Takdir Untukku

Takdir Untukku
Revan yang Berbahagia


__ADS_3

Sejak tadi Revan melihat Dita melamun memperhatikan orang-orang gantian keluar masuk ruang praktek dokter kandungan.


Sore ini, Revan menemani istrinya untuk periksa kandungan di usia kehamilan 24 minggu. Radit duduk di samping Revan, sedang asyik menonton tayangan anak-anak di handphone papanya.


”Sayang, kamu kenapa ?” bisik Revan sambil menggenggam jemari Dita.


“Eh.. nggak kenapa-napa. Hanya terharu karena bisa duduk di sini ditemani kamu sama Radit,” sahut Dita sambil tersenyum.


“Maafkan sikapku yang lalu,” bisik Revan sambil mengecup pelipis Dita sekilas.


“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” Dita kembali tersenyum merasakan cinta Revan yang begitu berlimpah sejak Dita hamil anak kedua.


Tidak lama nama Dita dipanggil dan ketiganya masuk ke ruangan dokter dengan perasaan bahagia layaknya keluarga yang menantikan anggota keluarga baru di tengah mereka.


Lima tahun lalu, Dita hanya bisa datang sendiri dengan wajah pucat dan tubuh lesu karena selalu menyesali nasibnya dan merindukan laki-laki yang menanamkan benih di rahimnya.


“Anaknya sehat dan kemungkinan sudah bisa dilihat jenis kelaminnya kalau memang papa dan mama mau tahu,” ujar dokter sambil menunjukkan layar monitor dan tangannya bergerak dengan alat USG.


”Tidak usah, Dok,” sahut Revan sambil menatap Dita. “Mau dikasih laki-laki atau perempuan tidak masalah karena rencananya kami masih mau tambah.”


“Wah ternyata Bapak masih penganut banyak anak banyak rejeki ?” ledek Dokter yang berusia 40 an itu sambil tertawa.


“Kami berdua sama-sama hanya 2 bersaudara, sepertinya akan lebih seru kalau bisa 4 atau 5 bersaudara.”


“Boleh-boleh aja selama ibu tidak masalah dengan kehamilannya dan Bapak sudah siap dari sisi ekonominya.”


Revan mengangguk-angguk sementara Dita terlihat malu-malu dengan jawaban suaminya.


Radit pun banyak bertanya dan menatap foto USG yang dicetak dengan perasaan kagum. Bocah berusia hampir 5 tahun itu sudah tidak sabar menunggu adiknya lahir.


”Terima kasih Mas Revan karena sudah hadir untukku dan Radit,” bisik Dita saat mereka berjalan bergandengan menuju parkiran mobil.


Revan menghentikan langkahnya, menatap Dita dengan mata membola, hatinya tiba-tiba terharu dan menghangat.


“Kenapa ?” Dita menautkan alisnya sambil membalas tatapan Revan.


“Rasanya bahagia banget dengar kamu panggil aku Mas Revan,” sahut pria itu jujur dengan wajah berbinar.


“Aku sudah memutuskan bersikap sebagai istri yang seharusnya untuk mantan casanova yang akhirnya menjadikan aku pelabuhan terakhirnya,” sahut Dita sambil tertawa pelan.


Tanpa malu dan ragu, Revan langsung memeluk Dita membuat Radit yang berada dalam gandengan mamanya ikut berpelukan dengan kedua orangtuanya.


“Terima kasih juga atas kesempatan yang kamu berikan padaku,” Revan menecup kening Dita.


Radit merengek minta didendong papanya karena tinggi badannya hanya bisa memeluk kedua kaki orangtuanya.

__ADS_1


“Sini sayang,” Revan langsung menggendong putranya yang langsung girang memeluk tengkuk kedua orangtuanya.


“Mau ke rumah Opa Oma ?” tanya Revan saat pelukan mereka sudah terlepas.


“Ada acara apa, Mas ?”


“Katanya kamu lagi pingin makaroni panggang buatan Mama, jadi aku telepon Mama kemarin siang dan hari ini Mama kasih kabar kalau pesanan menantunya sudah siap.”


“Beneran, Mas ? Mau banget aku.”


“Radit juga mau ke rumah Opa Oma, mau berenang,” timpal bocah itu.


“Hari ini nggak boleh berenang dulu karena besok Radit masih harus sekolah dan sekarang sudah sore. Kita ke sana lagi pas hari Sabtu aja ya, biar Papa bisa ajarin berenang lagi.”


Radit sempat cemberut saat Dita melarangnya tapi langsung tertawa dan mengangguk waktu mendengar mereka akan kembali hari Sabtu nanti.


Butuh waktu 35 menit untuk sampai di rumah orangtua Revan, bersamaan dengan mobil Papa Robert yang sepertinya baru saja kembali dari kantor.


“Tumben pulang sama Papa,” ledek Revan saat melihat adiknya keluar dari kursi penumpang belakang bersamaan dengan Papa Robert,


“Demi anak kesayangan yang akan datang untuk makan malam, semua pekerjaanku langsung disuruh stop,” gerutu Reno sambil duluan masuk ke dalam.


Revan hanya tertawa dan Radit sudah keluar dari mobil, menghambur memeluk opanya.


“Radit udah tambah berat belum, Opa ?” tanyanya dengan wajah menggemaskan.


Dengan wajah bahagia Papa Robert menggendong cucu pertamanya masuk ke dalam rumah.


Jam 18.30 semua keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam.


“Makan yang banyak, Ta, Mama sudah menyiapkan satu loyang lagi untuk kamu bawa pulang.”


“Makasih, Ma. Maaf kalau jadi merepotkan Mama.”


“Mama itu senang direpotin, makanya waktu Chelsea pergi ke Amerika, Mama sering nangis karena nggak ada yang ganggu,” ledek Papa.


“Sebentar lagi juga bakal direpotin sama anak burung satu itu,” timpal Revan.


“Dengar-dengar ada yang mau lamaran lagi untuk kedua kalinya,” Revan melirik Reno sambil tertawa.


Reno terlihat acuh, menikmati makan malamnya dengan santai seolah ucapan Revan bukan ditujukan padanya.


”Jangan bilang ada masalah lagi dengan Sea, Ren,” ujar Revan sambil mengerutkan dahi.


”Papi Agam belum sepenuhnya memberikan restu,” Papa Robert yang menjawab pernyataan Revsn.

__ADS_1


“Gimana bisa belum memberikan restu, Pa ? Waktu Sea masih bertunangan sama aku, Papi malah pro ke Reno daripada ke aku. Papi lebih percaya Sea bersama Reno daripada dengan tunangannya sendiri.”


“Itu karena Papi Agam ingin membuat hatimu panas. Lagipula Mama yakin sebagai orangtua, Papi Agam sudah punya firasat kalau kamu bukan pria baik-baik untuk anaknya.”


“Iya bahkan Agam bersyukur karena firasatnya benar,” timpal Papa sambil tertawa pelan. “Kalau nggak bagaimana bisa Chelsea menikahi pria yang sudah punya anak.”


“Pa, Ma kayaknya topik yang dibicarakan soal rencana pertunangan Reno dengan Sea, kenapa malah membahas masa lalu aku ?”


“Karena kenyataannya memang begitu, Mas,” Dita ikut bicara sambil memegang paha suaminya.


“Nggak usah khawatir. Pembicaraan tentang masa lalumu akan mempengaruhi pikiranku karena semua masalah kamu dengan Chelsea sudah aku dengar langsung dari sumbernya.”


“Dasar perempuan,” gerutu Revan. “Bahkan masalah keburukan pria berstatus suami dan tunangan dibahas bersama-sama.”


“Salah kamu sendiri sudah menikah siri dengan Dita pakai sok melamar jadi calon suami Sea,” cibir Mama sambil tertawa.


“Haaiiss… kembali ke laptop deh !” gerutu Revan, menoleh ke arah Reno dan fokus menatap adiknya yang baru saja menyuap sendok terakhirnya.


“Kalau melihat wajah Reno jutek begitu, kemungkinan Chelsea juga menolak dilamar sekarang. Benar Ren ?”


Reno tidak langsung menjawab, menghabiskan makanan yang masih ada dimulutnya lalu meneguk air putih.


“Nggak perlu dijawab udah tahu sendiri kan ?” sahut Reno dengan sedikit ketus.


Dia beranjak bangun membawa piring kotor ke dapur sekalian mencuci tangan.


“Memangnya Sea kenapa lagi ?” tanya Mama begitu Reno balik ke meja makan


“Nggak tahu, seharian pesan dan teleponku nggak ada yang ditanggapi sama Sea,” sahut Reno dengan wajah masih kesal.


”Reno, rumah pacar kamu tuh cuma tinggal selangkah, nggak perlu buang-buang waktu. Samperin langsung sana, tunjukkin sama Papi kalau kali ini kamu serius sama anak kesayangannya.”


Reno terdiam mendengar saran dari kakaknya.


“Jangan kasih kendor, pepet terus Papi sama Chelsea biar nggak punya waktu untuk meragukan perasaan kamu. Chelsea sama Papi itu mudah ditundukkan dengan bukti bukan janji,” nasehat Revan dengan wajah menyombong.


“Pengalaman pribadi, Mas ?” ledek Dita sambil tertawa pelan.


“Kamu kan juga mepetin Chesea terus sampai melamar di lobby kantor untuk membuat Chelsea susah nolak,” Dita lanjut meledek suaminya.


“Ya ampun, Sayang, dari tadi tuh yang jadi topik pembahasan malam ini tuh Revan, kenapa harus balik ke aku lagi sih ?” gerutu Revan sambil menghela nafas.


Ekspresi wajah Revan dan Dita membuat Papa dan Mama ikut tertawa.


“Kenyataan Kak, harus diterima. Kakak sengaja mendekati Chelsea demi lembaran saham dsn jabatan dari Papa,” Reno balas meledek kakaknya sambil tergelak.

__ADS_1


“Susah banget sih mau melupakan masa lalu dan hidup dalam lembaran baru,” gerutu Revan..


Radit ikut tertaw meskipuntidak ,tahu soal masalah yang dibicarakan oleh orang dewasa di sekitanya


__ADS_2