
“Bas, bisa tolong ikuti motor itu ?” pinta Chelsea saat mereka baru saja keluar dari rumah makan.
“Kamu kenal ?”
“Seperti Dita. Kamu ingat kan siapa Dita, Bas ?”
“Iya istri sirinya Revan. Terus kamu mau ngapain ?”
“Aku kasihan sama Tante Siska, Bas, sejak kejadian Reno lalu Revan, sepertinya beliau sempat stress dan beberapa kali Mami menemani berobat atau sekedar jalan-jalan untuk menghilangkan stress.”
Motor yang ditumpangi wanita yang terlihat seperti Dita itu masuk ke dalam gang kecil yang tidak bisa dilewati mobil.
“Aku turun sebentar ya, Bas. Mau memastikan saja.”
“Kalau sampai terlalu jauh masuk-masuk gang, kamu balik lagi, aku tunggu di sini,” ujar Sebastian mengambil masker dari laci dashboard dan memberikannya pada Chelsea.
“Pakai ini supaya Dita nggak kabur begitu melihat kamu.”
Chelsea menurut dan hanya membawa handphone miliknya lalu turun dari mobil Bastian.
Motor yang dicari sudah tidak terlihat di gang tapi Chelsea meneruskan langkahnya menelusuri gang kecil yang hanya bisa dilewati 2 motor, berharap bisa menemukan Dita di salah satu rumah.
Mendekati perempatan lain yang ada di ujung gang, mata Chelsea memicing. Ia berusaha melihat plat nomor yang dihafalnya saat mengikuti motor tadi dan akhirnya ia yakin saat seorang anak kecil keluar dari pintu rumah dalam gendongan seorang wanita baya.
“Cari siapa ?” tanya ibu itu dengan dahi berkerut.
“Radit ya ?” tanya Chelsea ragu-ragu dan langsung tersenyum saat melihat anak itu menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
“Mbak cari siapa ?” tanya ibu itu sambil tetap berdiri di pintu masuk.
“Saya mau bicara dengan Mbak Dita.”
“Mbak siapa ?”
“Saya Chelsea, Bu, temannya Kak Revan dan Reno.”
“Lebih baik Nona pergi dari sini !” hardik Ibu tadi dengan suara dan wajah yang tiba-tiba emosi membuat Radit menatapnya dengan wajah bingung.
“Tapi Bu, saya kemari bukan karena disuruh Revan atau keluarganya,” ujar Chelsea menjelaskan.
Ia melepaskan maskernya supaya lebih leluasa berbicara.
“Mau ngapain kamu kemari ?” bentak Dita dengan mata melotot.
Wanita itu sempat memperhatikan dari dalam dan langsung mengenali Chelsea begitu gadis itu melepaskan maskernya.
“Saya boleh masuk dan bicara sebentar dengan Mbak Dita ?” Chelsea semakin mendekati pagar dan menatap Dita dari balik jeruji besi.
__ADS_1
“Buat apa lagi ?” bentak Dita dan menyuruh ibu tadi masuk ke dalam membawa Radit.
“Silakan kalau kamu mau menikah dengan Revan, saya tidak akan menuntut apapun tapi jangan coba-coba merebut Radit dari saya !” tegas Dita dengan suara meninggi.
“Boleh saya masuk, Mbak ? Nggak enak kalau bicara di luar,” pinta Chelsea dengan nada memohon.
“Saya datang bukan sebagai tunangan Kak Revan, tapi sebagai Chelsea. Pertunangan kami sudah batal, Mbak Dita. Tolong beri saya kesempatan untuk bicara.”
Dita tampak ragu tapi melihat wajah Chelsea yang terlihat tulus dan serius akhirnya Dita luluh juga.
“Sebentar.”
Dita pun kembali keluar setelah mengambil kunci gembok dan membukakan pintu untuk Chelsea sementara gadis itu memberi kabar pada Bastian dan meminta pria itu menyusulnya.
Namun Bastian menolak dengan alasan Dita pasti akan canggung kalau sampai ada Bastian di rumah Dita.
Bastian berjanji akan menjemput Chelsea kembali setelah ia selesai berbincang dengan Dita.
“Apa yang mau kamu bicarakan ?” tanya Dita dengan wajah kurang bersahabat.
Keduanya duduk berhadapan di kursi kayu yang ada di ruang tamu merangkap tempat nonton televisi.
”Kenapa Mbak Dita pergi tiba-tiba ?”
“Kenapa ?” Dita tersenyum sinis. “Bukankah kamu adalah perempuan kesayangan keluarganya yang akan menikah dengan Revan ?”
“Bukankah kalian bisa bekerjasama sampai pembagian saham Revan selesai ?” sindir Dita dengan senyuman sinis.
Chelsea tersenyum tipis lalu mulai menceritakan bagaimana Papa Robert marah pada Revan dan batal memberikan semuanya pada pria itu sampai pada keinginan Mama Siska untuk bertemu dengan Dita dan Radit.
”Orang-orang kaya itu pasti hanya menginginkan Radit tapi akan membuangku sebagai ibunya Radit karena aku adalah menantu yang memalukan.”
“Om Robert dan Tante Siska sudah tahu soal masalah Mbak Dita yang pernah menikah siri sebelumnya,” ujar Chelsea sambil tersenyum.
Mata Dita membola mendengar ucapan Chelsea.
”Bahkan Kak Revan juga sudah tahu cukup lama. Mungkin itulah yang menyebabkan Kak Revan dan keluarganya bersikap tidak baik pada Mbak Dita. Tapi percayalah kalau kedua orangtua Kak Revan tidak sepicik itu. Mereka tidak akan membiarkan anaknya melepas tanggungjawab bukan hanya pada Radit tapi juga pada Mbak Dita sebagai mamanya Radit.”
“Sepertinya kamu sangat mengenal mereka dan terlalu yakin dengan ucapanmu.”
Chelsea hanya tersenyum tipis melihat sikap Dita yang masih sinis padanya.
“Saya akan membuktikan pada Mbak Dita kalau apa yang saya lakukan tulus untuk kebaikan semuanya. Bukan hanya untuk Kak Revan dan keluarganya tapi juga untuk Mbak Dita dan Radit.”
Chelsea menatap Dita sedang mengusap kepala Radit yang sejak tadi bergantian memperhatikan Chelsesa dan mamanya berbicara.
Bocah 3 tahun itu enggan dibawa masuk dan merengek minta dipangku oleh Dita.
__ADS_1
“Berikan saya kesempatan, Mbak untuk meluruskan semuanya. Tolong jangan pergi menghilang lagi. Kalau sampai keluarga Om Robert atau Revan berniat memisahkan Mbak Dita dan Radit, saya sendiri yang akan membantu kalian menghilang dari Kak Revan dan keluarganya.”
Dita menatap Chelsea dalam-dalam dan tatapannya sudah tidak sesinis tadi.
“Kesempatan yang datang dalam hidup harus dicoba meskipun pada akhirnya berakhir dengan kegagalan atau tidak sesuai dengan harapan kita. Apalagi Radit memang membutuhkan orangtua yang lengkap dan saya bisa melihat kalau Kak Revan menyayangi Radit juga.”
“Apa saya bisa mempercayai ucapanmu ?” tanya Dita dengan mata memicing.
“Kita memang belum mengenal sebelumnya tapi kalau sampai saya melanggar apa yang saya ucapkan saat ini, Mbak Dita boleh membenci saya seumur hidup.”
Dita yang menatap Radit berharap bisa bertemu dengan papanya akhirnya mengangguk dan setuju dengan permintaan Chelsea.
Mereka pun bertukar nomor handphone untuk bisa saling memberikan kabar.
Sesudah urusannya dengan Dita selesai, Chelsea langsung menghubungan Bastian dan meminta pria itu menjemput di tempat yang sama.
Chelsea sempat berbincang dengan Radit namun tidak mau berjanji apapun pada bocah itu yang menatapnya penuh harap.
“Jadi kapan kamu akan membawa saya menemui keluarga Revan ?”
”Bukan saya yang akan membawa Mbak Dita dan Radit tapi sudah seharusnya Revan yang menjemput istri dan anaknya untuk dipertemukan dengan keluarganya. Tolong percaya pada saya dan mungkin akan membutuhkan sedikit waktu untuk membuat Kak Revan sadar dengan kesalahannya.”
“Saya percaya padamu,” ujar Dita saat mengantar Chelsea keluar.
“Terima kasih, Mbak,” Chelsea tersenyum dan berpamitan juga pada Radit yang berceloteh.
“Tunggu !” Chelsea yang hendak keluar pagar berhenti dan menoleh.
“Apa kamu kembali pada Reno ? Revan pernah bercerita pada saya kalau dia kesulitan membuatmu menikah dengannya karena kamu sangat mencintai Reno. Apa dia yang mengantarmu kemari ?”
“Bukan Reno,” Chelsea tertawa pelan sambil menggeleng.
“Kedua kakak beradik itu sudah membuat saya kapok untuk menjalin hubungan dnegan mereka karena itu saya sudah memutuskan untuk memulai hidup saya dengan pria lain.”
Chelsea membuka galeri handphonenya dan memperlihatkan foto yang baru saja diambilnya beberapa jam yang lalu.
“Namanya Bastian dan saya menyukainya sama seperti saya menyukai Reno, bahkan saya lebih bahagia karena Bastian seorang pria yang perhatian dan mencintai saya juga.”
Untuk pertama kalinya Dita tersenyum tipis dan mengembalikan handphone Chelsea.
”Namun Revan bilang kalau Reno sangat mencintaimu dan bagaimana dia begitu hancur saat kamu pergi ke Amerika.”
“Sekarang semuanya sudah menjadi masa lalu, Mbak Dita. Saya hanya ingin membuat hidup saya lebih baik dengan pria yang tidak kalah baiknya dengan Reno. Terima kasih Mbak Dita sudah mempercayai saya.”
Chelsea pun menyusuri gang kecil itu sambil memikirkan ucapan Dita soal Reno. Senyuman tipis menghiasi wajahnya, menganggap semua kejadian dengan Reno sebagai pelajaran berharga.
Chelsea langsung tersenyum lebar begitu sampai di ujung gang saat melihat pria tampan yang mengajaknya menikah cepat-cepat berdiri di samping mobil menunggunya dengan senyuman penuh cinta.
__ADS_1