Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 88


__ADS_3

"Kamu mau kemana setelah ini?" tanyaku melanjutkan obrolan dengan Eva.


Dia menggeleng. "Tidak kemana-mana. Tujuanku kemari hanya untuk menemui kamu. Aku ingin sejak kecil dia tahu orang yang telah berjasa dalam hidup mamanya. Aku ingin dia menjadi orang yang tahu balas budi."


"Kamu tidak perlu berlebihan seperti itu."


"Aku tidak berlebihan. Kamu memang sangat berjasa dalam hidup kami."


"Apa aku boleh di sini sampai agak sore? Soalnya bis yang aku naiki untuk pulang nanti berangkat pukul empat."


Aku mengangguk. "Tentu saja. Kamu juga bisa berisi di sini."


"Terimakasih." Eva tersenyum.


"Apa kamu tidak berniat mempertemukan Kenzie dengan ayahnya?" Aku mengalihkan pembicaraan agar Eva tidak terus membicarakan "jasaku" padanya.


Eva menoleh kearah Kenzie yang kini terlelap di sofa. Aku sudah memintanya untuk menidurkan Kenzie di kamar atas, tempat anak-anakku biasa tidur tetapi Eva menolak.


"Tidak. Aku memberitahu dia kalau papanya ada di surga. Jadi dia tidak pernah menanyakannya."


"Kamu tidak ingin dia tahu?"


"Buat apa? Ayahnya tidak mengakuinya, daripada dia sakit hati lebih baik tidak mengenalnya sama sekali."


"Tetapi dia harus bertanggung jawab."


"Tidak perlu. Aku bisa membesarkan Kenzie sendirian sejauh ini."


Aku berusaha memahami keputusan Eva. Itu pilihannya. Saat dia tengah dalam kondisi terburuknya dan laki-laki yang dia harapkan akan menolongnya justru angkat tangan, sulit melupakannya.


Aku mengajak Eva makan siang setelah anaknya bangun. Kenzie bilang dia suka burger, jadi aku mengajak mereka ke restoran cepatnya saji.


Aku tidak mengajak anak-anakku karena Keisha masih sekolah dan Kirana sudah dijemput Mas Adji. Mereka akan langsung membeli sepeda setelah Kirana pulang sekolah.


Sampai lah kami bertiga di sebuah restoran cepat saji. Kami segera masuk. Tetapi di dalam restoran aku melihat Likha beserta suami dan anaknya juga ada di sana. Sepertinya mereka sedang merayakan sesuatu karena ada kue kecil di meja mereka. Benar kabar yang aku dengar, Likha dan suaminya memang terlihat semakin mesra.

__ADS_1


Aku ingin mengajak Eva kembali keluar sebelum mereka melihat satu sama lain tetapi terlambat. Eva sudah berjalan tanpa menyadari ada Likha dan suaminya di sana.


Rupanya Likha langsung menyadari kehadiran Eva. Dia melotot seolah tidak percaya Eva berdiri di depan mejanya. Mata Likha terus mengawasi setiap gerakan Eva kemudian beralih ke Kenzie.


Aku segera menarik tangan Eva sebelum dia menyadarinya.


"Kita makan di tempat lain," ucapku.


Aku tidak ingin ada pertengkaran di tempat ini. Aku tahu bagaimana sifat Likha, dia pasti akan menyerang Eva dengan frontal tanpa peduli sekitarnya.


"Kenapa sih Win? Kenzie udah pesan makanan nih."


Likha mengalihkan perhatiannya kepadaku. Dari cara memandangnya aku tahu saat ini dia sangat marah entah kepadaku atau kepada Eva.


"Lihat ... Lihat ... Istri pertama dan istri kedua bisa akur rupanya." Suara Likha membuat Eva menoleh dan menyadari keberadaannya. Aku sudah hafal sifat Likha jadi aku tidak begitu mempedulikan cibirannya.


Eva nampak terkejut melihat Likha. Tetapi dia bisa menjaga sikapnya.


"Kita bawa pulang ke toko saja makanannya. Jangan sampai ribut di sini," cegahku.


"Tunggu sebentar Win ..., kamu tenang saja. Aku tidak akan membuat keributan." Tidak aku duga Eva justru berjalan mendekati Likha dan suaminya.


"Nak, sini ... Kenalin teman mama yang lain. Itu ada Tante Likha sama ... suaminya Om Haris," ucap Eva kepada Kenzie. Eva sama sekali tidak ragu menyebut Haris sebagai om kepada Kenzie. "Sapa mereka sayang ... "


"Halo om ... halo Tante ... namaku Kenzie," ucap anak itu dengan berani. Haris diam, sementara Likha terus memandangi Kenzie bergantian dengan suaminya. Mungkin dia baru sadar jika Kenzie sangat mirip dengan suaminya.


"Apa yang kamu inginkan pela*ur?" tanya Likha tanpa basa-basi.


Eva segera menutup telinga Kenzie. Dia tidak mau anaknya mendengar bagaimana Likha memanggilnya.


"Aku tidak ingin apapun dari kalian. Aku sudah hidup bahagia dengan anakku. Semoga kalian juga bahagia. Sampai jumpa!" Eva melenggangkan meninggalkan Likha dan keluarganya.


Jujur aku kagum melihat cara Eva menghadapi Likha. Cukup dewasa menurutku.


"Win, kita pulang sekarang." Aku mengangguk. Eva melangkah mendahului aku sementara aku menoleh ke arah Likha.

__ADS_1


"Gen tidak bisa bohong. Mereka berdua mirip sekali," ucapku sambil melirik Haris yang sejak tadi seperti patung. Likha terlihat marah mendengar ucapanku. Aku tidak membenci Likha, aku hanya tidak suka dengan sikap mereka yang seperti menutup mata atas kenyataan yang ada.


"Apa maksudmu Win?"


Aku mengangkat bahuku lalu pergi menyusul Eva. Mereka tahu betul apa yang aku maksud. Kemiripan wajah Haris dan Kenzie tidak bisa menyembunyikan kenyataan. Dan aku semakin lega karenanya. Itu jelas membuktikan bahwa Kenzie bukanlah anak Mas Adji.


Kami bertiga kembali ke toko. Selama di mobil aku melihat beberapa kali Eva menyeka sudut matanya. Dia tidak membiarkan air matanya menetes.


"Tolong ajak Kenzie masuk ya Win, aku ingin ke toilet sebentar," ucap Eva begitu kami tiba di toko. Matanya yang merah tidak bisa menyembunyikan perasaannya sekarang.


Aku mengangguk. Aku tahu dia sedang membutuhkan waktu untuk sendiri.


"Masuk yuk ... mama mu mau ke toilet dulu."


Kenzie menurut. Dia langsung masuk ke belakang tempat biasa pegawaiku istirahat dan makan siang. Kenzie langsung memakan makanan yang tadi kami beli tanpa meminta bantuanku. Dia sangat mandiri.


Aku menemani Kenzie makan sementara Eva masih belum kembali. Kemudian aku mendengar suara Kirana berteriak.


"Mamaaa ...!!!" Kirana berlari ke arahku dan langsung memelukku. Dia terlihat sangat bahagia.


"Sudah pulang sayang? Jadi beli sepeda?"


"Iya Ma, itu sepedanya dibawa papa." Kirana menunjuk ke depan toko. Tak lama Mas Adji masuk menenteng sepeda dengan satu tangannya.


"Aku harus muter beberapa toko nyari sepeda yang gambarnya little pony Win," ucap Mas Adji sambil meletakkan sepeda itu. Tetapi kemudian Mas Adji tersenyum dan meraih tubuh Kirana ke dalam pelukannya.


"Tetapi kalau buat anak papa yang cantik ini mau muter seluruh kota pun papa mau." Kirana tersenyum malu.


"Dicoba dulu, tunjukkan ke papa kalau adek sudah bisa naik sepeda," ucap Mas Adji lagi.


Kirana langsung menaiki sepedanya itu. "Bagus kan Ma?" tanyanya dengan mata berbinar.


"Bagus dong, kan papa yang beliin," sahut Mas Adji.


Tiba-tiba Mas Adji diam dan memperhatikan ke belakang. "Anak itu siapa Win?"

__ADS_1


Astaga ... Aku terlalu senang melihat kegembiraan Kirana hingga aku lupa jika ada Kenzie sedang makan di belakang.


Bagaimana ini? Apa aku harus mengatakannya kepada Mas Adji? Bagaimana reaksinya nanti jika dia melihat Eva?


__ADS_2