Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 55


__ADS_3

Aku tetap pergi bekerja meski pagi hariku diawal pertengkaran dengan ibu. Dia bersikukuh tidak ingin Eva tinggal di rumahnya, sementara aku boleh tetap tinggal.


Aku tidak habis pikir bagaimana ibu bisa berpikiran seperti itu. Aku dan Eva sudah menikah, jadi sudah seharusnya kami tinggal bersama. Kalau aku tetap tinggal di rumah ibu tetapi Eva harus pergi lalu dia akan tinggal dimana? Dia tidak punya tempat tinggal karena sudah di usir dari kampungnya. Dan itu juga karena aku.


"Aku pergi kerja dulu Bu. Nanti akan aku urus semuanya sepulang kerja."


Aku kembali ke kamar untuk menemui Eva, tetapi dia masih tertidur lelap.


Kesal sekali melihatnya. Dulu, meskipun hamil Winda tidak pernah seperti ini. Dia tetap melakukan tugasnya sebagai istri. Mungkin kalau sedang kurang sehat saja dia bermalas-malasan, selebihnya dia tetap melayaniku dengan baik. Sedangkan Eva? Mungkin benar yang dikatakan ibu. Dia hanya tidur dan mainan handphone.


Aku urungkan niatku untuk membangunkan Eva. Aku tidak mau menambah masalah karena bertengkar dengannya. Akhirnya aku pergi ke kantor membawa rasa kesal.


Sorenya sepulang kerja aku berputar-putar untuk mencari rumah kontrakan. Aku harus segera menemukan rumah untuk bisa aku tinggali hari ini juga. Aku sendiri bosan setiap hari harus mendengarkan pertengkaran Eva dan ibu.


Tidak sengaja aku lewat di depan kios. Aku berhenti sebentar dan melihat Winda dari kejauhan. Ini adalah pertama kalinya aku melihatnya setelah kami resmi berpisah.


Dia tetap cantik, aku akui dari dulu dia memang cantik. Dan sekarang setelah melahirkan dua anak dia tetap terlihat cantik. Tubuhnya langsing dan auranya berkelas. Sangat jauh jika dibandingkan Eva.


Baru aku sadari seperti apa Winda setelah aku kehilangan dia. Aku seperti tidak puas hanya menatapnya. Aku parkirkan motorku dan aku datangi dia.


"Win ... "


Dia langsung menoleh begitu mendengar suaraku. Tidak ada ekspresi di wajahnya ketika melihatku.


"Ada perlu apa kemari?" tanyanya dingin.


Aku tidak dapat menemukan jawaban atas pertanyaan Winda. Haruskah aku katakan aku rindu? Atau betapa aku menyesal telah menyia-nyiakan dirinya selama ini? Atau betapa berantakan hidupku saat ini tanpa dirinya?


Tapi aku tidak dapat mengeluarkan yang ada dalam pikiranku. Aku sangat malu. Aku hanya bisa menatapnya tanpa bisa berkata-kata.


"Mas ... ?" Winda mengernyitkan alisnya melihatku bengong.


"Bagaimana kabar anak-anak?" tanyaku gelagapan.


"Baik ... Anak-anak baik," jawab Winda sambil memalingkan wajahnya.


"Apa Keisha menanyakan aku? Bagaimana dengan si kecil? Apa dia rewel?"


"Mereka baik-baik saja. Si kecil tidak rewel." Winda hanya menjawab seperlunya.

__ADS_1


"Apa aku boleh menemui mereka?"


Winda tidak menjawab, yang aku artikan dia tidak ingin aku bertemu anak-anak. Dia jarang mengijinkan aku bertemu mereka.


"Apa si kecil sudah diberi nama? SIapa namanya?"


Aku menyesal sudah menanyakan itu. Masa aku sebagai ayahnya tidak tahu siapa nama anakku?


"Win ... Aku sudah mentransfer uang jajan untuk anak-anak." Aku mengganti topik pembicaraan untuk menghilangkan rasa maluku.


"Terima kasih. Nanti aku cek." Winda kembali diam.


Tetapi topik pembicaraan ini malah membuatku semakin malu. Karena uang yang aku transfer ke Winda mungkin jumlahnya tidak ada apa-apanya dibandingkan penghasilan Winda sekarang.


"Tolong kabari jika kamu sudah mengijinkan anak-anak untuk bertemu aku. Aku permisi."


Aku hendak melangkah pergi karena sepertinya aku datang kesini hanya mempermalukan diri di depan Winda.


"Mas ... Suruh ibu berhenti untuk minta harta gono-gini gini dariku. Kamu tahu sendiri, tidak ada harta milik bersama yang bisa kita bagi." ucap Winda sebelum aku melangkahkan kaki keluar.


Aku cukup terkejut mendengarnya.


Winda hanya mengangguk tanpa memberi penjelasan. Tetapi aku sudah tahu maksudnya. Aku sudah hafal sifat ibu.


"Baiklah. Aku akan memberi tahu ibu. Maaf sudah menganggu."


Aku keluar dari kios membawa rasa malu. Aku cukup sadar, tidak ada kesempatan lagi untuk bisa kembali bersama Winda tak peduli seberapa besar penyesalanku. Winda sudah melanjutkan hidupnya, tetapi aku masih berkutat dengan kenanganku bersamanya.


Aku berjalan kembali ke tempat motorku terparkir. Lebih baik aku kembali ke tujuan awalku, mencari rumah kontrakan. Setelah beberapa lama akhirnya aku menemukan satu yang aku pikir cocok.


Aku langsung menghubungi Eva dan menyuruhnya mengemasi barang-barang kami agar bisa langsung pindahan. Aku juga sudah meminta pemilik rumah untuk membersihkan rumah agar bisa kami tempati malam ini juga.


Aku langsung pulang setelah sebelumnya meminjam mobil Mas Arya untuk mengangkut barang-barangku ke rumah kontrakan.


Sampai di rumah aku kembali di buat emosi. Eva masih belum melakukan apa-apa. Dia hanya mengemasi pakaian dan barang-barangnya. Sementara pakaian dan barang-barangku masih utuh di dalam lemari.


"Kenapa barang-barangku tidak kamu kemasi?"


Aku bertanya sambil menahan geram kepada Eva. Aku sudah capek-capek mencari tempat tinggal untuk kami berdua dan aku hanya menyuruhnya berkemas-kemas tetapi tidak dia lakukan.

__ADS_1


"Aku malas Mas ... Aku kan lagi hamil nggak boleh kecapekan."


Aku tidak bisa mengungkapkan bagaimana kesalnya aku dengan sikap Eva tetapi aku masih berusaha sabar.


Akhirnya aku mengemasi barang-barangku sendiri. Setelah itu aku dan Eva keluar dari rumah ibu.


...****************...


Winda


Aku sudah mulai merasakan kenyamanan dalam kesendirianku. Tidak perlu cemas memikirkan pasangan kita sedang melakukan apa dengan siapa. Aku hanya perlu memikirkan diriku sendiri dan anak-anakku.


Bahkan aku sudah membuat rencana ke depan. Aku akan membeli sebuah ruko dan memperbesar tokoku. Dan aku sudah mulai menabung untuk itu.


Aku meninggalkan bayiku di rumah dengan seorang pengasuh. Sesekali aku pulang untuk melihat keadaannya. Sementara Keisha sudah lebih besar, dia bisa bermain dengan teman-teman sebayanya di sekitar rumah. Atau kalau bosan, dia akan meminta ibu untuk mengantarkan ke kios menyusulku.


Saat ini aku hanya ingin fokus membenahi hidupku. Tidak pernah terpikir untuk mencari pengganti Mas Adji, belum saatnya.


"Win ... "


Tiba-tiba saja aku seperti mendengar suara Mas Adji di belakangku. Apa aku sedang berhalusinasi?


Aku menoleh untuk memastikan aku tidak salah dengar. Ternyata benar, Mas Adji sudah berdiri di belakangku. Ini adalah pertemuan kami setelah kami resmi berpisah.


"Ada perlu apa kemari?" tanyaku berusaha bersikap normal.


Tetapi Mas Adji hanya diam. Dia terlihat melamun sambil terus menatapku. Untuk beberapa saat pikiran Mas Adji seperti melayang entah kemana.


"Mas ... ?"


Mas Adji seperti kaget mendengar suaraku.


"Bagaimana kabar anak-anak?"


"Baik ... Anak-anak baik," jawabku singkat.


Selanjutnya Mas Adji hanya menanyakan pertanyaan singkat tentang anak-anak dan aku juga menjawab seperlunya. Mau bagaimana lagi? Kami sudah bukan suami istri, tidak bisa ngobrol sambil bermesraan seperti dulu.


Mas Adji terlihat sudah melanjutkan hidupnya bersama Eva, jadi aku juga akan melanjutkan hidupku bersama anak-anakku.

__ADS_1


__ADS_2