
Ternyata bukan hanya Sena dan kedua orangtuanya ada di sana tapi kedua orangtua Bastian juga sudah duduk di ruang tamu.
“Apa kabar Om, Tante,” sapa Bastian sambil menganggukan kepala.
“Baik Bas, senang bisa bertemu lagi denganmu,” sahut Gama, papa Sena.
Bastian langsung mengenalkan Chelsea sebagai calon istrinya. Wajah Sena terlihat sendu membuat perasaan Chelsea tidak menentu.
”Ada masalah apa ?” tanya Bastian dengan wajah dingin. “Tolong jangan bertele-tele.”
“Biar Sena yang menjelaskan langsung,” ujar Gama.
Sena terlihat bingung dan penampilannya sedikit kusut, di sebelahnya sang mama mengusap-usap punggung putrinya.
“Aku mau minta tolong padamu, Bas,” lirih Sena.
Perlahan ia mengangkat wajah menatap ke arah Bastian yang sedang menatapnya dengan wajah dingin dan tatapan tajam.
“Kenapa ? Mike akhirnya meninggalkanmu ?” senyuman sinis Bastian membuat Sena tersenyum tipis.
“Sejak anakku lahir, Mike sudah pergi karena ternyata anak yang aku lahirkan bukan darah dagingnya.”
Bastian mengerutkan dahi namun tidak berkomentar apa-apa.
“Jeremi nama anakku, sekarang usianya sudah 4 tahun lebih. Sayangnya Jeremi divonis dokter menderita leukimia dan membutuhkan transplantasi sumsum tulang belakang.”
“Lalu apa hubungannya denganku ?” suara Bastian sedikit meninggi.
Tanpa diduga Sena beranjak bangun dari sofa lalu berlutut di hadapan Bastian.
“Tolong bantu Jeremi, Bas karena aku yakin hanya kamu yang bisa menjadi donor baginya.”
“Apa maksudmu ?”
“Aku yakin kalau Jeremi adalah darah dagingmu, Bas karena sebelum malam itu dengan Mike, aku hanya berhubungan denganmu dan maaf aku tidak jujur kalau aku pernah lupa minum obat pencegah kehamilan sekali.”
Hati Chelsea bagaikan tertusuk belati, perih. Semua itu memang masa lalu Bastian, sudah lewat 5 tahun yang lalu.
Chelsea sadar saat menerima Bastian menjadi kekasihnya, usia pria itu sudah kepala 3 dan melihat lingkungan pergaulan Bastian, hubungan yang mereka jalani dianggap biasa.
Tapi mendengar Sena rutin mengkonsumsi obat pencegah kehamilan berarti Bastian Sena sudah menjalani kehidupan seperti pasangan suami istri.
“Jangan mengada-ada !” tegas Bastian dengan wajah memerah karena emosi.
__ADS_1
“Lakukan tes DNA saja kalau memang kamu membutuhkan bukti, Bas,” ujar Gama menengahi.
Bastian melirik Chelsea, khawatir dengan perasaan calon istrinya yang tadi sempat menanyakan soal Sena dan sekarang Chelsea harus mendengar jawabannya dengan cara seperti ini.
“Aku hanya mohon kemurahan hatimu menjadi donor untuk Jeremi. Selama 4 tahun ini aku memberitahu kalau papanya sudah pergi ke surga sejak ia lahir, jadi rencana pernikahanmu tetap bisa berjalan biasa setelah kamu menjadi donor untuk Jeremi,” Sena memohon sambil menangkup kedua tangan di depan wajahnya.
“Masih berani mengatur hidupku setelah pengkhianatanmu 5 tahun lalu ?” Bastian tersenyum sinis.
“Sekalipun tes DNA membuktikan kalau aku adalah ayah biologisnya, aku tetap tidak mau karena itu semua tidak bisa menghapus apa yang sudah kamu lakukan !”
“Bas, aku mohon….”
“Mohon ? Apa kamu lupa kalau sudah berulang kali aku melarangmu bahkan aku sampai memohon supaya kamu menjauhkan diri dari Mike ? Puluhan kali aku menegaskan soal pengkhianatan tapi bagimu prinsipku hanya ocehan di mulut saja. Dan sekarang kamu datang membawa bukti kalau anak itu darah dagingku dan berharap aku peduli padanya ?”
“Maafkan aku, Bas, maafkan aku. Caci makilah aku karena semua itu pantas untukku, aku menerima semua akibat perbuatanku padamu, Bas. Tapi Jeremi tidak bersalah, Bas, dia hanya korban dari keegoisanku dan saat ini hanya kamu yang bisa membantunya untuk tetap hidup, Bas. Aku mohon.”
Sena mendekati Bastian dan langsung memeluk kaki pria itu membuat semua yang ada di situ terkejut melihatnya.
Spontan kaki Bastian mendorong Sena namun wanita itu kembali memeluk kaki Bastian hingga akhirnya Chelsea bangun dan memegang kedua bahu wanita itu.
“Jangan begini, Sena,” ujar Chelsea dengan lembut.
“Bangunlah, sikapmu ini tidak akan membuat hati Bastian langsung tersentuh karena apa yang kamu sampaikan sangat mengejutkan.”
Wanita itu menurut dan Chelsea masih memegangi kedua bahunya.
“Sea,” panggil Bastian sambil mengerutkan dahinya.
Chelsea hanya diam bahkan melirik ke arah Bastian pun tidak.
“Pulanglah dulu karena aku yakin kalau Bastian membutuhkan waktu sendiri untuk memikirkan semuanya. Tidak mungkin keputusan itu diambil saat ini juga karena seperti aku bilang tadi, fakta yang kamu sampaikan benar-benar mengejutkan bagi Bastian jadi tolong biarkan pikirannya tenang dulu.”
”Tapi Jeremi tidak bisa menunggu terlalu lama.”
“Jeremi tidak perlu menunggu 5 tahun untuk mendapatkan jawaban Bastian,” sindir Chelsea namun masih tersenyum dan suaranya masih terdengar tenang dan biasa saja.
“Aku pastikan kalau Bastian akan memberikan jawaban segera, tapi apapun keputusannya tolong hargai itu, jangan pernah memaksanya untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hatinya. Jangan menghakimi Bastian hanya dari keputusannya saja.”
Sena terdiam dan menatap Chelsea dengan perasaan kagum yang berusaha disembunyikannya.
Gama pun melihat Chelsea sebagai sosok wanita muda yang menganggumkan. Gama sadar kalau sudah tidak mungkin mengharapkan Bastian bisa rujuk lagi dengan Sena dan menjalani hidup rumah tangga seperti impian mereka 5 tahun yang lalu.
“Kalau begitu kami permisi dulu,” Gama mengambil inisiatif untuk pamit pulang.
__ADS_1
“Tapi Pa…” Sena menatap Papa Gama dan enggan beranjak dari situ.
“Chelsea benar kalau kita harus memberikan waktu berpikir untuk Bastian,” potong Papa Gama cepat.
Gama mendahului untuk berpamitan disusul oleh istrinya sementara Sena masih berdiri di tempatnya dan Chelsea sudah ditarik Bastian untuk berdiri di sampingnya.
Tanpa mengantar Sena dan orangtuanya pulang, Bastian menarik Chelsea naik ke kamarnya di lantai 2, tidak peduli dengan penolakan Chelsea yang beralasan kalau kedua orangtuanya akan segera tiba.
Bastian mengunci kamar dan membawa Chelsea duduk di tepi ranjang sedangkan ia sendiri berlutut di depan tunangannya.
“Sea, maaf kalau pertanyaanmu harus terjawab dengan cara seperti ini,” ujar Bastian dengan wajah sendu sambl menggenggam jemari Chelsea.
“Bangunlah dan duduk di sini. Aku tidak nyaman melihat posisimu begitu,” pinta Chelsea sambil menepuk-nepuk ranjang di sebelah kanannya.
Bastian menurut dan duduk di sebelah Chelsea dengan satu tangan masih menggenggam jemari Chelsea.
“Saat aku memutuskan untuk menerima lamaranmu, aku sudah siap menerima masa lalumu. Meskipun aku sempat kaget kalau hubunganmu dengan Sena sudah seperti suami istri, tapi itu semua adalah masa lalumu yang tidak bisa aku hapus,” Chelsea menjeda sambil menarik nafas dan tersenyum getir.
“Maaf karena aku tidak pernah menceritakan bagaimana hidupku sebelum bertemu denganmu. Seharusnya aku lebih terbuka untuk menberitahumu tentang Sena dan semua yang terjadi di masa lalu. Aku enggan mengingat hal buruk yang pernah aku alami dan hanya ingin membuka lembaran baru bersamamu.”
“Tidak masalah dengan masa lalumu, Bas, aku juga tidak pernah menutup mata kalau kehidupan sekarang berbeda meski aku masih mempertahankan prinsip yang terdengar kolot,” ujar Chelsea sambil tertawa pelan.
“Tapi satu fakta yang tidak bisa aku abaikan begitu saja adalah soal Jeremi, buah hatimu dengan Sena.”
“Aku tidak peduli dengan anak itu, Sea. Aku tidak mau dia masuk dalam kehidupanku, dalam pernikahan kita !” tegas Bastian dengan suara meninggi.
“Bas, jangan mengambil satu keputusan sebelum mencari tahu kebenarannya. Besok aku akan menemanimu ke rumah sakit dan melihat kondisi Jeremi. Masalah tes DNA, coba kamu bicarakan dengan Papa dan Mama.”
“Sea, aku bersyukur karena sudah dipertemukan denganmu dan memilihmu sebagai calon istriku. Terima kasih sudah menemani aku di saat seperti ini, tolong jangan tinggalkan aku karena aku pastikan kalau aku hanya ingin menikah denganmu sekalipun faktanya Jeremi adalah anak kandungku.”
Chelsea terdiam dan hanya tersenyum tipis lalu beranjak dari tempat tidur.
“Sea…” Bastian menahan lebgannya.
“Temui dulu keluargamu, Bas. Hari ini mereka datang untuk berbahagia denganmu bukan untuk merasakan kesedihan dan kegalauan hatimu,” ujar Chelsea sambil tersenyum tipis.
Bastian melepaskan tangan Chelsea dan menatap sendu punggung gadis yang sudah menyembuhkan luka hatinya dari Sena.
Terlalu sulit untuk meneruskan hubungan ini, Bas. Aku tahu kalau ini semua bukan kesalahanmu, tapi tidak mungkin juga aku mengabaikan darah dagingmu sendiri. Aku mungkin egois, Bas, tidak ingin membagi cintamu dengan yang lain. Daripada hatiku merasa sakit yang tidak berujung, mungkin lebih baik kalau aku akan melepaskanmu pergi.
Chelsea berdiri bersandar di balik pintu. Matanya terpejam dengan satu tangan meremas bajunya di bagian dada, mencoba mengurangi rasa sakit yang menusuk-nusuk hatinya.
Kenapa rasanya takdir cintanya begitu kejam karena untuk yang ketiga kalinya Chelsea harus kembali merasakan adanya orang ketiga yang datang enghancurkan impiannya. ?
__ADS_1