
Winda
Mas Adji belum menyerah. Pagi-pagi sekali sebelum berangkat bekerja dia datang ke rumah. Sebenarnya aku malas untuk menemuinya, tetapi dia terus berteriak memanggil namaku. Akhirnya aku temui dia sebelum tetangga-tetanggaku bermunculan karena mendengar teriakannya dan membuat gosip baru.
"Win ... Bisa kita bicara sebentar saja? Aku ingin minta maaf kepadamu."
"Sudah ku maafkan. Sekarang pergilah!" jawabku dingin. Aku maafkan atau belum tidak ada bedanya. Aku hanya ingin dia segera pergi dari rumahku.
"Win ... Aku mohon ... "
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan!"
Aku sudah hampir menutup pintu dan meninggalkan Mas Adji, tetapi Keisha muncul begitu saja dari belakangku.
"Papa .... !!!"
Seperti biasanya, dia langsung berlari menghambur ke pelukan papanya seolah sudah berbulan-bulan tidak bertemu.
"Kok tumben Pa? Memangnya hari ini Papa mau jemput Keisha sama adek jalan-jalan? Kan hari ini Keisha nggak libur sekolah?"
"Mmm .... Papa mau ... Eh ... Itu ... " Mas Adji kebingungan mencari jawaban. " Papa mau ngantar Keisha ke sekolah," jawabnya asal.
"Beneran Pa?" tanya Keisha masih dalam pelukan papanya.
Mas Adji mengangguk. "Papa udah kangen sama Keisha."
"Sebentar ya Pa ... " Keisha menarik tangan papanya dan mengajaknya masuk. Senyum kemenangan terlihat di wajah Mas Adji.
"Papa tunggu di sini, Keisha siap-siap dulu ... "
Betapa senangnya Keisha. Bahkan setiap aku belikan mainan yang dia inginkan wajahnya tidak pernah sebahagia saat dia bertemu papanya.
"Win ... Aku minta maaf atas kata-kataku kemarin malam. Aku tidak bermaksud seperti itu." Mas Adji kembali bicara setelah Keisha tidak terlihat.
Aku tidak merespon kalimat Mas Adji.
"Aku hanya terbawa emosi. Aku tidak terbiasa melihat kamu bersama laki-laki lain."
Aku tersenyum sinis.
"Kamu marah Mas?" Mas Adji tidak menjawab.
__ADS_1
"Kalau hanya seperti itu saja kamu marah lalu bagaimana kalau kamu menjadi aku? Kamu bisa membayangkan bagaimana perasaanku waktu itu? Waktu aku menemukan kamu bersama perempuan itu?"
"Aku tahu aku salah, jangan dibicarakan lagi. Itu sudah berlalu. Sekarang aku sadar aku tidak bisa melihat kamu bersama laki-laki lain."
"Aku bisa bersama siapa saja yang aku inginkan Mas. Aku sudah bukan istrimu lagi! Kamu bisa bersama orang lain kenapa aku tidak?"
"Aku ingin bersamamu lagi Win, aku tidak bisa berpisah denganmu."
"Mas kamu sudah menikah!!! Enak sekali kamu bilang ingin bersamaku lagi?!!"
"Aku akan menceraikan Eva setelah anaknya lahir Win ... Aku hanya ingin bersamamu." Mas Adji berjalan mendekatiku.
"Jangan sebut nama pela*ur itu di rumahku!!! Dan jangan kamu anggap aku bisa melupakan kesalahan-kesalahanmu!!!"
Tiba-tiba terdengar suara Kirana menangis dari dalam kamar dan Mas Adji langsung berlari ke arah suara Kirana. Aku pun ikut berlari mengejar Mas Adji, takut dia melakukan hal yang tidak aku inginkan terhadap Kirana.
Sampai di dalam kamar Mas Adji langsung meraih tubuh Kirana dan menggendong nya.
"Sayangnya Papa sudah bangun ... " Mas Adji menciumi wajah Kirana dan Kirana pun berhenti menangis. Dia memandangi laki-laki yang sedang menggendongnya lalu tangan mungilnya meraba-raba wajah Mas Adji.
Aku terharu melihatnya. Kirana seperti merindukan sosok ayah. Belum pernah dia terbangun ada papanya di sampingnya, dan ini pertama kalinya.
Di saat yang bersamaan Keisha masuk ke dalam kamar.
"Sudah siap Kei?" tanya Mas Adji. "Tunggu sebentar ya sayang ... Papa masih kangen sama adek, papa ingin gendong dia lebih lama lagi."
Raut wajah bahagia yang tadi Keisha perlihatkan perlahan memudar berganti menjadi murung.
"Kenapa Kei? Takut terlambat ke sekolahnya? Ya udah ... Papa antar sekarang." Mas Adji hendak menyerahkan Kirana kepadaku.
"Nggak Kok Pa ... Papa gendong adek dulu aja nggak apa," jawab Keisha dengan wajah murung.
"Keisha ke sekolahnya terlambat juga nggak apa-apa. Nggak berangkat sekolah sekalian juga nggak apa-apa kalau papa masih mau di sini sama kita."
Hatiku seperti tersayat-sayat mendengar kata-kata Keisha. Dengan mata berkaca-kaca dia melanjutkan bicara.
"Papa kenapa pisah sama Mama dan menikah lagi sih? Aku dan adek sering nggak ada teman kalau Mama masih di kios. Kalau dulu kan ada papa yang menemani, sekarang cuma sama mbak kadang sama nenek."
Kata-kata Keisha membuatku merasa bersalah, mataku berkaca-kaca dibuatnya. Perpisahan ini bukan hanya aku saja yang terluka, tetapi anakku juga.
"Apa papa nggak ingin kita seperti dulu lagi?"
__ADS_1
Dan lagi kata-kata Keisha membuatku semakin merasa bersalah. Sekuat hati aku menahan agar air mataku tidak menetes di depan Keisha. Dia tidak mengerti, akulah yang tidak ingin kembali seperti dulu bukan papanya.
"Papa nggak bisa ya tinggal di sini lagi sama kita?"
Mas Adji menatapku, mata kami bertemu. Aku bisa melihat jika Mas Adji juga sedang menahan diri agar tidak menangis. Lalu dia memberikan Kirana kepadaku dan mendekati Keisha.
"Keisha jadi berangkat sekolah nggak? Yuk ... Papa antar sekarang ... Nanti keburu telat."
"Keisha nggak ingin berangkat sekolah Pa ... "
"Terus?"
"Keisha mau di rumah main sama papa sama adek. Sama mama juga. "
"Nggak bisa dong sayang ... Papa kan harus kerja. Besok ya Kei ... Besok kalau papa libur papa janji kita akan habiskan waktu bersama-sama."
"Sama Mama juga?"
Mas Adji menoleh ke arahku mendengar pertanyaan Keisha.
"Gimana Ma ... ? Mama mau kan besok Minggu kita jalan-jalan bersama?" tanya Mas Adji kepadaku seperti ketika dulu kami masih suami-istri. Sepertinya dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk kembali padaku.
Aku menatap Keisha yang juga menatapku penuh harap. Akhirnya aku mengangguk. Aku tidak bisa menolak ajakan Mas Adji karena tidak tega melihat wajah Keisha.
"Horeee ... !!!" serunya kegirangan. "Janji ya Pa?"
"Iya ... Papa janji!"
"Udah yuk ... Sekarang berangkat sekolah."
Keisha mengangguk. Wajah bahagianya kembali terpancar. Sebelum pergi Mas Adji kembali menciumi Kirana dan membuat si kecil di dalam pelukanku tertawa kegelian.
"Papa pergi dulu ya ... " pamit Mas Adji kepada Kirana kemudian mencium pipinya sekali lagi.
"Aku pergi dulu Win ... " Aku hanya mengangguk.
Selepas kepergian Mas Adji dan Keisha, hatiku diselimuti rasa bersalah yang mendalam. Kata-kata Keisha terngiang di telingaku. Ekspresi wajahnya yang menunjukkan betapa dia berharap papanya tinggal di sini bersama kami, membuatku merasa aku ibu paling egois di dunia.
Belum lagi Kirana yang sejak lahir tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Tidak pernah merasakan tidur di dalam pelukan papanya.
Apa benar keputusanku berpisah dengan Mas Adji adalah keputusan yang tepat? Ataukah aku harus kembali padanya dan mengorbankan perasaanku sendiri demi anak-anakku?
__ADS_1