Terjerat Cinta Dua Mafia

Terjerat Cinta Dua Mafia
67


__ADS_3

"Jangan memikirkan hal itu lagi Ardi. Kita keluarga sekarang dan aku tidak ingin kamu memikirkan hal yang bisa menyakiti perasaan ku atau pun perasaan kamu sendiri" Ucap Dewa.


"Baik lah" Jawab Ardi tersenyum.


"Ya sudah, lebih baik kamu siapkan helikopter saja karena akan lebih aman jika kita melalui jalur udara" Ucap Dewa.


"Baik, aku akan menyiapkannya" Jawab Ardi bangkit dari duduknya.


Ardi berjalan ke arah pintu ruangan Dewa, baru saja dia membuka pintu, dia melihat Fiona yang berdiri di depan pintu dengan gelas jus yang ada di tangannya.


"Mau ke mana?" Tanya Fiona


"Pulang" Jawab Ardi.


"Minum dulu" Ucap Fiona. Fiona memberikan satu gelas yang ia bawa ke pada Ardi. Setelah itu dia masuk ke dalam ruangan Dewa untuk memberikan gelas lain ke Dewa.


Ardi ingin membuang jus buatan Fiona itu di dapur namun dia berhenti ketika Dewa kembali memanggilnya.


"Ardi" Panggil Dewa. Ardi mulai merasa tidak enak karena dia tau jika Dewa akan mengejainya. Ardi berbalik dan tersenyum ke arah Fiona dan Dewa.


"Minum dan habiskan dulu baruboleh keluar" Ucap Fiona.


Ardi melihat ke arah Dewa. Dia mengayunkan gelas yang ia pegang untuk tos jauh dengan Ardi. Dengan terpaksa, Ardi meminum jus buatan Fiona yang terasa sangat sehat menurutnya.


"Habis" Ucap Ardi mengangkat gelasnya yang sudah kosong ke udara. Fiona tampak tersenyum senang karena Ardi menghabiskan jusnya.


Ardi segera keluar dari ruangan Dewa dengan membawa gelas kosongnya turun ke dapur. Setelah menaruh gelasnya di dapur, Ardi segera keluar untuk melakukan tugas yang di berikan Dewa padanya.


"Aku tidak akan mau meminum minuman yang di buat oleh Fiona lagi." Guman Ardi yang berjalan ke arah mobilnya.


Malam harinya.


Dewa keluar dari kamar perlahan karena dia tidak mau membangunkan Fiona yang baru saja terlelap setelah sholat malam.


Dewa melihat jam yang ada di ponselnya.


"Sudah tengah malam, aku harus segera ke tempat itu" Guman Dewa.


Dewa keluar dari rumah, dia sudah melihat Ardi yang bersandar di mobil dengan memainkan ponselnya.


"Ayo kita pergi" Ucap Dewa, Ardi mengangguk lalu ikut masuk ke dalam mobil bersama Dewa.


Ardi yang menyetir mobil karena mereka kali ini tidak membawa banyak anak buah. Di dalam perjalanan, Dewa mulai mengecek senjatanya yang akan ia kenakan untuk perlindungan diri.


"Apa ini sudah semua?" Tanya Dewa.


"Sudah, pistol mu ada di belakang kursi yang kamu duduki" Ucap Ardi.


Dewa mengambil pistol kesayangannya. Dia tersenyum karena Ardi sudah mengisi peluru di dalam pistolnya itu.


Tak lama mereka sudah sampai di pelabuhan. Mereka melihat suasana tenang ketika barang mereka di turunkan dari kapal.

__ADS_1


"Sepertinya aman, mau mengecek barangnya?" Tanya Ardi.


Dewa melihat ke sekeliling lebih dulu sebelum mengambil keputusan. Dia merasa ada yang aneh malam ini.


"Ada apa?" Tanya Ardi.


"Aku rasa ada yang aneh. Pengiriman ini sudah bocor, tapi tidak ada yang datang untuk merusuh" Ucap Dewa.


"Jangan berburuk sangka. Lebih baik kita turun sekarang dan melihat barangnya" Ucap Ardi.


"Baik lah" Jawab Dewa.


Dewa dan Ardi turun dari mobilnya. Dewa berjalan lebih dulu dan di ikuti Ardi di belakang Dewa. Saat akan sampai di barang yang baru saja turun dari kapal, Ardi melihat laser merah yang mengarah ke punggung Dewa.


Ardi mendorong tubuh Dewa namun dirinya lah yang terkena tembakan.


Dor dor dor


Dewa mendengar suara tembakan sebanyak 3 kali ke arah Ardi. Dewa yang terkejut hanya terbelalak melihat darah Ardi yang mengalir keluar di jalan.


"Habisi mereka samua" Teriak Dewa marah. Anak buah Dewa dengan sigap melindungi Dewa yang menghampiri Ardi.


Baku tembak sudah tak terelakkan lagi. Dewa juga ikut menembaki musuhnya dengan satu tangannya yang memeluk Ardi.


Helikopter milik Dewa datang dan ikut menembaki musuh Dewa. Dewa merasa sedikit tenang saat helikopternya datang. Dia memeluk Ardi yang sudah lemas karena banyak darah yang keluar dari tubuhnya.


"Ardi bertahanlah, aku akan bawa kamu ke ruamh sakit sekarang" Ucap Dewa khawatir.


"Dewa, kamu tidak perlu membawaku. Aku juga tidak akan selamat sampai rumah sakit" Ucap Ardi lirih.


"Aku sudah tidak akan minum jus buatan istri kamu lagi" Ucap Ardi tersenyum.


"Uhuk uhuk" Darah segar keluar dari mulut Ardi.


"Terima kasih Dewa, terima kasih" Ucap Ardi lemas.


"Tidak Ardi, jangan tutup mata kamu. Kamu harus bertahan, Ardiiiiii" Teriak Dewa menangis melihat sahabat baiknya yang kini meninggal dalam pelukannya.


"Arght" Teriak Dewa menangis.


Ke esokan harinya.


Dewa pulang ke rumah dengan pakaian hang penuh dengan darah.


Fiona yang berada di ruang tamu melihat kedatangam Dewa. Dia bangkit dari duduknya ketika melihat darah di pakaian Dewa.


"Dewa, ada apa?" Tanya Fiona yang sudah menghampiri Dewa. Dewa menatap mata Fiona lirih dan terjatuh ke dalam pelukan Fiona.


Fiona yang tidak bisa menahan tubh Dewa akhirnya jatuh ke lantai.


"Dewa ada apa ini?" Tanya Fiona.

__ADS_1


"Peluk aku Fi" Pinta Dewa lirih.


Tanpa bertanya lagi, Fiona memeluk Dewa. Namun dia merasakan tubuh Dewa yang gemetar karena menangis. Fiona tidak tau apa yang terjadi tapi dia tetap memeluk Dewa erat untuk menguatkan Dewa.


Cukup lama Dewa menangis dalam pelukan Fiona. Setelah lebih tenang, Fiona membantu Dewa untuk ke kamarnya.


Di kamar, Fiona mendudukkan Dewa di kursi meja riasnya. Dia menhambil air dan kain untuk membasuh wajah Dewa yang terkena darah. Fiona membuka baju Dewa, dia telaten membersihkan tubuh Dewa dengan kain basah yang ia bawa tadi.


"Sudah selesai, sekarang kamu istirahat saja dulu" Ucap Fiona. Fiona bangkit dan ingin melangkah keluar dari kamar namun Dewa mencegahnya.


"Jangan tinggalkan aku sendiri" Ucap Dewa lirih.


Fiona pun mengangguk dia membantu Dewa berpindah ke atas ranjang. Lalu Fiona ikut duduk di sebelah Dewa.


"Ada apa? Siapa yang terluka?"


"Badan kamu tidak ada luka sama sekali? Lalu darah siap yang ada di baju kamu?" Tanya Fiona lembut.


"Ardi sudah tiada Fi, dia sudah meninggal" Ucap Dewa kembali menangis.


"Dia meninggal Fi" Ucap Dewa.


Fiona meraih tubuh Dewa lalu memeluknya lagi. Dia tau jika Dewa sangat sedih dan kehilangan saat ini. Fiona tidak mau tau apa yang terjadi karena yang saat ini perhatikan hanyalah Dewa seorang.





💥💥💥


Hai hai hai...


Gimana seru nggak nih ceritanya.


Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.


Uang parkirnya kaka, jangan lupa ya..😁


👍 Like


♥️ Favorit


💬 Komen


⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.


Selamat membaca ya kak


Terima kasih banyak

__ADS_1


See you next part


😊😊😊🙏🙏🙏


__ADS_2