
Cherry berlari ke arah Dewa dan berniat menakut nakuti Dewa. Namun Dewa malah memegang pisau itu dengan tanganya sendiri hingga darah segar menetes ke lantai kamar.
"Hah" Cherry terkejut melihat darah Dewa yang menetes tepat di sebelah kakinya.
"Kalau kamu berniat menusuk ku, tepatkan pisaunya ke sini" Ucap Dewa mengarahkan pisau yang di bawa Cherry ke dadanya.
"Lepaskan Dewa" Ucap Cherry menangis.
"Kenapa? Bukan kah kamu membawa ini untuk menusukku?" Ucap Dewa.
"Lakukan jika itu bisa membuat kamu tenang, lakukan jika itu bisa menghapus rasa sakit hati kamu. Lakukan jika itu bisa menghapus rasa benci kamu ke aku" Ucap Dewa.
"Lepaskan, aku mohon" Pinta Cherry menangis.
Perlahan Dewa menarik pisau itu dari tangan Cherry. Cherry melepaskan pisau yang dia bawa itu. Dewa melemparkan pisaunya ke arah Ardi yang berdiri di depan pintu untuk mencegah Cherry karena tadi dia melihat di saat Cherry mengambil pisau di bawah.
Ardi mengambil pisau itu lalu menutup pintu kamar Dewa. Dia memberikan waktu untuk Dewa dan Cherry untuk saling bicara.
"Apa kamu terluka tadi?" Tanya Dewa lembur. Cherry menggelengkan kepalanya dan masih berada dalam pelukan Dewa.
"Tangan ku sakit, apa kamu tidak ingin mengobatinya" Ucap Dewa memperlihatkan tanganya yang terluka dan berlumuran darah.
"Aku akan mengobatinya" Ucap Cherry. Cherry melepaskan pelukannya dari Dewa. Dia keluar dari kamar dengan menghapus air matanya.
Cherry keluar dari kamar untuk mengambil air hangat dan kain halus untuk membersihkan luka Dewa.
Tak lama Cherry kembali ke dalam kamar. Dia melihat Dewa yang sedang menerima telfon di depan kaca balkon kamar.
"Aku akan hubungi kamu lagi nanti" Ucap Dewa. Dewa mematikan ponselnya lalu berjalan ke arah sofa.
Cherry tidak bertanya siapa yang Dewa telfon. Dia hanya fokus membersihkan luka tangan Dewa.
"Kenapa kamu menjadi pendiam sekarang?" Tanya Dewa.
"Tidak ada hal yang ingin ku bicarakan" Jawab Cherry.
"Aku mencintai kamu Cherry" Ucap Dewa dan mampu menghentikan Cherry. Dia menatap kedua mata Dewa.
"Jangan bicara sesuatu yang tidak tidak.hanya karena kamu ingin menahan ku di sini" Ucap Cherry datar.
"Tapi aku benar benar mencintai kamu Cherry" Ucap Dewa tegas.
Cherry tidak menjawab ucapan Dewa. Dia fokus mengobati luka Dewa.
"Ini hanya pertolongan pertama. Luka kamu cukup besar, jadi kamu harus ke rumah sakit sekarang" Ucap Cherry datar
__ADS_1
Cherry memberesi obat obatan yang dia keluarkan tadi. Dia memasukkanya ke dalam kotak lagi. Dia bangkit dari duduknya untuk mengembalikan mangkuk yang ia pakai tadi.
"Non Cherry tidak apa apa kan?" Tanya pembantu Dewa.
"Tidak apa apa kok mbok." Jawab Cherry.
" Aku lapar mbok, apa ada makanan?" Tanya Cherry.
"Ada non, non Cherry duduk saja dulu biar embok hangatkan dulu makanannya" Ucap pembantu Dewa.
"Iya, makasih ya mbok" Ucap Cherry.
"Iya non" Jawab pembantu Dewa.
Cherry duduk di kursi meja makan. Dia menunggi pembantu Dewa hang sedang menghangatkan makanannya.
Dewa ikut turun menghampiri Cherry. Dia merasa ingin selalu di samping Cherry dan tidak ingin jauh dari Cherry.
"Ngapain dia di sana" Guman Dewa. Dewa menghampiri Cherry dan duduk di sebelah Cherry.
"Tuan mau makan juga?" Tanya pembantu Dewa.
"Boleh" Jawab Dewa.
"Saya siapkan tuan" Ucap pembantu Dewa.
Dewa juga ingin mengambil nasi namun karena tangannya yang sakit membuatnya kesusahan. Cherry mengambil sendok nasi dari tangan Dewa. Dia megambilkan makanan untuk Dewa tanpa bicara sepatah kata pun.
"Terima kasih" Ucap Dewa tersenyum senang.
Cherry mulai makan makanannya dengan lahap. Namun berbeda dengan Dewa yang lagi lagi kesusahan untuk makan.
"Cherry" Panggil Dewa lirih. Cherry menghela nafasnya. Dia menyuapi Dewa makan hingga makanan yang ada di piring Dewa habis.
Setelah selesai makan, Cherry membawa piring kotornya ke tempat cucian. Dia mencuci sendiri piring yang ia pakai dan milik Dewa juga.
Setelah selesai, Cherry berjalan naik tangga menuju ke kamar. Dewa terus mengikuti Cherry seperti anak itik yang terus mengikuti induknya.
Cherry duduk di sofa, dia menyalakan tv yang ada di kamar. Dewa duduk di sebelah Cherry.
"Mau sampai kapan kamu akan menyekapku di sini?" Tanya Cherry yang akhirnya membuka suara.
"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari sini" Ucap Dewa.
"Tapi isi dalam kotrak itu hanya tinggal beberapa bulan lagi. Setelah kontrak itu selesai aku ingin pergi dari sini" Ucap Cherry.
__ADS_1
"Kalau kamu berani pergi, aku akan membuat hidup kakak kamu lebih susah dari pada sekarang" Ucap Dewa.
Cherry bangkit dari duduknya karena emosi dengan ucapan Dewa yang menjadikan kakaknya sebagai alat untuk mengancam Cherry.
"Jangan pernah sentuh kakak ku atau aku tidak akan tinggal diam" Ucap Cherry penuh penekanan.
"Maka dari itu tetap lah di sisiku. Aku hanya ingin kamu berada di sisi ku. Aku sudah membakar surat perjanjian itu" Ucap Dewa.
Dewa meraih tangan Cherry. Dia menggenggam kedua tangan Cherry.
"Aku sungguh mencintai kamu Cherry. Aku tidak tau kapan perasaan ini muncul." Ucap Dewa
"Tapi aku baru menyadarinya ketika aku melihat kamu membenciku. Aku tidak sanggup melihat itu Cherry. Jangan benci padaku, kembali lah ke dalam pelukanku" Ucap Dewa memohon. Dewa menarik tangan Cherry dan memeluk pinggang Cherry.
"Aku tidak akan mengurung kamu di sini. Aku akan membebaskan kamu keluar kemanapun yang kamu mau. Tapi aku tidak mengijinkan kamu untuk bertemu dengan kakak kamu" Ucap Dewa.
"Kalau soal uang ataupun pengobatan kakak kamu, kamu tenang saja. Aku akan membiayai semuanya. Aku janji tidak akan menyentuh kakak kamu. Tapi dengan satu syarat itu. Kembali lah pada ku" Ucap Dewa.
"Keputusan ada di tangan kamu Cherry. Aku akan tunggu jawaban kamu" Ucap Dewa.
"Jawaban apa yang kamu inginkan? Bukan kah sudah jelas. Memang dari awal tidak ada pilihan bukan untuk ku" Ucap Cherry.
"Maafkan aku, tapi hanya dengan cara ini aku bisa mengikat kamu Cherry" Ucap Dewa.
Cherry melepaskan pelukan dari Dewa.
"Tidur lah, aku mau keluar" Ucap Cherry.
"Kamu mau ke mana?" Tanya Dewa.
"Aku ingin pisah kamar dengan kamu" Jawab Cherry tanpa menoleh ke arah Dewa.
Cherry menutup pintu kamar Dewa. Dia berpindah tidur di kamar sebelah kamar Dewa. Dewa ingin mengejar Cherry namun dia takut jika Cherry semakin matah padanya.
...Nex partnya mau lagi nggak nih?...
...Kalau partnya ini suka nggak?...
...Harus komen ya.......
...Mamak mau minta maaf nih kalau ada typo banyak....
...Kalau suka dan seru dengan novelnya, jangan lupa ajak teman temannya buat baca juga 🤭...
...Salam sayang dari mamak Diyah...
__ADS_1
...See you nex part ❤...