Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 66


__ADS_3

Semua barang-barang dari kios sudah aku pindahkan ke ruko. Aku sudah resmi berjualan di ruko. Tokoku semakin besar dan terlihat semakin ramai pengunjung. Belum lagi banyaknya orderan online yang masuk. Aku yakin aku bisa melunasi hutangku pada Indra dalam waktu yang tidak begitu lama.


Likha memberi tahu aku jika aku kembali menjadi buah bibir di desaku karena kesuksesanku. Mereka membicarakan aku yang semakin sukses setelah berpisah dari Mas Adji, tidak sedikit juga yang menganggap aku menggunakan pesugihan atau penglarisan agar daganganku laku. Tetapi aku hanya menanggapinya dengan tawa. Aku sadar aku tinggal di desa, apa saja bisa menjadi sumber pembicaraan, entah itu baik maupun buruk


Orang-orang itu tidak tahu perjuanganku, mereka hanya melihat aku dari luarnya.


"Shanti, aku pulang dulu. Nanti kalau ada waktu aku kemari lagi. Kalau tidak ya aku pasrahkan toko padamu."


"Oke mbak... "


Aku bergegas pulang. Ini sudah hampir jam lima sore. Aku ingat, malam ini Indra akan datang ke rumah. Aku ingin memberikan Indra kesempatan, jadi aku ingin dia mengenal anak-anakku.


Aku bukan lagi wanita single seperti yang dulu dia kenal. Aku sudah memiliki dua anak, apakah nanti dia bisa menerima kondisiku seperti ini?


Aku sudah bersiap-siap. Aku sapukan make up tipis di wajahku. Hatiku berdebar seperti rasanya seperti mau kencan pertama layaknya anak muda.


Sadar diri Win, kamu sudah tua! ucapku dalam hati.


Tetapi memang aku berdebar, cemas dan khawatir. Aku takut anak-anakku akan menolak kehadiran Indra atau malah sebaliknya, Indra yang tidak bisa menerima anak-anakku. Rasa takut itu tentu saja ada.


Aku pandangi kedua anakku yang tengah sibuk dengan mainannya masing-masing. Apakah mencari pasangan baru adalah langkah yang tepat untukku?


Hingga akhirnya aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Aku tinggalkan Kirana yang sudah mulai bisa duduk sendiri untuk membukakan pintu. Aku merasa seperti anak gadis yang sedang diapeli pacarnya.


"Hai ... " sapaku begitu melihat Indra keluar dari mobil.


"Hai ... " jawabnya sambil melemparkan senyum.


"Silahkan masuk ... "


Indra melangkahkan kakinya memasuki ruang tamu, dimana kedua anakku yang tengah asyik bermain.


Keisha langsung menoleh begitu melihat aku masuk bersama seorang laki-laki. Tatapannya seperti tidak suka melihat Indra.


"Kei ... Sini kenalan sama teman Mama." Keisha mengikuti kata-kataku dan langsung mendekat.


"Ini namanya Om Indra, ayo salim sama Om Indra." Keisha kembali menurut. Aku masih belum bisa mengartikan tatapan Keisha ke Indra, apakah dia menyukainya atau tidak.


Indra berjongkok agar bisa menyamakan tingginya dengan Keisha.


"Siapa namanya cantik?"


"Keisha Om ... " jawab Keisha dengan ragu.


"Sebentar ... Om lupa. Tadi Om bawa sesuatu buat Keisha." Indra berlari keluar mengambil sesuatu di mobilnya. Setelah beberapa menit dia kembali sambil membawa bingkisan di tangannya.


"Ini ... " Indra menyerahkan bingkisan ke tangan Keisha. "Om tidak tahu Keisha sukanya apa, jadi Om bawain ini."

__ADS_1


"Boleh dibuka Ma?" Keisha menoleh ke arahku setelah menerima bingkisan itu.


Aku mengangguk. "Buka saja."


Mulut Keisha menganga tidak percaya setelah melihat isi bingkisan dari Indra. Matanya membulat sempurna.


"Terima kasih Om ... "


"Kamu suka?"


Keisha mengangguk mantap. Tanpa berkata apa-apa lagi dia langsung berlari ke kamarnya.


"Kei ... Kok langsung pergi?"


"Keisha mau mewarnai Ma ... " teriaknya dari dalam kamar.


Aku meraih Kirana dalam pangkuanku lalu kami duduk bertiga.


"Darimana kamu tahu Keisha suka mewarnai?"


Aku tidak tahu bagaimana Indra bisa punya ide membawakan Keisha satu set krayon. Meskipun Keisha sudah memiliki berbagai macam pensil warna, nyatanya dia tetap kegirangan ketika mendapat pensil warna baru.


"Aku punya keponakan seusianya, dan dia sangat suka mewarnai. Jadi aku pikir Keisha pasti juga akan suka."


"Anak-anakmu cantik-cantik Win, mirip sama kamu."


"Beneran kok ... Kamu udah punya dua anak aja masih seperti gadis."


Aku melihat Kirana yang mulai terlelap dalam pangkuanku setelah mendengar Indra menyebutkan dua anak.


"Ndra ... " Aku sedikit ragu untuk menanyakan ini kepada Indra.


"Setelah melihat kondisiku, apa kamu masih ingin menjalin hubungan denganku?"


"Apa masalahnya?"


"Masalahnya aku janda, dan punya dua anak. Apa nanti kata orang? Kamu bisa nyari yang lebih baik dari aku. Yang masih single, atau paling tidak yang belum punya anak?"


"Aku tidak peduli kata orang." Indra diam sejenak seperti memikirkan kata-kata yang ingin dia ucapkan.


"Sama seperti kamu, aku juga pernah kecewa Win. Aku tahu bagaimana rasanya. Saat melihat kamu, aku merasa seperti sedang melihat diriku sendiri. Aku merasa seperti terpanggil untuk melindungimu."


Tiba-tiba pembicaraan kami menjadi serius.


"Aku tidak tahu apa yang sudah kamu alami. Kamu terlihat baik-baik saja, tetapi aku sebenarnya kamu memendam luka. Aku seperti ingin menyembuhkan kamu Win, atau mungkin kita bisa saling menyembuhkan."


Aku belum menceritakan bagaimana rumah tanggaku kandas dan apa alasannya. Tetapi Indra seperti sudah mengetahui semuanya tanpa aku bercerita.

__ADS_1


Kata-kata Indra benar-benar membuatku tersentuh.


Indra memang belum menceritakan kisah hidupnya tetapi aku sudah mendengar semuanya dari Likha. Jadi aku tahu maksud dari kata-katanya jika kami bisa saling menyembuhkan.


...****************...


Akhir pekan, toko sedang ramai ramainya. Aku sedang mencatat barang-barang yang harus dikirim hari ini karena hari Minggu tidak melakukan pengiriman.


Tiba-tiba Shanti masuk.


"Mbak ... Ada mantan mertua mbak Winda di depan."


"Dia mencariku?"


Sekarang aku punya ruangan sendiri, jadi tidak sembarang orang bisa bertemu. Berbeda dengan di kios dulu, semuanya campur jadi satu dalam satu ruangan.


"Nggak tahu, cuma ngasih tahu Mbak Winda aja. Siapa tahu Mbak Winda ingin menyapa."


Shanti kembali menghilang dari pandanganku. Aku jadi bertanya-tanya ada keperluan apa mertuaku kemari.


Akhirnya aku memutuskan keluar untuk menemui mertuaku, mantan mertuaku.


"Bu ... Tumben kemari?"


Mertuaku tampak terkejut melihatku.


"Winda ... ? Kamu ngapain di sini ... ? Belanja juga?"


Rupanya mertuaku tidak tahu jika toko ini adalah milikku.


"Loh ... Ya jelas aku di sini Bu. Ini kan tokoku."


"Masa???" sahut mertuaku tidak percaya.


"Iya ... Ini tokoku. Aku sudah pindah kesini sekitar seminggu."


"Oh ... Begitu rupanya." Raut wajah mertuaku berubah.


"Tokomu semakin besar ya Win .... koleksi pakaiannya juga bertambah banyak dan bagus-bagus." Mertuaku langsung bersikap ramah kepadaku.


"Yang ini bagus ya Win ... " Mertuaku membawa satu pakaian dan menunjukkannya kepadaku.


"Itu harganya seratus lima puluh."


Mertuaku tampak kecewa mendengar jawabanku. Aku tahu dia berharap aku memberikan pakaian itu secara cuma-cuma kepadanya, seperti dulu ketika akau masih menjadi menantunya. Tetapi sekarang aku bukan siapa-siapanya.


"Apa aku harus bayar?"

__ADS_1


"Kalau aku masih istrinya Mas Adji mungkin aku akan membiarkan ibu mengambil yang manapun yang ibu suka. Tetapi maaf, aku sudah bukan menantu ibu lagi. Dan aku di sini berjualan, bukan bersedekah. Kalau ibu menginginkan baju itu, ibu bisa minta menantu ibu untuk membelikannya."


__ADS_2