
Reno sengaja tidak pulang ke rumah setelah mendapat kabar dari Mama kalau Chelsea akan bertunangan dengan Bastian di hari Sabtu ini.
Hatinya benar-benar hancur berantakan, namun Reno tidak marah apalagi membenci Chelsea. Sekarang ia benar-benar mengerti bagaimana perasaan Chelsea saat melihat Reno dengan Sherly di kamar hotel. Hancur berantakan seperti kaca yang pecah, sulit untuk dibentuk kembali.
Robert dan Siska pun ikut hadir sebagai keluarga meskipun hati mereka sebetulnya sakit. Gadis kecil yang selalu menjadi bagian keluarga dan diharapkan menjadi istri salah satu putra mereka akhirnya akan dipinang oleh lelaki lain.
Namun sama seperti Reno, kedua orangtuanya tidak menyalahkan keputusan Chelsea. Gadis itu sudah berusaha mewujudkan harapan Robert dan Siska, namun apa mau dikata, kedua putra mereka malah menyakiti Chelsea.
“Kamu kelihatan cantik banget hari ini, Sayang,” ujar Mama Siska dengan mata berkaca-kaca.
Mama Siska tidak mampu menyembunyikan rasa sedihnya saat melihat Chelsea turun dari kamarnya.
“Pengaruh baju kayaknya, Tante,” sahut Chelsea sambil tersenyum manis
“Sayang, bisakah kamu tetap memanggil kami Papa dan Mama. Kami yakin kalau kelak istri Revan dan Reno tidak akan cemburu atau keberatan mendengarmu memanggil kami begitu. Rasanya malah aneh mendengar kamu memanggil om dan tante.”
Chelsea sempat melirik Mami Nina yang berdiri di belakang Mama Siska dan terlihat wanita itu mengangguk.
“Iya, Sea akan tetap memanggil Mama dan Papa.”
Mama Siska langsung memeluk Chelsea dengan air mata yang sudah tidak mampu ditahannya.
Papi Agam dan Papa Robert yang baru saja masuk ke ruang tengah terlihat sama-sama mengerutkan dahi dan menatap ke arah Mami Nina dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Jangan menangis dong, Ma, ini kan hari bahagia Sea, masa Mama malah nangis ?”
Chelsea mengusap lembut punggung Mama Siska sambil tersenyum. Hati kecilnya tercubit, masih ada sisa rasa sedih yang tertinggal di dalam hati Chelsea, tapi hidupnya tidak bisa berjalan seperti yang diharapkan Mama Siska dan dirinya dulu.
Tidak lama bibik mengabarkan kalau ada 3 mobil baru saja masuk ke halaman.
Keempat orangtua itu lebih dulu keluar menyambut tamu yang baru datang sementara Chelsea masih menunggu di ruang tengah bersama Nia. Tidak lama Carmila turun dari kamarnya yang ada di lantai 2.
__ADS_1
”Semoga elo berbahagia terus sama Bastian, Sea,” ujar Nia dengan senyuman.
Sama seperti Mama Siska, ada rasa sedih di dalam hati Nia karena Chelsea tidak jadi dengan Reno. Meskipun pada awalnya Reno adalah cowok brengsek di mata Nia, tapi melihat bagaimana Reno berubah dan menunjukkan penyesalan serta cintanya hampir 5 tahun terakhir ini, Nia malah sedih saat Chelsea akan menikah dengan pria lain.
“Duh cantiknya adik satu ini,” puji Carmila yang langsung memeluk adik semata wayangnya.
“Kamu memang luar biasa loh, Sea. Kakak aja belum pernah pacaran karena takut kecewa dan sakit, tapi kamu berani menerima cowok lain untuk kembali bertunangan meski sudah 2 kali gagal.”
“Kakak memuji apa menyindir ?” gerutu Chelsea dengan wajah cemberut sambil melerai pelukannya.
Nia dan Carmila tertawa melihat wajah cantik Chelsea ditekuk.
Tidak lama Mami Nina masuk dan meminta Chelsea keluar ditemani Carmila dan Nia.
Chelsea menunduk malu-malu, jantungnya berdegup tidak karuan, berbeda rasanya dengan waktu dilamar Robert dan Nina untuk Reno.
“Nah ini putri kami,” ujar Mami Nina menggamit putrinya untuk duduk di sebelahnya bersama Papi Agam.
Papi Agam pun secara formal menjelaskan maksud kedatangan keluarga Bastian ke rumah mereka. Memang bukan yang pertama untuk Chelsea tapi tidak juga langsung menyodorkan putrinya begitu saja pada calon besannya.
Hari itu kedua kakak laki-laki Bastian, Benny dan Bimo ikut hadir bersama istri mereka. Benny yang tertua sudah memiliki 1 anak laki-laki yang berusia 2 tahun dan Bimo sedang menantikan kelahiran anak pertamanya. Istri Bimo sedang hamil 4 bulan saat ini.
“Jadi bagaimana, Chelsea, apa lamaran kami untuk
Bastian diterima ?” tanya papa Bastian dengan senyuman ramahnya.
Chelsea melirik ke arah Bastian yang sedari tadi menatapnya dengan wajah bahagia. Dengan wajah malu-malu Chelsea mengangguk membuat Bastian langsung menarik nafas lega.
Kedua orangtua Bastian, Rudi dan Mitha ikut tersenyum bahagia karena si bungsu yang akan memasuki usia ke-31 akhirnya menemukan tambatan hatinya.
Mama Siska terlihat menghela nafas berkali-kali, teringat bagaimana hatinya begitu bahagia saat Chelsea menerima lamaran mereka untuk Reno 5 tahun yang lalu, sementara saat dengan Revan, Mama Siska bisa merasakan kalau kedua calon mempelainya tidak memiliki cinta.
__ADS_1
Selesai acara formal, kedua keluarga langsung masuk ke acara ramah tamah yang terlihat lebih santai dan akrab.
Chelsea yang sempat beberapa kali diajak dalam acara keluarga Bastian sudah tidak canggung lagi berhadapan dengan kedua kakak dan kakak ipar Bastiam.
Mereka memuji kalau Bastian beruntung mendapatkan Chelsea yang masih muda, cantik dan serba bisa untuk menjadi istrinya.
***
Sementara Nia menemani Chelsea yang sedang berbahagia, Dio memilih menemani Reno yang sedang melow dan memilih tinggal di apartemen miliknya daripada pulang ke rumah.
“Mau sampai kapan elo di sini ?” tanya Dio ikut duduk di sofa dekat Reno.
Sejak pertemuannya dengan Chelsea di kafe, Reno benar-benar menghindari Chelsea bahkan untuk urusan pekerjaan.
Sudah 3 hari ini dia memilih tinggal di apartemen yang lokasinya cukup jauh daril kantor. Bangunan apartemen yang sama dengan tempat tinggal Dita.
Reno sengaja membeli unit di lantai 7 juga karena saat itu ia mulai curiga kalau Revan punya wanita lain padahal statusnya adalah kekasih Chelsea.
“Gue mau jual apartemen ini,” ujar Reno yang masih duduk bersandar di sofa.
“Kenapa ? Kan nggak ada hubungannya sama Chelsea. Lagipula secara lokasi cukup strategis buat elo kalau lagi mau semedi,” ledek Dio.
“Gimana nggak ada hubungannya sama Sea ? Apartemen ini gue beli karena Dita tinggal di sini. Satu-satunya cara untuk mengetahui rencana Kak Revan ya langsung ke sumber masalahnya. Sekarang urusan sama Dita kan udah beres, jadi mau gue jual aja, tukar dengan tempat yang dekat ke kantor.”
“Belajar ikhlas, Ren kalau memang elo cinta sama Chelsea, relain dia bahagia sama cowok lain. Apalagi kali ini cowok tua itu kan pilihan Chlesea sendiri beda sama elo yang hanya dia cintai sepihak dan Kak Revan yang dia terima karena terpaksa.”
“Plagiat,” ketus Reno. “Omongan elo sama persis dengan ucapan Sea. Dia bilang hal yang sama. Nyebelin !”
Dio tergelak, bukan karena ingin mengejek Reno tapi sebaliknya Dio ingin membuat Reno tidak berlarut-larut dalam perasaan sedihnya.
Biar bagaimana Chelsea sudah memutuskan jalan hidupnya berarti Reno tidak bisa lagi mengharapkan gadis itu menjadi miliknya. Reno harus keluar dari rasa penyesalan dan melanjutkan hidup yang masih panjang.
__ADS_1
Dio melihat handphonenya yang penuh dengan kiriman foto dari Nia. Tidak ada niat sedikit pun untuk memperlihatkan kebahagiaan Chelsea pada Reno.