
Bastian terdiam saat memegang hasil tes DNA yang menyatakan kalau Jeremi adalah anak kandungnya.
Bukannya bahagia, Bastian malah merasakan kecewa dan sesak di dadanya karena kenyataan ini baru diketahuinya setelah ia menemukan sosok pengganti Sena yang mampu membuat hidupnya bergairah lagi.
Bastian langsung menekan nomor Papi Agam karena sudah 2 hari ini Chelsea menghindarinya, bahkan pesan yang dikirim Bastian tidak ada satu pun yang dibaca.
Setelah mendapat informasi dari Papi Agam, Bastian langsung membawa mobilnya untuk menemui Chelsea. Berita penting ini tidak ingin disampaikannya lewat handphone, Bastian ingin bertatap muka langsung dengan Chelsea, melihat reaksi tunangannya sekaligus melepas rindu padahal baru 2 hari tidak bertemu.
“Sea,” panggilan lembut Bastian membuat gadis itu menoleh dengan mata membola.
Sudah 15 menit yang lalu Bastian sampai di hotel tempat Chelsea bertemu klien dan menunggu sampai urusan pekerjaannya selesai.
“Gue balik ke kantor duluan aja, Sea,” bisik Nia yang ikut menemani siang itu.
Chelsea ingin menahan Nia tapi melihat wajah sendu Bastian akhirnya Chelsea mengangguk. Nia pun pamit pada Bastian dan meninggalkan mereka berdua di restoran hotel.
“Sudah makan, Sea ?” tanya Bastian saat melihat hanya ada gelas dan piring kecil di atas meja yang dipergunakan Chelsea.
“Belum, nggak enak meeting sambil makan siang.”
“Mau makan di sini atau di luar ?”
“Ada masalah penting ? Kalau ingin bicara lebih baik kita makan di sini aja, cari di luar jam segini pasti ramai.”
Bastian mengangguk dan menarik bangku yang ada di seberang Chelsea lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan.
“Mau menu buffet atau a la carte, Sea ?”
Chelsea tidak menjawab dan mengambil buku menu yang diberikan oleh pelayan lalu menunjuk salah satu menu yang ada di sana. Bastian pun ikut memilih menu yang berbeda.
__ADS_1
“Sudah keluar hasilnya ?” tanya Chelsea yang sudah bisa menebak maksud kedatangan Bastian.
Bastian mengangguk dan mengeluarkan satu amplop yang terlipat dari saku jasnya. Dari raut wajah Bastian, tanpa melihat isi amplop itu, Chelsea sudah bisa menebak hasilnya.
“Terus kamu mau gimana ? Masih menolak jadi donor untuk Jeremi ?” tanya Chelsea dengan helaan nafas berat.
“Aku menolak jadi donor kalau pada akhirnya kamu membatalkan pernikahan kita. Mau berkali-kali kamu tanya, aku tetap memilih kamu daripada menjadi donor untuk anak itu dan menikahi Sena dengan alasan untuk kebaikannya.”
“Bas, Jeremi darah dagingmu, mana bisa kamu mengabaikannya dan menganggapnya tidak penting. Aku tidak mau menikah dengan pria seperti itu, Bas.”
“Aku sudah menemui dokter yang menangani anak itu dan diberitahu kalau tidak harus aku yang menjadi donor untuknya. Papa dan kakak-kakakku mungkin saja bisa menjadi pendonor.”
“Tapi kamu itu ayah kandungnya, Bas. Mana bisa kamu melempar tanggungjawabmu pada keluargamu. Aku menyesal memilihmu jadi calon suamiku kalau ternyata kamu hanyalah seorang laki-laki egois dan tidak bertanggungjawab. Seenaknya saja kamu menanam benih pada Sena dan tidak mau menerima konsekuensinya saat anak itu membutuhkanmu.”
“Aku bukan melepas tanggungjawab, Sea. Aku yakin kamu sangat mengerti bagaimana sakitnya melihat pasanganmu berselingkuh dan bersetubuh dengan orang lain di depan matamu. Kamu pasti tahu rasanya, Sea karena sudah 2 kali kamu mengalaminya.”
“Kamu pikir keluarga kami akan puas menerima begitu saja kalau aku bersedia sekedar menjadi pendonor ? Orangtuaku pasti menuntut untuk membesarkan anak itu, apalagi anak itu adalah cucu laki-laki yang kelak menjadi penerus nama keluarga. Aku tidak mau terjebak dalam situasi seperti itu, Sea karena aku sungguh-sungguh mencintaimu.”
Chelsea terdiam, mencoba mengerti perasaan Bastian yang ternyata mendapat tekanan dari keluarganya untuk menikahi Sena. Itu berarti secara tidak langsung, kedua orangtua Bastian meminta putra mereka melepaskan Chelsea yang baru berstatus calon istri, belum istri sah Bastian.
Hati Chelsea tercubit, tidak menyangka kalau keluarga Bastian akan mengambil keputusan seperti itu tanpa membucarakannya dengan Chelsea.
Meski Sena sudah lebih lama mengenal orangtua Bastian bahkan sudah memberikan penerus untuk keluarga itu, tapi posisi Chelsea saat ini adalah tunangannya. Apakah mereka tidak memikirkan perasaan Papi Agam dan Mami Nina kalau sampai tahu masalah ini ?
“Jadi kedua orangtuamu juga memaksamu menjadi pendonor untuk Jeremi ?”
Bastian tidak menjawab hanya menghela nafas berat. Dua pelayan mengantar pesanan mereka dan Bastian langsung meneguk habis air putih yang ada di depannya.
“Sea, kemungkinan Papa dan Mama akan datang menemui orangtuamu setelah tes DNA ini keluar. Mereka akan membatalkan pertunangan dan rencana pernikahan kita dengan alasan anak ini dan aku tidak mau menjalani semuanya itu.”
__ADS_1
Chelsea tersenyum getir mendengar penuturan Bastian, dadanya terasa sesak tapi air matanya sulit untuk keluar. Chelsea hanya bisa menghela nafas dan menyendok pasta yang dipesannya.
“Bagaimana kalau kita kawin lari aja, Sea ?”
Chelsea terkejut mendengar ucapan Bastian hingga ia tersedak makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Bastian buru-buru beranjak dari kursi, mengembilkan gelas air putih dan menepuk-nepuk punggung Chelsea.
“Maaf Sea, aku tidak bermaksud membuatmu tersedak.”
“Kamu sudah gila, Bas ? Apa kamu tidak tahu kalau pernikahan yang tidak mendapat restu dari orangtua tidak bisa bahagia ?”
“Lalu pernikahan paksa yang direstui orangtua akan membuat anak lebih bahagia ? Kita memiliki pribadi yang mirip, Sea, mudah memaafkan tapi sulit melupakan. Setiap kali melihat Sena, bayangan akan kejadian hari iitu membuat aku langsung ingin muntah. Hidupku akan penuh dengan penyesalan, rasa benci dan sakit kalau harus memenuhi keinginan orangtuaku untuk menikahi Sena. Menyesal karena harus melepaskanmu.”
“Makanlah dulu, Bas. Pikiranmu tidak bisa fokus kalau perutmu lapar hingga terpikir olehmu untuk mengajakku kawin lari. Kamu pikir hidupku akan tenang kalau menikah tanpa restu orangtua kita berdua ?”
Bastian tersenyum tipis melihat wajah Chelsea cemberut, setidaknya gadis di depannya ini masih bisa menunjukkan ekspresi hatinya, tidak hanya menunjukkan wajah datar dan dingin.
“Kalau aku sudah gila tidak perlu membawamu kawin lari tapi akan aku buat kamu hamil anakku supaya papa dan mama tidak lagi memaksaku untuk menikahi Sena dengan alasan cucu.”
“Itu benar-benar pikiran gila, Bas !” Chelsea melotot. “Dan kamu tetap akan dipaksa menikahi Sena kalau ternyata aku memberimu anak perempuan.”
Bastian tertawa pelan membuat Chelsea sedikit lega karena sejak tadi kondisi Bastian sedikit mengkhawatirkan. Terlihat hati pria di depannya ini sudah sedikit lega karena sudah bisa mengungkapkan penyebab kegundahan hatinya pada Chelsea.
“Berjanjilah untuk tetap berada di sampingku, Sea dan tolong dukung aku untuk menolak permintaan orangtuaku. Aku akan memberikan apa yang dibutuhkan anak itu saat ini tapi hanya sebatas itu. Biarkan anak itu tetap berpikir kalau ayah kandungnya sudah tidak ada sejak ia lahir seperti yang Sena katakan padanya.”
Chelsea tersenyum tipis saat merasakan kehangatan genggaman tangan Bastian. Rasanya ingin langsung menolak dan meyakinkan Bastian untuk melepaskannya, tapi melihat ekspersi wajah Bastian yang terlihat frustasi, Chelsea tidak tega untuk menggeleng.
“Aku akan membicarakan masalah ini dengan Papi dan Mami, siapa tahu mereka bisa memberikan saran yang baik untuk kita berdua tanpa menyinggung perasaan orangtuamu.”
__ADS_1
“Terima kasih Sea, terima kasih karena kamu tidak langsung meninggalkan aku,” ujar Bastian dengan senyuman yang memancarkan kebahagiaan.