Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 54


__ADS_3

Sore harinya saat aku pulang kerja kudengar suara ribut-ribut dari dalam rumah, sepertinya ada yang bertengkar. Aku segera berlari masuk untuk melihat apa yang terjadi.


Dan benar, sampai di dalam aku menemukan ibu dan Eva sedang adu mulut.


"Bagus kamu sudah datang!" Ibu melihatku dengan geram.


"Kasih tahu istrimu ini! Suruh dia jaga sikap! Jangan main ambil makanan punya orang! Kalau ingin makan masak sendiri atau beli sendiri!"


"Apa sih Bu? Cuma soal makanan. Nggak usah di ributkan. Malu!"


"Istrimu ini sudah keterlaluan Adji! Masak nggak mau, beberes rumah nggak mau giliran ada makanan langsung di makan. Coba kamu tanya seharian kerja ngapain aja selain tidur dan mainan handphone?!"


Aku menoleh ke Eva.


"Aku kan lapar Mas, tadi lihat masakan ibu sepertinya enak. Jadi aku makan," ujarnya dengan nada manja yang dibuat-buat.


"Kamu pikir aku masak buat kamu?! Hah ...??? Enak saja!!! Tuh lihat ... Seperti itu kelakuan istrimu!!! Kok bisa-bisanya perempuan seperti ini kamu nikahi?!! Ternyata masih mending Winda daripada dia!"


Kenapa ibu harus menyebut nama Winda? Tanpa ibu sebutkan saja pikiranku selalu teringat dia.


Dulu ibu juga bersikap keras padanya tetapi dia tidak pernah melawan. Dia tetap diam di depan ibu walaupun akhirnya marah-marah di depanku.


Baru aku sadari ternyata Winda memiliki kesabaran yang luar biasa. Dia tidak hanya sabar menghadapi aku tetapi juga keluargaku.


Sedangkan Eva, baru tinggal beberapa hari dengan ibu saja setiap hari ada saja yang membuat mereka bertengkar.


"Ibu kan bisa masak lagi. Tidak usah ribut-ribut soal makanan," ucapku agar masalah ini segera selesai.


"Kami pikir ibu tidak capek?! Seharian ibu mengurus rumah sementara istrimu enak-enakan tidur. Masa sekarang ibu disuruh masak lagi?!"


Aku mengambil dompetku dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Aku malas mendengarkan pertengkaran hanya karena hal sepele seperti ini.


"Sudah ... Sekarang ibu beli lauk saja. Nggak usah masak kalau capek."


Ibu diam setelah menerima uang dariku kemudian meninggalkan aku dan Eva.


Lalu aku masuk ke dalam kamar diikuti Eva.


"Lain kali diam saja kalau ibu marah-marah," ucapku sambil melepas sepatuku.


"Aku kan cuma makan, kenapa dipermasalahkan sih Mas? Kalau aku beli makanan terus dihabiskan sama ibu dan Maya juga aku nggak apa-apa. Itu kan cuma makanan kenapa dibesar-besarkan?!"


Kata-kata Eva seperti mengingatkan aku sesuatu. Seperti yang terjadi pada Keisha malam itu ketika dia ingin meminta jajanan Vino.

__ADS_1


"Sudah, yang penting kamu diam saja jika ibu sedang mengomel!" jawabku ketus.


Belum sempat aku mengganti bajuku, aku mendengar Maya berteriak dari luar pintu kamarku.


"Eva ... Keluar kamu! Mana bajuku? Kembalikan!!!" teriak Maya sambil menggedor-gedor pintu.


Aku mengusap-usap wajahku kesal. Ini pasti masalah lain lagi. Aku bisa gila jika setiap hari seperti ini.


Eva berjalan membuka pintu.


"Cepat kembalikan bajuku!" bentak Maya.


"Oh ... Itu baru aku cuci."


"Heh ... Lain kali jangan memakai pakaian orang sembarangan!"


"Aku kan cuma pinjam."


"Aku nggak mau tahu! Pokoknya jangan pernah menyentuh barang-barangku!!!" Maya berlalu setelah memarahi Eva. Aku hanya melihatnya dari tempatku duduk.


Eva menutup pintu kamar dan kembali kepadaku.


"Kamu memakai pakaian Maya?"


"Aku kan sudah bilang padamu Mas, baju-bajuku sudah tidak muat. Tapi kami belum membelikan baju baru."


"Jangan lakukan itu lagi. Jangan sentuh apapun di rumah ini selain milikmu sendiri, termasuk makanan! Kamu mengerti?" Aku memperingatkan Eva dan dia mengangguk.


"Aku akan mandi dulu, setelah itu aku antar kamu cari baju hamil," ucapku terpaksa.


Aku sudah berjanji akan menerima Eva jadi aku juga harus menjadi suami yang bertanggung jawab.


"Beneran Mas?" Aku tidak menjawab dan langsung pergi ke kamar mandi.


Sebenarnya aku capek sekali. Setelah seharian pekerjaan kantor menguras tenagaku, sekarang masalah di rumah menguras emosiku.


Eva terlihat senang sekali setelah aku membelikan beberapa potong pakaian untuknya juga beberapa barang lain yang dia butuhkan. Sampai di rumah aku memintanya untuk tidak menggangguku karena aku ingin segera tidur. Aku sudah sangat capek seharian ini.


Belum lima menit aku memejamkan mataku sudah terdengar suara keributan lagi.


"Aku tidak menghabiskan uang Mas Adji. Dia membelikan ini semua karena aku membutuhkannya!"


"Bilang saja kamu memanfaatkan Adji. Kamu hanya ingin menguras uang Adji!"

__ADS_1


"Jangan bicara sembarangan Bu. Sebelum menikah dengan Mas Adji aku sudah bisa menghasilkan duit uang sendiri!"


"Bagaimana caranya? Jual diri? Kamu pikir aku nggak tahu apa pekerjaanmu sebelumnya? Keenakan kamu dapat suami Adji!"


"Tolong jaga kata-kata ibu!" bentak Eva.


Aku terpaksa bangun lagi untuk menghentikan pertengkaran mereka.


"Adji, kamu bawa perempuan ini keluar dari rumahku. Aku tidak mau dia tinggal di sini lagi!!!" teriak ibu begitu dia melihatku.


"Iya Bu ... Tapi tidak sekarang Bu ... Ini sudah malam." Aku hanya asal mengiyakan saja agar ibu tenang.


"Pokoknya besok siang dia sudah harus angkat kaki dari rumah ini!!!"


Sepertinya ibu benar-benar marah.


"Winda bertahun-tahun jadi menantuku dia tidak pernah membentak aku. Ini baru kemarin sore kamu nikahi sudah bersikap lancang padaku!!!"


Winda lagi, Winda lagi. Tahukan ibu jika setiap dia menyebut nama Winda aku merasa tersiksa? Tersiksa oleh penyesalan yang aku rasakan.


"Iya Bu ... " Aku menarik tangan Eva dan mengajaknya masuk ke dalam kamar karena sudah tidak ada tenaga lagi untuk ribut.


"Tidurlah dan jangan buat ulah lagi!!!" ucapku dingin.


Pagi harinya....


Aku menuju meja makan untuk sarapan sebelum berangkat kerja. Tetapi sampai di meja makan aku tidak menemukan apa-apa.


"Ibu tidak memasak?" tanyaku kepada ibu yang sedang mencuci piring.


"Kamu kan punya istri. Kenapa tidak menanyakan itu kepada istrimu?" jawab ibu tanpa mau menoleh kepadaku.


Sepertinya ibu masih marah dengan kejadian semalam. Tapi aku akui Eva memang keterlaluan. Aku sudah mau berangkat kerja tetapi dia masih belum bangun.


"Kamu menghabiskan banyak uang untuknya, jadi minta dia untuk mengurusi kamu."


"Jangan begitu Bu ... Aku kan juga sudah memberikan uang bulanan ibu."


"Tidak sebanyak yang kamu habiskan untuk perempuan itu. Aku tidak ingin tinggal satu atap lagi dengannya. Sebaiknya kamu suruh dia pergi."


"Nggak bisa dong Bu, dia kan istriku sekarang."


"Kalau begitu kamu juga ikut pergi." jawab ibu dingin.

__ADS_1


"Kenapa ibu tidak pernah menyukai pasanganku? Dulu Winda, sekarang Eva. Dulu Winda salah apa sama ibu? Sekarang Eva salah apa?"


"Kalau Winda itu ibu aku ibu yang salah. Dan sekarang ibu menyesal. Tapi kalau perempuan satu ini ... dia benar-benar hanya memanfaatkan kamu."


__ADS_2