
Adji POV
Maya kenapa datang ke rumah sih? Kalau ingin sesuatu kan bisa telepon? Winda masih dendam karena dia tidak pernah menjengukku. Kok bisa-bisanya minta uang di depan Winda? Tidak ada dewasa-dewasanya anak itu.
Sudah menjadi kebiasaannya sejak aku dan Mas Arya mempunyai penghasilan dia selalu minta jatah. Tapi dulu dia masih remaja. Sekarang dia sudah menikah dan punya anak. Apa wajar jika dia masih meminta-minta dari aku ataupun Mas Arya?
Uang yang diminta Maya memang tidak seberapa jumlahnya. Tetapi itu menjadi hal yang sensitif jika hubungan Winda dan keluargaku tidak harmonis. Aku bisa mengerti jika Winda marah, tapi aku juga tidak tega memarahi Maya.
Tak berselang lama setelah kepergian Winda, ibu datang. Maya pasti sudah mengadukan semuanya kepada ibu.
"Mana istrimu?!" Ibu sudah terlihat emosi begitu memasuki rumah.
"Duduk dulu Bu ... Ibu sudah lama tidak kemari, kenapa datang-datang langsung marah seperti ini?"
"Aku kemari ingin ketemu istrimu. Beraninya dia memarahi Maya! Ditelepon juga nggak diangkat!"
"Apa ibu tidak ingin menanyakan kabarku dulu?"
Ibu terdiam mendengar pertanyaanku.
"Aku lihat kamu sudah sehat," jawab Ibu kikuk.
"Berkat Winda. Dia merawatku dengan baik."
"Ibu kemari tidak untuk mendengar kamu memujinya. Ibu ingin kamu memberitahu Winda, kalau Maya itu adikmu. Sudah sepantasnya dia minta uang ke kakaknya sendiri."
"Kamu harus ingat Adji, keluarga itu nomor satu. Istri itu orang lain, sewaktu-waktu kalian pisah, dia sudah bukan siapa-siapamu lagi. Tetapi kalau saudara kandung tidak. Selamanya akan tetap menjadi saudara!"
"Winda istriku Bu, bukan orang lain! Aku punya kewajiban untuk menafkahi dia, bukan Maya. Lagi pula selama aku sakit juga hanya Winda yang peduli padaku. Dia yang merawat aku, bahkan bekerja keras untuk membiayai pengobatanku sampai aku sembuh."
"Bagaimanapun juga Maya tetap adikmu."
"Sudahlah Bu. Aku akan tetap memberikan uang bulanan untuk ibu, tetapi tidak untuk Maya."
"Lalu adikmu bagaimana? Apa kamu tidak kasihan?" Suara ibu mulai melunak.
"Maya bahkan bisa merayakan ulang tahun anaknya secara meriah. Apa yang harus dikasihani?"
__ADS_1
Ibu kembali diam. Aku tahu acara ulang tahun itu pasti menggunakan uang ibu meski ibu tidak mengatakannya.
"Daripada ibu terus-terusan menyalahkan Winda, lebih baik ibu menyuruh suami Maya mencari kerja! Suruh dia bertanggung jawab atas Maya dan Vino. Ibu bisa bersikap keras kepada Winda, kenapa tidak kepada suami Maya? Mereka malas bekerja dan hanya mengharap pemberian dariku dan Mas Arya!"
"Kamu semakin lama semakin seperti istrimu."
"Aku tidak pernah minta apa-apa dari ibu. Jika ibu punya uang simpanan, sebaiknya ibu gunakan uang itu untuk keperluan ibu sendiri. Jangan menghabiskan uang ibu untuk memanjakan Maya dan suaminya. Mereka harus belajar mandiri dan bekerja."
Tidak ada sahutan lagi dari ibu. Hingga akhirnya ibu pamit karena Winda tak kunjung pulang.
Waktu sudah hampir petang ketika Winda dan Keisha pulang. Mereka membawa banyak sekali belanjaan, dan hampir semuanya keperluan Keisha.
Uang Winda banyak juga. Belanjaan ini tidak sedikit jumlahnya. Winda bahkan membeli handphone baru. Batinku saat melihat barang belanjaan mereka.
Aku memutuskan untuk tidak memberitahu Winda mengenai kedatangan ibu tadi.
...****************...
Winda
Saat aku pulang Mas Adji sedang duduk di teras sambil menikmati kopi. Sepertinya dia sedang menunggu aku dan Keisha pulang.
"Tadi Mama beliin semua yang Keisha mau Pa. Ini ada tas sekolah, terus yang ini sepatu, terus yang itu ada jepit rambut dan pernak-pernik lain." Keisha membuka satu persatu kantong belanjaan.
"Kei, mandi dulu sayang ... " Aku menyuruh Keisha mandi sebelum meneruskan kegiatannya unboxing belanjaan.
"Oke Ma ... " jawabnya dengan wajah berseri-seri lalu dia pergi menuju kamarnya.
Tinggallah aku dan Mas Adji berdua di ruang keluarga. Mas Adji diam dan aku pun diam karena masih kecewa dengan sikapnya. Suasana terasa sangat canggung.
"Win ... "
"Sebaiknya aku juga mandi dulu," ucapku mendahului Mas Adji.
Saat ini aku masih enggan berbicara dengannya. Apalagi membicarakan masalah Maya dan ibunya. Untuk sementara lebih baik aku menghindar daripada nantinya bertengkar karena hal ini.
Sampai menjelang makan malam aku baru keluar kamar, sementara Mas Adji sejak tadi menemani Keisha di ruang keluarga.
__ADS_1
"Kita mau makan malam apa?" tanyaku menghampiri mereka berdua. Emosiku sudah membaik.
"Mama mau masak apa?"
"Mama lagi malas masak, capek. Mama mau pesan makanan saja. Keisha mau makan apa?"
"Keisha mau burger Ma."
"Oke ... Kamu mau makan apa Mas?"
"Terserah kamu aja Win."
Sambil menunggu makanan datang, kami pun ngobrol. Kebanyakan Keisha yang berbicara, menceritakan kegiatannya bersamaku siang tadi.
"Sayang ... Kamu beli handphone baru?" tanya Mas Adji kepadaku. Dia sudah bersikap seperti biasanya.
"Iya ... Aku sudah agak keteteran jika menggunakan satu handphone." Aku juga menjawab dengan santai. Sepertinya rasa marah tadi sudah menguap, hilang entah kemana.
"Win ... Soal tadi pagi ... Aku minta maaf."
Kami berdua sama-sama menunduk.
"Aku tahu aku salah. Harusnya aku bicara dulu denganmu. Tetapi aku tidak bisa mengabaikan ibu bagaimanapun sikapnya kepadaku."
Kalau dipikir-pikir sikapku juga tidak tepat. Aku sendiri jarang meminta ijin kepada Mas Adji mengenai apa yang akan aku lakukan, seperti dulu ketika aku hendak menyewa kios. Dan sekarang aku juga tidak membicarakan rencanaku membeli mobil kepadanya. Lalu kenapa aku marah jika Mas Adji melakukan sesuatu tanpa bicara lebih dulu denganku?
Aku tidak memberitahu Mas Adji jika tadi ibunya meneleponku beberapa kali tapi tidak aku angkat. Aku malas karena pasti hanya ingin mengomeli aku soal Maya. Aku bisa menebaknya.
"Aku tidak masalah soal ibu, itu kuserahkan padamu aku tidak akan ikut campur. Tapi soal Maya, aku tidak bisa terima. Aku tidak suka anak manja itu terus menerus mengganggu kita."
"Ya ... Ya ... Aku tahu."
"Pokoknya aku tidak mau kamu memberi dia uang apapun alasannya. Aku tidak ikhlas! Kalau kamu mau ngasih dia uang, harus ijin dulu padaku!" Entah kenapa aku jadi kekanakan dan egois seperti ini.
"Iya sayang ... Jangan marah lagi ya." Mas Adji memberikan senyum terbaiknya.
Aku heran kenapa Mas Adji tidak membicarakan ibunya. Padahal aku yakin ibunya tadi pasti datang ke rumah. Tidak mungkin Maya tidak cerita. Anak manja itu pasti mengadu. Apalagi tadi aku melakukan dosa besar dengan tidak mengangkat telepon darinya. Apa mungkin aku salah duga? Apa mungkin mertuaku sudah berubah?
__ADS_1
Mungkin mertuaku merasa tidak enak karena selama ini sudah mengabaikan Mas Adji jadi dia tidak berani mengganggu rumah tangga kami lagi? Apapun alasannya aku tidak peduli. Yang penting aku tidak perlu berhadapan dengannya.