
Chelsea terpaku berdiri di lobby sambil menatap Papi Agam dengan dahi berkerut.
“Selesaikan masalahmu dengan Reno malam ini. Apapun keputusanmu, Papi mendukung. Janhan pikirkan soal hubungan Papi dengan Om Robert.
Bastian juga pria baik, Papi kenal dengan kedua orangtuanya.”
Papi Agam merangkul bahu Chelsea dan mencium kening putrinya untuk menenangkan hati Chelsea.
Chelsea menghela nafas dan terpaksa masuk ke dalam mobil.
Reno sendiri sudah berdiri membukakan pintu penumpang depan.
“Temani aku makan, ya ?” tanya Reno sambil menjalankan mobil setelah pamit pada Papi Agam.
“Masih ada yang buka ?” Chelsea melirik jam yang ada di dashboard mobil. Jam 10.05.
“Yang penting kamu mau dulu.”
“Apa bisa aku menolak kalau udah di dalam mobil kamu begini ?” Reno tertawa melihat Chelsea mengerucutkan bibirnya.
Sekitar 20 menit kemudian Reno masuk ke pelataran parkir sebuah restoran yang belum pernah didatangi Chelsea. Tertulis : Buka 24 jam.
“Aku pesan minuman saja, sudah kenyang,” ujar Chelsea.
“Nggak mau es krim ? Ada rasa hazelnut kesukaan kamu.”
“Sudah malam, aku pesan teh hangat saja.”
Reno tersenyum dan menuruti permintaan Chelsea. Ada rasa sedih di dalam hati Reno karena merasa Chelsea mulai menjaga sikapnya.
Sepanjang makan, topik yang dibahas hanya seputar pekerjaan mereka tanpa menyinggung masalah pribadi.
Waktu hampir jam 11 saat Chelsea mulai menguap. Reno melihat kalau Chelsea mulai bosan ngobrol dengannya, padahal dulu sebeum kejadian 4.5 tahun yang lalu, Chelsea tidak akan bosan menemaninya di rumah kalau Papa dan Mama sedang keluar kota.
“Kamu mau bicara apa ? Aku udah mulai ngantuk.”
“Biasanya kuat nemenin aku begadang,” Reno tertawa pelan.
“Itu dulu waktu pekerjaan belum menyita waktu dan menguras tenaga juga pikiran seperti sekarang ini. Langsung ngomong aja daripada nanti aku ngaco jawabnya.”
“Kamu beneran serius pacaran sama Bastian ?”
“Iya.”
“Kalian kenalan dimana ? Aku belum pernah dengar soal dia. Lagipula belum ada sebulan kamu memutus pertunangan dengan Kak Revan.”
__ADS_1
“Memangnya yang bisa main belakang cowok doang ? Kalau mau perempuan juga bisa.”
“Iya tapi…”
“Tolong jangan terlalu mencampuri urusan pribadiku lagi, Reno, apalagi soal pacar atau teman priaku. Kamu bukan lagi tunanganku atau calon adik ipar, jadi berhentilah mengusikku. Kita berteman karena kedua orangtua kita bersahabat dan mempunyai kerjasama bisnis, selebihnya tidak ada yang istimewa.”
“Aku mencintaimu, Sea dan aku tahu kalau kamu juga masih memiliki perasaan padaku,” Reno berusaha menggenggam jemari Chelsea yang ada di atas meja tapi gadis itu buru-buru menarik tangannya.
“Atas dasar apa ? Masalah perdebatan kita saat bertemu di kafe ? Kamu menangkap kalau aku cemburu ?”
“Kamu mau menyangkalnya, Sea ?” mata Reno memicing dan tersenyum sinis pada Chelsea.
“Hatiku itu ibarat kertas pembungkus gorengan. Noda minyaknya tidak bisa dihilangkan lagi meski pakai tisu berlapis-lapis tapi tidak bisa diperas juga supaya minyaknya menetes.
Sudah bertahun-tahun aku menyukaimu dan ratusan kata cinta aku ucapkan untukmu hingga semuanya melekat dalam sikapku saat berhadapan denganmu dan menjadi suatu kebiasaan yang sulit dihilangkan.
Tapi seperti kertas pembungkus gorengan tadi, saat diperas hatiku sudah tidak bisa meneteskan rasa cinta lagi, hanya tinggal nodanya yang susah dihilangkan.”
“Mana bisa hati disamakan dengan pembungkus gorengan,” protes Reno.
“Namanya juga ibarat. Tentu aja hati nggak sama dengan pembungkus gorengan,” cebik Chelsea.
“Jadi tidak ada kesempatan lagi untukku memulai dari awal denganmu ? Apa kesalahanku tidak bisa dimaafkan sama sekali ?”
“Kamu tahu Reno kalau semua yang pertama dalam hidup asmaraku adalah milikmu ?” Chelsea tersenyum tipis.
“Cinta pertama, ciuman pertama, pelukan pertama dan dari dirimulah aku merasakan sakit hati pertama kalinya.”
“Maaf,” lirih Reno.
“Saat aku jatuh cinta padamu, aku adalah seorang gadis polos dan naif yang berpikir kalau ada cinta abadi, happily ever after seperti cerita di film Disney. Aku melimpahkan semua rasa dan harapan itu padamu. Aku tidak peduli dengan sikapmu yang galak dan mengabaikanku karena aku percaya kalau cinta yang tulus pasti akan berakhir dengan kata bahagia. Aku mengabaikan semuanya dan hidupku hanya tertuju padamu.
Kebahagiaan pertama dan terbesarku adalah saat kamu mau menerima permintaan Om Robert untuk bertunangan denganku. Harapanku dan mimpiku semakin melambung, berpikir kalau kebahagiaan kita hanya tinggal selangkah.
Tapi semuanya itu hancur berkeping-keping seperti kaca yang pecah saat aku mendapatimu di kamar bersama Sherly dengan posisi bahu terekspos tanpa busana.”
“Sudah aku jelaskan padamu kan Sea kalau kami mssih berpakaian lengkap, maksudku….”
“Reno bukan itu poinnya,” potong Chelsea. “Kamu tahu kalau otak ini akan menyimpan apa yang pertama dilihat dan didengarnya ? Bagaimana selanjutnya tidak akan membuat ingatan pertama itu hilang begitu saja.
Aku benar-benar terpukul dan hatiku sakit banget saat melihatmu berpelukan dengan Sherly dan dalam bayanganku, pria dan wanita di kamar hotel, berpelukan di bawah selimut dengan bahu terekspos, otakku langsung memikirkan apa yang terjadi sebelumnya.
Aku memang gadis bodoh Reno, tapi aku tahu apa yang bisa terjadi di antara kalian. Apalagi selama ini kamu selalu pamer di depanku kalau kamu mencintai Sherly dan dialah kekasihmu bukan aku.”
“Sea maafkan aku membuatmu terluka,” ujar Reno dengan wajah sendu.
__ADS_1
“Memberikan kata maaf itu mudah, Reno tapi melupakannya sungguh sulit. Kejadian itu membuat aku trauma dan takut untuk memulai hubungan kembali dengan laki-laki karena sadar aku hanyalah seorang bocah yang bodoh dan naif,” Chelsea tertawa getir.
“Sea…”
“Lalu seperti de javu aku harus mengulangnya lagi dengan Kak Revan, malah lebih mengerikan lagi. Status kalian adalah tunanganku dan aku harus melihat keduanya tidur dengan perempuan lain dengan mata kepalaku sendiri. Aku membenci diriku, Reno, aku benci karena masih saja bodoh dan naif !”
Mata Chelsea terlihat berkaca-kaca membuat Reno menyesali dirinya tiada henti.
”Sea maaf kamu harus melihat kejadian Kak Revan dan Dita. Kalau aku tahu mereka ada di apartemen hari itu, sudah pasti aku tidak akan membawamu ke sana.”
“Aku memang tidak memiliki perasaan apapun pada Kak Revan, namun melihatnya dengan Dita di dalam kamar justru membuatku teringat padamu. Itulah trauma yang aku maksud.”
“Biarkan aku di sisimu untuk mengobatinya, Sea.”
“Kalau kamu sungguh mau membantuku, berhentilah mencampuri hidupku dan jangan pernah lagi peduli dengan kehidupanku, Reno.
Lepaskan aku dan biarkan aku menikmati hidup yang akan kupilih setalah ini.”
“Dengan Bastian ?“
“Mungkin,” Chelsea tersenyum bahagia.
“Apa kamu sebahagia itu, Sea ? Bahkan saat bersama Kak Revan kamu tidak terlihat seperti sekarang.”
Ada nada cemburu dalam kalimat Reno bahkan wajahnya terlihat sedih dan kecewa.
“Aku tidak ingin berpura-pura di hadapanmu Reno. Selain dirimu, baru Bastian yang membuatku berdebar dan semangat kembali untuk menghadapi perasaan cintaku. Ucapanmu benar banget kalau Kak Revan tidak membuatku bersemangat seperti sekarang ini.
Aku bahagia, Revan, bahagia banget karena bisa merasakan debaran lagi dengan pria lain selain dirimu.”
Wajah Chelsea terlihat berbinar dan cara bicaranya pun bersemangat membuat Reno akhirnya menyadari kalau posisinya sungguh-sungguh tidak istimewa lagi di hati Chelsea.
“Kalau aku bisa mencoba memulainya lagi dengan Bastian, aku percaya kamu juga bisa Reno. Yakinlah kalau selama ini sikapmu hanya untuk menebus rasa bersalahmu. Biarkan aku mencoba bahagia dengan Bastian dan kamu bisa memulainya dengan Tamara atau Nadya. Mereka sangat mencintaimu, Reno, jadi mereka pasti akan menerimamu apa adanya dan sabar menunggu sampai perasaanmu baik-baik saja.”
“Sea…”
“Percayalah kalau hubungan kita akan lebih baik sebagai teman,” Chelsea mengulurkan tangan dengan senyuman dan wajah sumringah.
“Aku tetap akan meminta Papi unruk mencari penggantimu biar kita tidak sering-sering bertemu. Bukan karena aku takut jatuh cinta lagi padamu tapi sudah seharusnya kita menjaga perasaan pasangan masing-masing. Aku pernah merasa bagaimana dikhianati, jadi aku tidak ingin orang yang aku cintai merasakannya.”
Reno hanya menghela nafas berat dan beranjak dari kursi untuk membayar pesanan mereka.
Chelsea pun ikut bangun setelah menghabiskan tehnya dan bergegas menyusul Reno.
Maafkan aku Reno, kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mencoba hidup baru dengan pria lain. Aku doakan kamu akan menemukan cintamu juga, batin Chelsea.
__ADS_1