
Aku diam mendengarkan Likha menceritakan kesedihannya. Aku mengerti benar perasaannya sekarang.
Ada yang salah dengan perempuan itu? Kenapa selalu suami orang yang dia incar? Kalau dia memang berniat mencari pasangan, bukan begitu caranya. Dia tidak jelek, badannya bagus tentu banyak laki-laki lajang yang mau menjadi suaminya.
"Pulanglah ... Kasihan anakmu nanti mencarimu."
"Aku takut Win ... Kalau aku pulang aku tidak bisa mengontrol emosiku. Aku bisa bertengkar dengan suamiku di depan anakku. Sejak kejadian itu aku sudah berusaha menahan emosiku di depan anakku. Tapi semakin aku tahan aku merasa dadaku semakin sesak. Aku perlu mengeluarkan seluruh beban ini dari dadaku."
Tidak hanya aku dan Likha saja, aku pikir semua orang tua tidak ingin anaknya melihat orang tuanya ribut di depan mereka.
"Lalu kamu ingin bagaimana? Apa kamu ingin menginap di sini?"
"Beri aku waktu sebentar ... Aku hanya ingin menenangkan diri. Setelah itu aku akan pulang. Kamu tidak keberatan kan aku di sini lebih lama lagi?"
Aku hanya mengangguk. Lama kami terdiam. Aku tidak bicara begitu juga Likha. Kami larut dalam pikiran masing-masing hingga akhirnya aku kembali membuka suara.
"Likha ... Aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Tapi aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Tanyakan saja."
"Kenapa kamu berubah kepadaku? Apa salahku hingga kamu terlihat seperti membenciku?" Akhirnya aku tanyakan apa yang mengganjal dalam hatiku.
Likha menatapku.
"Aku hanya ingin tahu saja alasannya."
"Aku minta maaf atas itu Win. Aku tahu aku sudah jahat sekali kepadamu."
"Ya, dan aku ingin tahu kenapa. Karena aku merasa tidak pernah berbuat salah kepadamu."
"Memang bukan salahmu, kamu tidak salah apa-apa ... Aku ... Aku hanya iri. Aku merasa kamu orang yang sangat beruntung. Sejak kecil kamu cantik orang-orang menyukaimu. Orang tuamu juga sangat menyayangi kamu. Ketika menikah kamu mendapatkan suami yang tampan dan sangat memanjakan kamu."
"Kamu juga tidak perlu capek-capek bekerja, suamimu memberikan semua yang kamu mau. Aku melihat hidupmu sangat sempurna."
"Lihat aku ... Aku harus bekerja keras agar bisa membeli apa yang aku inginkan. Suamiku tidak setampan suamimu, dan karirnya juga tidak sebagus karir suamimu."
"Karena itu kamu bersikap seperti itu kepadaku?"
Likha mengangguk. "Mungkin."
"Entah kenapa aku merasa sedikit senang ketika mendengar rumah tanggamu dalam masalah. Itu terasa seperti akhirnya aku menemukan cela dalam hidupmu. Bahkan aku senang melihatmu mencari kerja karena akhirnya kamu merasakan apa yang aku rasakan. Aku minta maaf ... "
Likha meraih tanganku. Air matanya kembali menetes saat menatapku.
"Aku tahu aku jahat sekali kepadamu. Seorang teman tidak akan senang ketika melihat temannya dalam kesulitan, tapi aku justru sebaliknya. Maafkan aku Win ... "
Sebenarnya aku ingin marah mendengar penjelasan Likha. Rasanya sungguh kesal mengingat bagaimana sikapnya kepadaku waktu itu.
"Itu juga salah satu alasan yang membawaku kemari. Aku berpikir ini karma yang harus aku terima. Sekarang rumah tanggaku juga tertimpa masalah." Likha terus terisak dan aku jadi tidak tega.
__ADS_1
"Sudahlah ... Itu sudah berlalu."
"Kamu memaafkan aku Win ... " Likha menggenggam erat tanganku.
Aku hanya mengangguk. Mau bagaimana lagi? Dendam tidak akan membuat hidupku tenang. Aku sudah hidup bahagia sekarang. Tidak perlu mengingat yang sudah-sudah dan membuatku kembali merasa sakit hati. Aku bisa memaafkan Mas Adji, jadi aku juga bisa memaafkan Likha.
Aku dan Likha kembali diam.
"Kamu sudah makan?"
Likha menggeleng. "Aku tidak nafsu makan."
"Aku pesankan makanan. Kami harus makan, nanti kamu sakit."
"Tidak usah Win ... tidak perlu. Aku benar-benar sedang tidak ingin makan."
"Baiklah ..."
Suasana kembali hening.
"Kamu dulu bagaimana Win?"
"Maksudmu?"
"Selingkuhan suamimu ... Kamu apakan dia? Apa kamu menemuinya? Kamu bicara dengannya?"
Orang-orang memang mendengar Mas Adji selingkuh, tetapi mereka tidak tahu siapa wanita yang menjadi selingkuhannya.
"Tidak ... Aku diamkan saja."
"Apa kamu tidak marah?"
"Tentu saja aku marah. Tapi kasusku berbeda denganmu. Aku tidak melihat sendiri suamiku berselingkuh, aku juga tidak punya bukti. Jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa."
Akhirnya aku bicara kepada Likha seperti dulu, ketika kami masih berteman dekat.
"Kemarin waktu aku melihat mereka berdua di dalam kamar, aku langsung kalap. Aku menjambak rambut Eva dan menyeretnya keluar dari rumahku."
Aku melotot tidak percaya. "Benarkah?"
"Aku seperti tidak sadar. Rasanya ingin menghajar dia sampai babak belur tapi aku takut masuk penjara." Aku tertawa mendengar yang ini. Dan Likha melihatku.
"Mau gimana lagi Win? Aku benar-benar terbakar emosi. Untung anakku sedang sekolah."
"Apa tetanggamu tidak ada yang melihat?"
"Ada ... tapi mereka tidak berani mendekat. Aku seperti orang kesurupan. Kalau mereka mau ikut campur mungkin aku akan menjambak rambut mereka juga."
Aku terkekeh membayangkan kejadian itu.
__ADS_1
"Kok ketawa sih Win?"
"Aku tidak bisa membayangkan kamu teriak-teriak sambil jambak rambut orang. Apa nggak dikira orang gila?"
Likha ikut tertawa.
"Pantas ... kemarin pas aku beli sayur, ibu-ibu pada ngomongin suami yang ketahuan selingkuh. Ternyata mereka lagi ngomongin kamu."
"Hah ...??? Serius ...???"
"Iya ... Aku udah kaya orang bego mengira-ngira mereka ini lagi ngomongin siapa. Sampai aku ngerasa mereka lagi nyindir aku."
"Berarti aku sudah viral di kampung?" tanyanya tidak percaya.
"Iya," jawabku tanpa bisa menahan tawa.
Sekarang Likha yang terkekeh.
Akhirnya kami lanjut ngobrol seperti teman yang sudah lama tidak bertemu. Kami sudah tidak bicara soal rumah tangga kami lagi, bikin pusing. Kami membicarakan artis, kalau nggak film atau drama korea.
"Sepertinya aku sudah siap untuk pulang." Wajah Likha sudah terlihat lebih segar, tidak semurung tadi ketika dia datang.
"Makasih ya Win ... Sudah mau menerimaku setelah apa yang aku lakukan sama kamu. Makasih sudah memaafkan aku. Terimakasih juga sudah menghiburku. Pokoknya terimakasih untuk malam ini, terima kasih untuk semuanya."
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Kita berteman lagi?"
Aku kembali mengangguk. Lalu kami berpelukan. Aku mengantar Likha sampai di depan kios.
"Apa aku boleh kesini lagi?"
"Tentu saja."
"Sekali lagi terima kasih. Sampai jumpa."
Aku menunggu di depan kios sampai Likha tidak terlihat dari pandanganku. Lalu aku kembali masuk ke dalam kios.
Aku teringat ponselku yang tadi aku sembunyikan di laci meja dan buru-buru mengambilnya. Pasti Mas Adji sudah menelfon karena aku belum pulang.
Benar, ketika aku membuka ponselku terlihat Adji beberapa kali menghubungiku.
"Sayang ... Kamu tidak mau pulang atau bagaimana? Ini sudah jam berapa?"
Mas Adji mengagetkanku aku. Tiba-tiba dia sudah berdiri di belakangku. Dia langsung memelukku dari belakang dan menyadarkan dagunya di pundakku.
"Itu kenapa tadi aku telepon tidak diangkat?" Mas Adji melihat ponsel yang berada di tanganku.
"Tadi aku asyik ngobrol sama Likha sampai nggak tahu kamu telepon."
__ADS_1
"Oh ... Iya ... Dia tadi ke rumah nyari kamu."