
“Kamu yakin alamatnya benar di sini ?” tanya Chelsea saat Reno menghentikan mobil di depan sebuah rumah mewah di kawasan elite kota Surabaya.
”Benar kok. Titiknya sesuai dengan yang di peta. Kamu tunggu dulu di mobil, aku tanya sama penjaga di situ.”
Chelsea mencoba menghubungi nomor yang mengirimkan alamat dan foto Karina sebelumnya, tapi nomor itu sudah tidak aktif dan pesan yang dikirim Chelsea hanya centang 1.
“Sea, benar ini tempatnya malah penjaganya langsung tahu nama kita. Tuh mereka langsung bukain pintu, suruh bawa mobil masuk.”
“Aku terserah sama kamu aja, Reno.”
“Kita bereskan sekarang aja, ya.”
Reno langsung mengemudikan mobil masuk ke halaman rumah mewah itu.
”Tuan dan Nyonya Reno, silakan masuk.”
Seorang pria baya berusia sekitar 60 tahunan berdiri menanti mereka di teras rumah. Ia membungkukan badan dan mempersilakan suami istri itu masuk ke dalam rumah.
“Pak, sebetulnya rumah siapa ini ?” tanya Chelsea tidak mampu menahan rasa penasarannya.
“Rumah keluarga Pratama, tapi tidak ada yang tinggal di sini, hanya sesekali dipakai untuk acara keluarga.”
“Apa kami bisa langsung bertemu dengan Karina ?” tanya Chelsea.
“Tentu saja bisa, Nyonya. Saya akan mengantar anda ke sana.”
Pria baya itu mengajak Reno dan Chelsea melintasi bagian dalam rumah yang ditata dengan model minimalis dan layaknya rumah tinggal biasa, hanya Chelsea merasa sedikit aneh karena tidak ada satu pun foto pemilik rumah dipasang dalam ruangan.
Mereka sampai di halaman belakang yang cukup luas dan di antar menuju satu bangunan paviliun tanpa jendela, hanya kisi-kisi udara di sepanjang tembok bagian atas dengan jarak yang sama.
“Pak, maaf sebelumnya, apakah saya bisa bertemu dengan kedua pria yang membawa Karina kemari ?”
“Kalau masalah itu saya juga kurang mengerti Nyonya. Tugas saya hanya merawat yang tinggal di sini. Silakan .”
Penerangan ruangan itu benar-benar terbatas, hanya mengandalkan cahaya yang masuk dari kisi-kisi, tapi dibandingkan dengan ruangan yang digunakan untuk menyekap Chelsea saat diculik oleh Mike, kondisi tempat ini lebih baik.
__ADS_1
Ada tempat tidur lipat dengan busa tipis, meja kecil dengan 2 botol air mineral 600 ml dan satu kursi yang saat ini ditempati oleh Karina dalam keadaan terikat.
“Puas kalian ? Sudah merasa jadi pemenang ?” ejek Karina dengan senyuman sinis.
“Tentu saja puas karena berhasil menggagalkan niat burukmu pada suamiku. Memang firasat seorang istri selalu tepat !”
Chelsea bertolak pinggang, tidak mau merasa terintimidasi oleh sikap Karina.
“Sebetulnya apa alasanmu melakukan semua ini Karina ? Suamiku begitu percaya padamu bahkan meyakinkanku kalau kamu adalah perempuan yang baik, seorang pekerja keras,” ujar Chelsea.
“Ternyata benar cerita Sena kalau kamu adalah seorang wanita licik yang pintar bersandiwara,” sihis Karina.
“Aku sangat mengenal istriku dan dia tidak pernah berpura-pura baik apalagi sok lugu. Bilang pada Sena supaya bertemu kami langsung, tidak usah memanfaatkan mantan suami dan adik tirinya untuk membalas dendam !” tegas Reno
“Lagipula aku sudah pernah bilang pada Sena kalau aku mendukung Bastian menjadi pendonor bagi Jeremi bahkan aku sudah membatalkan pertunangan kami supaya Bastian bisa kembali pada Sena dan membesarkan Jeremi bersama. Tapi Bastian bukanlah anak-anak yang bisa aku dikte dan atur hidupnya, selain itu kematiannya adalah kecelakaan, bahkan kalau boleh aku juga tidak mengharapkan Bastian pergi dengan cara seperti itu,” timpal Chelsea.
“Kalian tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaan Sena, bahkan kondisinya saat ini sangat menyedihkan. Ia mengalami depresi berat dan jiwanya terguncang karena Jeremi.”
“Yakin hanya karena Jeremi ?” sindir Reno sambil menyipitkan matanya, menelisik wajah Karina.
“Aku perhatikan kalian mulai bertindak sejak Chelsea memutuskan untuk menerima rumah pemberian dari Reno. Apa Sena merasa kecewa karena istriku yang mendapatkan rumah itu bukan Sena yang terdaftar sebagai istri siri Bastian ?”
“Reno…”
“Nanti aku jelaskan,” bisik Reno.
“Bukan tanpa alasan Sena baru menemui Bastian saat Jeremi sudah kritis. Seorang ibu yang baik tidak akan menunggu selama itu untuk mengobati anaknya. Begitu dokter memberikan diagnosa, sudah tentu ia akan mencari jalan untuk kesembuhan putranya.”
“Bukan salah Sena kalau kondisi Jeremi begitu cepat memburuk. Ia juga berusaha melakukan yang terbaik untuk Jeremi, tapi tidak mudah memberikan pengobatan tanpa menerima donor.”
“Penyakit Jeremi sudah terdeksi setahun yang lalu dan dua bulan setelahnya dokter sudah memberikan jalan keluar yang terbaik, tapi kondisi keuangan Sena bahkan keluarganya sedang diambang kebangkrutan. Biaya operasi untuk melakukan cangkok sumsum tulang belakang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sementara Mike tidak memiliki cukup uang untuk menolong putranya.”
“Apa maksudmu ?” pekik Karina.
“Aku tidak tahu apakah kamu pura-pura bodoh atau memang tidak tahu bagaimana fakta yang sebenarnya. Bastian telah membuktikan kalau anak itu bukanlah anak kandungnya melainkan anak Mike. Hasil tes DNA dimanipulasi oleh orangtua Sena. Itu sebabnya Bastian bersikukuh tetap melanjutkan rencana pernikahannya dengan Chelsea tapi sayang takdir berkata lain, Bastian harus pergi dengan cara seperti itu.”
__ADS_1
“Ternyata anda pintar menjadi pendongeng, Tuan Reno,” sinis Karina.
“Aku juga baru tahu 2 hari lalu dari asisten dan tim hukum Bastian. Pernikahan siri itu terpaksa Bastian jalani karena kedua orangtuanya mengancam tentang Chelsea. Dan sebelum pernikahan itu terjadi, Bastian sudah mengalihkan semua harta miliknya menjadi milik Chelsea.”
Chelsea bertambah bingung dengan penjelasan Reno, tapi bukan saat yang tepat untuk bertanya di depan Karina.
“Kamu hanya dibodohi oleh Mike dan Sena. Mereka hanya stress, tidak sampai depresi, tapi bukan karena Jeremi melainkan karena kehilangan kesempatan untuk menguasai harta pribadi Bastian. Orangku sudah memastikan kalau kondisi Sena baik-baik saja di Amerika.”
Reno menunjukkan foto di layar handphonenya pada Karina. Dari beberapa foto yang diperlihatkannya, tidak ada satu pun yang menunjukkan kalau Sena menderita depresi.
“Aku kasihan padamu tapi apa yang kamu lakukan benar-benar membuat aku sangat marah. Kamu bukan hanya memanfaatkan kepercayaanku tapi mengancam keselamatan istri dan anakku, bahkan kamu terlibat dalam kelompok yang menyabotase proyek di Surabaya. Sebentar lagi akan datang pihak yang berwajib, silakan cari pengacara untuk membantumu.”
Baru Reno selesai berbicara, pintu ruangan diketuk dan dibuka oleh pria baya tadi.
”Ada polisi yang mencari anda,” ujarnya dengan sopan. Reno mengangguk dan pria itu melebarkan pintu, memberikan jalan untuk 1 peia berpakaian biasa dan 2 anggota memakai seragam kepolisian lengkap.
“Selamat pagi Pak Reno,” pria berpakaian kemeja biru itu berjabatan tangan dengan Reno.
“Dia tersangkanya, Pak. Silakan hubungi saya atau bisa lewat Pak Ramadhan urnuk memastikan kasus ini bisa diproses.”
“Siap laksanakan, Pak.”
“Dasar pembohong ! Lepaskan saya, Pak, mereka juga bersalah !”
Kedua polisi berseragam itu tidak menggubris protes Karina dan membawanya langsung ke mobil lewat pintu samping, tidak melintas area dalam rumah.
“Kami permisi juga, Pak,” ujar Reno pada pria baya itu sambil membungkukan badan.
“Semoga perjalanan anda baik-baik saja Tuan dan bayi yang ada di dalam kandungan anda akan lahir dengan selamat.”
“Tapi Pak…”
“Sayang, kita bicarakan di luar, jangan menganggu Pak Edi lagi. Aku akan menceritakan semuanya padamu.”
Chelsea pun berpamitan pada pria baya yang ternyata bernama Edi itu dan dengan wajah kesal mengikuti Reno yang menggandengnya keluar.
__ADS_1