Takdir Untukku

Takdir Untukku
Makan Malam yang Canggung


__ADS_3

Chelsea tidak ingin memenuhi permintaan Mama Siska, namun setelah menceritakan semuanya pada Bastian, dengan langkah pasti pria itu malah menggandeng Chelsea kembali ke rumah seberang.


Papa Robert terlihat baru tiba, menyambut Chelsea dan Bastian dengan ramah.


“Bersikaplah biasa saja, Sayang. Anggap mereka semua keluargaku atau keluargamu. Jadilah Chelsea yang ceria, jangan biarkan mereka benar-benar berpikir kalau kamu masih mencintai Reno karena itu membuatku sangat cemburu,” bisik Bastian dengan posisi begitu dekat dengan Chelsea.


Dari belakang posiai keduanya terlihat seperti berpelukan membuat hati Reno bukan hanya sakit tapi juga panas, rasa cemburu mendadak memenuhi hatinya.


Ketujuh orang itu duduk di meja makan dengan posisi Chelsea dan Bastian duduk satu barisan dengan Mama Siska dan di seberang mereka ada Revan, Tamara dan Reno.


Papa Robert yang baru pertama kali bertemu secara langsung dengan Bastian banyak bertanya dan mengajak pria itu berbicara.


“Om kayak detektif aja tanya-tanya Bastian terus,” ledek Chelsea sambil tertawa.


“Kan harus tahu soal calon menantu. Kamu kan anak ketiga Papa dan Mama,” sahut Om Robert santai.


“Wah kalau begitu saya harus lebih hati-hati karena punya 2 papa mertua dan 2 kakak ipar laki-laki. Tapi sayangnya lamaran saya belum diterima nih, Om. Putri Om masih jual mahal,”ujar Bastian menimpali sambil tertawa pelan.


“Gimana mau diterima, melamarnya di parkiran mobil, nggak ada romantisnya banget,” cebik Chelsea.


Bastian tertawa dan merangkul bahu Chelsea dengan gemas.


“Mau aku bagi rahasianya, Bas ?” tanya Revan. “Rahasia yang bisa membuat Chelsea langsung klepek-klepek dan susah menolak seperti pengalamanku dulu waktu melamarnya.”


“Eh aku bukannya klepek-klepek ya tapj kasihan akhirnya terpaksa menerima. Jangan didengar Bas, Kak Revan sengaja melamar di depan umum, di lobby kantor. Kalau aku menolak bisa-bisa dia digibah sama semua karyawan Om Robert.”


Mama Siska tertawa dan bersyukur karena hubungan Revan dan Chelsea sudah kembali seperti biasa dan saat melirik Reno, Mama Siska bisa menangkap kalau putra bungsunya itu sakit hati melihat wanita yang dicintainya akan menikah dengan pria lain.


Tamara yang duduk di antara Reno dan Revan memilih diam dan hanya bisa tersenyum tipis mendengar percakapan di meja makan.


Rasanya sulit menggeser posisi Chelsea dari hati Reno apalagi melihat seluruh keluarga pria itu menyayangi Chelsea. Tamara harus mengakui kalau Chelsea adalah gadis istimewa yang mudah menarik perhatian orang lain.


Begitu selesai makan malam, tanpa sungkan Chelsea membantu bibi membereskan meja makan. Sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil karena Mami Nina sudah membiasakan pada kedua putrinya.

__ADS_1


Selesai dengan urusan dapur, Chelsea yang melihat wajah Tamara terlihat sedih sejak di meja makan berinisiatif mengajaknya berbincang di pinggir kolam renang yang ada di halaman belakang, sementara para pria dan Mama Siska berbincang di ruang tengah.


“Aku benar-benar senang melihatmu diajak bertemu dengan keluarga Reno malam ini,” ujar Chelsea sambil tersenyum.


“Kenapa ? Kamu cemburu dan menyesal kalau akhirnya Reno jadian sama aku ?” Tamara balik bertanya dengan ketus.


“Nggak malah aku mau ucapkan selamat atas jadiannya dan selamat berjuang menghadapi pria paling menyebalkan,” sahut Chelsea sambilt tertawa.


Tamara mengernyit karena tidak melihat ada tatapan cemburu di mata Chelsea. Apa benar gadis yang pernah tergila-gila dengan Reno berhasil melepaskan perasaannya ?


“Tapi aku yakin kamu tahu dan merasakan kalau Reno masih mencintaimu. Rasanya sulit menjalin hubungan dengan Reno tanpa bayang-bayangmu,”


ujar Tamara.


“Itu tugasmu untuk membuatnya mencintaimu dan jangan gentar hanya karena Reno masih sering mencuri-curi pandang padaku. Kedua orangtua kami sudah bersahabat sejak lama dan Reno sudah mengenalku sejak bayi, jadi pasti tidak mudah menghapus jejak kenangan kami.


Tapi percayalah kalau aku sudah tidak memiliki keinginan untuk kembali pada Reno dan cintaku hanya tinggal bekasnya saja. Aku mencintai Bastian bahkan kami sudah membicarakan soal pernikahan dan sepertinya aku akan menerima ajakannya untuk segera menikah.”


“Tapi hubunganmu dengan Bastian baru seumur jagung, Sea. Bagaimana mungkin kamu menikahi orang yang belum lama kamu kenal ? Yakin kalau itu semua bukan pelarian dari rasa kecewamu pada Reno ?”


“Tidak masalah menikah meski kami baru sebentar pacaran, toh banyak orang yang menikah karena perjodohan dan mereka bisa saling cinta hingga berakhir bahagia. Aku memulai hubunganku dengan Bastian tanpa paksaan dari siapapun. Kami saling menyukai pada awalnya lalu sekarang berkembang menjadi cinta.”


Tamara menatap Chelsea dalam-dalam dan kagum akan sikap optimis gadis itu. Matanya tidak berbohong saat Chelsea bilang kalau ia sudah tidak lagi mencintai Reno.


“Berjuanglah Tamara,” Chelsea beranjak bangun dan menepuk bahu Tamara.


“Aku pernah berada di posisimu, berjuang mati-matian mendapatkan cinta Reno hingga akhirnya aku harus merasakan sakit bukan karena ditolak tapi karena pengkhianatan.


Aku yakin kalau Reno akan membuka hatinya untukmu asal kamu mau bersabar dan tidak melepaskannya. Kali ini Reno tidak akan melakukan kebodohan yang sama setelah belajar dari pengalaman kami.”


Chelsea tersenyum dan meninggalkan Tamara karena hari sudah malam. Waktunya memutus obrolan Om Robert dengan Bastian karena tahu betul bagaimana Om Robert susah memutus percakapan bila sudah bertemu dengan orang yang menyenangkan untuk diajak ngobrol.


***

__ADS_1


“Apa yang kalian bicarakan tadi ?” tanya Reno saat dalam perjalanan mengantar Tamara pulang.


“Kenapa ? Kamu takut aku menceritakan kebohongan pada Chelsea ?” Tamara balik bertanya dengan senyuman sinis.


”Tidak, untuk apa takut ?” sahut Reno dengan senyuman sinis juga. “Kebohongan apapun yang kamu katakan pada Sea, tidak akan membuat dia kembali padaku.”


“Kecewa ?” sindir Tamara.


“Iya, sakit malah karena akhirnya Sea menemukan cinta yang membuatnya bersemangat lagi. Padahal dulu Chelsea terlihat seperti sekarang hanya saat bersama denganku,” sahut Reno sambil tersenyum getir.


”Terimalah tuaian dari benih yang kamu tabur. Chelsea hanya memberi nasehat supaya aku jangan pantang menyerah, tapi aku tidak sekuat dia dan sabar menunggu perasaanmu melihat cintaku.


Tidak usah bersusah payah membuka hatimu untukku Reno apalagi sampai berjanji segala.


Tata dulu hatimu dengan baik sampai siap menerima wanita lain supaya sepanjang hidupmu, kamu tidak hanya bisa menyakiti hati perempuan.”


Reno tidak menyahut, satu tangannya ditopang pada pintu mobil dan tatapannya fokus ke depan, membelah jalanan yang mulai sepi karena waktu menunjukkan pukul 10.15 malam.


“Aku kagum pada Chelsea yang kuat menghadapimu dan menunggu cintamu bertahun-tahun. Sayangnya dia mencintai pria bodoh yang tidak pernah mau jujur pada dirinya sendiri, padahal tanpa sadar hatimu penuh dengan Chelsea. Itu sebabnya banyak perempuan yang kamu tolak saat kita SMA dan kuliah.”


Reno tidak menjawab apapun karena mengingat kebodohannya hanya akan membuat dirinya semakin terpuruk dalam penyesalan.


Hingga akhirnya mobil Reno berhenti di depan pagar rumah Tamara.


“Terima kasih karena sudah menemani Mama berbelanja hari ini,” ujar Reno dengan wajah tulus.


“Sama-sama,” sahut Tamara dengan senyuman getir.


Tidak ada pelukan mesra atau ciuman di kening, bahkan Reno tidak turun dari mobil, hanya menunggu sampai pintu gerbang rumah Tamara dibukakan oleh ART.


“Aku pulang dulu,” pamit Reno dari dalam mobil.


Tamara hanya mengangguk tanpa melambaikan tangan. Matanya mulai berkabut, menatap mobil Reno hingga hilang dari pandangan.

__ADS_1


Rasanya sakit namun ini semua lebih baik sebelum hati Tamara benar-benar terjebak dalam perasaan cinta pada Reno yang sudah dirasakannya sejak masih berseragam putih abu-abu.


__ADS_2