Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 81


__ADS_3

Aku ke lantai atas dan meminta Keisha untuk turun. Aku juga membawa Kirana dalam gendonganku.


"Siapa yang ingin ketemu Keisha Ma?" tanyanya sambil menuruni anak tangga.


"Kamu lihat saja di bawah," jawabku. Aku sengaja tidak memberi tahu Keisha jika papanya lah yang ingin bertemu dengannya. Aku ingin memberi dia sedikit kejutan karena sudah beberapa bulan dia tidak bertemu papanya.


"Mama bikin penasaran saja."


Sampai di bawah Keisha malah seperti orang bingung. Dia melihat sekelilingnya mencari siapa orang yang ingin bertemu dengannya. Sementara Mas Adji berdiri sambil terus memandangi Keisha yang masih belum menyadari kehadirannya.


"Mana Ma ... ? Siapa yang nyari Keisha?"


Aku menunjuk Mas Adji yang tetap berdiri di tempatnya menunggu sejak tadi. Matanya terus memperhatikan Keisha yang terlihat kebingungan.


Keisha menatap Mas Adji beberapa saat barulah dia menyadari laki-laki di depannya ini adalah papanya.


"Papa ...!!!!" Keisha langsung menghambur ke pelukan Mas Adji seperti biasa saat mereka bertemu. Mas Adji menangkap tubuh Keisha lalu berdiri sambil mengangkat tubuh Keisha ke dalam pelukannya.


Lama sekali Keisha memeluk papanya, menyalurkan kerinduan yang sudah beberapa bulan ini dia tahan.


Keisha melepaskan pelukannya lalu mereka bertatapan. Keisha terus memandangi wajah papanya sambil mengusap-usap pipinya yang dipenuhi bulu halus.


"Anak Papa sudah besar, sekarang berat banget," ucap Mas Adji sambil berkaca-kaca.


"Papa kok jadi gini? Keisha tadi sampai nggak mengenali papa," ucap Keisha sambil terus mengamati wajah papanya


"Iya Sayang ... Papa sibuk kerja sampai nggak sempat bercukur."


"Badan Papa juga kurus, apa papa sakit lagi seperti dulu?"


Mas Adji menggeleng. "Papa sehat kok," jawab Mas Adji dengan senyuman tapi air matanya mulai menetes.


Keisha kembali memeluk Papanya. Aku lebih memilih untuk menyingkir karena tidak kuasa melihat interaksi keduanya. Setelah beberapa saat aku hapus air mataku lalu aku mendekati mereka berdua.

__ADS_1


"Papa kenapa nggak pernah menemui Keisha dan adek sih? Apa papa nggak kangen sama kita?" Keisha menyandarkan dagunya di pundak Mas Adji.


"Maaf ya Sayang ... Akhir-akhir ini papa sibuk. Papa jadi mengabaikan kalian. Maafkan Papa ... " ucap Mas Adji sambil menciumi kepala Keisha. Air mata tidak berhenti menetes di pipinya. Mas Adji memeluk Keisha semakin erat.


"Pa ... Papa mau nggak tinggal sama kita lagi?" ucap Keisha yang masih dalam pelukan papanya dan kepala yang terus menyender di bahu papanya.


Air mata Mas Adji mengalir semakin deras mendengar pertanyaan Keisha. Dia hampir terisak tetapi dia berhasil menahannya. Beruntung posisi kepala Keisha terus di bahu Mas Adji sehingga dia tidak melihat papanya menangis.


Maksudnya bertemu Keisha adalah untuk berpamitan karena kepindahannya. Tetapi dia justru mendapat permintaan untuk tetap tinggal.


"Keisha sering kangen kalau papa lama nggak datang," lanjut Keisha.


Susah payah Mas Adji menghapus air matanya dengan satu tangan sementara tangan yang satunya menopang tubuh Keisha.


"Papa ... Papa ingin sekali sayang ... Tetapi papa tidak bisa, Bukan ... bukan papa tidak bisa, tapi keadaan yang tidak memungkinkan. Keisha sudah tahu kan bagaimana hubungan papa dan mama sekarang?"


Keisha mengangkat kepalanya dan menoleh kepadaku. Dia sudah hampir kelas tiga, tentu saja dia sudah bisa mengerti apa itu perpisahan. Aku pikir dia hanya merasa kehilangan sosok papa yang dulu selalu ada untuknya dan mengabulkan semua keinginannya tanpa syarat.


Keisha kembali menyandarkan kepalanya di bahu Mas Adji. Dia terlihat sangat manja di dalam pelukan papanya. Mas Adji menurunkan Keisha lalu mengajaknya duduk di kursi panjang tempat kami sebelumnya duduk.


"Dengar sayang ... Papa kemari karena ingin berpamitan sama kamu, sama adek sama mama juga. Mulai Minggu depan pyapa akan pindah tugas ke luar kota. Jadi mungkin Papa tidak akan bisa menemui Keisha untuk waktu yang lama."


Wajah Keisha berubah jadi sangat murung dan terus menunduk. Tidak ada tawa ceria seperti saat dia bertemu dengan papanya sebelumnya.


"Nanti kalau Keisha kangen bisa telepon atau video call sama Papa."


"Terus kalau papa di sana sakit seperti dulu siapa yang jagain?" Pertanyaan Keisha sukses membuat Mas Adji mematung. Dia terdiam untuk beberapa saat. Mungkin dia menyadari itulah salah satu memori yang tertanam di otak Keisha, ketika dia sakit aku dan Keisha lah yang merawatnya.


"Papa nggak akan sakit. Papa akan jaga diri agar nanti bisa pulang untuk menemui Keisha dan adek."


"Dan Mama juga kan?"


"Iya, tentu saja Mama juga."

__ADS_1


Berulang kali aku memutar tubuhku seolah sedang mengayunkan tubuh Kirana tetapi sebenarnya aku sedang menyembunyikan tangisku. Aku tidak bisa melihat mereka seperti ini.


"Sebentar ... Papa mau gendong adek juga," ucap Mas Adji sambil berjalan menghampiriku. Dia meraih tubuh Kirana dari gendonganku lalu kembali menghampiri Keisha. Dan aku pun mengikuti di belakangnya.


"Keisha jangan sedih ya ... Nanti kalau Papa pulang, papa ajak Keisha sama adek main, kemanapun yang Keisha mau."


Tidak ada perubahan ekspresi dari wajah Keisha. Dia tetap murung dan terlihat berat sekali untuk melepaskan kepergian Papanya. Lalu Mas Adji mengalihkan pandangannya kepada Kirana.


"Sayangnya Papa ... " Mas Adji menciumi pipi Kirana kemudian memeluknya. "Maafkan papa ya nak," bisiknya di telinga Kirana. Satu lagi bulir bening menetes di pipinya. "Papa tidak pernah menjadi papa yang baik buat kamu." Dengan suara tercekat Mas Adji terus berbisik di telinga Kirana.


Entah kenapa aku ikut merasakan sedih yang luar biasa saat mendengar yang dibisikkan Mas Adji di telinga Kirana. Berbeda dengan Keisha yang dulu sempat merasakan kasih sayang Papanya, Kirana sama sekali tidak merasakan itu. Dia bahkan hanya beberapa kali bertemu dengan papanya di usianya yang sudah satu tahun.


Mas Adji berdiri dan menyerahkan Kirana kembali ke dalam gendonganku.


"Aku tidak bisa di sini lebih lama lagi Win, aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup menanggung rasa bersalah ini."


Mas Adji memeluk Keisha sekali lagi.


"Jaga kesehatan ya Kei, belajar yang tekun dan menurut apa kata Mama." Keisha mengangguk. "Papa harus pergi sekarang." Mas Adji mulai melangkahkan kakinya.


"Papa ... " teriak Keisha diiringi tangis yang mulai pecah. Aku menyerahkan Kirana kepada pengasuhnya lalu aku peluk Keisha untuk menenangkannya. "Jangan nangis sayang ..." Sementara Mas Adji menghentikan langkahnya lalu berbalik dan terpaku menatap Keisha.


Aku meminta mbak pengasuh untuk membawa Keisha dan Kirana ke atas dan setelah itu aku menghampiri Mas Adji.


"Titip anak-anak Win ... Sekali lagi aku ingin minta maaf atas semua yang sudah aku lakukan padamu."


Aku hanya mengangguk.


"Win ... Jika nanti aku kembali dan menjadi seseorang yang lebih baik, maukah kamu menerimaku lagi?"


Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Mas Adji. Sulit sekali untuk memutuskannya.


Mas Adji tersenyum melihatku tetap diam. "Aku akan berusaha. Tunggu aku Winda ... "

__ADS_1


__ADS_2