Terjerat Cinta Dua Mafia

Terjerat Cinta Dua Mafia
70


__ADS_3

"Aku memang mencintai kamu Dewa, tapi aku tidak bisa memaksakan kamu untuk mencintaiku juga karena aku tau di hati kamu hanya ada Cherry" Ucap Fiona menangis.


"Maafkan aku Dewa, tapi tolong ceraikan aku. Kejar lah kabahagiaan kamu Dewa. Coba lah untuk bicara dengan Cherry." Ucap Fiona lagi.


"Maafkan aku Fiona. Aku sudah melukai kamu sedalam ini. Bahkan selama kita menikah pun aku sama sekali tidak menyentuh mu. Maafkan aku" Ucap Dewa menyesal.


"Aku memang masih mencintai Cherry, Fiona. Aku sudah berusaha untuk melupakan dia. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri bahwa aku masih sangat mencintai dia" Ucap Dewa.


"Sebab itu, tolong ceraikan aku. Aku tidak ingin hidup di balik bayang bayang Cherry, Dewa. Tolong mengerti lah" Ucap Fiona.


"Baik lah, aku akan lakukan apa yang kamu mau."


"Maafkan aku Fiona, terima kasih karena kamu sudah pernah singgah dalam hidup ku. Terima kasih atas kasih sayang yang kamu berikan pada ku. Di masa masa terpuruk ku pun kamu masih berada di sisiku."


"Aku akan menceraikan kamu Fiona. Aku berdoa agar kamu bisa mendapatkan pria yang jauh jauh lebih baik dari aku." Ucap Dewa.


Fiona kembali menangis ketika Dewa mengucap kata Cerai. Hanya kata Cerai saja sudah membuat mereka berpisah. Saat ini mereka sudah tidak suami istri dalam agama.


"Terima kasih Dewa. Mulai sekarang kita bukan lagi suami istri lagi. Selamat tinggal" Ucap Fiona lirih memaksakan senyumnya. Dewa hanya bisa mengangguk dan terus menundukkan kepalanya karena tidak tega melihat air mata Fiona.


Fiona melepaskan cincin pernikahan mereka. Dia meraih tangan Dewa dan memberikan cincin itu ke tangan Dewa.


"Aku pergi" Pamit Fiona.


Fiona melangkahpergi dari rumah sakit. Hatinya benar benar hancur karena telah kehilangan suami yang begitu ia cintai. Dia tidak sanggup menahan rasa sakit hatinya itu. Dia memegangi dadanya yang terasa sangat sakit dan terus menangis.


Di saat bersamaan Dewa mendapat telfon dari anak buahnya.


"Halo, ada apa?" Tanya Dewa.


"Maaf tuan kami ingin melapor bahwa Aksa mengalami kecelakaan di jalan S. Mobilnya meledak dan di pastikan Aksa meninggal di tempat saat kecelakaan itu" Ucap anak buah Dewa.


"Apa? Kenapa bisa begitu? Apa ini murni kecelakaan?" Tanya Dewa marah.


"Kami belum tau tuan, kami masih me menyelidikinya" Jawab anak buah Dewa.


"Ok, selidiki sampai tuntas. Jika itu bukan kecelakaan murni cari tau siapa dalang dari kecelakaan itu" Ucap Dewa.


"Baik tuan" Jawab anak buah Dewa.


Dewa duduk di bangku tunggu, dia memijat keninganya yang terasa sakit karena di saat bersamaan masalah datang terus menerus.


"Apa yang harus aku katakan pada Cherry saat dia bertanya nanti" Guman Dewa.


"Kenapa harus di saat seperti ini?" Guman Dewa lagi.


Dewa sungguh merasa lelah saat ini. Dia tidak tau harus melakukan apa karena masalah yang dia hadapi saat ini cukup berat. Dia masih memikirkan Cherry yang belum juga keluar dari ruang oprasi. Di tambah Aksa yang meninggal dalam kecelakaan. Belum lagi urusan perceraiannya dengan Fiona.


Ke esokan harinya.


Dewa masuk ke dalam ruang inap Cherry. Dia melihat Cherry yang sedang menyusui salah satu bayinya.


"Kak Dewa" Ucap Cherry tersenyum.

__ADS_1


Dewa pun tersenyum juga. Dia berjalan ke arah box bayi yang ada di dekat ranjang Cherry. Dia melihat bayi lain Cherry yang tertidur pulas.


"Manisnya" Ucap Dewa menyentuh pipi bayi Cherry.


"Anda ingin menggendongnya?" Tanya suster.


"Tidak, saya takut menyakitinya" Ucap Dewa menggelengkan kepalanya.


Suster tersenyum. Dia menggendong bayi Cherry lalu mengarahkannya ke Dewa.


"Coba lah, anda tidak akan melukainya jika menggendongnya perlahan" Ucap suster.


Dewa melihat ke arah Cherry untuk meminta persetujuan Cherry. Cherry mengangguk dan tersenyum menyetujui Dewa.


"Baik lah, tapi tolong pelan pelan" Ucap Dewa.


"Iya tuan" Jawab suster.


Dewa perlahan menggendong bayi kecil Cherry, ada perasaan aneh ketika dia menggendong bayi Cherry.


"Luar biasa. Dia sangat menggemaskan" Ucap Dewa terkesima dengan bayi Cherry.


"Apa kamu sudah memberinya nama?" Tanya Dewa.


"Belum. Kak Aksa sudah ada 1 nama tapi yang 1 belum punya nama" Jawab Cherry.


"Siapa namanya?" Tanya Dewa.


"Apa boleh aku yang memberi nama untuk yang satunya?" Tanya Dewa.


"Boleh" Jawab Cherry.


"Royyan Alvarel. Royyan yang artinya raja" Ucap Dewa.


"Nama yang bagus. Aku suka" Jawab Cherry.


"Tapi kak, apa kamu tau di mana kak Aksa? Kenapa sejak kemarin aku tidak melihatnya?" Tanya Cherry.


Dewa memberikan bayi Cherry ke suster lagi. Setelah menaruhnya di box, suster meminta bayi yang ada di gendongan Cherry.


"Maaf, saya permisi dulu. Si kembar harus kembali ke ruang bayi" Ucap Suster.


"Iya sus, terima kasih" Ucap Cherry tersenyum.


Suster mendorong box bayi si kembar keluar dari kamar inap Cherry. Dewa menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia duduk di kursi yang ada di dekat ranjang Cherry.


"Cherry maaf jika aku baru mengatakan ini ke kamu. Tapi Aksa telah meninggal dunia. Dia kecelakaan saat akan ke sini" Jelas Dewa.


"Enggak.... enggak mungkin" Ucap Cherry tersenyum.


"Jangan bercanda Dewa, itu tidak mungkin. Dia..... dia tidak mungkin..." Ucap Cherry mulai menangis.


"Saat ini jenasah Aksa ada di rumah duka. Aku sudah mengabari Randi dan istrinya. Mereka sedang dalam perjalanan pulang sekarang" Ucap Dewa.

__ADS_1


"Pembohong. Kamu pembohong Dewa. Kamu bohong...." Teriak Cherry.


"Kak Aksa tidak mungkin meninggal Dewa, kamu bohong sama aku. Aku tidak percaya" Ucap Cherry menangis dengan memukul mukul tangan Dewa.


Dewa bangkit lalu menarik tubuh Cherry. Dia memeluk erat tubuh Cherry. Dewa tidak tega melihat Cherry yang menangis seperti itu.


"Kamu harus kuat Cherry, demi kedua anak kamu" Ucap Dewa lirih.


"Ini nggak mungkin.....kak Aksaaa....." Teriak Cherry menangis histeris.


"Au...au...sakit" Ucap Cherry yang memegangi perutnya yang kesakitan.


Dewa melepaskan pelukannya dan melihat darah yang keluar dari bekas oprasi Cherry.


"Dokter. Dokter" Teriak Dewa yang khawatir dengan keadaan Cherry. Cherry mencengkram erat tangan Dewa.


Tak lama Dokter masuk ke dalam ruang inap Cherry. Dewa menidurkan Cherry dan mencoba melepaskan tangan Cherry namun Cherry menggelengkan kepalanya.


"Iya iya, aku akan tetap di sini" Ucap Dewa.


Dokter membuka baju Cherry. Dokter melihat perban luka Cherry yang sudah basah karena darah.





💥💥💥


Hai hai hai...


Gimana seru nggak nih ceritanya.


Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.


Uang parkirnya kaka, jangan lupa ya..😁


👍 Like


♥️ Favorit


💬 Komen


⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.


Selamat membaca ya kak


Terima kasih banyak


See you next part


😊😊😊🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2