
Adji POV
Aku sedang mengemasi barang-barangku. Besok pagi aku akan kembali ke kota tempat aku lahir dan besar, tempat dimana aku memiliki kenangan yang tak ternilai harganya. Aku sudah tidak sabar lagi untuk pulang.
Aku memulai semuanya di tempat ini dari nol. Kinerjaku yang menurun akibat masalah dengan Eva yang waktu itu membuat perusahaan mengevaluasi hasil kerjaku. Beruntung perusahaan tidak memecatku, hanya memutasi aku ke luar kota.
Tinggal jauh dari keluarga membuatku sadar artinya keluarga. Aku benar-benar sendirian di tempat ini. Aku sengaja menutup diriku dari pergaulan. Aku tidak keluar bersama rekan-rekan kerjaku sepulang dari acara kantor agar tidak kembali terjerumus ke pergaulan yang salah seperti dulu.
Dan keputusanku untuk menutup diri ini membuatku bisa fokus ke pekerjaanku. Yang aku lakukan hanya kerja dan kerja. Dan karena itu juga di tahun ke tiga aku tinggal di kota, ini aku sudah menjabat sebagai regional manajer. Artinya, aku yang bertanggungjawab penuh atas kinerja perusahaan di kota ini. Tentu saja gajiku lumayan.
Aku tidak pernah pergi ke tempat-tempat hiburan malam, apalagi menyentuh minuman keras. Satu-satunya hiburanku adalah telefon dari anak-anakku. Kalaupun aku sangat bosan dan ingin hiburan aku memilih untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di kota ini. Itu lumayan bisa mengalihkan aku dari stress karena pekerjaan.
Ada beberapa orang wanita yang menyukai ku di sini. Tetapi aku menutup diri mereka karena aku masih berharap Winda akan kembali padaku. Aku tidak akan menyerah dengan harapanku yang satu ini.
Dari percakapanku dengan dua anak gadisku di rumah, aku tahu bahwa mama mereka belum menikah lagi. Jadi aku pikir mungkin Winda memang menungguku kembali.
Aku sengaja tidak memberitahu siapapun mengenai kepulanganku, biar jadi kejutan untuk anak-anakku. Aku sudah tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana reaksi Keisha dan Kirana saat melihatku nanti.
Keisha sangat dekat denganku. Apapun dia ceritakan kepadaku termasuk kegiatannya di sekolah dan juga teman-temannya. Keisha sangat cerewet dan wajahnya sangat mirip dengan Winda, membuatku merasa seperti melihat Winda saat dia melakukan panggilan video dengannya.
Hari berikutnya...
Aku sudah tiba di bandara. Tidak ada siapapun yang menyambut kedatanganku karena memang tidak ada yang tahu. Aku memesan taksi dan meminta sopir untuk mengantarkan aku ke hotel. Ya, aku ingin menginap di hotel untuk beberapa hari ke depan.
Aku sangat merindukan tempat ini, aku merindukan anak-anakku, aku juga merindukan ibuku tetapi entah kenapa aku tidak ingin pulang ke rumah ibu. Aku ingat terkahir kali ibu meminta uang sebagai bayaran selama aku dan Eva tinggal di rumahnya.
Aku tidak marah, aku hanya kecewa. Kenapa aku harus membayar untuk tinggal di rumah ibuku? Toh aku juga sudah memberikan uang bulanan jika ibu ingin membeli sesuatu. Jadi aku pikir kalau sama-sama bayar lebih baik aku menginap di hotel. Selain itu juga ada uang akomodasi dari perusahaan selama aku belum mendapatkan tempat tinggal, harus aku manfaatkan.
Akhirnya aku sampai di hotel tempat aku akan menginap. Aku menghubungi seseorang untuk mengantarkan aku mencari rumah. Aku berencana untuk membeli sebuah rumah, tidak harus mewah. Kecil pun tidak masalah, asal aku punya tempat tinggal sendiri.
Setelah itu aku menelpon anak-anak. Aku ingin menanyakan apa yang mereka inginkan karena aku belum membeli oleh-oleh untuk mereka. Aku memang berencana untuk membelinya di sini agar tidak kerepotan membawa barang-barang saat di bandara.
__ADS_1
"Halo Pa ... " Keisha langsung menjawab teleponku pada dering pertama. Winda sudah memberikan ponsel sendiri sejak memasuki SMP, aku menyetujuinya agar aku bebas menelpon dia tanpa mengganggu Winda.
"Sedang apa gadisnya Papa?" Aku senang sekali memanggilnya gadisku sekarang.
"Baru pulang sekolah Pa ... Papa nggak kerja siang-siang gini telepon Keisha?"
"Papa ambil cuti sayang. Adikmu mana?"
"Adek tidur Pa, kemarin sesak nafasnya kumat. Tadi nggak sekolah." Aku sangat sedih mendengarnya. Sejak bayi memang ada kelainan dengan paru-paru Kirana, karena kelahiran yang prematur. Dan itu kembali mengingatkan aku jika itu semua karena aku. Perbuatanku yang membuat Winda harus melahirkan tidak pada waktunya.
"Sekarang udah baikan?"
"Udah Pa ... Papa mau bicara sama adek?"
"Nggak usah ... Jangan bangunkan adik. Kasihan ... Nanti Keisha fotoin adik lalu kirim ke papa."
Aku bingung bagaimana bertanya pada Keisha apa yang dia inginkan untuk oleh-oleh seandainya aku pulang. Nanti dia bisa curiga kalau aku akan pulang padahal sebenarnya aku sudah pulang.
"Pa ... "
"Kemarin Simbah datang."
"Terus?"
"Simbah minta Keisha bujuk papa agar papa ngirim uang buat Simbah. Memangnya papa nggak pernah ngasih uang ke Simbahnya Papa?"
"Papa kirim juga kok. Papa kirim semuanya. Buat Keisha, adek sama simbah juga."
Berbeda dengan Keisha dan Kirana yang sengaja aku tambah uang jajannya, uang yang aku kirimkan untuk ibu tidak pernah berubah nominalnya dari dulu sampai sekarang, tidak pernah lebih dan tidak kurang.
"Terus simbah tanya apa lagi?"
__ADS_1
"Simbah tanya kapan papa pulang, tapi bukan sama Keisha simbah tanya seperti itu sama mama."
"Terus mama jawab apa?"
"Ya mama jawab nggak tahu. Kan memang kita semua nggak ada yang tahu kapan papa pulang. Papa nggak bilang kapan papa mau pulang."
Inilah kesempatanku untuk bertanya apa oleh-oleh yang diinginkan Keisha.
"Memangnya kalau papa pulang Keisha mau dibelikan oleh-oleh apa?"
"Keisha nggak minta apa-apa Pah ... Papa pulang aja Keisha udah seneng banget."
Jawaban Keisha membuatku sangat terharu.
"Kok nggak pingin apa-apa Kei? Papa pergi lama masa kamu nggak minta dibeliin oleh-oleh?"
"Oleh-olehnya Keisha ya Papa." Anakku ini bisa membuatku tidak bisa berkata-kata. Aku diam tidak membalas kata-katanya yang aku rasa sangat dalam maknanya.
"Keisha nggak ingin apa-apa. Mama bisa belikan semuanya, uang yang papa kasih juga bisa buat beli apa yang Keisha mau. Keisha cuma ingin papa pulang." Suara Keisha sudah terdengar ingin menangis.
"Kalau adik ... adik ingin apa kira-kira?" Aku mengalihkan pembicaraan ke Kirana. Dia bisa menangis jika terus-terusan membicarakan kapan aku pulang.
"Adik sih baru suka naik sepeda Pa, dia ingin sepeda yang gambar little pony. Tapi mama nggak ngasih karena takut adek kecapekan naik sepeda, nanti sesak nafasnya bisa kambuh lagi."
"Oh ... gitu ya?"
"Emangnya papa sudah mau pulang?"
"Belum tahu juga sih ... papa cuma tanya aja."
Selesai menelepon Keisha aku segera pergi ke pusat perbelanjaan di dekat hotel untuk membelikan oleh-oleh untuk Keisha dan Kirana. Aku jadi bingung mau membelikan apa untuk mereka.
__ADS_1
Akhirnya aku membelikan Keisha merchandise dari grup musik korea kesukaannya, dan juga coklat merk X, makanan favoritnya.
Sedangkan Kirana aku hanya membelikan dia boneka. Mau aku belikan coklat juga seperti Keisha tetapi dia tidak boleh makan coklat. Jadi aku pikir nanti kalau dia sudah sembuh aku akan membawanya ke toko sepeda dan membelikan dia sepeda yang dia inginkan. Tetapi aku harus meminta ijin dari Winda terlebih dahulu. Aku tidak mau melanggar aturan yang sudah Winda buat karena itu pasti demi kebaikan anak-anak kami.