Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 38


__ADS_3

Winda


Omset penjualanku terus meningkat, berarti pundi-pundi rupiah semakin banyak. Banyak instansi yang mulai memesan baju seragam di tokoku. Entah batik, gamis atau kaos untuk seragam senam semuanya aku layani, grosir maupun eceran.


Bahkan karena seringnya melayani instansi, aku jadi memiliki banyak koneksi. Aku bisa mengenal Bu Lurah karena ini. Beliau bahkan memberikan tempat kosong dan mempersilahkan aku untuk membuka stand di lapangan kelurahan setiap Minggu pagi, semacam car free day di daerahku. Tentu saja aku mengambil kesempatan itu. Ini adalah salah satu cara agar tokoku semakin di kenal.


Aku juga sudah berhasil membayar hutang-hutangku kepada ibu, meski ibu bersikeras menolaknya.


Rencanaku selanjutnya adalah membeli sebuah ruko. Kios ini sudah terlalu sempit dan hampir tidak muat jika dijadikan sebagai toko sekaligus gudang.


"Mbak ... Pesanan batik premium keluarga Bu Lurah sudah siap."


"Oke ... Nanti aku antar sekalian pulang," jawabku sambil fokus dengan gawaiku. "Pesanan kita dari konveksi A sudah datang?"


"Belum mbak ... mungkin besok."


"Kok ngaret ya ... " gumamku menengok kalender dinding. "Harusnya sudah sampai."


Dan tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba mertuaku muncul di depanku. Aku sendiri kaget melihatnya. Apa yang diinginkan mertuaku di sini?


"Ibu, tumben ibu kemari?" sambutku gelagapan.


Firasat langsung tidak enak begitu melihat ibu mertuaku. Aku yakin dia kemari hanya ingin memarahi aku soal Maya waktu itu. Ini seperti dendam yang belum tuntas.


Mertuaku tidak menjawab. Dia sibuk melihat-lihat sekeliling dan beberapa kali terlihat membolak-balik baju yang aku pajang. Mulutnya terlihat menganga seperti takjub, dan kadang-kadang tersenyum kecil.


"Jadi benar kata orang-orang, menantuku sudah punya toko di sini," jawab mertuaku setelah dia bisa memfokuskan pandangannya kepadaku.


Mendengar jawaban mertuaku, rasa khawatir akan dimarahi yang tadi menyelimutiku langsung menguap berganti menjadi rasa muak.


Sejak kapan dia menyebutku sebagai menantunya? Sejak kapan aku dianggap menantu???


Aku tidak tahu darimana dia mendengar berita tentang aku. Yang jelas aku tidak pernah memberi tahu keluarga Mas Adji tentang usahaku. Aku juga tidak peduli mereka tahu atau tidak.


"Kamu kok nggak ngasih tahu sih Win kalau buka usaha di sini? Ibu kan bisa main-main kalau di rumah kesepian." Mertuaku bersikap sok akrab denganku, yang mana jarang sekali dia lakukan. Biasanya dia memperlakukan aku seperti musuhnya.


"Biasanya ibu sibuk jagain Vino, jadi aku pikir ibu nggak akan punya waktu untuk main kesini," jawabku datar.


"Ada perlu apa ibu kemari? Soalnya tidak biasanya ibu ingin bertemu denganku."

__ADS_1


"Oh ... anu ... Soal Maya waktu itu." Mertuaku mendadak salah tingkah.


"Ibu mau meminta pengertianmu. Ibu harap kamu tidak marah sama Maya. Soal waktu itu tolong maafkan dia. Kamu maklumlah ... Maya kan anak paling kecil, jadi dari dulu sudah biasa dimanjakan kakak-kakaknya."


Lho??? Eh ... Apa-apaan ini?!! Minta pengertian?!! Aku memaafkan Maya?!!


Kenapa sikap mertuaku juga jadi berubah drastis seperti ini? Biasanya dia tidak pernah berbicara pelan dan halus seperti ini kepadaku apalagi menyangkut Maya.


"Kenapa Maya tidak datang dan meminta maaf sendiri Bu? Ibu kan tidak salah?"


Ibu terlihat merubah-rubah posisi duduknya, mungkin tidak menemukan jawaban atas pertanyaanku.


"Maya sudah punya suami dan anak, harusnya bisa bersikap lebih dewasa. Suami Maya kan juga bisa disuruh cari kerja. Aku saja bisa banting tulang buat nyari biaya pengobatan Mas Adji, masa suami Maya nggak bisa?"


Sebenarnya aku menyindir mertuaku. Dia sama sekali tidak mau membantu biaya pengobatan Mas Adji, padahal punya cukup uang.


Mata mertuaku sudah tidak bisa fokus. Dia mulai melirik pakaian-pakaian yang aku gantung di rak. Lalu dia berdiri dan melihat-lihat tanpa menghiraukan aku yang sedang bicara.


"Baju-baju ini bagus-bagus ya Win." Satu kode keluar dari mulut mertuaku. Aku tahu maksud di balik kalimat ini.


"Kalau ibu suka, ibu boleh ambil."


Aku mengangguk malas. Apa yang bisa diharapkan dari orang yang hanya mendekat ketika kita mempunyai uang.


"Ini juga bagus, kayaknya cocok sama kulitku." Mertuaku menunjuk baju lain setelah baju yang tadi sudah berada dalam genggamannya.


"Ambil saja Bu, ambil semua yang ibu suka." Aku bermaksud menyindir ibu mertuaku tapi dia tidak peka.


Dan akhirnya mertuaku berhenti mengobrak-abrik toko setelah dia mendapatkan pakaian yang dia suka.


"Sebaiknya ibu pulang sekarang. Nanti Nggak ada yang jagain Vino kalau Maya mau pergi."


Huuhhh ... !!! Maya lagi, Vino lagi!!! Kenapa nggak nanyain kabar Keisha? Keisha juga cucunya!! Aku geram.


Aku pun mengangguk dan tersenyum terpaksa. Aku meminta Shanti untuk memasukkan baju-baju yang sudah mertuaku pilih ke dalam tas plastik.


Setelah selesai Shanti pun menyerahkannya kepada ibu mertuaku.


"Dia pegawaimu? Bekerja di sini?" Aku mengangguk lagi.

__ADS_1


"Hebat ya, sudah punya pegawai juga!" seru mertuaku terheran-heran. "Mulai sekarang aku akan sering-sering mengunjungimu."


"Nggak perlu Bu, nggak perlu repot-repot. Nanti ibu capek harus naik motor kesini," cegahku.


"Nggak apa-apa, ibu malah senang."


Tentu saja!!!


Dan akhirnya mertuaku meninggalkan toko membawa empat potong pakaian yang tadi sudah dia pilih. Aku bisa bernafas lega setelah kepergiannya.


Belum sempat aku duduk, mertuaku kembali masuk ke dalam kios.


"Win, mobil yang warna merah di depan itu punyamu?"


Aku memang memarkirkan mobilku di seberang jalan, depan kios.


Aku mengangguk.


"Jadi benar kalian sudah punya mobil lagi? Hebat ya ... Adji baru kerja sebentar saja kalian langsung bisa beli mobil?!" ucap mertuaku sambil tersenyum tanpa beban.


Apa?!! Apa mertuaku pikir ini semua dari Mas Adji???


"Ya sudah, ibu pulang dulu. Terimakasih ya ... Lain kali aku ajak Maya kesini."


Aku hendak menjawab "tidak usah" tapi aku terlalu malas bicara dengan mertuaku. Dan untuk kesekian kalinya aku kembali menganggukkan kepalaku.


Akhirnya mertuaku benar-benar pergi dan aku merasa lega.


Aku sangat yakin mertuaku tidak sungguh-sungguh berubah. Setelah sekian lama aku mengenalnya, ibu mertuaku hanya baik saat ingin meminta sesuatu atau aku punya sesuatu. Sangat berbeda dengan ibuku, tidak pernah meminta sesuatu dariku, bahkan kalau bisa dia ingin memberikan semua yang dia miliki untuk anak cucunya.


Aku menduga niat awal mertuaku menemuiku bukanlah untuk meminta maaf soal Maya, tetapi sebaliknya. Entah kenapa aku sudah tidak berpikiran positif tentang mertuaku. Keluarga yang tidak pernah merasa salah, mana mungkin mau minta maaf?


"Mbak Winda pusing lagi?" Shanti mengagetkanku.


Akhir-akhir ini aku memang sering mengeluh pusing kepadanya. Jika dia melihatku diam beberapa saat tanpa melakukan apa-apa, dia pasti langsung bertanya demikian.


"Nggak tau nih Shan, pusingnya datang dan pergi. Cuma pusing ringan sih, di tahan juga bisa."


"Jangan disepelekan, sebaiknya Mbak Winda periksa ke dokter. Apa perlu aku temani?"

__ADS_1


"Iya nanti kalau ada waktu aku akan periksa."


__ADS_2