Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 64


__ADS_3

Eva POV


Aku terlahir dari keluarga tidak mampu. Sejak remaja kedua orang tuaku sudah meninggal sehingga aku tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya. Aku bekerja serabutan untuk menyambung hidup, menjadi pembantu, pelayan di rumah makan apa saja yang penting aku bisa makan.


Aku menikah di usia muda, aku pikir setelah menikah hidupku akan terjamin. Aku tidak perlu bekerja keras lagi karena ada suami yang akan mencukupi kebutuhanku. Tetapi aku dan suamiku masih sama-sama belum dewasa. Setiap kali marah dia memukulku. Aku masih polos waktu itu, aku diam saja ketika suamiku sering berbuat kasar padaku. Aku terlalu takut untuk bicara.


Lalu suatu ketika ada salah seorang tetanggaku yang melihat wajahku penuh luka dan barulah aku berani bicara. Tetanggaku menyelamatkan aku, dan membantu aku berpisah dengan suami pertamaku.


Kemudian aku menikah lagi, dengan laki-laki yang lebih tua dariku. Aku pikir usia matang akan membuat lebih dewasa. Dan memang benar aku menjadi lebih "dewasa" bersama suamiku yang kedua. Yang ada dipikirannya hanya "itu" saja tetapi dia malas bekerja. Dia bahkan lebih mengandalkan aku dalam mencari uang. Aku bagaikan sapi perah untuknya. Untuk apa aku menikah jika aku tetap masih harus bekerja keras?


Akhirnya aku bercerai untuk yang kedua kalinya. Lebih baik aku hidup sendiri dari pada punya suami tetapi malah aku yang harus menghidupi suamiku.


Aku menjadi janda dua kali di usia yang masih muda. Banyak laki-laki yang mengejarku. Tetapi pengalamanku menikah dua kali membuatku harus memilih dengan teliti calon suamiku. Jika menikah nanti aku ingin hidup enak dan tidak perlu bekerja lagi. Suamiku akan memenuhi semua kebutuhanku, aku ingin hidup enak. Aku sudah bekerja sejak aku masih kecil.


Aku mengambil kursus memijat setelah selesai bekerja sebagai pelayan rumah makan. Aku ingin membuka praktek pijat di rumah jadi tidak ada yang memarahi aku. Aku sering dimarahi ketika bekerja kata majikanku aku tidak becus. Karena itulah aku ingin berhenti bekerja.


Setelah kursus selesai aku benar-benar berhenti kerja dan membuka praktek pijat di rumah. Awalnya yang menjadi pelanggan pijatku adalah ibu-ibu, kebanyakan tetanggaku atau mungkin ibu-ibu dari desa sebelah.

__ADS_1


Sesekali ada laki-laki yang juga memakai jasa pijatku. Tetapi lama-lama justru lebih banyak laki-laki yang datang untuk di pijat. Hampir semuanya bermaksud mendekati aku mengetahui aku seorang janda. Tetapi aku tidak tertarik karena kebanyakan dari mereka hanyalah pegawai kasar atau buruh. Sekarang aku hanya tertarik kepada laki-laki kantoran dan berpenghasilan lumayan.


Pernah suatu ketika ada seorang pelanggan yang minta dipijat tetapi dia juga minta layanan lain. Aku menolak karena aku memang tidak melakukan itu. Tetapi dia seorang pekerja kantoran seperti impianku, bukan buruh kasar seperti yang lainnya. Dia juga menawarkan uang yang banyak. Dan itulah awal mula aku menawarkan jasa plus-plus di rumah pijatku.


Tetapi aku tidak sembarang menawarkan itu kepada semua pelangganku. Hanya orang tertentu yang terlihat tampan dan pekerja kantoran, pokoknya pria seperti impianku.


Hingga suatu hari datanglah seorang laki-laki tampan, berpakaian rapi dia bilang namanya Adji. Melihat dari penampilannya sudah pasti dia punya jabatan di kantornya. Adji adalah teman dari orang yang pertama kali meminta layanan plus-plus dariku.


Ketika datang pertama kali Mas Adji hanya ingin di pijat. Lalu datang lagi yang kedua kalinya barulah dia berani meminta pelayanan "lebih".


Aku sempat mengobrol dengannya dan barulah aku tahu dia berasal dari desa tetangga, tepatnya dia menikah dengan seseorang bernama Winda. Aku tahu Winda meski tidak begitu kenal.


Lalu lama Mas Adji tidak datang dan menikmati pijatanku. Aku penasaran lalu aku coba bertanya ke tetangganya. Ternyata dia sakit.


Aku berinisiatif untuk menjenguknya. Sekalian aku ingin bertemu Winda. Aku ingin mengambil hatinya, siapa tahu dia nanti dia mengijinkan Mas Adji menikahi aku, menjadi istri ke-dua pun aku tidak masalah.


Winda menyambutku dengan baik dan ramah. Membuatku berpikir jika dia menyukai aku, kesempatanku untuk menjadi istri ke dua Mas Adji semakin besar.

__ADS_1


Aku sempat berpikir apa Winda tidak mampu memuaskan Mas Adji sehingga dia datang kepadaku? Kalau iya, maka ini kesempatanku mengambil hati Mas Adji sekaligus Winda.


Tetapi kemudian aku dengar Mas Adji bangkrut. Bahkan aku bertemu Winda sedang bekerja sebagai pelayan toko. Aku lupakan keinginanku untuk menikah dengan Mas Adji. Buat apa menikah dengan laki-laki yang sudah bangkrut dan penyakitan?


Lalu aku mencari calon lain. Teman Winda bernama Likha, suaminya juga pegawai kantoran meski tidak setampan dan sementereng Mas Adji. Tetapi setidaknya dia pegawai kantoran. Setidaknya aku harus mendapatkan suami yang lebih baik dari dua suamiku sebelumnya.


Tetapi Likha sangat galak. Dia menangkap basah aku dan suaminya sedang berduaan di kamarnya. Dia marah sekali dan menyeretku keluar dari rumahnya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku takut dengan Likha. Dia tidak seperti Winda. Beruntung dia tidak melaporkan aku ke pihak berwajib.


Harapanku untuk menikah dan membuat hidupku lebih baik sepertinya sudah sirna. Meski suami Likha diam-diam masih masih sering memakai jasaku, aku sudah tidak berminat untuk menjadikan dia suamiku.


Lalu aku dengar Mas Adji sudah kembali sehat. Bahkan dia sudah kembali kaya. Aku akan mendekatinya lagi.


Dan seperti telah berjodoh, tidak sengaja aku bertemu Mas Adji di sebuah warung. Ini kesempatanku. Aku tatap dia dengan tatapan menggoda, hanya dengan satu kedipan aku tahu Mas Adji menginginkan aku.


Aku meninggalkan warung dan yakin Mas Adji akan menyusulku. Orang-orang bilang aku menggunakan dukun, atau pelet atau apa mereka menyebutnya tapi aku tidak butuh itu. Laki-laki akan terhipnotis tanpa embel-embel pelet atau susuk jika sudah pernah merasakan "goyanganku". Aku harus berterima kasih kepada mantan suamiku karena sudah mengajarkan aku menjadi "dewasa" yang sesungguhnya.


Benar Mas Adji menyusulku ke rumah. Aku tahu yang dia inginkan. Sebelum bermain aku memberikan dia obat khusus pria, agar dia merasa perkasa dan aku akan berusaha memuaskannya hingga dia ketagihan.

__ADS_1


Tetapi tidak di duga Winda datang. Dia membawa warga dan menemukan kami di dalam kamar masih tanpa pakaian. Tetapi aku malah tidak merasa sedih ataupun malu. Aku justru senang, Winda melihat aku dan Mas Adji berdua.


Yang aku pikirkan setelah ini Winda akan marah dan meminta cerai, lalu Mas Adji akan menikahi aku, sesederhana itu. Aku tidak berpikir jika warga akan memberikan hukuman dan mengusir aki dari kampungku sendiri.


__ADS_2