Takdir Untukku

Takdir Untukku
Bertengkar (Lagi)


__ADS_3

“Aku harus balik ke kantor, masih ada pekerjaan,” ujar Chelsea saat Reno memaksanya masuk kembali ke restoran.


Makanan yang dipesannya baru sempat disantap 2 sendok dan perut Reno masih perlu diisi. Sayang meninggalkan pesanan makanan mereka yang secara harga di atas rata-rata.


Reno tidak menjawab namun tindakannya menunjukkan kalau ia tidak bisa dibantah dan tetap membawa Chelsea masuk kembali ke restoran.


Dio, Nia dan Nadya akhirnya mengekor. Reno langsung meminta tambahan meja dan menyuruh Chelsea duduk di sebelahnya.


Beberapa kali Chelsea menghela nafas dengan wajah kesal karena dipaksa Reno, namun bisikan Nia membuat Chelsea berusaha menetralkan perasaannya.


“Elo nggak kasihan sama Reno ditempelin ulet bulu kayak begitu ? Dio bilang Reno udah gerah banget,” bisik Nia saat Chelsea ragu untuk duduk di sebelah Reno.


Mengerti dengan suasana yang sudah tidak nyaman, hanya dalam waktu 15 menit Reno dan Dio menyelesaikan makan siang mereka.


Untung saja sudah terbiasa dengan kondisi di lapangan proyek yang tidak memungkinkan untuk menikmati makan siang lama-lama.


“Kenapa aku nggak balik kantor aja sama Nia ?” gerutu Chelsea saat Reno memaksanya bertukar posisi dengan Dio.


“Tolong bantu aku, Sea. Nadya benar-benar mengangguku. Sejak awal aku sudah bilang kalau sudah punya kekasih bahkan calon istr.”


“Dasar pembohong,” gerutu Chelsea sambil menatap ke samping jendela.


“‘Ngaku punya calon istri tapi dipeluk perempuan lain malah balas memeluk. Dasar cowok, dikasih ikan mana mungkin ditolak,” omel Chelsea dengan suara pelan namun masih terdengar oleh Reno.


”Jadi kamu ada di hotel itu juga ? Sama siapa ? Lagi ngapain ?”


“Kamu detektif apa kontraktor ?” cibir Chelsea.


”Jadi kamu cemburu melihat aku pelukan sama Nadya ? Nggak mau nanya kenapa sampai aku balas memeluknya ?” Reno malah balas meledek sambil tertawa.


“Siapa yang cemburu ?” protes Chelsea.


Reno masih tertawa dan membiarkan Chelsea menyandarkan kepala pada jendela sambil melihat keluar.


“Beneran nih nggak mau dengar alasannya ?” ledek Reno dengan tatapan fokus ke depan.


Chelsea diam saja malah memejamkan matanya. Reno melirik dengan perasaan gemas sekaligus bahagia. Rasa cemburu Chelsea memastikan kalau hati gadis itu belum bisa menghapus nama Reno sepenuhnya.


Sampai di lokasi rumah Nadya, Reno meminta Chelsea ikut turun dengannya demi menyelesaikan sandiwara mereka supaya Nadya tidak lagi mengganggu Reno.


Bahkan Reno berharap, Nadya akan membatalkan rencananya untuk menggunakan jasa Reno dalam pembangunan ulang rumah miliknya yang diwariskan dari Om Billy.


Ditemani Nia, Chelsea melihat-lihat lingkungan sekitar lokasi sedangkan Reno ditemani Dio berkeliling bangunan yang sebentar lagi akan dirubuhkan.

__ADS_1


Hingga 30 menit kemudian, Reno dan Dio sudah keluar lagi lewat gerbang utama.


“Elo anterin Nia ke kantor, ya, gue mau jalan sebentar sama Sea,” ujar Reno pada Dio setelah keempatnya sudah berdiri di samping 2 mobil.


Nadya masih di dalam lokasi sedang membahas design rumah dengan arsitek dan enggan mengantar Reno keluar.


Dio dan Nia dengan senang hati menerima kesempatan untuk berduaan sementara Reno dan Chelsea menyelesaikan masalah mereka.


”Reno, aku beneran harus balik kantor,” protes Chelsea saat pria itu menarik tangannya dan menyuruh masuk ke kursi penumpang mobil Dio.


“Aku udah minta ijin sama Om Agam dan akan mengantarmu setelah urusan kita selesai,” tegas Reno dengan wajah tidak bisa terbantahkam.


“Kenapa selalu minta dukungan Papi, sih !” Chelsea masih berdiri di samping pintu yang terbuka, wajahnya ditekuk dengan bibir cemberut.


“Mau masuk atau aku cium di sini ?” tanya Reno sambil menaikkan alisnya sebelah.


Chelsea mendengus kesal dan akhirnya menurut permintaan Reno. Terlalu beresiko melawan perintah Reno karena belakangan ini pria itu mendadak suka nekat dengan ucapannya.


“Kita mau kemana ?” tanya Chelsea saat mobil mulai melaju.


“Check in ke hotel,” sahut Reno dengan wajah datar.


“Dasar buaya gila !”


“Kenapa ? Kamu sendiri sudah nekat mau tetap menikah dengan Revan ? Kenapa ? Sudah kebelet ingin tahu bagaimana rasanya malam pertama ? Daripada sama Revan lebih baik prakteknya sama aku aja sekarang, dengan begitu Revan tidak bisa lagi memaksa kamu untuk menjadi istrinya.”


“Sea, jangan begini ! Aku lagi setir, bahaya !” bentak Reno membuat Chelsea terdiam dan kembali duduk tegak di kursinya sambil menatap keluar.


Suasana sempat hening hingga beberapa menit kemudian mobil berhenti di salah satu taman kota yang belum pernah didatangi Chelsea sebelumnya.


“Aku memang lelaki jahat dan brengsek yang pernah tega menyakiti hati perempuan sebaik dan setulus kamu, Sea. Tapi aku tidak pernah meniduri sembarangan wanita apalagi sampai memaksanya menikah hanya demi harta dan warisan.


Aku benar-benar hanya ingin menebus kesalahanku padamu dan tidak akan memaksa hatimu untuk menerimaku kembali kalau memang kamu tidak mau. Tolong bersabarlah sedikit,Sea, jangan gegabah mengambil keputusan untuk suatu pernikahan.”


Chelsea terdiam dan pandangannya masih menoleh ke jendela samping.


“Kejadian di hotel dengan Nadya tidak seperti yang kamu bayangkan, tidak sama dengan yang pernah aku lakukan 4 tahun lalu. Siang itu aku tidak hanya bersama dengan Nadya, ada Papa dan Om Billy juga. Sepertinya kita makan siang di hotel yang sama namun di restoran yang berbeda.”


“Aku sudah mengenal Nadya sejak masih sama-sama SMP meski kami tidak satu sekolah dan dia setahun lebih muda dariku. Nadya sempat pacaran dengan teman seangkatan dan satu sekolah denganku.


Beberapa kali kami bertemu karena Papa dan Om Billy merupakan teman bisnis. Aku yakin Om Agam juga mengenalnya.


Nadya meneruskan kuliahnya di luar negeri dan kami bertemu kembali saat kamu pergi ke Amerika. Itu pun karena undangan bisnis kedua orangtua.

__ADS_1


Nadya merupakan putri tunggal sementara kakak sulungnya sudah menikah dan kakak keduanya meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.


Aku sungguh-sungguh tidak tahu kalau sejak bertemu kembali 4 tahun yang lalu, Nadya jatuh hati padaku dan tidak peduli saat Papa bilang kalau aku sudah bertunangan denganmu.”


Reno menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Meski Chelsea tidak menanggapinya, Reno yakin kalau gadis itu mendengarkan penuturannya.


“Nadya tidak tahu kalau pertunanganku batal denganmu sampai akhirnya Papa yang bercerita pada Om Billy entah berapa tahun yang lalu.


Aku belum tahu kalau acara makan siang itu sengaja diatur Papa dan Om Billy untuk mempertemukan aku dengan Nadya atas permintaan gadis itu.


Aku menganggap hubunganku dengan Nadya hanya sebatas teman dan siang itu dia curhat soal hubungannya dengan banyak pria yang sering gagal bahkan ia hampir diperkosa oleh pacarnya yang terakhir. Nadya yang pertama memelukku dan karena kasihan aku mencoba menenangkannya.”


“Tidak perlu kamu jelaskan begitu detil padaku, Reno karena sudah seharusnya kita tidak usah peduli satu sama lain.”


“Kenapa kamu tidak bisa jujur pada hatimu kalau kamu cemburu, Sea ?”


“Aku kesal tapi bukan cemburu,” bantah Chelsea.


“Dengan seenaknya kamu bilang cinta padaku, memelukku dan menciumku saat statusku sudah menjadi kekasih bahkan tunangan kakakmu. Di mataku, kamu masih pria yang sama seperti 4 yang lalu. Pria yang suka mempermainkan perasaanku dan terlalu yakin kalau hanya dirimu yang ada dalam hatiku. Jangan terlalu percaya diri Reno, kejadian di hotel itu membuat aku kesal karena merasa begitu mudahnya dibodohi lagi oleh dirimu. Memaafkan kejadian 4 tahun lalu tidak sulit tapi melupakan apa yang aku lihat di kamar hotel tidak mudah.”


Chelsea membuka pintu mobil dan bersiap turun. Matanya sudah memerah dan mencoba menahan berbagai gejolak emosi di dalam hatinya.


“Sea, aku……”


“Tolong berhenti sampai di sini Reno, biarkan aku hidup tenang menjalankan hidupku. Kalau memang ke depannya keputusanku menikah dengan Revan salah, biar aku menanggungnya sendiri.


Sama seperti waktu aku menerima pertunangan kita sekalipun Papi dan Mami kurang setuju, resiko terburuk yang aku terima darimu aku jalani tanpa menyalahkan siapapun.”


“Sea, beri aku waktu 3 hari lagi, please,” Reno menangkup tangannya di depan wajah.


”Paling lambat 3 hari lagi akan aku perlihatkan semuanya kepadamu. Dan sungguh Sea, jika saat itu kamu memutuskan untuk tetap menikahi Revan atau membenci aku, semua terserah padamu.”


Chelsea menarik nafas dalam-dalam dan menghelanya perlahan sambil menatap Reno dengan wajah serius.


“3 hari, setelah itu jangan ganggu lagi hidupku,” ujar Chelsea dengan tegas.


“Terima kasih, Sea.”


Chelsea reflek menjauhkan tangannya saat Reno hendak menggenggamnya. Reno tersenyum tipis dan menyalakan kembali mobilnya.


Lebih baik saat ini mengalah dan membiarkan Chelsea meredakan rasa kesalnya.


“Aku antar ke kantor atau langsung pulang ?”

__ADS_1


“Ke kantor aja.”


Keduanya hanya terdiam selama perjalanan kembali ke kantor, larut dengan pikiran masing-masing dan perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.


__ADS_2