Terjerat Cinta Dua Mafia

Terjerat Cinta Dua Mafia
20


__ADS_3

Dewa mengusap kepala Cherry lembut lalu mencium kening Cherry.


"Aku pergi dulu" Pamit Dewa.


Dewa keluar dari rumah Cherry. Dia berjalan ke arah mobilnya yang ia tinggalkan di tepi jalan. Dia memekai kaca matanya lalu masuk ke dalam mobil.


Di kantor.


Dewa masuk ke dalam kantornya. Dia selalu jadi pusat perhatian siapapun jika dia berjalan. Dewa yang memang tampan dengan badan tegap berotot dan wajah tampan serta rambut hitam panjangnya membuatnya semakin mencolok.


"Dari mana saja kamu?" Tanya Ardi yang sudah lelah menunggu kedatangan Dewa.


"Minta vitamin dulu" Jawab Dewa duduk di sofa dengan memangku sebelah kakinya.


"Ada keributan di club, aku mau ke sama sekarang" Ucap Ardi.


"Di siang bolong begini ada yang cari ribut di club ku!" Ucap Dewa marah.


"Sudah lah, ini hanya masalah kecil. Kamu tidak usah turun tangan" Ucap Ardi.


"Tidak bisa. Aku ingin lihat siapa yang mencari masalah di club ku" Ucap Dewa yang sudah bangkit dari duduknya.


"Terserah kamu deh" Ucap Ardi yang tidak akan bisa membujuk Dewa.


Dewa dan Ardi keluar dari kantornya. Walaupun kantor Dewa kecil namun apa yang mereka hasilkan cukup besar. Dewa sendiri memiliki kapal pesiar untuk menjalankan bisnisnya. Dewa juga memiliki jet pribadi dan beberapa vila mewah miliknya. Dia sengaja tidak memperbesar kantornya itu karena dia pikir kantor kecil hanya untuk penyamaran saja.


Di club.


Dewa dan Ardi berjalan masuk ke dalam club. Saat mereka masuk, mereka melihat sekelompok orang yang bertengkar di lantai dansa dan menghancurkan properti milik club.


Dewa dan Ardi masuk ke area pertengkaran dan menghajar semua orang yang terlibat dalam perkelahian itu. Dia tisak peduli siapa yang salah atau benar. Karena yang dia pikir mereka semua salah telah menghancurkan properti clubnya.


Hanya butuh beberapa menit saja Dewa dan Ardi sudah melumpuhkan mereka semua.


"Bereskan mereka" Ucap Dewa pada Ardi.


"Siap" Jawab Ardi tersenyum senang. Dia paling suka jika Dewa menyerahkan permainan yang membuatnya senang.


Seperti kejadian ini, Ardi paling suka jika di minta Dewa untuk membereskan. Karena dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan pada orang orang yang telah membuat masalah di clubnya.


Namun karena asik sendiri, Ardi tidak melihat salah seorang yang menghampiri Dewa. Orang itu menyentuh pundak Dewa. Dea menoleh ke belakang dan....


Duack


Dewa terkena pukulan dari orang itu. Dewa sampai menabrak meja club karena saking kerasnya pukulan yang orang itu layangkan pada Dewa.

__ADS_1


"Dewa" Ucap Ardi terkejut. Bukan khawatir dengan Dewa, tapi Ardi lebih khawatir dengan orang yang memukul Dewa. Menyentuh Dewa sama dengan bunuh diri.


"Habis deh tuh orang" Guman Ardi.


Dewa tersenyum dengan apa yang telah orang itu lakukan padanya. Dewa bangkit dan menatap ke orang yang memukulnya itu. Dia menghapus darah yang keluar dari sudut bibirnya.


Duack


Dewa menendang orang yang memukulnya. Dia menghampiri orang itu dan menarik kerah bajunya. Dewa memukul orang yang sudah ia buat babak belur tadi. Tapi karena dia berani memukul Dewa, kini Dewa pu membalasnya. Namun bukannya hanya sekali balasan yang Dewa berikan. Dewa memukuli orang itu berkali kali hingga orang itu lemas tak berdaya.


"Nah kan, habis deh tuh orang" Ucap Ardi.


"Hah... tambah lagi kan kerjaan ku" Ucap Ardi.


Bruck


Dewa mendorong orang itu setelah ia puas.


"Bisa tidak sih membereskan mereka? Kalau tidak bisa bilang biar aku bereskan sekalian kamu juga" Ucap Dewa.


"Ok sorry" Ucap Ardi santai.


"Bereskan" Ucap Dewa.


"Kalian tidak apa apa kan? Apa ada yang terluka parah?" Tanya Dewa.


"Ada 1 orang pak. Tapi tadi sudah ada yang mengantarnya ke rumah sakit" Ucap anak buah Dewa


"Ya sudah, kalian istirahat saja dulu. Malam nanti saja kita buka lagi. Obati dulu luka kalian" Ucap Dewa.


"Baik pak" Jawab anak buah Dewa.


Di ruang privat.


Dewa sudah duduk santai di ruang privat. Dia menunggu Ardi yang belum juga kembali.


"Semakin hari performa kamu menurun" Ucap Dewa pada Ardi yang baru masuk ke ruang privat.


"Tidak juga. Tapi ke kamar mandi dulu" Jawab Ardi.


"Selidiki siapa yang sudah memasang foto foto Cherry di mading sekolahnya" Ucap Dewa melempar kotak roko ke meja agar Ardi juga bisa merokok.


"Ok, tapi aku masih belum jelas tentang foto Cherry. Memangnya foto apa yang sampai membuat Cherry seperti itu? Dia termasuk gadis yang cuek dan pandai menyembunyikan apapun yang ia rasakan pada orang lain. Tapi kenapa dia bisa sampai terpuruk seperti kemarin?" Tanya Ardi.


"Foto dirinya yang saat itu sedang bersama pemilik club. Dia di lecehkan oleh pemilik club, walaupun tidak sampai dia meniduri Cherry, namun kamu tau sendiri saat kita datang Cherry sudah dalam keadaan tanpa busana" Ucap Dewa.

__ADS_1


"Jadi kemungkinan besar adalah ulah pemilik club" Ucap Ardi.


"Aku pun sepemikiran dengan kamu. Dia benar benar ular. Susah sekali menangkapnya" Ucap Dewa.


"Tenang saja, sepintar apapun dia bersembunyi, kita pasti bisa menangkapnya" Ucap Ardi.


"Iya. Oh satu lagi, teman Cherry yang bernama Nada masih di sekolah itu. Kamu juga minta orang untuk menjaganya. Dia bisa saja menjadi umpan untuk menangkap Cherry" Ucap Dewa.


"Ok" Jawab Ardi mengangguk.


Ardi kelur dari ruang privat untuk menjalankan tugasnya. Sedangkan Dewa masih di tempat menikmati rokok miliknya dan juga minuman yang tersedia di atas meja.


Dewa mengeluarkan ponselnya ketika dia merasakan getaran dari ponsel yang ia taruh di balik jasnya.


"Kelinciku sudah bangun ternyata" Guman Dewa yang tersenyum melihat Cherry yang sedang menghubunginya.


"Halo sayang" Ucap Dewa yang menerima telfon dari Cherry.


"Aku ada di vila. Kata embok kamu ke kantor" Ucap Cherry.


"Iya aku ada kerjaan. Tadi aku kan sudah pamit ke kamu juga" Ucap Dewa.


"Tau begitu aku tidak usah ke vila. Ya sudah aku mau pulang saja kalau begitu" Ucap Cherry.


"Tunggu di sana, aku akan pulang sekarang" Ucap Dewa.


"Katanya kamu ada kerjaan? Besuk saja kita ketemu, kamu selelaikan saja kerjaan kamu" Ucap Cherry.


"Tapi aku sudah merindukan kamu" Ucap Dewa manja.


Ardi yang mendengar ucapan Dewa merasa merinding. Dewa pun merasa malu ketika Ardi mendengar ucapannya tadi.


"Ngapain ke sini lagi?" Tanya Dewa.


"Ambil ponsel" Jawab Ardi yang mengambil ponselnya yang tertinggal di sofa.


"Ingat umur" Celetuk Ardi lalu berlari keluar dari ruang privat.


Duack


# Selamat membaca ya kak


# Terima kasih banyak


😊😊😊🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2