papa Robert membuat emosi Reno mulai naik ke ubun-ubun.


“Bukan aku yang menggagalkan hubungannya dengan Sea, tapi Kak Revan sendiri. Kak Revan sudah mengkhianati kepercayaan Sea dengan berselingkuh di belakangnya.”


Plak !


Tangan Papa Robert langsung melayang menampar pipi Reno membuat Mama Siska memekik sambil menutup mulutnya dan yang lainnya hanya bisa membelalakan matanya


Papi Agam menjauhkan posisi ayah dan anak itu dan Chelsea ikut bangun dari sofa.


“Lalu apa yang kamu lakukan pada calon istri kakakmu itu bukan selingkuh ? Kamu memeluk dan mencium Chelsea, membujuknya untuk menuruti permintaanmu menunda pernikahannya dan kamu pikir Papa tidak tahu kalau kamu berusaha merayu Chelsea di ruang kerjanya ?”

__ADS_1


“Darimana Papa tahu semua itu ?” tanya Chelsea yang sudah mendekat.


“Apa selama ini Papa menaruh mata-mata untuk mengawasi aku atau Revan yang menempatkan orang di kantor untuk mengawasi aku ?” Mata Chelsea menyipit sambil menatap Papa Robert.


“Kamu tidak perlu tahu soal itu,” sahut Papa Robert dengan sedikit membentak.


Papi Agam menautkan alisnya, hatinya mulai kesal dengan sikap sahabatnya.


“Apa yang Reno katakan bukanlah omong kosong dan Sea sudah membuktikannya dengan mata kepala sendiri. Sea benar-benar menemui Kak Revan di Jakarta 2 hari yang lalu.”


Papa Robert menarik nafas penuh emosi dan membuang pandangan ke arah lain, enggan membalas tatapan Chelsea.


“Apa kamu tidak berpikir kalau ini semua memang sudah direncanakan oleh Reno ? Tidakkah kamu belajar dari pengalaman 4 tahun yang lalu, Sea ? Kamu mau dibohongi dan dibodohi lagi oleh Reno ?”


“Kali ini Sea percaya pada Reno,” tegas Chelsea yakin tanpa ragu sedikitpun.


”Berhentilah menjadi gadis naif dan sok polos, Sea !” bentak Papa Robert membuat Papi Agam langsung membelalak.


“Sea tidak naif tapi Sea tidak mau dijadikan pion oleh Kak Revan hanya untuk mendapatkan harta dan tahta yang Papa janjikan seandainya Kak Revan menikah dengan Sea.”


“Siapa yang bilang begitu ?” suara Papa Robert meninggi dan ia sempat melirik pada Reno.


“Cukup Robert !” hardik Papi Agam. “Cukup sudah kamu memperdebatkan masalah kedua anakmu di rumahku. Pulanglah dan selesaikan masalah kalian sendiri.”


“Aku hanya mencoba membuka pikiran Chelsea, Gam. Aku tidak ingin Sea kembali dibutakan oleh perasaannya pada Reno sekalipun dia anak kandungku.”


“‘Masalah Chelsea adalah urusanku dan Nina sebagai orangtuanya. Keputusannya untuk mengakhiri pertunangan dengan Revan aku dukung sepenuhnya dan jangan lagi memaksakan keinginanmu untuk berbesanan denganku dengan mengorbankan anak-anak,” tegas Papi Agam dengan wajah yang tidak bisa terbantahkan.


Papa Robert menarik nafas berat dengan wajah kesal, memberi isyarat pada Mama Siska untuk pulang.


“Satu hal lagi Robert, jangan sekali-kali mengawasi kehidupan pribadi anakku karena Sea baru calon menantu belum resmi menjadi menantumu. Kalau sampai aku mendapati ada mata-mata di kantor untuk mengawasi Sea entah atas perintahmu atau Revan, aku tidak hanya membuat orang itu menyesal tapi hubungan kita sebagai sahabat juga berakhir.”


“Agam…”


“Sebagai seorang ayah naluriku mengatakan kalau Revan tidak lebih baik dari Reno. Didiklah anak-anakmu dengan baik sebelum menjodohkannya dengan anak perempuan orang. Dan jangan sekali-sekali menjadikan anakku sebagai pion untuk mewujudkan keinginanmu apalagi niat buruk putramu !”


Papa Robert menatap wajah sahabatnya dengan perasaan gusar karena selama mengenal Agam, jarang sekali Robert melihat sahabatnya marah seperti ini.


Akhirnya tanpa banyak bicara, Robert mengajak Siska untuk meninggalkan rumah Agam dan Nina.


Reno yang masih berdiri di dekat Chelsea pun diminta pulang oleh Agam. Terlalu rumit urusan keluarga sahabatnya itu, akan lebih baiak kalau tidak ada satu putrinya yang menjadi menantu Robert dan Siska.

__ADS_1


__ADS_2