Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 77


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam. Aku ke ruang tamu untuk melihat Eva. Tadi aku menyuruh dia untuk istirahat di sana. Dia pasti kelelahan karena sudah berjalan jauh sambil menggendong anaknya.


"Apa rencanamu sekarang?" Aku menghampiri Eva yang sedang membelai anaknya.


Eva terdiam. Kalau aku jadi Eva pun aku pasti tidak tahu mau berbuat apa.


Terkatung-katung tidak punya uang, tidak punya tempat tinggal, tidak punya teman, orang tua atau saudara. Dia juga punya bayi kecil yang harus dia hidupi karena ayahnya tidak mau bertanggung jawab.


Benar kata Eva, Haris seorang pengecut yang sangat memalukan.


"Mungkin aku keluar kota. Aku masih punya saudara di luar kota. Aku tidak mungkin kembali ke desaku karena mereka sudah mengusirku."


Aku jadi merasa bersalah mendengar jawaban Eva. Dia di usir dari desanya karena aku juga. Seandainya saat itu aku tidak membawa orang-orang desa untuk menggerebek rumahnya pasti dia tidak akan di usir dari sana.


"Tidak perlu merasa bersalah. Itu bukan salahmu. Memang sudah seharusnya mereka melakukan itu. Aku sudah melakukan perbuatan yang memalukan."


Sepertinya Eva mengerti perasaanku.


"Aku akan menjual rumahku untuk memulai hidup di luar kota. Win ... Boleh aku minta tolong lagi?!"


"Minta tolong apa?"


"Kamu boleh menyebut aku tidak tahu diri, tapi kamulah satu-satunya harapanku. Maukah kamu mengantar aku ke kontrakanku? Aku ingin mengambil barang-barangku tapi aku tidak berani."


Aku berpikir sebentar. Apa perlu aku membantu Eva? Nanti aku bertemu Mas Adji di sana dan masalah akan semakin runyam Tapi kalau aku tidak membantunya, lalu siapa lagi? Aku tidak tega setelah mendengar ceritanya tadi.


"Baiklah."


Eva tersenyum, dan sekali lagi matanya kembali berkaca-kaca.


"Terima kasih."


Aku mengangguk.


"Aku siapkan mobil dulu."


Aku meninggalkan Eva di ruang tamu. Tetapi sebelum ke garasi aku meminta pembantuku untuk membungkuskan makanan untuk Eva. Anggap saja aku bodoh, tapi aku benar-benar tidak tega melihat keadaannya. Mungkin saja nanti dia tidak bisa makan karena tidak punya uang untuk membelinya.


"Kamu sudah siap?" tanyaku setelah mobil sudah keluar dari garasi.

__ADS_1


Eva terlihat ragu.


"Kenapa?"


"Kunci kontrakan di bawa Mas Adji, tapi aku takut jika harus bertemu dengannya. Bagaimana kalau dia ... "


"Aku akan menemanimu."


Tak berapa lama aku dan Eva sudah sampai di rumah kontrakan yang dia dan Mas Adji tinggali. Rumah itu nampak sepi. Lampu-lampu belum dinyalakan mungkin Mas Adji belum pulang.


"Mas Adji belum pulang. Aku harus bagaimana?" Eva terlihat was-was. Beberapa kali dia mencoba mendorong pintu, tetapi tidak bisa terbuka karena Mas Adji menguncinya.


"Bagaimana ini Win? Aku takut Mas Adji segera pulang."


"Eva, kalau kamu ingin masuk kamu harus menunggu Mas Adji pulang dan meminta kuncinya. Tunggulah ... "


"Tapi aku takut bertemu dia."


Beberapa saat menunggu, Mas Adji tidak kunjung pulang. Sebenarnya aku bisa menelepon dia tapi aku tidak mau terlibat dalam urusan dia dan Eva. Aku mengantarkan Eva sampai kesini murni karena aku kasihan padanya, bukan karena ingin ikut campur.


"Va ... sebaiknya aku pulang," ucapku setelah menemani Eva cukup lama.


"Maaf aku tidak bisa menemani kamu lebih lama lagi." Eva terlihat pasrah tapi dia tidak punya pilihan.


Aku masuk ke mobilku dan hendak meninggalkan tempat itu. Belum sempat aku menyalakan mesin mobil, aku melihat sosok laki-laki datang menaiki sepeda motor. Aku yakin itu Mas Adji meski tidak begitu jelas terlihat wajahnya.


Aku diam di dalam mobil dan mengamati Mas Adji dari tempatku. Dia memarkirkan motornya di halaman, lalu dengan sempoyongan melangkah menuju pintu.


"Apa dia sedang sakit?" gumamku.


Aku terus memperhatikan Mas Adji. Aku kaget melihat dia tiba-tiba menampar Eva lalu mendorong tubuhnya hingga tersungkur. Aku melihat kejadian itu dengan jelas. Rupanya benar, Eva tidak mengarang cerita.


Aku tidak bisa diam saja. Aku langsung turun dari mobil untuk menghentikan Mas Adji.


"Mas ... Hentikan!!!"


Mas Adji langsung menoleh ke arahku.


"Winda ... ??? Ini benar-benar kamu???" Mas Adji menatapku tidak percaya. "Aku pasti sedang mabuk. Mana mungkin Winda ada di sini!?!"

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan Mas?"


Aku menghampiri Eva dan membantunya berdiri. Anaknya menangis dengan keras karena ikut terjatuh bersama Eva.


Eva terlihat sangat ketakutan. Wajahnya pucat dan badannya gemetar. Dia pasti sangat trauma dengan apa yang sudah Mas Adji lakukan padanya.


Aku hampir tidak mengenali Mas Adji dari jarak sedekat ini. Wajahnya ditumbuhi jenggot dan kumis yang tidak terurus. Rambutnya mulai panjang dan menutupi sebagian wajahnya. Penampilan Mas Adji sangat berantakan.


"Winda sayang ... Apa yang kamu lakukan di sini?" Mas Adji bertanya lagi. "Apa ini benar-benar kamu? Apa kamu mencariku? Kamu ingin kembali padaku?" Mas Adji sempoyongan bukan karena sakit, tetapi karena dalam pengaruh minuman keras. Aku bisa mencium dari aromanya.


"Apa yang kamu lakukan Mas? Kamu menyakiti seorang perempuan?!"


"Apa?" Mas Adji seperti orang linglung. Dia melihat ke arah Eva yang berdiri ketakutan di belakangku.


"Perempuan itu? Huh ... Dia yang merusak rumah tangga kita Win. Perempuan sialan itu yang membuat kita berpisah!"


"Jangan salahkan orang lain! Kita berpisah karena kesalahanmu!!! Bukan orang lain!!!"


"Lihat yang sudah dia perbuat padaku Win, Aku kehilangan kamu, kehilangan semuanya! Aku meninggalkan kewajibanku sebagai ayah karena perempuan itu!!!" Mas Adji kembali emosi. Dia sudah meraih tangan Eva dan hendak memukulnya lagi.


"Mas ...!!! Hentikan...!!!" cegahku. "Kenapa kamu jadi seperti ini?!"


"Dia menipuku Win ... Dia cuma memanfaatkan aku untuk membiayai hidupnya, membuatku bertanggung jawab atas apa yang tidak seharusnya!!! Perempuan itu telah menipuku!!!" Mas Adji duduk di lantai seperti seorang anak kecil. Dia pasti sedang tidak sadar karena pengaruh alkohol yang diminumnya.


"Berikan kunci rumahnya." Aku meminta kunci rumah dari Mas Adji agar Eva bisa segera masuk dan mengambil barang-barangnya. Kalau aku menuruti Mas Adji pasti tidak akan selesai-selesai.


"Kamu mau masuk? Kamu ingin tinggal di sini bersamaku?" mas Adji tampak senang.


Dia langsung berdiri dan dengan langkah sempoyongan berusaha meraih pintu. Setelah beberapa saat Mas Adji belum juga berhasil membuka pintu. Dia sudah sangat mabuk hingga mencari lubang kunci saja tidak bisa.


"Berikan kuncinya, biar aku saja!"


"Ini ... Ini sayang ... " Mas Adji menyerahkan kunci rumahnya kepadaku.


Aku langsung menyuruh Eva masuk begitu pintu terbuka. Sementara Mas Adji tidak begitu memperhatikan Eva karena ada aku.


Mas Adji langsung merebahkan tubuhnya di sofa.


"Winda sayang ... Aku kangen banget sama kamu, kembali sama aku ya ... Mau kan?" Mas Adji terus berbicara tapi aku abaikan, hingga lama-lama berhenti dan berubah menjadi suara dengkuran. Akhirnya Mas Adji tertidur.

__ADS_1


Sebenarnya aku ingin langsung pulang, tetapi aku takut tiba-tiba Mas Adji bangun dan melakukan kekerasan kepada Eva lagi. Akhirnya aku menunggu sampai Eva selesai mengemasi barang-barangnya dan membawanya keluar dari rumah ini. Kalau mau menolong jangan setengah-setengah.


__ADS_2