Takdir Untukku

Takdir Untukku
Ke Surabaya


__ADS_3

“Elo dimana, Sea ?” tanya Nia dengan nada khawatir.


“Gue ada di Surabaya, tapi tolong jangan bilang sama siapapun termasuk Reno kalau gue lagi ada di sini. Gue mohon, Ni. Tunggu sampai 2x24 jam, kalau sampai nggak ada kabar, elo baru bilang ke orangtua dan mertua gue.”


“Elo udah gila, Sea ? Kenapa harus nunggu 2 x 24 jam ? Gimana kalau nanti keburu terlambat ?”


“Ni, tolong kali ini percaya sama gue. Gue akan lebih waspada dan nggak akan membuat Mike atau orang-orang suruhannya menculik gue lagi. Ini soal firasat seorang istri pada suaminya. Please, Nia.”


Terdengar helaan nafas berat dari pihak Nia. Hatinya benar-benar ragu untuk memenuhi permintaan Chelsea.


“36 jam Sea, nggak boleh lebih. Kalau sampai 36 jam gue belum dapat kabar apapun dari elo, Dio akan jadi yang pertama tahu lalu Reno dan kedua orangtua kalian.”


“Deal ! Thankyou so much, Ni. Elo memang paling mengerti gue. Tapi tolong 36 jam nya baru dimulai 2 jam ke depan, jangan sekarang karena gue masih dalam perjalanan. Rugi kalau jam pasirnya udah dimulai dari sekarang,” canda Chelsea sambil tertawa.


“Elo benar-benar sinting, Sea. Udah bikin orang tegang masih bisa bercanda.”


“Hidup jangan terlalu tegang, Nia. Ingat elo belum nikah, bakal rugi kalau belum merasakan indahnya surga dunia. Apalagi kalau gara-gara terlalu tegang, mendadak kena stroke di usia muda. Cukup Dio aja yang sekali-sekali tegang,” lanjut Chelsea kembali tertawa.


“Sea, elo benar-benar harus waspada tanpa siapapun ada di dekat elo saat ini !”


“Aman Nia, gue titip kantor sebentar. Kalau Papi nanya bilang aja elo nggak tahu dan jangan lupa hapus history telepon ini. Bye Nia.”


Panggilan keduanya terputus dan Chelsea langsung mematikan handphonenya. Ia pun mengeluarkan handphone yang baru saja dibelinya sebelum berangkat ke Surabaya. Chelsea tidak ingin keberadaannya terlacak siapapun dan ia sadar kalau diam-diam Reno sudah memasang alat pelacak dalam perangkat handphonenya.


Chelsea menyandarkan kepala pada pintu taksi yang ditunpanginya dari Bandara Juanda menuju hotel.


Aksi nekatnya ini didorong oleh informasi Tamara yang akhirnya mengetahui identitas adik angkat Sena. Chelsea tidak terlalu kaget karena sudah punya firasat tentang perempuan itu sejak pertama kali bertemu.


Manusia bisa bersandiwara tapi Chelsea masih percaya kalau mata tidak pernah bisa berbohong dan kesan kebencian itu tertangkap oleh Chelsea saat pertama kali bertemu dengannya.


Handphone baru Chlesea berbunyi. Satu pesan masuk yang dikirim dari nomor tidak dikenal. Ia pun menegakkan kembali posisi duduknya.


Gue pinjam handphonenya Juki biar nggak terlacak, tapi nggak akan selalu pakai nomor ini. Gue tadi udah tanya sama Dio, malam ini Reno ada jadwal dinner dengan konsultan dari Singapura di hotel Merbabu jam 18.30.

__ADS_1


☘️☘️ Ok, thanks infonya, Ni. Gue akan ke sana sekarang.


“Tolong ke Hotel Merbabu, Pak.”


“Baik Nona.”


Chelsea sedikit mengantuk tapi selama urusannya belum tuntas, merebahkan diri di atas ranjang empuk yang ada di kamar hotel tidak akan membuatmatanya bisa terpejam dengan tenang.


Ia kembali menyenderkan kepala di pintu taksi. Pikirannya melayang pada pembicaraan dengan Tanara siang tadi.


“Siapa yang mengirimkan informasi ini, Tamara ?”


“Aku sungguh tidak tahu, Chelsea. Tidak ada identitas apapun dsn foto percakapan kami di wa sudah aku kirimkan padamu. Maaf aku harus bilang kalau tidak ada jaminan kalau informasi ini seratus persen benar atau salah. Aku memberitahu bukan ingin membuatmu bingung atau strss. Aku hanya khawatir kalau informasi ini benar dan semuanya terjadi, akhirnya kita hanya bisa menyesal. Bukan hanya kamu tapi aku pun akan sangat menyesal.”


“Dan foto perempuan itu, apa benar dia adik angkat Sena ? Kenapa wajahnya begitu berbeda dengan foto yang kamu kirim belakangan ?”


“Itu yang membuat adik temanku ragu karena penampilan keduanya sangat berbeda jauh.”


“Bisa saja semua ini hanya jebakan,” gumam Chelsea pada dirinya sendiri tapi masih terdengar oleh Tamara.


Dan setelah setengah hari bergulat antara mempercayai pesan itu atau mengabaikannya akhirnya Chelsea memilih untuk membuktikannya.


Ia mencari jalan agar bisa lepas dari pengawasan Hanum dengan bantuan Nia lalu nekat pergi ke bandara tanpa membawa pakaian ganti.


Semua kemungkinan untuk membuat papi dan papa tidak cepat menemukannya sudah dipikirkan masak-masak. Setidaknya Chelsea masih punya waktu 24 jam untuk mencari jawaban dan kebenaran.


Sekarang keputusan nekadnya membuat Chelsea berdiri di sini, di lobby depan Hotel Merbabu, berharap informasi yang didapatnya dari Dio tidak salah.


Chelsea menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum masuk ke dalam hotel.


****


“Jangan bilang kamu tidak tahu dimana Chelsea !”

__ADS_1


Suara tegas Papi Agam membuat jantung Nia langsung berdetak cepat, takut karena suara itu mengandung ancaman dan takut karena Nia harus berbohong.


“Saya tidak tahu Om.. eh Pak Agam. Chelsea hanya pamit pergi dan dia sempat menelepon saya mengabarkan kalau ia baik-baik saja.”


“Apa kamu lupa bagaimana Sea sempat stress saat diculik ? Kamu nggak lupa kan kalau boss kamu itu sedang hamil ?”


“Tentu saja saya tidak lupa soal itu, Pak, tapi sungguh saya tidak tahu.”


Sea, elo harus membayar ganti rugi rasa tegang yang gue alami karena harus berbohong demi elo !


Tidak lama pintu ruangan Papi Agam terbuka setelah diketuk 3 kali dan terlihat Papa Robert datang bersama Dio yang memakai hoodie dan masker.


Nia langsung berdiri dan membungkukkan badan, memberi hormat pada Papa Robert.


“Sudah menghubungi Reno, Bert ?”


“Belum,” Papa Robert menggeleng. “Chelsea baru menghilang beberapa jam dan belum tentu diculik lagi. Tidakkah kamu lihat kalau 2 hari ini kondisinya sedang tidak baik ? Kamu sadar kalau sejak hamil putrimu itu maunya nempel terus sama anakku kan ? Mungkin dia sedang jalan-jalan santai di mal untuk menenangkan pikirannya.”


“Kalau sekedar ke mal kenapa Hanum tidak diajak dan handphone pun dimatikan hingga tidak bisa dilacak keberadaannya.”


“Aku yakin kalau kondisi Sea saat ini baik-baik saja, tolong sabar sedikit, Gam. Emosi yang meledak-ledak seperti itu tidak akan membuatmu berpikir jernih.”


“Kalau tidak pernah mengalami kasus penculikan, aku tidak akan sekhawatir ini.”


“Dio akan mencoba melacak keberadaan Sea lewat chip yang sudah dipasang pada perangkat handphonenya. Reno memasangnya diam-diam setelah kasus penculikan itu. Berdoa saja alat pelacak itu tetap bisa berfungsi meskipun handphone Sea dalam keadaan mati.”


Nia meremat kedua jemarinya, ingin bicara pada Dio supaya tidak membuka informasi apapun tentang Chelsea minimal sampai besok pagi, tapi posisinya tidak memungkinkan untuk mendekati Dio tanpa membuat kedua ayah ini curiga.


Mendadak Dio terbatuk-batuk. Kondisi tubuhnya memang belum sehat betul, masih flu sejak 2 hari lalu.


Wajah Dio memerah karena batuknya semakin keras. Akhirnya Nia bernisiatif membawanya keluar untuk memberikan minuman hangat.


“Dio, Sea ada di Surabaya,” bisik Nia saat Dio baru selesai meneguk minumannya. Ia tidak berani terlalu jelas bicara karena ingat kalau ada CCTV di dekat pantry.

__ADS_1


“Sea minta tolong supaya keberadaannya jangan diketahui dulu oleh Pak Agam dan Pak Robert juga Reno. Sea ingin memberi kejutan pada suaminya.”


Dio sengaja terbatuk kembali supaya suara Nia tidak tertangkap CCTV. Ia mengangguk-angguk tanda mengerti.


__ADS_2