
Meski Reno tidak ada di sampingnya, Chelsea enggan tidur di kamar bawah karena tidak ada bau-bau Reno yang selalu membuat hatinya tenang.
Chelsea yang masih melow di awal kehamilannya sering menangis sendirian karena merindukan Reno yang sudah 4 hari ini masih sibuk di Surabaya dan tidak ada tanda-tanda bisa segera pulang.
“Dita sudah melahirkan semalam, rencananya Mami mau besuk ke rumah sakit sama Mama Siska siang ini. Sea mau ikut ? Nanti Mami jemput ke kantor kalau Sea mau ikut,” ujar Mami Nina saat mereka sedang sarapan.
“Wah sudah lahiran, Mi ? Anaknya laki atau perempuan ?”
“Laki lagi.”
“Atau nanti Sea berangkat sama Papi aja dari kantor, jadi Mami bisa langsung ke rumah sakit,” ujar Papi Agam.
“Ya udah begitu aja, Mi. Nanti Sea pergi sama Papi.”
Tidak ada drama pagi ini dan Papi sudah mulai menahan diri untuk tidak meledek Reno demi menjaga emosi putrinya. Apalagi setiap pagi mereka melihat bagaimana mata Chelsea sembab. Tidak perlu ditanya alasannya karena sebagai orangtua, mereka mengerti kalau perasaan putrinya yang sedang super sensitif ini harus menahan rindu pada suaminya yang sedang mencari nafkah.
Sudah 2 hari ini pula sejak berangkat dengan Papi, Chelsea lebih banyak diam sepanjang perjalanan kantor. Sesekali Papi mengajaknya bicara namun hanya seputar masalah pekerjaan, tidak menyinggung soal Reno.
Hanum, pengawal yang ditugaskan menjaga Chelsea masih bertugas. Setiap pagi ia datang dan pulang saat Chelsea sudah kembali ke rumah lagi. Wanita yang jago bela diri dan menembak ini akan menemani Chelsea kemanapun ia pergi termasuk keluar makan siang dengan Nia.
“Mau makan siang dulu sama Papi sebelum ke rumah sakit, Sea ?” tanya Papi saat keduanya sudah berada di lantai yang sama, hanya berbeda ruangan saja.
“Boleh, jam berapa kita jalan dari kantor, Pi ?”
“Jam 11.30 gimana ?” Chelsea hanya mengangguk sebagai jawaban.
Pagi ini perasaan Chelsea tambah tidak nyaman karena sejak semalam Reno tidak menghubunginya, hanya mengirimkan pesan sekitar jam 12 malam dan baru dibaca Chelsea pagi ini. Balasan yang dikirimnya tidak mendapat jawaban apapun dari Reno bahkan belum dibuka oleh suaminya.
“Ni, tolong tanyain Dio mereka lagi sibuk apaan sampai Reno nggak sempat membalas wa gue dan belum nelepon sama sekali sejak kemarin sore.”
“Semalam Dio kasih kabar kalau dia lagi pergi ke Malang sampai besok, jadi nggak bareng sama Reno. Di Surabaya ada Karina yang menemani Reno mengurus proyek.”
“Mereka menginap di satu hotel ?”
__ADS_1
“Sepertinya begitu, Sea. Gue coba minta nomor Karina sama Dio sekalian minta tolong Dio supaya ngomong ke Reno kalau elo nunggu balasan pesan.”
“Thankyou Ni.”
Nia mengangguk dan keluar dari ruangan Chelsea. Hari ini jadwal meeting dengan klien memang tidak ada dan Chelsea pun sudah mengabarkan kalau siang ini ia akan pergi dengan Papi ke rumah sakit.
***
Chelsea belajar menggendong bayi mungil anak kedua Revan dan Dita dengan wajah berbinar, membayangkan sebentar lagi ia pun akan memiliki anak dengan Reno.
“Udah pintar gendong nih, Sea, “ ledek Revan.
“Harus dong, kan sebentar lagi Sea juga jadi mami,” sahut Mama Siska mengusap punggung menantunya yang sedang menatap takjub bayi mungil yang ada di gendongannya.
“Reno sudah dikabari, Sea ?’ tanya Mami.
“Dari semalam teleponnya nggak diangkat dan hanya kirim satu pesan selamat malam doang, itu pun dikirimnya jam 12 malam. Hari ini Sea udah kirim pesan tapi belum dibaca sama sekali.”
Bayi yang diberi nama Rafael itu menangis, sepertinya sudah waktunya minum asi lagi. Chelsea pun menyerahkan Rafael ke Dita.
“Sea mau beli minuman dulu di bawah, Mi,” ujar Chelsea saat berdiri di samping Mami.
“Sebentar Mami temani, kamu nggak boleh sendirian apalagi Hanum nggak ikut.”
“Hanum siapa, Mi ?” tanya Revan.
“Pengawal barunya Sea, jaga-jaga supaya Mike nggak mengganggu Chelsea lagi.”
Revan mengerutkan dahi, sepertinya dia kehilangan berita soal Mike sampai keputusan mempekerjakan pengawal untuk Chelsea.
“Biar aku aja yang menemani Sea ke bawah, Mi. Sekalian aku mau beli kopi juga, mulai ngantuk.”
__ADS_1
Revan pun menemani adik iparnya turun ke lobby rumah sakit sambil mendengarkan cerita soal Mike dan Tamara. Terlihat pria itu geram karena keluarga Bastian masih saja mengganggu adik iparnya itu.
“Aku banyak kenalan orang-orang yang biasa dengan dunia malam, Sea. Boleh kamu kirim foto Mike ke nomorku, siapa tahu ada yang kenal. Orang seperti itu pasti akan selalu mencari celah untuk merusak kebahagiaan orang. Lagipula untuk apa juga dia gangguin hidupmu, toh Bastian dan anaknya tidak bisa dihidupkan kembali.”
“Sudah aku kirim, Kak,” ujar Chelsea sambil tersenyum.
Revan membuka foto yang dikirim Chelsea dan langsung menghubungi beberapa teman yang dikenalnya saat Revan makih akrab dengan dunia malam. Bahkan Dita adalah salah satu orang yang pernah ditemuinya dari dunia malam.
Chelsea membayar pesanan minuman mereka termasuk untuk keempat orangtua mereka dan Radit. Chelsea sempat memeriksa handphonenya, namun pesan yang dia kirim masih juga belum terbaca oleh Reno.
“Sea, aku ke lobby sebentar untuk terima telepon temanku. Sinyal di sini kurang bagus, dari tadi putus-putus terus.”
Chelsea mengangguk dan mencari tempat duduk sambil menunggu namanya dipanggil. Ia mencoba menghubungi Reno, namun baru 3 kali nada dering, panggilannya langsung masuk ke kotak suara seperti di reject oleh pemilik handphone.
Akhirnya Chelsea mengirimkan pesan baru, mengabarkan kalau anak Revan dan Dita sudah lahir dan sekarang dia sedang datang membesuk bersama Papi dan Mami.
Mendadak Chelsea ingin buang air kecil dan sepertinya tidak bisa ditahan sampai kembali ke kamar. Cheslea sempat mencari Revan tapi terlihat pria itu masih serius berbicara di handphone.
Karena desakan ingin ke kamar kecilnya makin tidak bisa ditahan, akhirnya Chelsea menitipkan pesan pada kasir supaya Revan menunggunya sebentar.
Chelsea sempat merasa ragu dan khawatir tapi saat melihat suasana rumah sakit cukup ramai, hati Chelsea sedikit lebih tenang.
Begitu selesai dengan urusan kamar mandi, Chelsea bergegas ingin kembali ke kafe, takut Revan bingung mencarinya karena bisa-bisanya baterai handphone Chelsea kehabisan daya. Rupanya semalam ia lupa mengisi ulang karena lelah menunggu telepon dari Reno.
Chelsea terkejut saat di luar, seorang laki-laki dengan pakaian perawat sudah menunggunya dan langsung menempelkan sebuah pisau lipat persis di samping perut Chelsea.
“Jangan melawan atau bayimu akan kenapa-napa,” bisik perawat pria itu dengan wajah datar seolah sedang berbincang dengan pasien.
Chelsea sempat berniat melawan, tapi tekanan pisau lipat itu yang benar-benar persis di perut sampingnya membuat Chelsea mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin janin yang ada di dalam kandungannya kenapa-napa.
Chelsea ingin berteriak saat melihat Revan sedang mencarinya di sekitaran kafe, tapi pria itu membawanya ke sisi yang berbeda, ke arah ruang UGD. Rasa cemas dan takut menyelimuti hati Chelsea namun sebisa mungkin ia harus terlihat tenang.
Ada sedikit penyesalan karena menolak Hanum ikut dengannya hari ini karena Chelsea berpikir sudah ada Papi dan Mami yang akan pergi bersamanya, selain itu tujuan mereka adalah rumah sakit dimana suasananya pasti cukup ramai hingga kemungkinan kecil terjadi sesuatu pada dirinya.
Chelsea yakin kalau semuanya bukan kebetulan dan ini semua adalah perbuatan Mike. Rupanya pria itu sudah menempatkan orang untuk mengawasi gerak-geriknya.
Chelsea hanya bisa berdoa semoga ia bisa segera ditemukan dan penculiknya tidak akan melakukan kekerasan pada dirinya dan bayi yang ada di dalam perutnya.
__ADS_1