
Aku sudah kembali aktif di kegiatan kampung. Pertemuan ibu-ibu PKK, pengajian dan kegiatan lain yang mengharuskan aku bersosialisasi dengan tetangga dan warga aku hadiri. Satu acara yang aku belum berniat untuk datang adalah acara arisan. Aku sudah memutuskan keluar dan mungkin tidak akan bergabung lagi.
Selama Mas Adji sakit aku jarang sekali menghadiri acara semacam itu. Selain karena tidak ada waktu, aku juga malu. Kadang aku tidak punya uang untuk membayar iuran yang tidak seberapa jumlahnya.
Waktu itu orang-orang memandangku dengan tatapan iba, dan sebagian lagi dengan tatapan menghina. Mengetahui kisahku tidak membuat mereka mengerti perasaanku.
Tapi sekarang aku memberanikan diri untuk kembali menata kehidupan sosialku. Aku perlu berinteraksi dengan tetangga-tetanggaku tidak agar tidak dikucilkan.
Seperti malam ini, aku menghadiri acara pertemuan ibu-ibu PKK. Dan entah apa saja yang sudah aku lewatkan, tetapi aku terkejut melihat Eva juga hadir di sini.
"Bu RT, kenapa dia bisa bergabung di kelompok PKK kita? Bukankah dia bukan warga kampung ini?" bisikku kepada Bu RT.
"Itu teman kamu yang bawa, si Likha. Dia yang memaksa untuk memasukkan Eva sebagai anggota PKK." Rupanya Bu RT mengerti siapa yang aku maksud tanpa menyebutkan namanya.
"Kok bisa?" Bu RT tidak menjawab karena Likha dan Eva sudah berjalan menghampiri kami.
"Bu RT apa kabar?" sapa Likha.
"Ayo masuk sini ... sini ... " sambut bu RT beramah tamah sebagai tuan rumah.
"Hai Win ... Tumben kamu datang?" Likha lanjut menyapaku.
Aku hanya mengangguk.
"Selamat malam Bu RT ... Apa kabar Jeng Winda ... " Eva ikut menyapa.
"Aku baik Jeng Eva ... Lama tidak bertemu," jawabku santai.
Aku ingat terakhir kali aku bertemu Eva dan Likha saat memberikan uang sumbangan dari anggota arisan.
Likha terlihat mengamati penampilanku, kebetulan malam ini kami tidak memakai seragam PKK. Sesekali dia tampak tersenyum seperti sedang menertawakan aku.
"Eh ... Sudah pada tahu belum kalau Winda sekarang punya kios?" Bu RT seperti sedang ingin memamerkan aku kepada mereka berdua.
__ADS_1
"Kios? Kios apa Bu RT?" tanya Likha semakin meremehkan aku.
Aku hanya diam dan tidak ikut-ikutan dalam percakapan ini. Biar Bu RT saja yang menguasai pembicaraan.
"Itu ... Kios pakaian yang di dekat pasar kan punya Winda sekarang. Masa nggak tahu?"
"Yang belum lama buka itu?" Eva menyahut tidak percaya. "Masa sih?!" Eva dan Likha saling pandang.
"Ya kami nggak percaya lah Bu RT. Masa orang yang jualan pakaian bahkan punya kios, penampilannya begini?" Kembali Likha menertawakan penampilanku. Entah punya dendam apa dia kepadaku, yang jelas dia selalu berusaha menjatuhkan aku.
Aku sendiri sadar penampilanku memang seadanya. Seperti yang aku bilang, aku tidak masalah tetap memakai pakaian-pakaian lamaku asal terlihat masih layak dipakai.
Sebenarnya jika aku mau, aku bisa pilih pakaian mana saja yang aku mau, tinggal ambil dari kios atau aku juga sanggup membelinya di toko lain. Tetapi aku terlalu perhitungan untuk diriku sendiri. Yang penting Keisha mendapatkan yang terbaik, aku gampang.
Semuanya ada anggarannya sekarang. Aku pernah mengalami kesulitan keuangan, dan sekarang aku memperhitungkan semuanya dengan teliti. Aku berfikir berulangkali jika akan mengambil satu pakaian untuk aku gunakan sendiri. Sekeras itu aku kepada diriku sendiri agar uangku bisa terkumpul.
"Ya kalau tidak percaya besok mampir saja, iya kan Win? Bukanya jam berapa? Kasih tahu mereka."
Bu RT ini seperti sedang mengompori Eva dan Likha. Sedikit banyak dia tahu tentang hubungan kami bertiga dan mungkin dia berada di pihakku.
"Tuh kan? Bu RT ini bisa saja. Masa Jeng Winda bisa buka kios pakaian. Daripada buat buka kios kan mending uangnya buat beli sepeda motor, biar kemana-mana nggak capek naik sepeda. Betul kan Jeng Winda?"
Aku hanya tersenyum merespon kalimat Eva. Tidak perlu menjelaskan kepada mereka karena tidak ada gunanya.
"Ih ... Winda!!! Kok kamu gitu sih?!" Bu RT gemas dengan sikapku yang terkesan mengalah dan membiarkan Eva dan Likha menghinaku.
Tetapi aku hanya memegang tangan Bu RT untuk mencegahnya bicara lebih banyak lagi. Biarkan saja mereka berpikir seperti apa yang mereka pikirkan sekarang. Karena sebaik apapun kamu tetap akan terlihat cacat di mata orang yang tidak menyukaimu.
Bisa dibilang aku saat ini terlihat sama seperti saat aku terpuruk dan kekurangan uang. Tidak ada yang berubah selain tubuhku yang semakin langsing. Aku hanya tampil seadanya. Tanpa memakai perhiasan, baju baru, sepatu dan tas bagus meski sekarang aku mampu membelinya.
Bukan karena aku sudah tidak menginginkannya, tetapi sekali lagi karena anggaran dan perhitungan. Bisa dibilang aku sudah bekerja keras tetapi aku tidak berani menikmati hasilnya. Aku menekan diriku sendiri agar terus berhemat.
Sepanjang acara, Bu RT tidak berhenti membicarakan aku di depan ibu-ibu lain yang seusia dengannya, mungkin lebih tepatnya dia sedang mempromosikan kiosku. Dia terus mengatakan kepada mereka agar membeli baju di tempatku. Dan meminta mereka datang langsung ke kios untuk melihat-lihat bagi yang tidak percaya. Maklumlah sebagian dari ibu-ibu ini tidak bermain media sosial.
__ADS_1
...****************...
Siang hari yang cerah kami sedang menikmati waktu berkualitas karena Mas Adji libur bekerja. Hari ini Keisha ingin makan hot pot karena sudah lama tidak memakan makanan itu. Aku menyiapkan bahan-bahan sementara Mas Adji menyiapkan perlengkapannya.
Kami bertiga tengah asyik menyantap makanan ketika tiba-tiba Maya masuk bersama Vino.
"Lho Maya? Kok bisa masuk?" Mas Adji kaget.
"Itu pintu depan nggak dikunci. Udah dipanggil-panggil juga nggak dengar jadi aku langsung masuk."
"Tumben May? Ada apa?" tanyaku dingin.
"Nggak ada apa-apa mbak. Main aja, sudah lama aku dan Vino nggak main kesini."
Maya sama sekali tidak terlihat merasa bersalah kepadaku ataupun Mas Adji. Dulu sewaktu Mas Adji sakit Maya sama sekali tidak ingat untuk mengunjungi kami. Lalu kenapa tiba-tiba dia datang kesini? Aku yakin ada maksud lain.
"Duduk May, udah makan belum? Sayang ... tolong ambilkan piring untuk Maya."
Dengan malas aku berjalan untuk melakukan perintah Mas Adji.
"Mas, minta uang buat beli susu Vino dong. Mas Adji kan sudah kerja lagi."
Tanpa malu, Maya langsung mengutarakan tujuan utama kedatangannya. Mungkin dia pikir aku tidak bisa mendengarnya dari sini.
"Kamu sudah mengirimkan uang bulanan untuk ibu, berarti ada jatah untuk Vino juga kan?"
Mendidih rasanya kepalaku mendengar kata-kata Maya ini. Bisa-bisanya?! Aku tidak tahu kata-kata yang tepat untuk orang seperti Maya dan ibunya.
Langsung aku kembali ke meja makan sampai lupa membawa piring yang seharusnya aku ambil untuk maya.
"Kemarin-kemarin waktu Mas Adji sakit kok nggak main kesini May?" ucapku langsung tanpa basa-basi lagi.
"Eh ... Kemarin-kemarin kan sibuk mbak."
__ADS_1
"Oh ... Sibuk ya? Sampai nggak kepikiran menjenguk kakakmu gitu? Mas Adji sakit berbulan-bulan, kamu datang kesini sekali kalau nggak salah. Iya kan Mas?"