Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 63


__ADS_3

Aku berlari menuju tempat parkir. Aku langsung mauk ke dalam mobil meninggalkan Indra yang berusaha mengejarku. Aku langsung tancap gas tanpa berpamitan terlebih dulu dengan Indra.


Mas Adji sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu kepadaku. Memangnya selama ini aku tidak mengurus anak dengan baik? Apa dia lupa dia lah orang yang melupakan tanggung jawabnya sebagai orang tua? Apa pergi keluar bersama seorang laki-laki bisa disebut kelayapan? Apa karena aku seorang ibu lantas aku hanya boleh berdiam di dalam rumah bersama anak-anakku selain bekerja?


Tadinya aku langsung ingin pulang setelah makan dengan indra, tetapi aku berubah pikiran. Aku tidak mungkin pulang dengan keadaan emosi. Aku mengendarai mobilku pelan mencari tempat sepi untuk menenangkan diri.


Dan di sinilah aku berhenti, di depan ruko. Kubuka kaca mobil dan menghirup udara bebas. Aku melamun sambil menatap ruko yang beberapa hari ini sering aku kunjungi.


Tidak terasa air mataku menetes. Dadaku terasa sesak. Kata-kata yang tadi Mas Adji lontarkan untukku cukup menyakitkan. Lama aku mematung di dalam mobil, merenungi kenapa nasibku bisa seperti ini.


"Kamu benar-benar menyukai ruko ini ya?" tiba-tiba suara Indra mengagetkan aku. Dia sudah berdiri dan menyenderkan tubuhnya di mobilku.


Aku hapus air mataku. "Kenapa kamu bisa ada di sini?" Lalu aku turun dari mobil.


"Aku tidak tahu mau kemana Win. Seseorang meninggalkan aku di parkiran mall dan aku tidak tahu mau kemana. Jadi aku kemari."


Indra menjawab pertanyaanku sambil memandangi ruko. Aku tidak tahu apa istimewanya ruko ini hingga aku dan Indra sama-sama menghabiskan waktu memandanginya.


"Oh ... Aku minta maaf karena tadi sudah meninggalkan kamu dan pergi tanpa pamit."


Aku menyandarkan tubuhku di mobil sama seperti yang Indra lakukan.


"Kamu baik-baik saja?"


Aku diam. Tanpa aku duga Indra meraih wajahku lalu mengusap sisa air mata di sudut-sudut mataku.


"Kamu boleh cerita padaku kalau kamu mau."


Aku masih membisu. Dada ini terasa semakin sesak, ingin sekali mengatakan aku baik-baik saja tetapi tenggorokanku tercekat. Berat sekali untuk mengeluarkan satu kata saja. Mataku kembali berkaca-kaca.


Indra membalikkan tubuhnya membelakangi aku.


"Menangislah ... Aku akan menutup mataku kalau kamu tidak ingin ada yang melihatmu menangis."


Tanpa menunggu dua kali aku langsung menyandarkan kepalaku di punggung Indra. Air mataku mengalir deras. Aku tidak baik-baik saja, tidak pernah baik-baik saja sejak aku tahu Mas Adji mengkhianati aku.


Aku kuat sampai sejauh ini, aku bertahan bahkan kesulitan yang ku hadapi membuatku semakin kuat. Tetapi akan sampai kapan aku menghadapi masalah yang ditimbulkan oleh Mas Adji? Ada kalanya aku bosan dan ingin menyerah, tetapi bagaimana anak-anakku jika aku menyerah?


Kata-kata Mas Adji terus terngiang di telingaku dan membuatku merasa bersalah. Bagiamana bisa Mas Adji mempertanyakan tanggung jawabku terhadap anak-anak jika setiap langkah yang aku ambil yang aku pikirkan adalah anak-anakku? Aku bertahan dengannya juga karena anak, bahkan aku menjadi kuat juga karena anak. Tetapi kata-kata Mas Adji tadi seolah memberikan kesan jika aku ibu yang buruk bagi anak-anakku.

__ADS_1


Setelah puas menangis, aku usap air mataku. Aku hirup nafas dalam-dalam.


"Terima kasih," ucapku kepada Indra.


Lalu dia membalikkan badannya dan kami berdua berhadapan.


Aku tersenyum meski mata sembabku tidak bisa aku sembunyikan. Setidaknya aku sudah bisa bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa.


Suasana menjadi sedikit canggung.


Lalu aku mengalihkan pandanganku ke ruko, demikian juga Indra.


"Kamu bisa mulai memindahkan barang-barangmu ke sini Win ... Tidak usah menunggu pelunasan."


"Kok bisa?"


"Kamu menunggu sampai mobilmu laku kan?"


Aku mengangguk.


"Kamu tidak perlu menjual mobil dan mengajukan pinjaman ke bank. Kamu angsur saja kekurangannya padaku tiap bulan. Atau kamu tabung dulu uangmu, nanti kalau sudah terkumpul sekian baru kamu serahkan padaku. Sama saja kan?"


"Apa boleh seperti itu? Aku nggak enak sama kamu Ndra. Pasti lama nanti baru bisa lunas."


Aku menimbang-nimbang tawaran Indra. Ini sangat menguntungkan buatku.


"Kenapa kamu baik padaku? Apa kamu tidak takut aku menipumu? Kita kan baru beberapa kali bertemu."


"Baru beberapa kali bertemu kan sekarang Win ... Dulu kita bertemu hampir setiap hari. Tidur pun aku masih bertemu kamu dalam mimpi."


Aku tertawa.


"Indra ... Berhenti merayu aku!"


"Nah ... Tertawa seperti itu kan cantik?"


"Jangan menyebutku cantik lagi. Nanti aku bisa kehilangan konsentrasi." Aku kembali tertawa.


"Jadi bagaimana? Kamu terima tawaranku?"

__ADS_1


Aku mengangguk. "Terima kasih orang baik."


Indra mengangguk. Kami berdua kembali memandangi ruko.


"Kamu tahu Win ...? Dulu aku pikir semakin bertambah usia semuanya akan semakin mudah. Tetapi ternyata aku salah. Semakin bertambah usia justru semakin rumit. Masalah semakin banyak. Bukan tenaga lagi yang terkuras, melainkan pikiran dan perasaan."


"Semua tidak seperti yang kita bayangkan. Aku pikir menikah dengan orang yang kita cintai sudah menjadi jaminan kita akan hidup bahagia ... ternyata tidak," sahutku.


Suasana menjadi hening.


"Sudah malam ... Sebaiknya aku pulang." Indra mengangguk, sekilas aku melihat wajahnya murung.


Aku hendak masuk ke dalam mobil tetapi Indra meraih tanganku.


"Beri aku kesempatan. Aku ingin kita bersama."


...****************...


Adji POV


Sampai di rumah suasana hatiku masih kacau. Pikiranku hanya Winda dan Winda.


"Mas ... Kamu kenapa sih?" Eva mulai berani bicara setelah tadi di mobil dia diam seribu bahasa.


"Winda itu sudah menjadi mantan istrimu Mas! Bukan siapa-siapa mu! Dia mau apa itu terserah dia, urusan dia bukan urusanmu! Kamu tidak perlu ikut campur!"


Aku mengabaikan Eva yang mulai mengoceh di depanku.


"Yang harus kamu pikirkan sekarang itu aku dan calon anak kamu!"


"Diam kamu!" bentakku.


"Mas ...!!! Meski kamu tidak mencintaiku setidaknya hargai aku! Entah bagaimana perasaanmu padaku aku tetap istrimu!" Eva berani membalasku dengan teriakan.


"Aku sudah berusaha sabar menghadapi sikapmu padaku selama ini, tetapi lama-lama aku muak! Aku memang bukan wanita seperti Winda tetapi aku juga punya perasaan! Kalau kamu terus-terusan seperti ini aku pun akan meninggalkan kamu!!"


"Aku heran bagaimana Winda bisa kuat menjadi istrimu selama bertahun-tahun?! Sedangkan aku baru beberapa bulan saja rasanya sudah tidak kuat!!!"


"Kalau aku jadi Winda aku pasti sangat bersyukur telah bercerai darimu!!!" Eva menatap tajam ke arahku.

__ADS_1


"Silahkan saja kalau mau pergi, aku tidak akan menghalangi!" jawabku diiringi tawa. Dia pikir aku takut kehilangannya.


"Kenapa kamu tertawa! Kamu pikir jika kamu berpisah denganku Winda akan menerimamu kembali? Aku beri tahu satu hal ... Winda pasti akan berpikir ribuan kali untuk kembali bersamamu!!! Aku yang bodoh saja menyesal telah menikah denganmu, apalagi Winda!!!"


__ADS_2