
Apa yang terjadi terjadilah. Suamiku selingkuh, suami sahabatku juga selingkuh. Dan keduanya berhubungan dengan wanita yang sama. Sungguh luar biasa.
Sama sepertiku, Likha juga memutuskan untuk memaafkan suaminya, mempertahankan rumah tangganya demi anaknya.
Sekarang aku sudah menjalani hidupku yang baru. Berusaha melupakan apa yang Mas Adji pernah lakukan. Hidupku bahagia meski aku merasa ada sesuatu yang masih mengganjal di hatiku.
Mas Adji semakin perhatian seiring bertambahnya usia kehamilanku. Dia berangkat kerja membawa mobilku. Setiap hari dia mengantarku ke kios bersamaan dengan dia berangkat kerja. Lalu malamnya aku akan menelfon minta dijemput jika aku ingin pulang.
Aku sudah berusaha mengurangi kegiatanku di kios, tetapi menjelang hari raya aku justru tidak punya waktu untuk istirahat. Pesanan semakin banyak hingga aku mempekerjakan satu orang lagi untuk membantuku. Aku benar-benar sibuk dengan pesanan yang membludak.
Terkadang aku sudah kelelahan ketika sampai rumah dan tidak sempat melayani Mas Adji. Untungnya Mas Adji tidak pernah protes. Dia sangat pengertian.
"Mas, besok kamu bawa motor ya, mobilnya mau aku pakai untuk mengantar pesanan."
"Nggak diantar sore sepulang aku kerja? Seperti biasa?"
Setelah aku hamil memang Mas Adji yang mengantar jika ada pesanan di dekat-dekat sini. Biasanya dia lakukan sepulang kerja atau malam harinya.
"Nggak bisa, ini minta diantar pagi atau siang. Takut kalau nungguin kamu keburu malam."
"Oh ... Ya sudah. Berarti aku langsung berangkat kerja nggak nganter kamu ke kios dulu kan?" Aku mengangguk dan setelah itu aku tertidur.
Pagi harinya...
"Nanti kamu lembur nggak Mas?" Biasanya Mas Adji hanya bekerja setengah hari di hari Sabtu.
"Nggak tau sayang ... Kenapa memangnya?"
"Nanti kan malam Minggu? Kasihan Keisha, akhir-akhir ini aku sibuk jadi nggak banyak menghabiskan waktu dia. Kalau kamu nggak ada lembur nanti malam kita bisa jalan-jalan."
"Kita lihat nanti ya ... Nanti aku kabari."
Lalu setelah sarapan Mas Adji berangkat ke kantor dan aku pun berangkat ke kios.
__ADS_1
Sampai di kios aku langsung disibukkan dengan paket-paket yang harus segera dikirim. Belum lagi pesanan partai besar yang juga harus dikirim hari ini.
"Mbak, pesanan gamis untuk desa sebelah sudah telepon minta diantar. Katanya sudah ditunggu."
"Oh ... Iya. Harusnya dikirim tadi pagi. Aku belum sempat. Sudah kamu siapkan barangnya? Biar aku antar sekarang."
"Sudah Mbak." Shanti menunjukkan pesanan yang dia maksud.
"Bantu aku memasukkan itu ke mobil."
Saking banyaknya kerjaan hingga pesanan yang harusnya dikirim pagi tadi baru sempat aku antar sore. Pesanan ini harus aku antar ke desa sebelah, tepatnya desanya Eva. Ibu-ibu di sana memesan gamis untuk anggota pengajian rutin yang jumlahnya lumayan banyak.
"Perlu ditemani nggak mbak?" tanya Shanti. Dia kasihan melihat perutku yang mulai membesar tetapi aku harus angkat beban berat.
"Nggak perlu Shan, nanti pasti ada yang bantu nurunin ini di sana."
"Oke. Hati-hati ya Mbak."
Akhirnya aku memutuskan untuk mencari jalan alternatif agar tidak perlu lewat depan rumah Eva.
Sampai di tempat tujuan aku langsung meminta maaf atas keterlambatanku. Tetapi ibu-ibu di desa ini sangat baik dan tidak mempermasalahkannya. Aku berbincang sebentar untuk memastikan tidak ada komplain salah ukuran atau ada kecacatan pakaian. Setelah itu aku pamit undur diri.
Aku merasa sangat lelah dan memutuskan untuk pulang. Entah kenapa suara hatiku mendorong aku untuk melewati rumah Eva dan akhirnya aku melakukannya. Pulangnya aku mengambil jalan yang melintasi rumah Eva.
Sejak awal aku sudah gelisah dan semakin gelisah ketika aku melihat rumah Eva dari kejauhan. Aku melajukan mobilku pelan. Tepat ketika aku melintas di depan rumah Eva aku melihat ada sepeda motor yang sama persis dengan sepeda motor Mas Adji.
Jantungku langsung berdetak tidak karuan. Berusaha berpikir positif, itu bukan motor Mas Adji. Mungkin hanya sama karena motor seperti itu ada ribuan jumlahnya. Tetapi hatiku seperti menyangkalnya.
Akhirnya aku menepikan mobilku dan berhenti untuk menelepon Mas Adji. Aku menunggu cukup lama sampai Mas Adji mengangkat telepon dariku.
"Halo ... "
"Ada apa sayang?"
__ADS_1
"Kamu sudah pulang Mas?"
"Maaf ya sayang ... aku lembur. Tapi ini sudah mau selesai. Mungkin sebentar lagi pulang." Suara Mas Adji terdengar biasa saja, tidak ada tanda gugup atau menyembunyikan sesuatu.
"Oh ... Ya sudah. Nanti kabari aku kalau sudah pulang." Aku menutup telepon.
Mas Adji lembur, dia masih di kantornya. Berarti itu bukan motor Mas Adji.
Aku berusaha meyakinkan diriku itu bukan motor Mas Adji. Tetapi semakin lama aku malah semakin tidak yakin. Suara hatiku memaksaku untuk turun.
Akhirnya aku turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam teras rumah Eva. Aku mendekat dan melihat plat nomor motor itu. Persis sama dengan plat motor Mas Adji, ini sepeda motor Mas Adji, tidak salah lagi.
Rasanya dadaku ingin meledak. Dengan tangan gemetar aku meraih handphone di tasku. Aku menghubungi nomor Mas Adji sekali lagi.
Berkali-kali aku coba hubungi tapi tidak diangkat. Hingga untuk kesekian kalinya barulah ada jawaban.
"Aku lagi di jalan Win ... Sebentar lagi sampai rumah."
Begitu suara Mas Adji dan langsung dia tutup telepon dariku. Jelas Mas Adji berbohong. Mana mungkin dia sedang di jalan jika sepeda motornya ada di depanku?
Aku tidak bisa diam saja. Aku yakin Mas Adji ada di dalam rumah Eva. Aku melihat sekeliling seperti orang kebingungan. Eva tidak punya tetangga, rumah ini sendiri jauh dari rumah-rumah yang lain.
Akhirnya aku menelpon ketua pengajian yang tadi memesan pakaian di tempatku. Aku memintanya menyusulku ke rumah Eva. Hanya itu yang terlintas di pikiranku.
Tidak lama, ketua pengajian bersama ibu-ibu yang lain datang. Aku kaget melihat orang yang datang sebanyak ini. Tetapi tidak masalah, itu justru bagus. Mereka bisa menjadi saksi atas perbuatan bejat Mas Adji.
Dadaku bergemuruh, tetapi kaki dan tanganku lemas seperti tidak punya tenaga.
"Kenapa kalian membiarkan praktek pijat seperti ini di desa kalian? Apa kalian bisa menjamin jika mereka tidak melakukan perbuatan asusila di dalam? Suamiku ada di dalam ibu-ibu... Menurut kalian apa yang sedang mereka lakukan sekarang?"
"Tenanglah dik Winda ... " Ibu ketua berusaha menenangkan aku. "Aku akan memanggil Eva, nanti setelah pintunya terbuka kami langsung masuk dan cari suamimu di dalam," ucapnya berbisik.
Aku mengangguk. "Aku yakin suamiku ada di dalam."
__ADS_1