
Aku segera memesan tempat duduk untuk dua orang. Ini adalah restoran dimana aku dan Winda dulu biasa makan. Aku mengedarkan pandanganku menggali memori yang tersimpan ketika aku masih bersama Winda.
Tanpa sengaja aku melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan yang juga tengah makan. Mereka tampak akrab. Aku tidak kenal dengan laki-laki itu, tetapi perempuan di depannya yang sekarang membelakangi aku, sepertinya aku mengenalnya. Aku bahkan hampir yakin itu Winda meski aku tidak melihat wajahnya.
Tetapi mana mungkin Winda di sini? Dia pasti sedang sibuk di kios atau mungkin sedang di rumah bersama anak-anak.
Aku berusaha meyakinkan diriku jika itu bukan Winda meski entah bagaimana aku yakin itu dia.
"Mas, kamu kenapa sih dari tadi memperhatikan pasangan itu?" Sepertinya Eva memperhatikan aku.
"Tidak apa-apa, sudah makan saja!"
Aku selesaikan makanku dengan cepat karena pikiranku tidak tenang. Begitu pula Eva, dia seperti tidak mengunyah makanannya dan langsung menelannya begitu saja. Kami berdua selesai makan bersamaan dengan pasangan yang sejak tadi aku perhatikan.
Aku menoleh untuk yang terakhir kalinya untuk memastikan jika wanita itu bukanlah Winda. Jantungku seperti berhenti berdetak begitu melihat wanita itu berdiri dan menoleh ke arahku. Dia memang Winda.
Hatiku bergemuruh. Seperti tidak sadar aku langsung berjalan menghampirinya.
"Win ... Sedang apa kamu di sini? Siapa laki-laki ini?" tanyaku tanpa basa-basi.
Aku merasakan emosi yang membara. Aku tidak bisa terima melihat Winda bersama laki-laki lain. Apa aku cemburu? Ya ... Aku cemburu!
"Mas Adji?"
"Kamu sedang apa di sini? Siapa dia?" Aku mengulang pertanyaanku tetapi dengan nada tinggi.
"Aku bersama siapa itu bukan urusanmu Mas!" jawab Winda tak kalah ketus.
"Tentu saja urusanku! Kamu ibu dari anak-anakku! Harusnya kamu di rumah menjaga anak-anak! Kamu punya tanggung jawab atas mereka. Bukannya kelayapan dengan laki-laki tidak jelas seperti ini!!!"
"Plakkk !!!"
Winda menamparku dengan keras. Aku tidak menyangka dia berani melakukannya, apalagi ini di tempat umum.
"Jaga kata-katamu Mas!!! Dia temanku bukan laki-laki tidak jelas seperti yang kamu sebutkan!!! Dan satu hal lagi, Aku tidak kelayapan, aku bukan perempuan murahan seperti istrimu sekarang!!!"
"Kita pergi." Winda menatap laki-laki yang bersamanya dan mengajaknya pergi.
"Win ... Tunggu Win ... Bukan maksudku seperti itu!" Aku berusaha menghentikan Winda.
"Mas Adji ... Mau kemana Mas?" Eva terus memanggilku.
Tetapi aku tidak mempedulikan Eva yang berteriak-teriak. Di mataku hanya ada Winda.
__ADS_1
"Win ... Tunggu ... " Aku berhasil meraih tangan Winda dan menghentikannya.
"Mau apalagi sih Mas? Urusi saja urusanmu, jangan mencampuri urusanku!!!" Winda menghempaskan tanganku dan berlari meninggalkan aku.
"Win ... Aku masih ingin bicara." Aku berusaha mengejarnya tetapi laki-laki sia*an itu menghalangiku.
"Jangan ikut campur!!!" gertakku.
"Tentu aku ikut campur karena sekarang aku bersamanya!" jawab laki-laki itu tanpa takut dengan gertakanku.
"Sebaiknya kamu menjauh darinya!!!"
Lalu laki-laki itu pergi menyusul Winda.
Aku kembali ke restoran menemui Eva. Sampai si sana orang-orang menatapku dengan tatapan aneh. Tadi aku dikuasai emosi hingga tidak sadar telah menjadi pusat perhatian pengunjung restoran.
"Ayo kita pulang," ucapku pelan kepada Eva. Aku malu melihat orang-orang memperhatikanku.
Eva terlihat kesal kepadaku. Wajar saja, aku meninggalkan dia sendirian untuk mengejar Winda.
Di dalam mobil aku dan Eva sama-sama diam. Entah apa yang dipikirkan Eva aku tidak tahu. Mungkin dia marah atau mungkin juga dia takut padaku karena sejak bertemu Winda tadi aku jadi uring-uringan.
Aku meraba pipiku yang tadi ditampar oleh Winda dan memikirkan kembali sikapku tadi kepadanya. Mungkin aku yang salah, telah menyinggung perasaannya. Hanya saja tidak rela Winda bersama laki-laki lain, rasanya aku belum siap kehilangan dia.
Siapa laki-laki itu? Kenapa cepat sekali Winda mendapatkan penggantiku? Sudah sejauh apa hubungan mereka? Apa laki-laki itu serius atau hanya ingin bermain-main dengan Winda? Kenapa juga Winda dandan secantik itu jika dia hanya teman? Berbagai tanya berkecamuk di pikiranku.
...****************...
Winda
Aku menyetujui ajakan Indra untuk makan malam bersamanya. Bukan kencan, hanya makan malam sebagai teman. Aku sudah bersiap-siap. Anak-anak sudah aku titipkan di tempat ibu.
Aku tidak menunggu Indra menjemputku. Kami janjian bertemu di mall jadi aku langsung berangkat. Sampai di mall aku berkeliling sebentar sambil menunggu Indra.
"Aku sudah di restoran, kamu dimana?" pesan dari Indra.
"Tunggu sebentar, lagi jalan", balasku.
Bergegas aku melangkah menuju restoran. Bukan aku yang memilih restoran ini, melainkan Indra. Restoran ini mengingatkan aku pada Mas Adji tetapi aku tidak punya pilihan ketika Indra mengajakku kemari. Aku tidak mungkin menolak dan mengatakan restoran ini mengingatkan aku pada mantan suamiku.
Aku langsung masuk ke dalam restoran dan mencari sosok Indra. Aku menemukan dia melambaikan tangan ke arahku. Lalu aku menghampirinya.
"Hai ... Sudah lama?" tanyaku
__ADS_1
"Mmm .... Baru saja."
Indra berdiri dan mempersilahkan aku duduk. Beberapa saat kemudian makanan datang.
"Kamu suka makan di sini?" tanyaku sambil menikmati makananku.
"Dulu sih aku sering kesini sama mantan istriku," jawab Indra santai. "Tetapi setelah aku bercerai pun aku tetap suka makan di sini. Bukan karena ingin mengingat-ingat mantan, tetapi memang makanan di restoran ini enak. Benar kan?"
Aku mengangguk setuju dengan yang dikatakan Indra.
"Ndra ... Boleh aku bertanya?"
"Tanya apa cantik? Tanyakan saja."
"Nggak usah merayuku, aku sudah tidak mempan dengan rayuan seperti itu!"
Indra tertawa.
"Ya sudah mau tanya apa?"
Dan tiba-tiba aku lupa apa yang ingin aku tanyakan kepada Indra. Pasti karena dia memanggilku cantik tadi.
"Heh ... mau tanya apa malah bengong."
"Nggak jadi ... lupa."
"Sayang ... "
"Kenapa?"
"Cantik-cantik pikun."
Aku tertawa. "Ya maklum lah Ndra, aku sudah punya dua anak."
"Andai saja aku tahu rasanya punya anak ... " gumam Indra. "Eh ... Kapan-kapan aku boleh main ke rumahmu? Aku ingin mengenal anak-anakmu."
"Boleh saja ... "
"Berapa usia anak-anakmu?"
Lalu aku dengan semangat menceritakan anak-anakku.
"Sori Win, anakmu yang kecil kan baru berusia beberapa bulan. Apa kamu bercerai setelah melahirkan? Atau sewaktu masih hamil? Kalau tidak mau jawab juga nggak apa-apa."
__ADS_1
"Aku pisah rumah saat masih hamil, dan bercerai setelah aku melahirkan."
Aku sudah mantap untuk membuka diri, jadi tidak perlu aku tutupi. Mantan tetaplah mantan, dia pernah menjadi bagian hidupku, tidak akan bisa kuhapus atau kusembunyikan dari hidupku.