
5 bulan berlalu.
Hari ini Tamara mengajak Chelsea bertemu. Wanita itu akan mengambil tawaran bekerja di Malang, masih di bidang yang sama.
“Bagaimana kabar anak kalian ?” tanya Tamara saat keduanya duduk berhadapan di salah satu warung yang ada di pinggir pantai.
Chelsea mengeluarkan handphone dan memperlihatkan foto-foto Rachel dan satu video saat baby Rachel sedang bermain dengan Reno.
“Wajahnya kenapa mirip Reno versi perempuan ?”
“Semua yang melihatnya bilang begitu,” gerutu Chelsea dengan wajah kesal.
“Tapi matanya persis seperti milikmu. Bagian yang selalu membuatnya jatuh cinta dan sulit melepaskanmu.”
“Dia pernah bilang begitu sama kamu ?” Mata Chelsea memicing dan sikapnya mendadak waspada.
“Iya,” Tamara mengangguk sambil tertawa. Ia menangkap ada bau-bau cemburu dalam ucapan Chelsea, apalagi saat bibir mami muda di depannya menggerutu sendiri.
“Saat itu aku memaksanya untuk mengatakan apa yang membuat Reno begitu mencintaimu dan tidak bisa beralih pada perempuan lain. Reno bilang dia suka matamu terutama saat kamu sedang menarik perhatian atau membujuknya. Kerjap matamu seperti memancarkan cahaya bintang yang membuat Reno selalu tertarik untuk memandangnya.”
“Jangan bohong hanya demi membuat aku bahagia.”
“Swear deh, Sea,” Tamara mengangkat tangan dan membentuk huruf V dengan jemarinya. Ia kembali tertawa saat melihat wajah Chelsea tersipu sampai merona.
“Aku bahagia melihat Reno bahagia dan sepertinya aku harus berada jauh darinya. Perasaanku mungkin nggak selama kamu, Sea, tapi cukup menyiksaku karena sudah 10 tahun aku menanti Reno tapi jangankan berpaling, melirik aku aja nggak.”
“Aku percaya kamu akan menemukan jodohmu yang lebih baik dari Reno.”
“Terima kasih, Sea. Aku bahagia karena kamulah yang menjadi pilihan Reno. Wanita luar biasa yang tangguh namun penuh dengan cinta. Aku doakan yang terbaik untuk kalian sekeluarga.”
“Doaku juga yang terbaik untukmu, Tamara,” ujar Chelsea sambil tersenyum.
“Ngomong-ngomong, bunga untuk siapa, Sea ?” Tamara menunjuk satu ikat buka magrit yang diletakkan di atas meja.
”Aku mau melarungnya di laut untuk mengenang Sebastian yang pergi 500 hari yang lalu.”
“Kamu menghitungnya, Sea ?” tanya Tamara dengan mata membola.
“Nggak sengaja,” Chelsea tertawa. “Aku sedang menghapus banyak chatiing di handphone dan menemukan pesan terakhir yang Bastian kirimkan untukku. Setelah aku hitung, hari ini adalah hari ke-500 sejak kecelakaan pesawat itu terjadi.”
“Kamu masih mencintai Bastian, Sea ?” Chelsea langsung menggeleng.
“Saat ini cintaku untuk Reno dan Rachel. Bastian adalah pria yang berhasil membuatku jatuh cinta selain Reno tapi dia sudah jadi masa lalu, tidak boleh ada sisa tentangnya di hatiku.”
“Kalau begitu aku pamit dulu, Sea. Semoga kalian cepat dikaruniai anak lagi.”
“Nggak ada doa yang lain ?” mata Chelsea memciing . “Kayak kejar target kalau udah produksi lagi.”
Tamara dan Chelsea tertawa bersamaan dan bersalaman sambil berpelukan.
“Semoga kamu akan sukses di tempat yang baru, Tamara dan setulus hati aku doakan kamu segera dapat jodoh.”
Tamara mengangguk dan melerai pelukannya.
“Aku jalan dulu, titip salam untuk Reno dan Rachel.”
Chelsea tersenyum dan mengangguk lalu mrmbalas lambaian tangan Tamara.
__ADS_1
Setelah gadis itu menjauh, Chelsea melepas sepatu balerinanya. Langkahnya membawa Chelsea menuju pantai sambil membawa bunga magrit yang tadi ditanyakan Tamara.
Sampai di pinggir pantai, ia melepaskan ikatan bunga itu dan melarungkan di antara deburan ombak yang menyisir di bibir pantai.
Doaku selalu untukmu Bastian. Semoga kamu hidup bahagia di alam keabadian. Terima kasih karena sudah memberikan penuh cinta walau hanya sebentar. Terima kasih telah percaya padaku dengan memberikan semua harta milikmu. Tapi jangan khawatir, tidak akan aku hamburkan, akan aku berikan untuk orang-orang yang membutuhkan agar hidupmu lebih tenang dan bahagia.
Sekarang aku benar-benar bahagia bersama Reno dan putri kami Rachel. Pria yang suka menggerutu itu akan selalu menjadi cinta pertamaku dan pelabuhan terakhirku, sekalipun kamu pernah hadir sebagai intermezzo di tengah kami.
“Sudah doanya, Sayang ?”
Tangan kekar itu melingkar di pinggang Chelsea dan kepalanya bersandar pads bahu istrinya.
“Memangnya tahu darimana aku lagi berdoa ?”
“Aku ini sudah jadi belahan jiwamu, my sweet Sea. Apalagi tubuh kita sudah terlalu sering menyatu, jadi hatiku lebih sensitif kalau soal menebak perasaanmu.”
Chelsea tertawa dan membalikkan badan lalu mengalungkan tangan di leher Reno.
“Kabur dari kantor ? Baru jam setengah lima udah sampai di sini.”
“Iya aku kabur, mumpung papi ada di kantor lagi jadi teman curhat papa. Begitu dengar aku mau menjemput anak manjanya, papi malah mengusirku suruh cepat-cepat menjemputmu. Papi bilang awas saja kalau gadis porselennya gosong terbakar matahari pantai.”
“Lebay ! Bohongnya kebanyakan,” Chelsea memukul bahu Reno sambil tertawa.
“Beneran kalau papi langsung suruh aku pergi menjemputmu.”
Chelsea mengangguk-angguk dan berjinjit mencium bibir Reno.
“I love you Reno Juanda.”
Reno tidak langsung menjawab malah ia memicingkan mata menelisik wajah Chelsea.
Chelsea tertawa lalu melepaskan tangannya dari leher Reno dan merangkul lengan suaminya, mengajaknya menyusuri pantai dengan udara sore yang cukup kencang.
“Aku hanya laporan sama Bastian kalau aku sangat mencintai suamiku dan sekarang sudah punya anak. Aku juga berterima kasih karena Bastian mempercayakan harta miliknya padaku. Kalau soal cinta, kenanganku sama Bastian udah nggak tahu dimana, meski kalau dikorek-korek masih ketemu di dalam hatiku. Tapi itu semua udah nggak penting karena cintaku dan hidupku seutuhnya untuk Reno Juanda, pria pengggerutu yang menjadi cinta pertamaku dan pelabuhan terakhirku.”
“Duh kok aku melayang mendengar kamu bilang begitu ?” Reno mengusap tengkuknya sambil tertawa.
“Kalau melayang itu terbang, kalau usap tengkuk artinya merinding,” gerutu Chelsea dengan wajah cemberut.
Reno tertawa dan menggenggam jemari Chelsea yang bergelayut di lengannya.
“Aku nggak punya sayap jadi nggak bisa mengekspresikan gaya terbang.” Chelsea mencebik melihat Reno tertawa.
“Pulang yuk, kasihan kalau Rachel ditinggal lama-lama, dia pasti nyariin kamu karena maunya langsung menikmati ASI dari sumbernya.”
“Kayak papinya,” gerutu Chelsea mengikuti Reno yang membawanya menjauh dari bibir pantai.
“Mau bikin adiknya Rachel malam ini ?”
“Tumben banget pakai ijin segala, biasa nggak dikasih aja maksa !”
”Habis kamu menggoda aku terus sampai kecanduan, jadi jangan salahkan aku membalas ungkapan cinta dari istriku.”
“Haiiss kamu selalu bisa aja menjawabku.”
Chelsea mengeluarkan tisu untuk membersihkan kakinya sebelum memakai sepatu kembali.
__ADS_1
“Kamu duduk aja di mobil, aku yang akan membersihkannya.”
“Aku bisa sendiri.”
“Biarkan suamimu ini melayani sekarang, jatah kamu nanti malam membuat aku kembali melayang.”
“Dasae pamrih !”
Reno tertawa dan membasuh kaki Chlesea dengan air mineral dan mengeringkannya dengan tisu.
Mata Chrelsea memicing saat menangkap sosok yang selalu membuatnya penasaran.
“Mr. Black,” desis Chelsea.
Reno langsung mendongak saat Chelsea menyebutkan nama itu kembali. Ia membalikkan badan dan melihat sebuah mobil hitam yang posisinya lumayan jauh baru saja berjalan.
“Kamu lihat dia lagi ?” Chelsea mengangguk.
Reno bergegas masuk ke dalam mobil berniat mengejar mobil itu dan mencari tahu siapa pemiliknya.
“Pakai sabuk pengamanmu.”
Reno membawa mobilnya ke arah perginya mobil itu namun tidak terlihat jejaknya di sana.
“Aku akan minta Om Ramadhan menyeledikinya lebih detil lagi. Aku khawatir masih ada orang yang berniat mencelakaimu.”
“Nggak usah.” Chelsea menyentuh lengan Reno dan menatap wajahnya sambil tersenyum.
“Aku yakin mereka bukan orang jahat, justru mereka berusaha menjagaku. Hari ini mereka tahu aku bertemu dengan Tamara, jadi mereka berjaga-jaga siapa tahu Tamara berniat tidak baik. Biar bagaimana Tamara pernah mencoba bekerjasama dengan Mike.”
Mobil Reno sudah berhenti dan menepi. Hati Reno sempat kesal karena gagal mencari mobil hitam itu di area wisata pantai ini.
“Tapi Sea…”
”Aku percaya pada mereka. Saat ini aku hanya membutuhkan cintamu untukku dan Rachel dan anak-anak kita kelak. Jangan tinggalkan aku, apalagi mau coba-coba lagi berselingkuh dariku !”
Wajah Chelsea terlihat galak dan kedua tangannya terlipat di depan dada, membuat Reno tertawa.
“Iya Sea, aku nggak akan mengulangi kebodohan yang sama karena aku benar-benar sadar kalau sejak dulu, sekarang dan selamanya aku hanya mencintaimu.”
“Itu baru Reno-ku.”
Chelsea melepas sabuk pengamannya lalu menarik lengan Reno hingga berhadapan dengannya dan mencium bibir Reno.
Keduanya sempat hanyut dalam ciuman hangat yang membuat Reno jadi gelisah.
“Sea…” desis Reno menahan gairahnya yang sudah dibangunkan oleh Chelsea.
“Kita lanjut di rumah. Akan aku buat kamu melayang bukan hanya sampai di langit ketujuh, kalau perlu sampai kesepuluh.”
Reno tertawa dan melajukan kembali mobilnya. Satu tangannya menggenggam jemari Chelsea, bersyukur atas cinta yang didapatkannya dan berharap hidupnya akan semakin berwarna bersanChelsea.
**** TAMAT *****
Terima kasih atas kesetiaan para pembaca mengikuti cerita Takdir Untukku 😊😊🙏🙏🙏
Terima kasih atas semua like, komen, vote dan giftnya.
__ADS_1
Mohon maaf apabila masih banyak typo dan kekurangan dalam cerita ini. Silakan mampir di novel saya yang lainnya 😊😊