Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 73


__ADS_3

Aku mendengar suara pintu di tutup. Sepertinya Mas Adji keluar rumah. Aku mengendap-endap untuk melihat apakah Mas Adji benar-benar pergi. Dan benar, Mas Adji tidak ada di ruang tamu.


Aku mengelus dada, lega karena untuk sementara aku aman. Tetapi kemudian aku ingat, tadi tetanggaku yang biasa aku suruh menjaga Kenzie saat aku janjian dengan Haris datang. Mas Adji sempat menanyai dia. Terbongkar sudah semuanya.


Ponselku juga masih dipegang Mas Adji. Bagaimana jika dia menghubungi Haris? Bagaimana ini? Apa Mas Adji sudah membaca pesanku dengan Haris? Apa dia sekarang sedang menemui Haris? Oh ... Habislah aku!!! Mas Adji mungkin akan membunuhku nanti!!!


Aku berlari menuju pintu depan, berharap Mas Adji tidak menguncinya dari luar. Tetapi sudah aku tarik sekuat tenagaku pintu itu tetap tidak terbuka. Lalu aku berlari ke dapur berharap bisa menemukan apa saja untuk mencongkel pintu tetapi tidak ada alat apapun di sana.


Tubuhku terkulai lemas. Aku putus asa. Tidak ada harapan bagiku bisa keluar dari rumah ini. Kalaupun aku berteriak juga percuma. Tidak ada yang mendengar. Buktinya semalam ketika aku berteriak minta tolong tidak ada yang datang untuk menolongku. Ketakutanku membuatku lupa akan luka yang ada di sekujur tubuhku. Aku hampir tidak merasakannya.


Air mataku mulai menetes menyadari apa yang akan menimpaku saat Mas Adji pulang nanti. Mungkin lebih buruk dari yang semalam. Semuanya karena kecerobohan dan keserakahanku. Lama aku menangis di depan pintu, meratapi apa yang telah terjadi kepadaku.


Lalu aku mendengar suara motor Mas Adji berhenti di depan kontrakan. Perasaanku langsung tidak karuan. Baru mendengar suara sepeda motornya saja aku sudah sangat ketakutan, tubuhku gemetar. Kalau aku melihat diriku di cermin, pasti wajahku pucat pasi sekarang.


Aku segera berlari ke dalam kamar. Aku raih tubuh Kenzie lalu aku dekap dia. Mungkin hanya Kenzie yang bisa menyelamatkan aku. Mas Adji tidak mungkin tega menghajar ku jika aku sedang menggendongnya. Bagaimanapun juga Mas Adji pernah sangat menyayangi dia.


"Tolong Mama ya nak ... Selamatkan Mama ... Jika Mama selamat nanti, kita bisa keluar dari rumah ini bersama-sama. Tapi kalau nanti Mama tidak selamat ... Mama minta maaf padamu. Maafkan Mama karena tidak menjadi ibu yang baik untukmu selama ini ... " bisikku di telinga Kenzie.


Air mataku mengalir semakin deras. Aku dekap Kenzie semakin erat. Seperti orang yang mau mati, mungkin ini adalah saat-saat terakhir hidupku.


Hingga aku dengar suara pintu terbuka.


Deg!!!


Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak saat itu juga. Aku diam sambil memeluk Kenzie. Aku menunggu Mas Adji masuk seperti menunggu bom yang siap meledak kapan saja. Tetapi setelah beberapa saat Mas Adji tidak kunjung masuk ke kamar.

__ADS_1


Setengah jam lebih aku mematung sambil memeluk Kenzie, tetapi tidak terjadi apa-apa. Bahkan tidak terdengar suara apapun.


Kenapa Mas Adji tidak menemuiku? Apakah dia sudah tidak marah? Apakah dia sudah memaafkan aku?


Aku penasaran apa yang sedang dia lakukan. Aku letakkan Kenzie di tempat tidurnya lalu aku berjalan mengendap-endap. Aku mengintip lewat pintu. Ternyata Mas Adji tertidur di sofa. Betapa aku lega melihatnya. Aku aman, untuk sementara.


Aku bisa melihat ada bekas memar di wajah Mas Adji. Dan membuatku kembali bertanya-tanya, dengan siapa dia berkelahi. Apa mungkin Haris? Apa tadi dia pergi untuk menemuinya?


Sudah beberapa jam aku menunggu di dalam kamar tetapi Mas Adji belum juga bangun. Ini bahkan sudah hampir malam. Aku sudah sangat lapar karena hanya makan tadi pagi.


Muncul keberanian dalam hatiku. Mungkin aku bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat rasa marah mas Adji berkurang. Buktinya tadi pagi dia tidak memukuli aku lagi karena aku sudah membereskan barang-barang yang dia hancurkan.


Ya, aku harus berusaha mengambil hati Mas Adji, kalaupun dia tidak memaafkan aku setidaknya dia tidak memukuli aku lagi.


Selesai semuanya aku kembali mengurung diri di dalam kamar.


Menunggu keajaiban datang, Mas Adji memaafkan aku dan melupakan semuanya. Aku akan terus berusaha untuk mengambil hati Mas Adji.


...****************...


Adji POV


Aku pulang ke rumah setelah memberi pelajaran kepada Haris. Tidak aku sangka suami dari sahabat istriku lah yang telah menghamili Eva. Tetapi dia diam saja dan membuatku harus bertanggung jawab. Sementara Eva, dari awal dia tahu anak itu bukan anakku, kenapa dia tetap memintaku untuk bertanggung jawab?


Benar-benar keterlaluan, aku sudah dibodohi oleh mereka berdua. Berapa uang yang sudah aku keluarkan untuk membiayai Eva selama dia hamil sampai melahirkan? Berapa banyak waktu yang sudah aku buang untuk merawat Kenzie? Setiap tengah malam aku bangun untuk membuat susu atau mengganti popoknya, sementara Eva tertidur lelap.

__ADS_1


Aku sudah sangat menyayangi anak itu. Tetapi sekarang rasanya aku tidak sanggup untuk melihat wajahnya. Melihat dari kejauhan saja sudah membuatku teringat kebodohanku.


Bagaimana bisa selama ini aku percaya jika dia adalah anakku? Bagaimana mungkin aku memutuskan untuk mempertahankan rumah tanggaku dengan Eva hanya karena anak itu?


****** itu sudah memanfaatkan aku!!!


Dan semua ini lantas mengingatkan aku pada Winda, semua perbuatanku kepadanya selama ini. Apakah seperti ini rasanya dibohongi, dikhianati? Apakah seperti ini rasanya sudah mengorbankan segalanya tetapi ternyata pengorbananku sia-sia? Apakah ini karma?


Ku parkirkan motorku di halaman. Setelah bertemu Haris tadi rasa marahku kepada Eva semakin memuncak. Tetapi sampai di rumah aku sudah tidak ada tenaga. Aku kurang tidur, semalam aku sudah menghajar Eva dan sekarang aku habis berkelahi dengan Haris. Tenagaku sudah habis, badanku terasa lemas.


Dengan langkah lunglai aku masuk ke dalam rumah. Setelah itu aku kunci lagi dan kuncinya aku masukkan ke dalam saku celanaku. Aku tidak ingin Eva melarikan diri.


Beruntung sampai di dalam aku tidak melihat Eva. Kalau sampai aku melihatnya, mungkin aku tidak akan bisa menahan diri lagi. Aku langsung merebahkan diri di sofa. Kepalaku terasa berat dan setelah itu aku tidak tahu apa-apa lagi.


Aku terbangun karena merasakan dingin di wajahku. Begitu membuka mata aku melihat Eva di depanku. Tangannya sedang menyentuh pipiku.


Langsung saja aku dorong dia menjauh dariku.


"Mau apa kamu?!!"


"Aku ... Aku hanya ingin mengompres lukamu Mas," jawabnya ketakutan.


"Tidak perlu!!!" Aku tatap Eva dengan tatapan penuh kebencian. Wajahnya sendiri penuh luka memar tetapi dia ingin mengompres lukaku.


Aku terus menatap Eva. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa aku dibohongi habis-habisan oleh perempuan seperti ini, perempuan yang bahkan tidak ada seujung kukunya jika dibandingkan Winda.

__ADS_1


__ADS_2