Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 29


__ADS_3

Adji POV


Aku sudah membayangkan akan bertemu kembali dengan teman-temanku dulu. Hiruk-pikuk kantor ketika mau ada meeting dan juga pertemuan-pertemuan yang membuatku bisa sedikit refreshing memenuhi pikiranku. Baru membayangkan saja sudah membuat aku tersenyum-senyum.


Selama aku sakit aku tidak bisa keluar rumah. Sekalinya keluar pastilah ke rumah sakit kalau tidak ke tempat terapi. Beruntung aku masih diberi kewarasan menghadapi penyakit ini.


Tetapi aku harus menelan kekecewaan karena Winda tidak memberikan ijin. Aku tidak menyalahkan Winda jika dia tidak mengijinkannya. Semua kesalahan ada padaku, aku mengakui itu. Mungkin dia takut hal itu akan terulang lagi.


Sebenarnya aku bisa saja langsung berangkat tanpa meminta persetujuan darinya, tapi aku tidak bisa. Kami masih sedang dalam masa memulihkan hubungan kami dan aku tidak ingin membuat cela lagi. Aku tidak mungkin memaksa Winda agar percaya bahwa aku sudah berubah.


Kepercayaan itu harus muncul dari dalam hatinya. Dan aku pikir Winda masih belum percaya padaku sepenuhnya. Buktinya dia belum mau tidur denganku. Jadi sekarang yang bisa aku lakukan adalah bersabar dan membuktikan jika aku benar-benar bukan Adji yang dulu.


Adji yang sekarang adalah Adji yang sudah merasakan ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya. Adji yang diabaikan ketika sedang dalam keterpurukannya bahkan oleh keluargaku sendiri dan hanya Winda yang mau menerimaku. Jadi apapun yang Winda inginkan saat ini, aku akan menurutinya.


Jika Winda tidak menginginkan aku bekerja di tempat itu lagi, maka aku akan menurutinya. Mungkin memang ini yang terbaik untuk hubungan kami, membangun lagi rasa percaya diantara kami.


Dering telepon membangunkan aku dari lamunan.


"Halo ... "


"Gimana sudah ngomong ke istrimu belum? Kapan bisa mulai kerja?"


"Istriku tidak mengijinkan aku bekerja lagi di sana."


Suara temanku terkekeh mendengar jawabanku.


"Apa-apaan sih kamu?! Jadi laki kok nurut banget sama istri! Kamu kan seorang suami, kepala rumah tangga masa kalah sama istri? Mau kerja mah kerja aja, nggak usah nunggu dikasih ijin sama istri. Toh nanti kalau gajian istrimu juga yang nikmatin."


"Bukannya gitu ... Orang berumahtangga wajar dong kalau mau apa-apa suami ijin istri dulu."


"Halaahh ... Emang dari dulu kamu takut sama istri," ujarnya sambil kembali terkekeh mengejekku.


"Sudah ... Nanti kalau ada lowongan di perusahaan lain kabari aku. Ini aku juga sudah nanya-nanya kenalan-kenalanku dulu. Siapa tahu perusahaan mereka sedang ada posisi yang kosong."

__ADS_1


"Iya-iya beres. Nanti aku info."


Segera kututup teleponku. Aku tidak mau bicara lebih jauh lagi dengan temanku itu. Nanti dia hanya akan semakin mengolok-olok aku yang dia anggap takut dengan istri. Dialah orang yang dulu mengenalkan aku ke "dunia baru".


Setelah menutup telepon, iseng aku menuju garasi. Aku akan belajar naik motor, untuk mengetes sudah seberapa kuat kakiku.


Aku melihat sepeda motor Winda terparkir dan dipenuhi berdebu. Sudah sebulan lebih Winda tidak menyentuh sepeda motor ini. Segera ku bersihkan debu-debu yang menutupinya.


Lalu aku keluarkan motor itu dari garasi. Ku coba menyalakan mesinnya tapi tidak bisa. Aku tahu sebabnya. Segera aku berjalan menuju warung tak jauh dari rumah, itung-itung untuk melatih otot-otot kakiku. Aku ingat, biasanya warung itu menjual bensin eceran.


Pulang dari warung, aku membawa satu botol bensin. Setiap hari Winda memberiku uang untuk jaga-jaga jika Keisha ingin jajan. Tapi kali ini aku menggunakannya untuk hal lain, yaitu membeli bensin.


Ku coba menyalakan mesinnya lagi, dan kali ini berhasil. Tentu saja karena aku sudah mengisi bahan bakarnya. Aku diamkan sebentar untuk memanaskan mesinnya baru setelah itu bisa aku kendarai.


Perlahan aku mulai melajukan motor Winda. Rasanya aku tidak bisa berhenti tersenyum. Aku merasa sangat bahagia, seperti merasa hidup kembali.


Tujuan pertama adalah ke warung untuk mengembalikan botol bensin yang tadi aku bawa. Setelah itu aku hanya ingin berputar-putar di sekitar tempat tinggalku saja.


Aku hanya melambaikan tanganku untuk membalasnya.


"Sini mampir!!" teriaknya lagi diiringi senyum seakan senang melihatku.


"Kapan-kapan aja Pak!" balasku.


Aku terus melajukan motorku dan menikmati momen ini. Hingga akhirnya aku ingat Winda.


"Sebaiknya aku pulang. Nanti malam aku akan mengajak Winda ke rumah ibu," gumamku.


...****************...


Winda


Seperti biasa, Mas Adji dan Keisha menyambut kepulanganku di depan pintu.

__ADS_1


"Mama ....!!!" teriak Keisha sambil berlari memelukku seakan kami sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Dan Mas Adji pun berjalan menghampiriku.


"Win ... Nanti malam kita jadi ke rumah ibu ya?"


Aku menatap Mas Adji heran. Kenapa justru dia yang niat sekali ke rumah ibunya.


"Aku tadi sudah belajar naik motor Win. Jadi aku sudah bisa bonceng kamu dan Keisha. Nanti malam kita ke rumah ibu dan aku akan menjelaskan semuanya kepada Ibu dan yang lain," ujar Mas Adji semangat.


Sebenarnya aku sudah tidak terlalu memikirkan hal itu. Kemarin-kemarin mungkin aku hanya terbawa emosi. Dan itu membuatku ingin keluarga Mas Adji mengetahui dan mengakui keburukan Mas Adji, sehingga tidak melulu aku yang disalahkan.


"Kayaknya nggak perlu Mas. Nggak usah mengungkit yang sudah-sudah. Asalkan kita sudah baik-baik saja sudah cukup."


"Tapi aku ingin ke sana Win ... Keluargaku harus tahu kalau aku sudah sembuh."


"Oh ... " jawabku singkat. Aku tidak tahu harus berkomentar bagaimana.


Memangnya kalau keluargamu tahu terus kenapa Mas? Apa untungnya buatku? Selama kamu sakit apa mereka peduli padamu? Aku pontang panting mencari biaya berobat untukmu apa mereka mau tahu? Sekarang kamu sudah sembuh kenapa mereka harus diberi tahu?


Rasa tidak terima muncul di hatiku tapi aku tidak enak untuk mengutarakannya kepada Mas Adji.


"Mau kan Win?"


Aku melirik Keisha, menanyakan bagaimana pendapatnya melalui tatapan mataku. Kami berdua sama-sama memiliki pengalaman tidak mengenakkan setiap kali berkunjung ke rumah mertuaku, neneknya Keisha.


"Terserah Mama," jawab Keisha yang mengerti maksud dari tatapanku.


Sebenarnya aku malas sekali bertemu mertuaku. Harusnya aku bersyukur selama Mas Adji sakit dia hanya sekali mengunjungi kami. Bayangkan jika suamiku sakit, tidak punya uang, digunjingkan tetangga, diejek teman-teman, masih harus mendengarkan omelan mertua? Apa aku sanggup?


Mas Adji terus menatapku penuh harap. Bagaimanapun juga mereka adalah keluarganya. Dia pasti ingin bertemu keluarganya, mungkin kangen dengan ibunya atau adiknya. Meskipun selama ini mereka tidak peduli padanya, mereka tetaplah keluarganya. Dan aku tidak sejahat itu tidak membiarkan dia bertemu keluarganya.


Akhirnya aku mengangguk karena tidak tega melihat ekspresi Mas Adji.


"Terima kasih Win ... " ucap Mas Adji sambil meraih tanganku. Aku bisa melihat dia sangat bahagia.

__ADS_1


__ADS_2