
Mengenakan gaun hitam di bawah lutut Chelsea menggandeng lengan Papi Agam masuk ke ruangan ballroom.
Kalau bukan karena urusan pekerjaan dan Mami Nina sedang ke Singapura bersama Mama Siska, sudah pasti Chelsea enggan diajak menghadiri acara semacam launching ini.
Chelsea sedikit tenang karena acara malam ini tidak ada hubungannya dengan Om Robert. Kalau tidak sudah bisa dipastikan Om Robert dan Reno berangkat satu mobil dengan mereka.
Bosan dan tidak mengerti dengan perbincangan Papi dan teman-teman bisnisnya uang sudah menyimpang dari urusan pekerjaan, Chelsea berjalan sendirin menuju meja snack dan minuman ringan.
“Sepertinya kue yang ini lebih enak,” suara seorang pria asing dan jemarinya yang lentik menunjuk salah satu kue cokelat membuat Chelsea menoleh.
“Hai,” sapa pria tampan itu sambil tersenyum. “Boleh kenalan ? Namaku Bastian.”
Pria itu mengulurkan tangannya sementara Chelsea masih membeku menatap sosok di depannya.
Cakep dan nggak kalah kerennya sama Reno, batin Chelsea.
“Aku melihatmu datang bersama Om Agam dan bersyukur diberi kesempatan untuk mengajakmu berkenalan. Aku sendiri datang bersama Papaku.”
Chelsea masih terdiam dan terpesona dengan ketampanan pria di depannya.
“Boleh ?” Pria itu memberi isyarat pada tangannya yang masih terulur.
”Eh iya… maaf,” Chelsea menjabat tangan pria itu yang langsung tertawa melihat kecanggungan Chelsea, bahkan wajah gadis itu mulai merona.
“Bastian. Namaku Bastian Anggara.”
“Chelsea, biasa orang memanggilku Sea. Dan benar banget kalau aku datang berdua dengan Papi.”
Wanita yang menarik, batin Bastian.
“Jadi ambil snack ?” Bastian melirik piring Chelsea yang masih kosong dan tangannya masih belum terlepas dalam genggaman Bastian.
“Maaf, aku jadi lupa kalau mau ambil kue,” sahut Chelsea sambil terkekeh.
”Boleh sepiring berdua ? Safe water biar cucian piringnya nggak tambah banyak,” tanya Bastian dengan senyuman yang membuat Chelsea langsung mengangguk.
Seperti sudah kenal lama, keduanya asyik memilih kue dan akhirnya mengambil minuman yang ada di meja itu juga.
“Nggak suka cocktail ?” tanya Bastian saat keduaya berdiri di pinggir selesai mengambil snack dan minuman.
“Minum sedikit tapi tidak terlalu suka.”
“Pernah mabuk ?”
“Apa begitu mudahnya aku ditebak ?” tanya Chelsea sambil tertawa pelan. Bastian ikut tertawa pelan sambil menggangguk.
“Kuliah dimana ?” tanya Bastian.
“Basa basi deh, apa karena badan aku kecil makanya disangka anak kuliah ?” Chelsea mencibir.
“Biasanya cewek bangga kalau dibilang masih muda,” ledek Bastian.
__ADS_1
“Nggak cuma cewek, cowok juga sama. Tapi aku nggak semuda itu, udah lulus kuliah kira-kira setengah tahun lalu.”
“Inggris atau Amerika ?”
“Nggak suka produk lokal ?” ledek Chelsea mengerutkan dahi.
“Bukan begitu, biasanya anak-anak pengusaha seperti Om Agam jarang memilih kuliah di dalam negeri.”
“Sebetulnya aku lebih memilih kuliah lokal, tapi ada sedikit masalah intenal akhirnya aku memilih mengambil tawaran beasiswa di Amerika.”
“Pasti masalah patah hati,” Bastian terkekeh.
“Sotoy,” Chelsea mecebik. “Jangan bilang kamu bisa membaca pikiran orang.”
“Kalau aku bilang begitu kamu pasti nggak percaya. Tadi kan kamu sudah tahu kalau ekspresi wajahmu mudah dibaca orang.”
Tidak lama acara dimulai, Bastian langsung mengajak Chelsea duduk satu meja dengannya. Chelsea sempat mengedarkan pandangan mencari Papi Agam, begitu tatapan mereka bertemu, pria kesayangan Chelsea itu menganggukan kepala.
Sejak tadi Papi Agam sudah memperhatikan Chelsea dan terlihat tenang saat Bastian yang menjadi teman bicara Chelsea.
Serangkaian acara sambutan dan seremonial membuat Chelsea sedikit bosan, namun matanya langsung membola begitu Reno naik ke atas panggung bersama dengan Tamara.
Ternyata acara malam ini diadakan oleh pemilik bangunan apartemen yang sedang dikerjakan oleh Reno dan Tamara.
Susah memang menghindari Reno karena pekerjaan mereka masih saling berhubungan di bidang properti, apalagi kedua perusahaan orangtua mereka bekerjasama.
“Kamu kenal dengan mereka ?” bisik Bastian membuat lamunan Chelsea buyar.
Chelsea terkejut saat wajahnya begitu dekat dengan Bastian hingga hembusan nafasnya terasa hangat di wajah Chelsea.
Dari panggung raut wajah Reno sedikit berubah karena melihat posisi Chelsea dan Bastian begitu dekat dan intim bahkan keduanya terlihat berbincang dengan akrab.
Tamara menghela nafas, ia langsung mengikuti tatapan Reno dan meihat ada Chelsea di sana. Wanita yang diakui Reno sebagai calon istri sedang duduk berbincang dengan pria lain yang tidak kalah tampannya dengan Reno.
Chelsea menikmati hidangan makan malam dengan Bastian yang ternyata memiliki wawasan dan pergaulan yang luas. Percakapaan mereka selalu berkembang dengan topik baru dan tidak membosankan.
Namun deheman dari belakang menghentikan tawa Chelsea dan Bastian yang langsung menoleh.
“Sibuk dengan teman baru ?” sindir Reno dengan wajah juteknya.
Chelsea mengerutkan dahi dan menatap Reno dengan wajah kesal. Ia pun ikut beranjak bangun dan sengaja berdiri dekat Bastian dengan posisi yang sangat dekat.
“Senang bisa bertemu langsung dengan anda, Pak Reno,” Bastian berdiri dan mengulurkan tangannya.
“Bastian.”
“Reno.”
Kedua pria itu saling menatap dengan ekspresi yang berbeda. Bastian tersenyum ramah sementara Reno memasang wajah perang.
Chelsea menarik nafas dengan wajah kesal merasa kehadiran Reno bisa merusak suasana hatinya yang baru saja merasakan sesuatu yang berbeda bersama Bastian.
__ADS_1
Tanpa malu dan permisi, Reno menarik kursi kosong di sebelah Chelsea dan memanggil pelayan untuk membawakan peralatan makan untuknya.
“Kamu ngapain duduk di sini, Reno ? Tuan rumah mejanya di sana,” Chelsea menunjuk dengan dagu ke arah Tamara yang sedang menatap ke arah mereka.
“Tuan rumah seharusnya berbaur dengan para tamu bukannya malah duduk di satu meja,” sahut Reno dengan santai.
Chelsea menyentuh lengan Bastian membuat pria itu terkejut apalagi saat Chelsea memintanya menunduk karena ingin membisikkan sesuatu.
Bastian senyum-senyum sambil mengangguk dan keduanya balik duduk di meja bertukar posisi.
Reno langsung melotot begitu melihat Bastian bukan Chelsea yang duduk di sebelahnya.
“Kenapa Chelsea berubah ?” Reno menautkan alisnya.
Bastian tertawa dan memundurkan posisi duduk dan menunjuk Chelsea yang sekarang posisi duduknya di sebelah kiri Bastian.
“Kenapa ? Takut diapa-apain sama aku ?” tanya Reno sambil menatap tajam ke arah Chelsea.
“Kenapa harus takut selama Bastian ada di samping aku,” Chelsea langsung bergelayut manja pada pria yang baru dikenalnya.
Bastian menoleh menatap Chelsea yang wajahnya begitu dekat dengannya.
“Tolong aku dari pria obses ini,” bisik Chelsea sambil terkekeh.
“Boleh, tapi kamu nggak boleh protes ya,” Bastian menjawil hidung Chelsea yang terkekeh.
Jantung Chelsea berdebar, Bastian adalah pria kedua yang bisa membuatnya seperti ini. Saat bersama Revan, Chelsea tidak merasakan debaran apapun. Apa artinya posisi Reno sudah tergeser di hatinya ?
Mata Chelsea langsung membola saat Bastian mencium keningnya namun Chelsea tidak berani marah atau menghindar karena ia juga yang memulai sandiwara ini.
“Kalian…” Reno tidak sanggup meneruskan kalimatnya.
Wajahnya terlihat kesal bercampur kecewa, apalagi saat melihat wajah Chelsea merona dan tersipu malu-malu. Sepanjang menjadi tunangan Revan, belum pernah Reno melihat Chelsea bersikap manja lalu tersipu begini.
Reno pun beranjak bangun, urung makan satu meja dengan Chelsea dan kekasih barunya.
Maafkan aku Reno, mungkin sudah waktunya aku membuka hati untuk pria lain yang tidak ada hubungannya dengan keluargamu, batin Chelsea.
“Kamu menyesal ?” tanya Bastian saat melihat Chelsea sempat menatap Reno yang menjauh.
“Nggak,” Chelsea menggeleng. “Sudah saatnya aku memulai hidup baru tanpa bayang-bayang mereka.”
Chelsea menatap Bastian dengan wajah sendu dan senyuman tipis.
“Kalau begitu boleh aku melanjutkan perkenalan ini ? Jadi pacar beneran aku juga mau,” wajah Bastian terlihat serius.
“Kita baru berapa jam kenalan, Bas,” Chelsea mencibir membuat Bastian terkekeh.
“Oke, kita jalani semuanya pelan-pelan sebelum sampai jadi pacar beneran. Kalau begitu kasih aku nomor handphone kamu sebagai permulaan.”
Chelsea tertawa pelan dan mengeluarkan handphonenya, membiarkan Bastian memasukkan nomornya.
__ADS_1
Mata Chelsea langsung membola saat Bastian menunjukkan namanya dengan bangga : CALON PACAR .