
Adji POV
Pagi harinya aku memberanikan diri untuk pulang dan menemui Winda. Rumah dalam keadaan sepi.
Aku bergegas ke kamar untuk menemui Winda. Aku harus meminta maaf. Aku yakin dia akan memaafkan aku kerena dia sedang hamil. Dia pasti akan menerimaku lagi demi anak kami.
Winda tidak ada di kamar. Apa dia sudah pergi ke kios? Sebaiknya aku mandi terlebih dahulu lalu menyusulnya.
Aku hendak berpakaian setelah selesai mandi, tetapi lemari pakaianku sudah kosong. Tinggal beberapa potong baju saja tersisa. Aku melihat ke sekeliling mencari dimana gerangan pakaian-pakaianku berada. Lalu aku melihat tumpukan koper dan tas di sudut kamar.
Aku buka salah satu tas itu, dan benar isinya pakaianku. Winda tidak main-main kali ini. Ku ambil satu untuk aku kenakan dan tepat disaat aku selesai berpakaian, Winda masuk ke dalam kamar.
Aku diam tidak bisa berkata apa-apa. Rasa takut dan malu membuatku tidak berani menatap Winda. Dia juga tidak berkata apa-apa padaku dan hanya menatapku dingin. Tetapi itu justru semakin menakutkan. Aku lebih memilih dia mengomel dari pagi sampai sore daripada melihat dia diam seperti ini.
"Win ... " Aku berusaha mendekatinya.
"Tidak usah berkata apa-apa Mas," jawabnya dingin. "Aku sudah mengemasi barang-barangmu. Kamu bisa keluar dari rumah ini sekarang," imbuhnya tanpa mau menatapku.
"Win ... Kita bisa bicarakan ini dulu. Jangan mengambil keputusan sendiri."
"Tidak ada yang perlu di bicarakan. Kamu bisa keluar dari rumah ini baik-baik atau kalau tidak aku akan melempar barang-barangmu keluar!!!"
Habislah aku! Winda bahkan tidak mau mendengarkan aku!
"Win ... Nggak bisa begini dong. Kita harus bicara Sayang ..."
"Keluar sekarang juga atau aku laporkan perbuatanmu ke pihak berwajib?!!" teriak Winda.
Aku tidak berani bicara lagi setelah mendengar ancaman Winda.
...****************...
__ADS_1
Winda
Pulang dari rumah ibu aku menemukan sepeda motor Mas Adji sudah di garasi. Itu artinya di sudah pulang. Aku langsung ke kamar untuk menemuinya. Tidak untuk meminta penjelasan atau untuk memarahinya. Aku hanya ingin dia segera pergi dari rumah ini dan juga dari hidupku.
Tidak ada drama, tidak ada pertengkaran. Aku tidak mau buang-buang tenagaku untuk hal semacam itu sekarang.
Akhirnya Mas Adji mau keluar dari rumah ini setelah aku mengancam akan melaporkan perbuatan bejatnya ke pihak berwajib. Barulah dia mau mengangkat koper-koper dan tasnya.
"Surat-surat perceraian akan segera aku urus. Kamu tunggu saja panggilan dari pengadilan," ucapku tepat sebelum Mas Adji keluar dari kamar.
"Kita bisa pikirkan ... "
"Silahkan pergi!" Aku memotong kalimat Mas Adji sebelum dia bicara lebih banyak.
Aku segera mengunci pintu setelah Mas Adji keluar dari kamar. Akhirnya aku meneteskan air mata setelah sejak kemarin aku coba tahan.
Aku elus perutku yang sudah mulai membuncit. Aku menangisi bayi yang masih di dalam perutku, nanti akan terlahir tanpa keluarga yang utuh. Aku menangis memikirkan bagaimana caranya memberitahu Keisha jika mama dan papanya akan berpisah. Papanya sudah membuat kesalahan yang tidak akan bisa aku maafkan lagi. Pasti berat, dan juga pasti akan ada penolakan.
Aku usap air mataku. Tidak ada gunanya ditangisi. Ini sudah menjadi keputusanku dan harus aku jalani. Sekarang aku harus ke rumah Pak RT untuk meminta surat pengantar untuk mengurus berkas-berkas perceraian.
Kali ini Pak RT langsung memberikan surat yang aku minta tanpa pertanyaan dan interogasi. Itu karena aku menunjukkan bukti video saat Mas Adji bersama Eva di tempat tidur kemarin. Aku tidak malu dan tidak segan menunjukkan video itu. Bahkan aku tidak keberatan jika sekarang semua orang mengetahuinya.
Aku ingat dulu selalu menjaga nama baik Mas Adji di depan orang-orang dan akhirnya aku sendiri yang rugi. Sekarang biarlah orang mengetahui dan bisa menilai sendiri.
Sore harinya ...
Mas Adji membawa Mas Arya dan ibu mertuaku ke rumah. Aku tidak menduga akan hal ini sebelumnya. Mereka pasti mau menghakimi aku.
Aku mempersilakan mereka duduk di ruang tamu.
"Winda ... Kami sudah mendengar masalahmu kalian berdua." Adji sudah menceritakan semuanya. Kami kesini bermaksud untuk membicarakan masalah ini secara baik-baik dan kekeluargaan."
__ADS_1
Aku hanya diam mendengarkan Mas Arya bicara. Aku bisa menebak nanti ujung-ujungnya pasti mereka menyuruhku untuk memaafkan Mas Adji.
"Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan Mas. Semuanya sudah jelas."
"Tapi kan masih bisa musyawarahkan dulu. Nggak usah gegabah ambil keputusan untuk bercerai."
"Keputusanku sudah bulat. Mas Adji setuju atau tidak aku tetap akan mengajukan gugatan."
"Win ... Aku tahu aku salah. Tolong maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon beri aku kesempatan lagi Win ... " Aku muak sekali mendengar Mas Adji memohon seperti ini.
"Winda ... Adji sudah mengakui kesalahannya. Dia sudah meminta maaf dan memohon padamu. Tolong maafkan dia." Mertuaku ikut buka suara.
Mudah sekali mertuaku bicara. Apa dengan meminta mengakui kesalahan dan meminta maaf lalu semuanya selesai? Semudah itu? Lalu bagaimana dengan perasaanku, sakit hatiku, pengorbananku??? Apa semua itu tida ada artinya?
"Maaf Bu, sekali lagi aku tegaskan! Keputusanku sudah bulat. Aku juga sudah bicara dengan orang tuaku, mereka mendukung keputusanku."
"Lalu bagaimana dengan Keisha? Apa kamu tidak kasihan? Kamu kan juga sedang hamil. Kamu butuh suamimu untuk mendampingimu."
"Apa Mas Adji juga tidak kasihan kepadaku? Dia tahu aku sedang hamil tapi dia malah bersenang-senang dengan pela*ur?!! Dimana perasaannya?!!" Aku sudah tidak bisa diam. Semua kata yang keluar dari mulut mereka aku kembalikan kepada mereka.
"Dulu aku juga sendirian melahirkan Keisha, jadi tidak masalah melahirkan sendirian untuk kedua kalinya!"
" Pikirkan dulu baik-baik Win ... Kamu sedang emosi."
"Pikirkan baik-baik?!! Kenapa aku yang disuruh berpikir baik-baik? Kenapa tidak Mas Adji saja yang kalian suruh berpikir?!! Harusnya dia berpikir baik-baik sebelum berbuat mesum dengan pela*ur itu!!!"
"Dia pernah melakukan ini sebelumnya dan kalian anggap aku hanya mengada-ada. Mas Adji juga terlalu pengecut untuk mengakui perbuatannya. Kalian bilang aku hanya mengarang cerita tanpa bukti."
Aku mengeluarkan ponselku. Lalu aku putarkan video dimana aku sedang menggerebek Mas Adji bersama Eva. AKu perlihatkan video itu kepada Mas Arya dan mertuaku.
Mereka semua diam setelah aku menunjukkan video itu.
__ADS_1
"Kalian lihat sekarang aku punya bukti yang kuat dan keputusanku tidak bisa di ubah! Kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi aku ingin istirahat. Permisi!" Aku berlalu tanpa memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbicara lagi.