
Akhirnya aku dan Eva keluar dari rumah kontrakan. Eva hanya mengambil pakaiannya dan pakaian-pakaian anaknya serta beberapa barang penting lainnya. Dia tidak bisa mengambil semuanya karena nanti akan kerepotan membawanya.
Semuanya lebih mudah karena Mas Adji mabuk lalu ketiduran.
"Kamu mau kemana sekarang?" tanyaku sambil menyetir mobil. Aku tidak tahu harus mengarahkan mobilku kemana.
Eva tersenyum. "Maukah kamu menolong aku untuk yang terakhir kalinya?"
"Apa itu?"
"Tolong antar aku ke stasiun. Aku akan ke luar kota malam ini juga."
"Kamu yakin? Kamu sudah menghubungi saudaramu? Kamu tahu alamatnya?"
Eva menggeleng. "Tapi aku tahu rumahnya. Aku bisa langsung datang ke rumahnya."
"Kamu yakin?" Aku sedikit merasa khawatir.
"Dulu ketika orang tuaku masih ada mereka sering mengajakku ke sana. Jadi aku hafal rumahnya."
"Baiklah."
Aku mengemudikan mobilku menuju stasiun.
"Berhenti di sini saja," ucap Eva menghentikan aku.
Aku menepikan mobilku dan berhenti di parkiran stasiun. Kami berdua turun dari mobil. Aku membantu mengeluarkan barang-barang Eva dari bagasi.
"Terima kasih. Sekali lagi aku sangat berterima kasih padamu," ucap Eva lagi. Dia menundukkan kepalanya.
"Kalau ada wanita paling tidak tahu diri dan tidak tahu malu di dunia ini, maka pasti akulah orangnya." Air mata Eva kembali menetes untuk yang kesekian kalinya hari ini.
"Aku sudah menghancurkan hidupmu tetapi malah kamu yang menjadi malaikat penyelamatku." Eva terus menundukkan kepalanya. Air matanya terus menetes membuat hatiku ikut menangis.
"Sudahlah Eva, jangan dilebihkan-lebihkan. Aku hanya menolong."
"Aku harus pergi." Eva menarik tas-tasnya karena tidak ingin menangis lebih lama lagi.
"Apa kamu punya uang untuk membeli tiket?"
"Aku masih ada sedikit simpanan."
"Lalu untuk biaya hidup di sana nanti? Kamu belum punya pekerjaan kan?" Aku bahkan sudah berpikir jauh kesana.
__ADS_1
"Aku akan menjual cincin kawinku untuk biaya hidup sampai aku mendapatkan pekerjaan." Likha menunjukkan cincin yang masih melekat di jari manisnya.
"Semua yang Mas Adji berikan padaku sudah dia ambil lagi, termasuk perhiasan-perhiasan yang dia berikan. Tinggal cincin ini saja yang tersisa. Dia pasti lupa dengan cincin ini makanya tidak dia minta kembali." Likha terus memandangi cincin itu.
Untuk sesaat dia diam terpaku menatap cincin itu.
"Win ... " Likha memberi jeda pada kalimatnya.
"Aku minta maaf atas semua yang sudah aku lakukan. Aku salah, aku sudah merusak rumah tanggamu, aku sudah menyakiti perasaanmu, aku membuatmu menderita, aku mengakui semua kesalahanku. Aku mohon maafkan aku." ucap Likha sambil menundukkan kepalanya.
Aku kasihan kepada Eva, aku bahkan menolongnya tetapi aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkan dia.
"Sampai jumpa Win, sekali lagi terima kasih atas semuanya." Eva berbalik dan mulai melangkahkan kakinya.
Aku melihat Eva berjalan mulai menjauh kemudian aku teringat anaknya. Bayi kecil yang tidak berdosa itu terpaksa di beri minum teh karena keadaan.
"Eva ...!!!"
Aku teriak sambil berlari mengejar Eva.
"Ada apa Win?" tanya Eva setelah aku berhasil mengejarnya.
Aku mengeluarkan dompetku dan mengambil beberapa lembar uang kertas berwarna merah.
"Ini ... kamu butuh ini." Aku meletakkan uang itu di tangan Eva.
Tidak terasa mataku ikut berkaca-kaca. Seharian bersamanya membuatku mengerti betapa dia sangat menderita meski itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri.
"Belikan anakmu susu. Jangan sampai dia kelaparan," ucapku dengan suara tercekat.
Eva langsung menyambar tubuhku dan memelukku.
"Hatimu terbuat dari apa sih Win?" tanyanya di sela isak tangis.
Aku membalas pelukan Eva.
"Berbuat baiklah di sana. Belajarlah dari pengalamanmu di sini," ucapku. Eva hanya mengangguk.
Kami melepaskan pelukan. Lalu Eva menyeka air matanya.
"Sampai jumpa. Aku harus pergi sekarang."
Aku mengangguk. "Jaga dirimu."
__ADS_1
Eva kembali melanjutkan langkahnya. Entah kenapa aku merasakan sedih seperti akan berpisah dengan sahabat terbaikku.
Aku kembali ke mobilku setelah Eva tidak terlihat. Sampai di dalam mobil aku menangis sesenggukan memikirkan Eva.
Lupakan kesalahannya Win, toh dia sudah menerima balasannya!
...****************...
Adji POV
Aku terbangun karena alarmku terus berbunyi. Sudah waktunya mandi dan berangkat ke kantor. Kepalaku terasa berat sekali. Aku ingat-ingat apa yang aku lakukan kemarin.
Sepulang kerja aku langsung minum bersama teman-temanku dan setelah itu pulang. Tetapi samar-samar aku juga ingat bertemu Eva dan juga Winda. Aku benar bertemu mereka atau hanya halusinasiku saja?
Aku berjalan ke kamar mandi sambil memegangi kepalaku. Aku masih berusaha mengingat apa benar Winda datang kesini tadi malam.
"Mana mungkin Winda kesini? Untuk apa?" gumamku mengusir rasa penasaranku.
Selesai mandi aku langsung ke kamar untuk bersiap-siap. Di dalam kamar, aku menemukan lemari perempuan sialan itu sudah kosong, demikian juga lemari pakaian anaknya.
"Kapan dia masuk? Bukankah aku mengunci rumah ini?" Aku membanting pintu lemari. "Dasar perempuan licik!" umpatku.
Setiap teringat perempuan itu aku jadi emosi. Aku melepaskan dia karena aku sadar jika terus bersamanya aku akan kehilangan kendali atas diriku. Rasanya tidak puas ingin terus memberi dia pelajaran sampai dia benar-benar menyesal. Dan aku takut aku akan bertindak berlebihan.
Meski dia sudah memohon agar aku memaafkan dia aku tetap tidak terima. Aku tidak bisa memaafkan apa yang sudah dia lakukan kepadaku. Aku hanya ingin dia menderita.
Bahkan teriakan kesakitan yang dia keluarkan tidak pernah membuatku kasihan. Yang aku rasakan hanya kemarahan dan dendam kepada perempuan ini.
Aku kejam ...? Mungkin. Tetapi kenapa aku kejam? Itu karena dia juga, perempuan sialan dan juga laki-laki brengsek itu yang membuatku jadi seperti ini.
Bahkan aku masih ingin menghajar Haris jika nanti aku bertemu dengannya lagi. Tidak, pelajaran yang aku berikan waktu itu bekum cukup. Aku akan memberi dia pelajaran lain, kalau perlu aku hancurkan rumah tangganya agar sama seperti rumah tanggaku.
Mereka tidak boleh hidup tenang setelah menghancurkan hidupku!
"Aaaaarrgh....!!!" Aku frustasi memikirkan dua orang yang sudah yang sudah terang-terangan membohongi aku.
Aku melihat diriku di cermin. Wajahku sudah mulai dipenuhi kumis dan jenggot.
"Winda pasti sudah mengomel jika melihat ini," gumamku. Dia selalu mengurusku, memastikan penampilanku bersih dan rapi, tidak seperti sekarang ini.
Aku sudah mau berangkat ke kantor. Sepeda motor sudah aku keluarkan tinggal mengunci pintu. Lalu aku ingat sesuatu.
Siapa yang memasukkan sepeda motorku ke dalam rumah? Tadi malam aku turun dari motor lalu melihat perempuan itu depan pintu. Aku ingat memukulnya lalu ada yang datang mencegahku.
__ADS_1
Aku berusaha mengumpulkan memori ku mengenai kejadian semalam.
"Apa Winda benar-benar datang?"