
Lima tahun kemudian...
Winda
Aku menjalani hari-hariku seperti biasanya. Hidupku datar, begitu-begitu saja setelah tidak ada Mas Adji. Sementara hubunganku dan Indra tidak berlanjut. Kami berdua dibayangi masa lalu masing-masing sehingga sama-sama sulit untuk move on. Meskipun begitu hubunganku dengan Indra masih baik, bahkan kami sering makan bersama, sebagai teman.
Kondisi keuanganku sudah kembali stabil setelah aku berhasil melunasi hutangku kepada Indra. Sekarang ruko ini sepenuhnya resmi menjadi milikku.
Mas Adji? Aku tidak tahu bagaimana keadaannya. Sepertinya dia sekarang sukses karena uang bulanan untuk anak-anak yang dia kirimkan, jumlahnya dua kali lebih banyak belakangan ini. Aku pikir itu adalah bukti kesuksesannya atau mungkin itu caranya menebus rasa bersalahnya.
Mas Adji lebih sering ngobrol dengan Keisha dan Kirana lewat telepon atau video call. Aku jarang sekali bergabung saat mereka sedang melakukan panggilan video. Aku tidak menghindar, hanya rasanya aneh saja jika aku ikut ngobrol bersama mereka.
Anak-anakku? Keisha sudah beranjak remaja. Semakin hari dia semakin mirip denganku, bahkan kami sering dibilang kakak adik oleh pelanggan-pelanggan tokoku. Sementara Kirana sudah masuk TK. Dia sangat mirip Mas Adji baik dari sifat maupun wajah. Kadang aku gemas sekali dengan Kirana yang selalu mengingatkan aku kepada papanya. Jadi, bagaimana aku bisa move on jika setiap hari aku bertemu dengan Mas Adji versi kecilnya?
Keisha lebih banyak membicarakan papanya. Hampir setiap ngobrol denganku dia selalu menyebut nama papanya meski hanya sekali. Keisha benar-benar definisi anak papa yang sesungguhnya. Kirana hanya ikut-ikutan kakaknya saja. Dia tidak mengenal papahnya seperti Keisha mengenalnya.
Meski setiap kali kakaknya melakukan panggilan video dia ikut bergabung. Tetapi Keisha yang lebih banyak bicara, aku pikir papanya adalah bestie nya. Kirana hanya menampakkan wajahnya di depan layar sebentar lalu kembali bersembunyi di belakang kakaknya jika Mas Adji mengajaknya bicara. Kirana terlihat malu-malu dengan papanya.
Likha? Dia masih marah padaku sepertinya. Sejak saat itu dia tidak mau menyapaku. Aku sudah mencoba menyapa dia lebih dulu saat kami tidak sengaja bertemu, tetapi dia mengacuhkan aku. Jadi ya sudah, yang penting aku tidak pernah berniat jahat padanya. Aku ikut bahagia karena dia tetap bersama suaminya, bahkan aku pikir mereka semakin terlihat mesra. Tetapi aku tetap menyayangkan kenapa Likha tetap tidak mau membuka matanya atas kenyataan yang sebenarnya.
Eva? Aku tidak tahu bagaimana kabarnya saat ini. Aku sama sekali tidak mendengar berita tentangnya. Siapa yang bisa aku tanyai? Tidak ada seorangpun. Aku sudah melupakan semua yang dia lakukan padaku. Aku berharap dia baik-baik saja, begitu juga anaknya.
"Win, aku mau ke rumah menjenguk anak-anak ya? Sudah lama nggak bertemu mereka." Suara mertuaku membangunkan aku dari lamunanku. Dia sudah berdiri di depanku sekarang.
Mertuaku? Ini yang masih menjadi misteri bagiku. Sejak kepergian Mas Adji dia rutin datang, mungkin sebulan sekali ke rumah dengan alasan ingin menemani anak-anak. Bedanya sekarang dia sudah tidak pernah membawakan jajanan untuk anak-anakku.
Aku pun mengijinkannya, itu lebih baik dari anak-anakku yang dibawa ke rumahnya. Selain itu aku juga menghargai usahanya dengan meminta ijin dariku terlebih dahulu.
"Oh ... ya Bu." jawabku kaku. Aku masih belum menemukan ketulusan di mata mertuaku meski sekarang dia sangat ramah kepadaku dan anak-anak. Aku tetap merasa ada yang mengganjal dengan mertuaku.
"Ya sudah, aku langsung ke rumah ya?" Aku mengangguk.
__ADS_1
Aku sedang tidak ada pekerjaan, ingin jalan-jalan keluar tetapi aku tidak punya teman. Jadi aku berjalan melihat kondisi toko, mondar-mandir dari depan ke belakang dan sebaliknya tetapi semuanya sudah di handle dengan baik oleh pegawai-pegawaiku. Aku sampai bosan, jadi aku memutuskan pulang.
Sampai rumah aku melihat sepeda motor mertuaku masih ada di halaman. Itu artinya dia belum pulang. Aku segera masuk setelah memarkirkan motorku.
Aku masuk lewat pintu garasi jadi mungkin tidak terdengar dari ruang tengah. Mertuaku dan anak-anak mungkin tidak mendengar kedatanganku. Dari garasi aku langsung masuk ke dapur untuk mengambil minum. Dari sini aku bisa mendengar percakapan mertuaku dan Keisha.
"Kei, papa sering telfon kamu nggak?"
"Sering Mbah." Keisha tetap memanggil neneknya simbahnya papa.
"Papa sering ngirim uang buat Keisha kan?"
Aku tidak mendengar jawaban dari Keisha.
"Papa ngirim uangnya banyak apa nggak?" Kembali mertuaku menginterogasi Keisha. Aku tetap berdiri di tempatku untuk mendengarkan lebih lanjut apa yang ingin mertuaku ketahui dari kami.
"Nggak tahu Mbah, Mama yang nyimpen uangnya," jawab Keisha yang mulai kesal terdengar dari nada suaranya.
"Ya biarin aja Mama yang bawa, kalau Keisha mau tinggal minta. Memangnya kenapa Mbah?"
"Keisha bisa bujuk papa nggak biar ngirim uang buar Simbah?"
"Emang Simbah nggak di kasih uang sama Papa?"
"Ya dikasih sih, tapi kan Keisha lebih banyak kiriman untuk kamu. Simbah cuma sedikit."
"Ngomong sendiri aja sama Papa Mbah." Aku tahu Keisha bosan mendengar pertanyaan dari simbahnya ini. Aku hafal betul dari nada suaranya yang terdengar malas-malasan.
Tidak ada suara untuk beberapa saat. Aku sudah hampir melanjutkan langkahku tetapi suara mertuaku kembali terdengar.
"Ya udah ... Simbah pulang dulu ya Kei."
__ADS_1
Tidak terdengar jawaban dari Keisha.
"Kei, simbah ambil makanan di kulkas ya, buat oleh-oleh Vino."
"Terserah Simbah," jawab Keisha terdengar malas-malasan. Akhirnya aku keluar dari tempatku menguping dan menghampiri mereka.
"Kok sudah mau pulang Bu? Kan baru sebentar?" ucapku yang langsung membuat mertuaku kaget.
"Win ...? Kok sudah pulang?"
"Aku sudah tidak ada kerjaan toko."
"Win, kamu tahu nggak kapan Adji pulang? Sudah hampir lima tahun kan dia pergi?"
Aku termenung. Waktu terasa cepat sekali berlalu.
"Aku tidak tahu Bu, aku tidak pernah bicara dengannya. Memangnya dia tidak memberitahu ibu?"
"Dia jarang sekali meneleponku, dia hanya rutin mengirim uang bulanan."
"Terus ibu mau apa? Bukankah dia sudah mengirim uang untuk ibu?" ucapku tanpa disaring. Sampai sekarang aku masih berpikir yang diinginkan mertuaku hanyalah uang.
"Ya ... Ibu hanya bertanya saja. Sudah lama ibu tidak bertemu dengannya."
Rasanya aku ingin tertawa mendengar jawaban mertuaku ini. Dulu Mas Adji sakit saja dia tidak mau menjenguk padahal rumah kami tidak begitu jauh. Apa karena waktu itu Mas Adji tidak bisa memberikan uang bulanan?
"Ya sudah, ibu pulang sekarang." Mertuaku berdiri dan sudah hampir melangkah pergi.
"Simbah nggak jadi ambil makanan buat Vino?" Keisha mengingatkan atau mungkin menyindir. Dia sama denganku, sudah tidak bisa berpikiran positif tentang neneknya ini. Sejak kecil dia sudah merasakan bagaimana neneknya membedakan dia dengan Vino.
"Oh ... Nggak usah. Simbah tadi cuma nanya aja kok. Ya udah Simbah pulang dulu," ucap mertuaku sambil berlalu.
__ADS_1
"Setiap mau pulang pasti nguras makan di kulkas kalau nggak ya ambil jajanan adek mau dikasih ke Vino," gerutu Keisha.