
“Kamu habis dari mana ?”
“Ya ampun Reno !” pekik Chelsea sambil menepuk-nepuk dadanya karena terkejut.
Reno berdiri dekat pintu mobil dengan wajah jutek dan kedua tangannya terlipat di depan dada.
“Aku tanya kamu habis darimana jam segini baru sampai rumah ? Seharian telepon aku nggak diangkat, bahkan kamu nggak menghubungiku balik padahal aku sampai titip pesan sama Nia. Wa aku dibaca doang, dibalas nggak !”
Chelsea cemberut dan mendekati Reno setelah menutup pintu mobilnya.
”Kenapa harus marah ? Bukannya kamu sudah terbiasa memperlakukan aku seperti itu ? Lagian baru jadi pacar 2 hari aja, posesifnya udah kayak suami.”
Chelsea sengaja melewati Reno sambil menyenggol bahu pria itu dengan sedikit kasar.
“Sea !” Reno menahan lengan Chelsea. “Aku tahu kalau Papi belum seratus persen setuju aku balik sama kamu. Apa karena itu kamu mau berpikir ulang dulu sebelum kita menjalin hubungan lagi ?”
“Aku capek, nggak mood untuk menjawab pertanyaan kamu yang banyak begitu.”
“Sea, kali ini aku pasti akan membuktikan kalau aku serius sama kamu tapi kenapa kamunya malah kayak anak kecil. Kemarin menerima cintaku lalu sekarang berubah pikiran dan menghindariku.”
“Aku memang cuma anak kecil yang manja dan nggak punya prinsip. Terus kenapa juga kamu mau balik sama aku dan minta jadi pacar kamu dua hari yang lalu ?”
Chelsea menatap Reno dengan mata melotot dan kedua tangannya bertolak pinggang.
”Sea, aku mencintai kamu apa adanya dan yang aku maksud bukan anak kecil karena….”
“Minggir ! Aku capek beneran,” Chelsea kembali melewati Reno yang sempat berdiri di depannya.
Reno yang makin emosi menarik lengan Chelsea dan mendorongnya hingga membentur mobil lalu dengan sedikit kasar, Reno mencium bibir Chelsea.
Chelsea meronta dan mencoba melepaskan diri dari Reno hingga akhirnya dia menggigit bibir Reno yang masih menempel di bibirnya.
“Aawww Sea !” pekik Reno melepaskan cengkramannya dan mengusap bibirnya yang ternyata berdarah.
“Kamu tega banget sih,” gerutu Reno.
Chelsea tiba-tiba menangis sambil membersihkan bibirnya dari bekas ciuman Reno dengan punggung tangannya.
“Sea, kamu kenapa ?” Reno mendekat dan memegang kedua bahu Chelsea dan gadis itu berusaha melepaskannya
“Awas berani sembarangan mencium aku lagi apalagi bekas orang ! Aku suruh Papi bikin belalaimu rata !” omel Chelsea di sela isaknya.
Dahi Reno berkerut mendengar Chelsea megatakan bekas orang. Sebetulnya Reno ingin tertawa melihat wajah Chelsea yang cemberut dan menggemaskan di sela tangisnya, tapi Reno tahu kalau Chelsea bisa langsung berteriak memanggil Papi untuk mengeksekusi permintaan putri kesayangannya.
“Kamu kenapa, Sea ? Bekas orang darimana ? Terakhir kali bibir kamu yang nempel di sini dan belum ada yang menggantikannya lagi.”
“Bohong !” bentak Chelsea.
Reno kembali mengerutkan dahi namun pikirannya langsung menangkap kalau kekasihnya ini sepertinya sedang dalam mode cemburu.
“Ada yang kirim foto aneh-aneh sama kamu ?” tanya Reno sambil tersenyum menatap Chelsea.
Chelsea terdiam dan membuang muka ke lain arah, enggan menatap Reno. Pria itu meraih tas Chelsea dan mengambil selembar tisu.
”Jadi siapa yang kirim foto ke kamu dengan hastag pacar kamu selingkuh ?”
Reno menangkup wajah Chelsea dan membuatnya menatap Reno yang tersenyum manis.
“Nggak ada yang kirim foto,” sahut Chelsea dengan gerakan mata menatap ke bawah.
”Tadi pagi aku melihatmu di kedai kopi lagi sama Tamara. Aku yakin dia melihat karena sempat tersenyum meledekku. Lalu kamu….”
__ADS_1
Chelsea terdiam dengan mata masih menatap ke bawah, namun tidak lama matanya membola saat Reno memeluknya lalu mencium pucuk kepala Chelsea.
“Aku senang banget kamu cemburu begini karena berarti kamu cinta sama aku,” ujar Reno sambil menepuk-nepuk punggung Chelsea.
Gadis itu tidak lagi memberontak, hanya sisa tangisan membuat Chelsea seperti tersengal.
“Sea, tadi pagi aku memang ketemu Tamara bukan untuk selingkuh tapi membahas pekerjaan tentang proyek apartemen. Aku nggak ngapa-ngapin hanya membahas soal gambar yang berubah pakai tablet, jadi posisinya kelihatan dekat banget. Kenapa tadi pagi nggak langsung samperin ? Aku pasti akan mengenalkanmu sebagai tunanganku pada Tamara.”
Chelsea terdiam, ia sempat menyalahkan diri sendiri karena tadi pagi langsung kehilangan keberanian dan emosi level 30.
Seharusnya Chelsea menghampiri Reno dan menunjukkan sikap manja layaknya seorang pacar. Ahhh, Chelsea mengutuki dirinya sendiri yang sudah fixed cemburu.
Seharian Chelsea kesal dan uring-uringan hingga akhirnya Nia memutuskan untuk membatalkan janji dengan Dio dan menemani Chelsea nongki di kafe.
“Sea, terima kasih sudah cemburu padaku seperti ini, rasanya aku bahagia banget. Lain kali jangan ragu untuk melabrak aku kalau firasat kamu mengatakan aku lagi selingkuh atau ada cewek berusaha menggodaku.”
Reno tertawa dan mencubit gemas hidung Chelsea yang kemerahan habis menangis. Punggung tangan Reno pun menghapus sisa-sisa air mata di pipi Chelsea. Tidak mampu menahan diri karena gemas melihat bibir Chelsea yang terlihat kemerahan begitu menggoda, wajah Reno mendekat dan kembali mencium bibir itu.
Kali ini Chelsea tidak berontak malah memejamkan mata dan merasakan bibir Reno yang bersentuhan dengan bibirnya. Reno tersenyum tipis, merasa sedikit tenang karena bisa melunakkan hati Chelsea. Bahkan gadis itu membiarkan Reno memperdalam ciumannya.
“Bagus !”
Suara bariton dan berwibawa itu membuat keduanya terkejut dan spontan Chelsea mendorong Reno untuk menjauh.
“Ngapain kalian di sini ? Mau buat film ?” tatapan galak itu dengan suara tegasnya membuat Reno salah tingkah, tertawa canggung dan mengusap tengkuknya.
“Maaf Pi, terbawa suasana,” sahut Reno dengan kikuk.
“Masuk ! Papi mau bicara sama kalian berdua.”
Papi mendahului masuk ke dalam rumah sementara Reno yang terlihat sangat gugup dan Chelsea hanya sempat terkejut namun tidak terlalu cemas dengan sikap Papi.
“Jadi kamu sudah yakin mau sama si Rendang ini, Sea ?” tanya Papi dengan tatapan menghunus bukannya menatap Chelsea, tapi menatap Reno yang senyum-senyum canggung.
“Kok masih Rendang aja sih, Pi ? Saya kan udah nggak suka bersikap pedas lagi sama Sea,” ujar Reno.
“Berani protes ? Memangnya kamu yakin kalau Papi merestui penuh kamu balikan lagi sama Chelsea. Wangi bunganya aja masih kecium, hari ini kamu udah membuat Sea uring-uringan seharian dan menelantarkan pekerjaannya.”
Reno dan Chelsea sama-sama mengerutkan dahi lalu saling menatap sekilas dan kembali fokus menatap Papi.
“Papi ngomong apaan sih ? Bau bunga apaan ? Sea nggak cium apa-apa dan Reno juga nggak kasih bunga pas ngajak Sea balikan lagi,” tanya Chelsea dengan wajah bingung.
Papi menghela nafas dengan wajah kesal. Terkadang Agam bingung sendiri, apakah putrinya yang sebentar lagi berusia 23 tahun benar-benar polos atau terlalu polos karena percintaannya gagal sampai 3 kali.
Tapi kalau tadi melihat cara Sea membalas ciuman Reno, sepertinya putrinya ini tidak polos-polos amat.
“Bunga cinta yang Reno ungkapkan sama kamu 2 hari yang lalu, lah ! Sampai-sampai kamu tinggalin janji penting dan suruh Papi yang gantiin kamu.”
“Tapi beneran Reno nggak kasih bunga pas nembak Sea untuk jadi pacarnya, Pi,” Chelsea ngotot membatah ucapan Papi.
Agam kembali menarik nafas dalam-dalam demi menahan emosi. Sepertinya bicara dengan Chelsea tidak bisa pakai istilah lagi.
“Pi…”
“Sea,” Reno memegang jemari Chelsea hingga gadis itu tidak jadi melannjutkan ucapannya.
“Maksud Papi itu perasaan cintaku sama kamu bikin hati kamu berbunga-bunga,” bisk Reno.
Chelsea menatap Reno dengan dahi berkerut dan akhirnya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
“Kamu tuh lulusan Amerika tapi daya tangkapmu di bawah rata-rata lulusan lokal,” sindir Papi dengan wajah kesal.
__ADS_1
“Lagian Papi pakai istilah yang nggak jelas. Ngomong tuh to the poinnt aja, nggak usah muter-muter kayak jembatan Semanggi.”
Papi geleng-geleng dan kembali menatap Reno dengan tatapan tajam.
“Kamu jadi serius sama si Rendang ini, Sea ? Kalau masih mau pikir-pikir jangan gampang kepincut sama gombalannya apalagi sampai mau disosor kayak tadi. Lagian Papi masih sanggup cariin kamu jodoh yang lebih baik dari si Rendang.”
“Jangan dong, Pi,” Reno langsung memasang wajah memelas.
“Aku udah cinta mati sama Sea, Pi dan nggak mau kehilangan Sea lagi. Kalau sampai aku gagal mendapatkan Sea…”
“Kenapa ? Mau KO aja ?” potong Papi dengan senyuman mengejek.
“Papi iihh… daritadi sinis melulu. Reno kan belum selesai bicara. Kenapa sih nggak didengerin dulu ?”
“Kamu mungkin gampang kena gombal, tapi Papi nggak semudah itu Ferguso.”
Chelsea langsung cemberut dan menatap Papi dengan tatapan menyeramkan.
“Papi mau cariin yang jodoh yang baik menurut Papi kan, bukan yang baik untuk Sea ? Sea sukanya makan rendang biar rasanya suka pedes-pedes dikit. Kalau Papi mau cariinnya gudeg atau nasi liwet, Sea nggak mau, dan rendangnya harus khusus buatan Papa Robert dan Mama Siska.”
Agam hampir menepuk jidatnya sendiri. Kenapa juga harus produk buatan Robert dan Siska padahal begitu banyak pilihan cowok di luar sana yang kualitasnya mungkin lebih baik.
”Beneran, ya ? Nggak boleh banyak drama apalagi sampai kabur pindah negara segala. Terus kalau lagi perang dingin, awas aja langsung melimpahkan tanggungjawab sama Papi. Seenaknya aja !” omel Papi.
“Namanya juga cewek, kalau lagi emosi yang jalan perasaanya dulu daripada logikanya. Wajar kalau Sea emosi melihat Reno lagi selingkuh.”
Mata Agam langsung melotot mendengar ucapan putrinya lalu menatap Reno dengan tatapan bukan sekedar galak biasa.
“Beneran nggak selingkuh, Pi, cuma salah paham,” Reno mengangkat tangan membentuk hutuf V dengan jemarinya.
“5 tahun lalu juga nggak selingkuh beneran, cuma sandiwara doang,” lanjut Reno dengan wajah memelas berharap Papi percaya dan reda emosinya.
“Sea kamu…”
“Sea tetap mau sama Reno. Udah keliling sampai kemana-mana, ujung-ujungnya di Reno juga. Apa Papi mau bikin Sea jadi perawan tua karena masih ngotot cari jodoh selain Reno ?” potong Chelsea dengan cepat.
Papi Agam melirik putrinya dengan kesal.
“Atau mau terpaksa menikahi Sea dengan Reno setelah Reno berbuat kayak Kak Revan ?”
Mata Papi Agam kembali melotot sebagai protes atas ucapan putrinya.
“Awas kalau kamu berani kasih dp dulu sama Sea !” ancam Papi dengan suara tegas.
“Nggak berani, Pi. Sebelum dp, udah di-kick dulu sama Chelsea bahkan diancam belalaiku mau dipapas rata.”
“Bagus !” Papi tersenyum puas sambil mengacungkan jempol pada Chelsea.
“Jadi keputusan akhirnya bagaimana ?” tanya Sea dengan wajah cemberut dan tatapan yang susah ditolak Papi.
“Suruh Papa kamu telepon atau ketemu Papi secepatnya. Dan awas kalau berani macam-macam sama putri Papi sebelum kalian resmi. Bukan cuma belalai kamu yang papi papas habis, tapi hidung kamu ikutan Papi buat tambah pesek juga biar sesak nafas kayak Sea waktu dibuat sakit hati sama kamu.”
YES ! sorak Reno dalam hatinya dengan bahagia.
“Papi memang yang terbaik,” Chelsea langsung memeluk Papi dan mencium pipi Papi Agam bertubi-tubi.
“Sea, jangan begini. Jaim sedikit nggak bisa ?” geutu Papi sambil berusaha mejauhkan Chelsea yang masih menciumi pipinya kiri kanan bergantian.
“Sea kan belajar dari Papi yang nggak pernah jaim kalau lagi nemplokin Mami.
“Sea !” Papi Agam langsung melotot dan melirik Reno yang menutup mulutnya supaya tidak terlihat sedang tertawa tanpa suara.
__ADS_1
Agam hanya bisa menghela nafas. Hancur sudah kewibawaannya di depan Reno karena sikap putrinya yang sangat-sangat labil dan terkadang menyebalkan !
Kenapa juga pilihannya harus Si Rendang buatan Robert dan Siska, bukan gudeg atau nasi liwet aja.