Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 51


__ADS_3

Aku mengantarkan ASI untuk bayiku yang masih di rawat di rumah sakit. Aku tidak bisa menyentuh bayiku dengan leluasa karena dia ditempatkan di ruangan khusus.


Kutatap bayi mungil yang sekarang terbaring di dalam box incubator. Air mataku menetes tak tertahan. Aku tidak tega melihat tubuhnya dipenuhi selang penunjang kehidupannya. Aku bahkan tidak berani menggendongnya melihat betapa rapuhnya dia.


Jika saja aku tidak menemukan Mas Adji waktu itu, jika saja Eva tidak datang hari itu, jika saja aku bisa mengontrol emosiku dan jika ... jika ...


Tiba-tiba sesal muncul dan memenuhi pikiranku. Semua kejadian itu yang membuat kondisi kesehatanku memburuk dan menyebabkan aku harus melahirkan sebelum waktunya.


Air mataku mengalir semakin deras. Rasanya aku tidak sanggup untuk melihat bayiku lebih lama lagi. Aku berlari ke toilet untuk membasuh wajahku, menyembunyikan tangisku dari dunia. Toilet dan kamar mandi menjadi sahabatku akhir-akhir ini. Ini bukanlah kehidupan yang dulu aku bayangkan.


Setiap melihat bayiku, rasa sesak langsung memenuhi dadaku. Bayi yang tanpa dosa tetapi harus ikut menderita.


Kadang air mataku menetes dengan sendirinya tanpa bisa aku tahan. Bagaimanapun aku bersikap tegar tetap saja rasanya menyakitkan. Aku sudah berusaha menerima kenyataan tetapi ternyata aku tidak sekuat itu.


Setelah melihat kondisi anakku walaupun hanya sesaat, aku memutuskan untuk ke kios. Aku harus menyibukkan diri agar tidak terus-menerus teringat Mas Adji dan Eva, sumber malapetaka di hidupku.


Bukan yang pertama kalinya Mas Adji berbuat seperti ini kepadaku, harusnya aku sudah mulai kebal dengan rasa sakit. Tetapi bukan kebal yang aku dapatkan, justru luka yang semakin menganga tak tertahan.


Aku teringat bagaimana dulu aku melahirkan Keisha. Dan sekarang aku melahirkan anak keduaku juga sendirian, bahkan dengan situasi yang lebih buruk. Sungguh batinku porak poranda dibuatnya.


Mungkin aku terlihat tegar di depan orang, tetapi aku tidak bisa berhenti menangis saat aku sendirian. Aku pikir sakitnya Mas Adji dan hidup dalam kekurangan yang waktu itu aku alami adalah titik terendah dalam hidupku, ternyata aku salah. Ujian datang tanpa kita tahu kapan dan seperti apa wujudnya.


Sesampainya di kios Shanti langsung menyambutku dengan suka cita. Sudah lama sekali aku absen dari kios, bahkan aku belum pernah bertemu dengan karyawan baruku. Biasanya kami hanya berkomunikasi melalui telepon, kalau memang ada sesuatu yang sangat mendesak Shanti yang datang ke rumah.


"Mbak Winda apa sudah mau bekerja?"


Aku mengangguk.


"Terus baby nya bagaimana?"


"Masih belum boleh keluar dari Rumah sakit. Aku juga kalau tetep di rumah sakit nggak ada gunanya. Kan cuma jam tertentu saja aku bisa lihat bayiku. Jadi lebih baik aku di sini bersama kalian. Nanti kalau waktunya ngasih ASI baru aku ke rumah sakit."


Shanti hanya manggut-manggut mendengar penjelasanku.

__ADS_1


"Mbak Winda yang sabar ya ... " Shanti menatapku penuh simpati.


Tentu saja dia tahu yang terjadi kepadaku tanpa aku bercerita. Bahkan seluruh orang di desaku tahu cerita rumah tanggaku. Biarkan saja, aku sudah tidak ingin menutupinya seperti dulu, malah aku sendiri yang rugi.


Aku hanya mengangguk. "Apa ada masalah selama aku di rumah sakit?"


"Nggak ada Mbak, semuanya beres."


Shanti lalu menjelaskan apa saja yang telah aku lewatkan selama aku tidak ada. Dia tampak menguasai pekerjaannya. Dia berhasil menjalankan toko offline maupun online dengan baik. Tidak salah aku memilihnya menjadi orang kepercayaanku.


"Nggak ada masalah pengiriman juga kan?"


"Aman Mbak ... "


"Win ... Kamu tidak bisa mengambil keputusan sepihak seperti ini. Aku tidak akan menceraikan kamu sampai kapanpun!"


Aku langsung menoleh mendengar suara Mas Adji. Dia terlihat membawa selembar kertas yang hendak dia sodorkan padaku.


Tanpa aku beri tahu, Shanti langsung mengajak dua rekannya untuk keluar beristirahat. Dia tahu apa yang harus dilakukan.


"Apa kamu tidak ingin menanyakan kabarku dulu Mas?"


Mas Adji sepertinya tidak mengerti yang aku maksudkan. Mungkin dia terbawa emosi sampai tidak sadar jika perutku sudah kembali rata.


"Aku sudah melahirkan. Apa kamu tidak ingin tahu?" sindirku.


Barulah Mas Adji menurunkan pandangannya dan menyadarinya.


"Winda ... Sayang ... Kapan kamu melahirkan? Bukankah belum waktunya? Bagaimana keadaan anak kita? Dimana dia sekarang?" Dalam sekejap ekspresi wajah Mas Adji berubah. Tadi dia terlihat begitu menggebu sekarang berubah seperti panik dan khawatir.


Aku tidak menjawab pertanyaan-pertanyaanya.


"Kenapa kamu tidak memberi tahu aku?"

__ADS_1


"Aku takut kamu sedang sibuk dengan calon istrimu. Dia juga sedang mengandung anakmu, benarkan?"


"Win ... Itu ... Aku yakin itu bukan anakku. Tidak usah bicarakan itu. Sekarang katakan dimana anak kita? Apa dia baik-baik saja?"


Aku tidak ingin menjawab pertanyaannya. Aku merasa tidak ikhlas jika dia melihat anakku meskipun dia ayahnya.


"Apa kamu akan menikahinya?"


"Win ... Sudahlah ... Tolong katakan dimana anak kita. Apakah dia baik-baik saja? Aku ingin melihatnya."


"Apa pedulimu Mas? Apa pedulimu jika dia prematur? Apa pedulimu jika dia cacat? Apa pedulimu jika nanti dia tidak normal? Apa pedulimu?!! Apa yang kamu pedulikan selain dirimu sendiri ... hah?!!" Aku sudah meninggikan suaraku.


"Sayang ... Jangan bicara seperti itu. Dia anakku tentu aku peduli. Kalian hidupku." Mas Adji berjalan mendekatiku.


"Aku tidak akan mengijinkan kamu melihatnya!!! Karena perbuatanmu dia harus menderita. Dia tidak lahir sebagaimana mestinya. Semua karena kamu Mas!!!" Aku mulai berteriak untuk melampiaskan kemarahanku kepada Mas Adji.


"Apa kurangnya aku untukmu? Apa pengorbananku untukmu selama ini tidak ada artinya? Kamu mengharapkan istri yang bagaimana? Istri yang seperti apa jika seperti aku tidak cukup?!!"


Aku biarkan dia meraih tanganku. Dia cium tanganku berkali-kali kemudian memelukku. Aku biarkan dia melakukan itu semua karena mungkin ini yang terakhir kalinya.


"Sebentar lagi kamu mungkin akan menerima surat panggilan dari pengadilan agama. Jadi tidak usah berusaha untuk memohon padaku. Mau kamu meminta maaf sampai ribuan kali, kamu bersimpuh di kakiku atau bahkan mencium kakiku, itu semua tidak akan mengubah keputusanku. Kita akan tetap bercerai!"


Aku melepaskan pelukan Mas Adji.


"Pergilah ... "


"Tidak sayang ... Kita tidak akan berpisah. Kamu lihat ini?" Mas Adji menunjukkan kertas yang tadi dia bawa.


"Surat panggilan ini tidak ada artinya untukku. Aku akan tetap mempertahankan rumah tangga kita!" Mas Adji menyobek kertas itu di depanku lalu pergi.


Aku terkulai lemas dan menangis sesenggukan setelah kepergian Mas Adji. Bukan menangisi kepergiannya, tetapi menangisi sikapnya.


Kenapa dia sangat egois? Dia yang melakukan kesalahan, dia yang berkhianat tetapi kenapa dia sendiri yang tidak mau berpisah? Kalau dia tidak ingin berpisah lalu kenapa dia berkhianat?

__ADS_1


__ADS_2