
“Mau Kak Revan yang menjelaskan atau aku yang mengatakan semuanya pada Om dan Tante ?” tanya Chelsea sambil tersenyum sinis.
Tidak terlihat ekspresi khawatir apalagi menyesal di wajah Revan membuat Chelsea bergedik, dan Papi Agam yang sejak tadi menjadi penonton semakin yakin kalau anak sulung sahabatnya sungguh laki-laki pengecut yang menggunakan segala cara untuk membuat dirinya terlihat hebat.
“Ini semua kamu lakukan untuk memulihkan kembali posisi Reno di mata Papa kan, Sea ?” sindir Revan.
Chelsea menarik nafas dalam-dalam untuk mengendalikan emosinya. Tidak ada gunanya lagi bersikap baik dengan pria di depannya.
“Nuri sudah mengaku kalau ini semua dia lakukan demi Dita dan Radit, anak Kak Revan,” ujar Chelsea dengan sikap tenang.
“Chelsea !” Revan langsung menggebrak meja.
“Apa maksud ucapanmu, Sea ?” tanya Papa Robert dengan wajah terkejut.
“Cukup Sea !” Revan beranjak bangun hendak mendekati Chelsea yang duduk di sebelah Mama Siska.
Melihat gelagat yang tidak baik, Reno ikut bangun dan berdiri dekat Chelsea. Papi Agam yang duduk di sofa dekat putrinya sengaja diam dulu, menempatkan dirinya sebatas penonton.
Kalau sampai Revan berani menyakiti putrinya, Papi Agam sudah bersiap akan melaporkan pria itu ke pihak yang berwajib beserta bukti-bukti alat penyadap dan kamera.
“Mau sok pahlawan di depan Chelsea,” Revan menarik kaos adiknya namun Reno masih terlihat tenang.
Chelsea malah mengeluarkan handphonenya dan membuka galeri foto lalu memperlihatkan pada Mama Siska yang duduk di sebelahnya.
“Ini adalah foto cucu Mama, namanya Radit, anak Kak Revan dan Dita,” ujar Chelsea membuat Mama Siska mengerutkan dahinya.
“Jadi kamu masih berhubungan dengan perempuan murahan itu ?” bentak Papa sambil menatap tajam ke arah Revan.
Revan melepaskan cengkramannya di kaos Reno. Dia tampak terkejut saat Chelsea menunjukkan foto-foto yang ada di apartemen. Ternyata diam-diam, Chelsea memotret jejeran bingkai foto yang ada di bufet bahkan satu foto besar dekat meja makan.
Papa Robert berpindah duduk di sebelah Mama Siska dan ikut melihat handphone Chelsea.
“Keterlaluan !” geram Papa Robert. “Bahkan kamu sampai punya anak sebesar ini darinya !”
Papi Agam mengerutkan dahi dan terlihat bingung dengan pembahasan saat ini karena Chelsea belum bercerita soal Dita dan Radit.
“Dimana mereka sekarang, Van ?” tanya Mama Siska dengan mata mulai berkaca-kaca.
Wajah Radit terlihat mirip dengan Revan meski rambutnya sedikit ikal seperti Dita.
“Anak kurang ajar !” tanpa ada yang memperhatikan Papa Robert sudah mendekati Revan dan langsung meninju wajah putranya.
“Bahkan perbuatanmu lebih gila lagi dari adikmu,” bentak Papa Robert pada Revan yang tersungkur ke lantai.
Reno berusaha membantu Revan bangun kembali, namun kakaknya malah menepis tangan Reno.
“Bawa mereka kemari, Revan, biarkan kami menemuinya,” pinta Mama Siska. “Perbuatan kalian tidak bisa dibenarkan tapi anak ini sama sekali tidak bersalah.”
Revan yang sudah kembali berdiri menghapus darah yang keluar di ujung bibirnya. Matanya menatap Reno penuh kebencian.
“Aku sudah memberikan status pada anak itu, Ma, tapi aku tidak akan menikahi ibunya karena aku tidak pernah mencintainya. Seperti kata Papa, Dita bukanlah perempuan baik-baik karena ia sudah menikah siri dengan laki-laki lain sebelum bertemu denganku dan anak itu ada karena Dita menjebakku.”
__ADS_1
“Jadi akhirnya kamu tahu kalau perempuan itu pernah menjadi selingkuhan laki-laki lain ?” sindir Papa Robert sambil tersenyum sinis.
“Seharusnya Papa memberitahu aku kalau memang Papa sudah tahu soal masa lalu Dita,” protes Revan.
“Memberitahumu ?” Papa balik bertanya masih dengan tatapan sinisnya. “Kamu pikir Papa tidak tahu kalau saat kamu membawanya dan mengenalkan pada kami, kondisi perempuan itu sudah berbadan dua ?”
“Jadi Papa sudah tahu kalau Revan menghamili anak orang ?” tanya Mama Siska dengan wajah kesal.
“Papa menebaknya tapi yang tidak disangka kamu malah mempertahankan anak haram itu dan membesarkannya sampai sekarang,” ujar Papa Robert dengan wajah sinis.
“Dita mengancamku dan akan menghancurkan karirku dan kehidupanku apalagi setelah tes DNA membuktikan kalau anak itu adalah anak kandungku.”
“Dasar pengecut !” desis Chelsea. “Sekarang Kak Revan tahu kenapa aku enggan menerima permintaan Kak Revan untuk menikah. Lagipula aku tahu kalau Kak Revan memaksa menikah denganku hanya karena janji Om Robert yang akan memberikan sebagian besar saham perusahaan dan menjadikan Kak Revan orang kedua.”
“Jadi pria bodoh itu sudah mencuci otakmu dengan cerita itu ?” sindir Revan sambil melirik adiknya dengan senyuman sinis.
“Tidak penting membahas itu sekarang,” potong Mama Siska. “Bawa perempuan itu dan anakmu besok pagi ke rumah ini untuk bertemu dengan Papa dan Mama. Sekarang kamu temui mereka dan minta mereka untuk bersiap-siap.”
“Tapi Ma, aku sudah bilang…” protes Revan.
“Usiamu sudah tidak muda lagi, Revan. Berhentilah bermain dengan banyak perempuan. Jangan sampai Tuhan memberikan pelajaran yang membuatmu sulit untuk bangun kembali,” tegas Mama Siska.
“Sekarang temui mereka dan tidak ada alasan lagi untuk membawa mereka kemari.”
Mama Siska terlihat berbeda malam ini. Ucapannya tidak bisa terbantah lagi membuat Revan akhirnya pamit dan mengikuti permintaan Mama Siska.
“Maafkan anak-anak Papa, Sea,” ujar Papa Robert setelah Revan pergi.
Reno duduk di sofa yang semula ditempati Revan, berhadapan dengan Mama dan Chelsea.
“Sepertinya Sea memang tidak berjodoh dengan anak-anak Om,” sahut Chelsea sambil tertawa pelan.
“Kamu sudah tidak mau memanggil kami Papa dsn Mama lagi, Sea ?” tanya Mama Siska sambil membelai kepala Chelsea.
“Rasanya akan canggung kalau Sea tetap memanggil Papa dan Mama,” sahut Chelsea tersenyum menatap Mama Siska.
“Sebentar lagi akan ada menantu beneran di keluarga ini, jadi Tante akan punya anak perempuan baru,” Chelsea menggenggam jemari Mama Siska.
“Tapi bagi kami, kamu sudah seperti anak sendiri,” ujar Mama Siska dengan wajah sedih.
“Suruh Reno cepat-cepat mencari calon istri juga, Sis, jadi kalian langsung nambah 2 anak perempuan lagi.”
“Bagaimana kalau kamu saja yang jadi calonnya Reno ?”
Ucapan Mama Siska membuat mata Chelsea langsung membola dan Reno sendiri langsung tersenyum karena seperti itulah harapannya.
“Jangan memaksa anak-anak untuk membuat kita jadi besan, Sis,” ujar Papi Agam sambil tertawa. “Kita sama-sama sudah mencobanya tapi ternyata tidak berhasil. Jangan memaksa suratan anak-anak hanya karena ego kita sebagai orangtua.”
Mama Siska terdiam setelah mendengar ucapan Papi Agam.
“Tapi kita sama-sama tidak bisa menutup mata kalau sebenarnya mereka masih saling cinta. Bukankah begitu Reno, Sea ?” Papa Robert buka suara, menatap Reno dan Chelsea bergantian.
__ADS_1
Reno hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban tegas karena sungkan dengan Papi Agam sementara Chelsea tertawa pelan.
“Kalau Sea tidak yakin begitu, Om,” sahut Chelsea di sela tawanya.
“Sea udah nggak berdebar lagi saat dekat-dekat sama Reno, udah beda rasanya dengan 4.5 tahun lalu jadi tolong Om dan Tante jangan berharap apa-apa.
Sea setuju dengan Papi, tidak perlu memaksa untuk menjadi besan karena sudah dua kali mencoba tapi gagal. Biarkan hubungan Papi dan Om tetap seperti dulu sebagai 2 sahabat baik.”
“Kami pamit dulu, sudah malam juga,” Papi Agam beranjak bangun diikuti oleh Chelsea.
Wajah Robert dan Siska terlihat sedih. Bukan hanya kehilangan calon menantu seperti Chelsea namun harus menghadapi kenyataan kalau putra sulung yang dibanggakan ternyata punya anak di luar nikah.
“Om Agam,” Reno akhirnya buka suara setelah berhasil mengumpulkan keberaniannya.
Papi Agam yang berbincang sambil berjalan keluar bersama Papa Robert menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.
Posisi Reno ada di persis di belakangnya baru setelah itu Mama Siska dan Chelsea.
“Saya ingin minta ijin untuk menjalin hubungan dengan Chelsea dari awal lagi.”
Reno sedikit gugup saat Papi Agam menatapnya dengan alis menaut.
“Kamu kenapa sih Reno ?” tanya Chelsea dengan wajah bingung.
“Aku ingin menjadi temanmu lagi, Sea, tidak seperti dulu, hanya kamu yang baik padaku sementara aku selalu jahat dan galak padamu. Aku ingin…”
“Kenapa ? Kamu takut Papi nggak kasih ijin aku mengurus proyek yang berhubungan denganmu ?” tanya Chelsea sambil terkekeh.
“Sea, kayaknya Reno nanyanya ke Papi, kenapa kamu yang kepo menjawabnya ?” tanya Papi Agam menatap putrinya yang masih tertawa.
“Reflek, Pi,” Chelsea menangkup kedua tangannya.
“Maksud kamu apa, Reno ?” Pertanyaan Papi Agam membuat Reno kembali gugup.
“Seperti yang tadi Sea bilang, Pi… eehh.. Om Agam. Kalau Papa masih mengijinkan saya bekerja di perusahaan, apa boleh Chelsea tetap menangani pemasaran proyek yang saya kerjakan ?”
Papi Agam melirik putrinya dengan isyarat memastikan pada Chelsea sebelum menjawab pertanyaan Reno.
“Sepertinya Papi nggak akan melarang, tapi masalahnya aku yang nggak mau Reno. Capek urusan dengan kalian berdua jadi aku akan cari proyek lain yang nggak berhubungan dengan perusahaan Om Robert. Aku kan juga mau cuci mata di luar, Ren , biar mataku nggak capek hanya melihat kamu dan Kak Revan. Aku juga mau belajar jadi perempuan pintar jadi nggak gampang dibohongi dan diselingkuhi terus.”
Chelsea tertawa dan setelah mencium pipi Mama Siska sebagai bentuk pamitan, Chelsea melewati Reno dan merangkul lengan Papi Agam sambil berpamitan lagi pada Papa Robert.
Papi Agam ikut tertawa mendengar ucapan putri bungsunya dan pamit pada pemilik rumah untuk kembali ke rumahnya.
”Kamu yakin udah nggak cinta sama Reno ?” ledek Papi Agam saat keduanya sampai di rumah.
“Papi mau Sea diselingkuhi untuk ketiga kalinya ?” sahut Chelsea sambil tertawa.
“Mulai pintar kamu,” Papi Agam mencubit pipi Chelsea dengan gemas.
Keduanya tertawa dan Papi Agam merangkul bahu putrinya sambil masuk ke dalam rumah.
__ADS_1