
Hari ini aku sudah mulai bekerja. Senang sekali rasanya. Aku bangun lebih pagi dari biasanya untuk membereskan rumah dan menyiapkan sarapan.
Mas Adji yang sejak tadi duduk di meja makan terus memperhatikan aku selama aku menyiapkan bekal untuk kubawa kerja. Aku tidak mengerti maksud dari tatapannya hanya saja itu terasa aneh.
"Aku sudah memasak sarapan sekaligus untuk makan siang. Kamu bisa ambil sendiri nanti jika ingin makan."
Mas Adji tidak menjawab, dia terus menatapku. Aku rasa sekarang kami lebih banyak bicara melalui tatapan mata.
"Aku akan mengantarkan Keisha ke rumah ibu sekalian berangkat. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan dia."
Aku masukkan bekal ke dalam tasku lalu ku hampiri Mas Adji yang masih terus menatapku. Ku ulurkan tanganku untuk berpamitan.
Mas Adji menerima tanganku, kemudian aku mencium tangannya. Suasana terasa sangat kikuk. Entah kenapa aku merasa gugup dan tidak berani menatap mata Mas Adji.
"Aku berangkat dulu Mas," ucapku dengan suara yang tidak jelas.
Saat aku hendak melangkah, tiba-tiba Mas Adji menarik tanganku hingga aku jatuh ke dalam pangkuannya kemudian memelukku.
Ingin sekali aku membalas pelukan Mas Adji tetapi rasa gengsiku mengalahkan aku. Aku tidak membalas pelukan Mas Adji tapi juga tidak berusaha untuk melepaskannya. Aku hanya diam merasakan hangatnya pelukan Mas Adji, kehangatan yang sudah lama sekali tidak aku rasakan.
"Mas ... Aku harus berangkat sekarang," ucapku agar perasaanku tidak semakin galau karena pelukan ini.
Mas Adji pun melepaskan pelukannya, tapi sebelum itu dia mencium keningku. Entah kenapa hati ini berdebar tidak karuan. Segera aku berdiri agar tidak semakin salah tingkah. Ku rapikan pakaianku dan mulai melangkah pergi.
"Hati-hati Win ... "
Aku mengangguk tanpa melihatnya lagi.
Sebelum berangkat kerja, aku mengantarkan Keisha ke rumah ibu terlebih dahulu. Kebetulan dia tidak sekolah karena libur panjang tutup tahun ajaran.
...****************...
Aku bekerja dengan semangat hingga tidak terasa sudah satu minggu. Pekerjaanku cukup mudah, seperti pelayan toko pada umumnya. Memang terkadang aku harus mengambil barang yang cukup berat di gudang lalu membawanya sendiri ke toko, tapi aku bisa melakukannya.
Kemarin jatahku libur dan hari ini aku mulai masuk shift siang. Aku sedang menyiapkan bekalku dan seperti biasanya, Keisha sudah aku antar ke rumah ibu. Mas Adji duduk di kursi dapur sambil terus memperhatikan aku.
"Kamu capek Win?"
__ADS_1
"Capek nggak capek aku tetep harus kerja kan?" balasku tanpa mempedulikan Mas Adji.
"Kita butuh uang untuk membeli makanan dan juga biaya terapi kaki kamu."
Mas Adji sudah tidak menjalankan terapi karena uangnya sudah aku gunakan untuk biaya rumah sakit Keisha.
"Aku hanya jadi beban buat kamu."
"Deg!". Aku tertegun mendengar kata-kata Mas Adji. Apa dia tersinggung dengan kalimatku tadi? Sungguh aku tidak bermaksud demikian, aku hanya mengutarakan apa yang ada di pikiranku. Ku hentikan kegiatanku lalu ku tatap Mas Adji.
"Maaf ... Aku tidak bermaksud ... "
"Tidak apa-apa, aku memang tidak berguna."
Susah payah Mas Adji berdiri lalu berjalan pergi meninggalkan aku. Aku hanya bisa menatap kepergiannya dengan rasa bersalah.
Aku bergegas berangkat kerja sebelum terlambat. Kulakukan apa yang menjadi tugasku setibanya di toko. Hari ini banyak sekali barang yang datang hingga aku sangat sibuk. Aku tidak sempat memperhatikan pembeli yang datang toko kecuali ada bertanya atau minta diambilkan sesuatu.
"Jeng Winda ... ?"
Seseorang memanggilku. Aku kenal suara itu tapi aku berharap aku salah. Ku putar tubuhku menghadap sumber suara, dan benar dugaanku.
"Jeng Winda juga lagi belanja? Kok bisa kebetulan begini sih? Tapi ... " Eva menggantung kalimatnya. Raut wajahnya terlihat polos.
Dia mengamatiku kemudian mengamati temanku yang berdiri di belakang meja kasir secara bergantian. Aku tidak tahu dia memang polos seperti ini atau hanya pura-pura.
"Tapi kok bajunya sama dengan mbak yang jaga kasir?" lanjutnya tanpa dosa. Kebetulan meja kasir terlihat jelas dari tempat kami berdiri.
"Ini seragam Jeng ... Aku bekerja di sini sekarang," jawabku langsung tanpa ragu. Aku tidak malu mengakuinya.
"Ooo ... kerja ... Bukankah Mas Adji duitnya banyak kok Jeng Winda masih kerja?" tanya Eva lagi tanpa sungkan.
"Kok Jeng Eva bisa tahu kalau suamiku duitnya banyak?"
"Ya ... Dulu kan dia sering ngasih uang lebih kalau pijat sama aku." Lagi-lagi Eva bicara tanpa memikirkan perasaanku.
Bayangan Eva sedang menggerayangi tubuh Mas Adji kembali melintas di pikiranku. Rasa marah itu masih ada tapi aku sudah bisa mengendalikannya.
__ADS_1
"Itu dulu Jeng, sekarang suamiku sudah nggak kerja. Mana punya uang?"
"Masa sih?"
"Loh bukannya Jeng Eva tahu suamiku sakit sampai nggak bisa jalan. Suamiku sudah nggak punya apa-apa Jeng. Ini buktinya aku sampai harus kerja."
Eva diam dan lagi-lagi mengamati aku dari kepala sampai ujung kaki.
"Jeng Eva masih mau sama suamiku kalau tahu sekarang dia sudah miskin?" tanyaku tanpa basa-basi.
Beberapa kali bertemu sudah bisa membuatku mengerti karakternya.
"Ya enggak sih, meskipun ganteng kalau miskin ya percuma. Nanti aku tetep harus kerja jadi tukang pijat." Eva bergumam tapi aku bisa mendengarnya.
"Ya udah deh Jeng, aku cari yang lain aja," jawab Eva kembali dengan ekspresi tanpa dosa.
Mataku melotot tidak percaya. Dia bicara seperti itu seolah-olah aku ini bukan siapa-siapanya Mas Adji. Aku sampai terheran-heran dengan tingkah Eva ini.
"Aku duluan ya Jeng Winda ... "
Aku melihat kepergian Eva dan hanya bisa melongo. Aku tidak percaya apa yang sudah dikatakannya, otakku masih belum bisa mencerna sepenuhnya, Bagaimana bisa dia berkata seperti itu kepadaku?
Aku meneruskan pekerjaanku setelah kepergian Eva. Hari ini pekerjaanku cukup banyak jadi aku tidak ada waktu untuk memikirkan Eva.
Waktu berlalu begitu cepat ketika kita sedang sibuk. Tidak terasa sudah jam sembilan, waktunya toko tutup yang berarti waktunya pulang.
Tidak sampai dua puluh menit aku sudah sampai di rumah. Aku sengaja membawa kunci cadangan agar Mas Adji tidak perlu membukakan pintu untukku.
Setelah memasukkan motor ke garasi, aku langsung menuju kulkas untuk mengambil air dingin. Rasanya aku ingin minum air putih sebanyak-banyaknya.
"Sudah pulang Win?" Suara Mas Adji mengagetkanku.
"Kamu pasti capek, aku sudah panaskan air jika kamu ingin mandi."
Aku sedikit terkejut mendengarnya. Aku pikir Mas Adji marah karena perkataanku pagi tadi, tetapi dia malah memanaskan air untukku mandi.
Aku tidak tahu bagaimana dia bisa melakukannya mengingat Mas Adji masih belum bisa berdiri tanpa menggunakan tongkat penyangga.
__ADS_1
"Keisha sudah diantara ibu atau menginap di sana?" Aku memulai pembicaraan.
"Dia sudah tidur di kamarnya. Tadi bapak yang mengantarkan."