Terjerat Cinta Dua Mafia

Terjerat Cinta Dua Mafia
64


__ADS_3

"Sikap manja kamu, senyuman kamu, bahkan tubuh mu pun membuatku candu sayang. Aku tidak tau apa ini bisa di sebut cinta. Tapi yang aku rasakan saat ini adalah ingin selalu bersama kamu, aku ingin selalu memeluk dan menciummu" Randi lembut.


Loli tersenyum mendengar ucapan Randi. Loli yang belum pernah merasakan jatuh cinta kini di manjakan oleh suami yang begitu kembut dan perhatian dengan dirinya. Bahkan Loli pikir dia lebih beruntung berkali kali lipat dari seorang ratu.


"Jika aku jelek, apa kakak akan meninggalkan aku dan mencari wanita lain?" Tanya Loli.


"Tidak akan sayang. Aku hanya ingin kamu dan selamanya akan selalu bersama kamu" Ucap Randi serius.


"Apa hukuman yang akan kakak inginkan jika kakak melanggar janji kakak sendiri?" Tanya Loli.


"Aku akan menyerahkan jantungku ke kamu jika menginginkannya, aku akan lakukan apapun untuk kamu sayang" Ucap Randi.


"Aku percaya dengan kakak. Aku harap kakak bisa menempati janji kakak untuk selalu bersama ku, karena sepertinya aku mengandung anak kakak" Ucap Loli.


"A....apa?" Tanya Randi tidak percaya.


Loli mengeluarkan alat tes kehamilannya, dia memberikanalat tersebut kepada Randi.


"Pagi tadi aku melakukan tes mandiri di hotel. Aku sudah curiga karena sudah beberapa hari ini aku terlambat datang bulan. Dan ternyata benar, aku sedang hamil kak" Ucap Loli tersenyum bahagia.


Tangan Randi gemetar menerima alat tes kehamilan yang di berikan Loli padanya. Dia tanpa sadar kenitihkan air matanya karena saking bahagianya.


"Ini serius?" Tanya Randi lagi.


Loli bangkit dari duduknya, dia berjalan menghampiri Randi. Dia memegang wajah Randi agar menatap dirinya yang sudah berdiri di depan Randi.


"Aku serius kak, tapi untuk lebih jelasnya nanti kita ke Dokter saja." Ucap Loli.


Randi menarik pinggang Loli lalu memeluk Loli erat. Dia menangis bahagia dengan menciumi perut Loki yang masih rata.


"Terima kasih, terima kasih sayang" Ucap Randi.


"Iya kak" Jawab Loli tersenyum bahagia.


Randi segera menghubungi Cherry untuk memberi tahukan kabar bahagia itu pada Cherry.


"Halo kak, bagaimana liburan kakak dengan Loli?" Tanya Cherry antusias.


"Cherry " Panggil Randi menangis.


Cherry langsung bangkit dari duduknya. Dia khawatir karena mendengar suara Randi yang sedang memangis.


"Kakak kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan kalian?" Tanya Cherry khawatir.


"Tidak Cherry"


"Lalu kakak kenapa? Kenapa kakak menangis?" Tanya Cherry.


"Loli.... dia hamil Cherry" Jawab Randi menangis bahagia.


Cherry pun masih belum percaya. Namun mendengar suara Randi yang sedang menangis membuatnya yakin dan percaya.


"Selamat ya kak, aku ikut bahagia mendengarnya" Ucap Cherry tersenyum.


"Terima kasih Cherry, kakak dan Loli akan ke Dokter sekarang untuk memastikannya lagi" Ucap Randi.

__ADS_1


"Iya kak, semoga semuanya lancar" Ucap Cherry.


"Trima kasih atas doanya" Ucap Randi.


Cherry menaruh ponselnya di meja setelah Randi mematikan panggilannya. Dia keluar dari ruangan Aksa untuk menemui Aksa di ruabg rapat. Karena saat ini Cherry sedang berada di kantor cabang milik Aksa untuk menemani Aksa bekerja.


Brack


Cherry membukapintu ruang rapat. Dia tidak peduli dengan anak buah Aksa yang menatapnya dengan aneh karena masuk ke ruang rapat saat rapat sedang berjalan.


"Ada apa sayang?" Tanya Aksa yang bangkit dari duduknya.


Cherry berlari ke arah Aksa lalu menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Aksa. Cherry terus tersenyum karena dia juga bahagia.


Aksa memberikan instruksi pada anak buahnya yang mengikuti rapat untuk keluar dari ruang rapat sekarang. Setelah anak buahnya keluar, Aksa melepaskan pelukan Cherry. Dia menggendong Cherry agar duduk di atas meja ruang rapat.


"Jangan berlarian sayang, ingat kamu sedang hamil sekarang" Ucap Aksa lembut.


"Maaf membuat kamu khawatir, tapi aku sedang bahagia sekarang" Ucap Cherry.


"Apa yang membuat kamu bahagia?" Tanya Aksa menyisipkan anak rambut Cherry ke belakang telinganya.


"Loli hamil kak" Ucap Cherry tersenyum bahagia.


Aksa pun tersenyum bahagia karena 2 gadis yang sangat berharga baginya kini tengah mengandung dalam waktu hampir bersamaan.


"Syukurlah dia sudah hamil sekarang. Sebantar lagi kamu akan menjadi bibi" Ucap Aksa mencubit hidung Cherry.


"Iya, aku senang sekali" Ucap Cherry tersenyum.


Ke esokan harinya.


Fiona bangun dari tidurnya. Saat ia bangun lagi lagi dia tidak melihat Dewa. Sudah beberapa hari ini Dewa tidak pulang.


"Apa dia mau menghindariku?" Guman Fiona.


"Terserah deh, aku harus berangkat kerja sekarang" Ucap Fiona turun dari ranjangnya. Dia berjalan masukke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Di saat bersamaan, Dewa baru saja pulang. Dia menuju ke kamar yang dulu di tempati Cherry dari pada harus ke kamarnya.


Tak lama Fiona sudah selesai mandi. Dia juga sudah memakai seragam susternya untuk bekerja. Dia keluar dari kamar dan melihat asisten rumah Dewa yang membawa kopi.


"Untuk siapa mbok?" Tanya Fiona.


"Untuk tuan, nyonya" Jawab asisten rumah Dewa.


"Dia sudah pulang?" Tanya Fiona.


"Sudah nyonya, baru saja tuan sampai di rumah" Jawab asiste rumah.


"Biar saya saja yang antar" Ucap Fiona.


"Tapi nyonya.."


"Saya istrinya mbok. Saya hanya ingin melakukan tugas saya" Ucap Fiona tegas.

__ADS_1


"Baik nyonya" Jawab asisten rumah.


Fiona mengambil alih nampan dari tangan asisten rumahnya. Dia berjalan ke arah kamar yang di tempati Dewa. Fiona tau jika Dewa masih belum bisa melupakan mantannya itu. Tapi Fiona tidak akan menyerah begitu saja.


"Kenapa kamu yang ke sini?" Tanya Dewa saat melihat Fiona masuk ke dalam kamar yangia tempati.


"Kenapa? Apa kamu kecewa karena aku yang datang?" Tanya Fiona menaruh kopi yang ia bawa ke atas meja.


"Pergi lah, aku lelah dan ingin istirahat" Ucap Dewa lemas.


"Istirahat di kamar" Ucap Fiona.


"Jangan mengatur ku" Ucap Dewa dingin.


"Aku berhak mengaturmu karena aku istri mu" Ucap Fiona tegas.


"Istri pengganti lebih tepatnya" Ucap Dewa mengejek.


"Memangnya kenapa kalau hanya pengganti. Yang tidak akan bisa kamu rubah saat ini aku tetap lah istri kamu" Ucap Fiona tidak mau kalah.


"Jangan membuatku marah Fiona" Ucap Dewa.


"Aku tidak peduli jika kamu marah. Mau semarah apapun kamu tidak akan bisa merubah keadaan ini."


"Kamu yang membawa ku masuk ke dalam rumah ini Dewa. Kamu yang sudah menikahi ku" Ucap Fiona.





💥💥💥


Hai hai hai...


Gimana seru nggak nih ceritanya.


Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.


Uang parkirnya kaka, jangan lupa ya..😁


👍 Like


♥️ Favorit


💬 Komen


⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.


Selamat membaca ya kak


Terima kasih banyak


See you next part

__ADS_1


😊😊😊🙏🙏🙏


__ADS_2