
Winda
Hari-hari berikutnya aku semakin menutup diri dari orang-orang di sekitar tempat tinggalku. Jarang sekali aku keluar rumah selain untuk pergi bekerja. Dan itu membuat hubunganku dengan Mas Adji semakin dekat karena aku banyak menghabiskan waktu di rumah.
Urusan seragam dengan Bu RT sudah selesai, aku mendapat untung yang cukup lumayan. Setelah itu, orderan masuk semakin banyak. Aku harus berterima kasih kepada Bu RT akan hal itu. Dia memberitahu teman-temannya agar membeli baju di tempatku. Dan karena itu pula sekarang aku ada sedikit uang lebih.
Sebenarnya aku bisa menggunakan uang itu untuk membeli bahan bakar sehingga aku tidak perlu mengayuh sepeda untuk bekerja. Tetapi setelah aku pikir-pikir, lebih baik uang itu aku simpan untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ada keperluan mendadak. Bagaimana jika ada kejadian tidak terduga yang membutuhkan uang, seperti ketika Keisha tiba-tiba harus dioperasi waktu itu. Biarlah aku tetap naik sepeda untuk bekerja.
Kondisi kaki Mas Adji juga semakin baik. Dia sudah bisa berjalan tanpa bantuan alat meskipun masih belum kuat. Itu merupakan hal yang sangat membahagiakan. Tidak sia-sia aku menyisihkan gajiku untuk melanjutkan pengobatannya.
"Win, nanti kalau aku sudah kuat naik motor, aku ajak kamu ke rumah ibu. Akan aku kumpulkan seluruh keluargaku di sana dan aku akan membuat pengakuan, seperti yang kamu inginkan."
Aku jadi teringat permintaanku ketika aku memutuskan untuk memaafkan Mas Adji. Aku memintanya untuk membuat pengakuan di depan seluruh keluarganya tentang kesalahannya padaku.
Tetapi aku sudah memaafkan Mas Adji, apa itu masih perlu dilakukan? Apa yang aku harapkan dari pengakuan itu jika hubunganku dengan Mas Adji sudah baik-baik saja?
"Kita pikirkan itu nanti Mas, yang penting kamu sembuh total dulu."
"Aku sudah berjanji dan aku akan menepatinya."
"Terserah kamu saja mas."
"Win ... " Mas Adji memanggilku lirih. Aku tau ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
"Ada apa Mas?"
"Tadi perusahaan menghubungi aku. Mereka memanggilku untuk bekerja kembali."
Mas Adji terlihat sangat hati-hati dalam berbicara.
__ADS_1
"Lalu?"
"Bagaimana menurutmu? Aku ingin meminta pendapatmu terlebih dahulu. Kalau kamu mengijinkan aku bekerja lagi di sana maka aku akan terima tawaran itu. Tetapi kalau kamu tidak mengijinkan maka aku akan mencari pekerjaan lain."
Aku terkejut mendengarnya. Aku tidak tahu jika Mas Adji sudah berpikir untuk mencari pekerjaan. Kadang berjalan saja dia masih tertatih-tatih apa iya dia bisa bekerja?
"Bagaimana Win? Bagaimana menurutmu?" Mas Adji kembali bertanya karena aku tak kunjung memberikan jawaban.
"Apa tidak ada pilihan lain Mas?" tanyaku ragu.
Aku senang Mas Adji ingin bekerja lagi. Itu artinya aku tidak harus menjadi tulang punggung dan mengurus semuanya sendiri. Tetapi kembali ke perusahaannya yang dulu bukanlah sesuatu yang inginkan dari Mas Adji.
Aku ingat bagaimana peran teman-temannya dalam merubah Mas Adji. Memang aku tidak bisa menyalahkan teman-temannya, semua tergantung pribadi masing-masing. Tetapi tetap saja rasa tidak ikhlas membiarkan Mas Adji kembali ke pergaulannya yang dulu.
"Kalau kamu ragu, aku akan mencari pekerjaan lain Win. Hanya saja, sayang kalau kesempatan ini dilewatkan. Kalau aku mencari pekerjaan lain, mungkin aku akan diterima sebagai pegawai biasa. Tetapi kalau kembali ke perusahaan ini, paling tidak aku langsung menempati posisi supervisor setelah itu aku bisa kembali ke jabatanku semula."
Aku masih menimbang-nimbang kata-kata Mas Adji. Itu terdengar sangat menggiurkan mengingat bagaimana kondisi kami sekarang.
"Win ...?"
"Kalau kamu bagaimana Mas? Apa kamu ingin kembali bekerja di perusahaan itu?" Aku balik bertanya kepada Mas Adji.
"Aku bekerja dimana saja tidak masalah Win. Yang jelas aku hanya ingin segera bekerja agar kamu tidak harus banting tulang seperti sekarang. Dan ini adalah kesempatan yang ada di depan mata."
Mas Adji bicara dengan antusias. Matanya berapi-api seperti mendapatkan energi yang entah darimana datangnya. Aku sangat mengerti itu. Sudah berbulan-bulan Mas Adji mendekam di dalam rumah karena penyakitnya. Mungkin dia sudah sangat rindu dengan dunia luar.
"Aku sudah begitu lama menjadi bebanmu Win. Aku sudah sembuh. Sekarang sudah saatnya aku kembali menjadi kepala rumah tangga. Kamu tidak harus menanggung semuanya lagi."
Semua yang dikatakan Mas Adji benar. Berapa kali aku menangis meratapi keadaan? Berapa kali aku berharap keterpurukan ini segera berakhir? Tetapi ketika kesempatan itu sudah ada di depan mata, hatiku justru dipenuhi kekhawatiran. Khawatir Mas Adji akan kembali ke kehidupannya yang dulu.
__ADS_1
"Win ...?" Mas Adji kembali memanggilku karena aku masih belum memberikan jawaban.
"Apa yang kamu pikirkan?" Akhirnya Mas Adji memelankan suaranya. Sepertinya dia baru menyadari kegalauanku.
"Teman-temanmu," jawabku singkat.
Mas Adji menghembuskan nafas panjang.
"Aku sudah berubah Win ... Aku sudah belajar dari pengalaman. Aku tidak akan melakukan kesalahan untuk yang kesekian kalinya. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi."
Aku tidak bisa berkomentar atas jawaban Mas Adji. Tentu saja aku merasa takut. Susah payah aku bertahan di dalam kondisi rumah tangga yang hampir tidak ada harapan. Aku tidak ingin rumah tanggaku kembali goyah karena Mas Adji kembali bergaul dengan teman-temannya dulu.
Sekali lagi, aku tidak menyalahkan teman-teman Mas Adji atas apa yang terjadi di dalam rumah tanggaku. Aku hanya berpikir mungkin Mas Adji akan terpengaruh dengan kebiasaan buruk teman-temannya, sama seperti dulu. Meskipun Mas Adji mengaku dia sudah berubah, tapi tidak ada yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi nanti.
Aku sangat menghargai Mas Adji meminta pendapatku terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Itu artinya dia juga menghargai aku. Tetapi untuk kali ini aku keberatan jika dia harus kembali ke perusahaan lamanya.
"Mas ... Dulu ketika kamu memintaku untuk berhenti bekerja dan fokus mengurus rumah tangga, aku menurutinya. Sekarang jika aku meminta kamu untuk tidak kembali bekerja di kantor mu yang dulu, apa kamu akan menuruti permintaanku?"
"Apa maksudmu Win?"
"Aku tidak setuju kamu bekerja lagi di sana."
Kekecewaan langsung terlihat di wajah Mas Adji setelah mendengar jawabanku.
"Aku akan ikuti apa keinginanmu Win ... Hanya saja ini kesempatan kita untuk memiliki kehidupan seperti dulu lagi."
"Aku tahu Mas, tapi aku juga tidak ingin kamu kembali seperti dulu. Tentu kamu masih ingat bagaimana kamu terseret arus pergaulan teman-temanmu." Mas Adji menundukkan kepalanya mendengar aku bicara.
"Aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan ini jadi mungkin sedikit lebih lama dalam kondisi kekurangan seperti ini tidak masalah bagiku."
__ADS_1
"Aku hanya ... " Mas Adji tidak dapat meneruskan kata-katanya.
"Aku lebih memilih kamu bekerja di tempat lain Mas, pegawai biasa pun tidak masalah. Yang penting rumah tangga kita tentram."