Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 74


__ADS_3

Winda


Sejak perempuan itu melahirkan Mas Adji jadi tidak pernah menemui anak-anak. Uang bulanan pun tidak dia kirimkan. Tetapi justru mantan mertuaku yang rutin mengunjungi anak-anakku.


Terkadang dia juga membawakan oleh-oleh untuk mereka, itu adalah hal yang sangat aneh karena tidak biasanya dia mau mengeluarkan uang untuk orang lain. Entah ada maksud apa di balik semua ini aku tidak tahu. Apa iya dia berharap aku kembali dengan Mas Adji?


Hari ini aku tidak punya banyak pekerjaan, jadi aku ingin menghabiskan siang bersama Likha. Mumpung dia juga sedang libur kerja. Aku meminta Likha untuk bermain ke tokoku tetapi dia tidak bisa. Jadi aku yang akan mengunjungi dia di rumahnya.


Rumah Likha tampak sepi, tetapi aku yakin dia di rumah. Aku ketuk pintu rumah Likha. Tidak berapa lama di muncul di depan pintu. Dia agak terkejut melihatku karena sebelumnya aku tidak memberitahu dia kalau aku akan datang.


"Ayo masuk ... " Aku langsung melangkahkan kakiku memasuki rumah Likha.


Sudah lama sekali aku tidak masuk ke rumah ini. Terakhir kesini saat aku ingin meminta tolong dicarikan pekerjaan kepada Likha dan berakhir dengan kekecewaan.


"Kenapa? Kesepian? Minta Pak Indra menemani kamu," ucap Likha setelah kami sama-sama duduk di ruang tamu.


"Jangan ngaco!"


Kemudian kami berdua diam untuk waktu beberapa saat. Tumben Likha tidak banyak bicara seperti biasanya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanyaku.


"Kenapa memangnya?"


"Kamu diam, tidak seperti biasanya. Kamu tidak ingin melaporkan berita terbaru di desa kita kepadaku?"


Likha menarik nafas dalam-dalam.


"Satu-satunya berita terbaru adalah tentang aku. Aku yakin kamu tidak tahu karena kamu sekarang mirip manusia gua. Tidak pernah keluar rumah," gerutunya.


"Memangnya ada apa denganmu? Aku ketinggalan berita apa?"


"Beberapa hari yang lalu suamiku pulang dengan wajah babak belur. Aku tidak tahu dia berkelahi dengan siapa, yang jelas dia habis di hajar orang."


"Benarkah? Lalu dimana dia sekarang?"


"Itu ... Ada di dalam kamar," jawab Likha santai.


"Ups ....!!!" Aku langsung menutup mulutku. "Apa dia mendengar kita sedang membicarakannya?"

__ADS_1


"Nggak ... Dia sedang tidur. Nggak bakalan dengar. Kalaupun dengar juga nggak apa-apa. Memang kenyataannya begitu."


"Kapan kejadiannya?" Aku mulai memelankan suaraku.


"Sudah beberapa hari yang lalu. Mungkin sekitar seminggu. Aku sampai kasihan melihatnya Win. Dia tidak mau mengaku siapa yang sudah melakukan itu padanya. Mau aku laporkan ke pihak berwajib juga dia tidak mengijinkan. Aku jadi bingung sendiri."


"Memangnya separah itu?" Aku hampir tidak percaya kata-kata Likha.


"Kalau kamu lihat sendiri juga kamu tidak akan tega. Wajahnya sampai tidak berwujud. Sampai sekarang juga belum hilang itu bekas memar-memar di wajahnya. Kalau aku bawa ke rumah sakit dia pasti dapat jahitan. Tetapi dia tidak mau!"


"Terus?"


"Ya terus aku obati sendiri di rumah. Mau bagaimana lagi? Dia tidak mau di bawa ke dokter, bukan salahku."


"Sampai sekarang suamimu masih belum mau mengaku siapa yang sudah melakukan itu padanya?!"


Likha menggeleng.


"Apa masalahnya???" Aku malah gemas sendiri mendengar berita ini.


Kenapa orang yang sudah di hajar sampai babak belur tidak mau di bawa ke rumah sakit untuk diobati, tidak mau di bawa ke pihak berwajib agar pelakunya bisa di hukum malah berusaha menyembunyikannya. Ada rahasia apa di baliknya?


"Gimana menyelidikinya? Suamiku tidak mau menjawab jika aku tanya masalah luka-luka di tubuhnya. Dia malah memohon-mohon padaku agar aku mau memaafkan dia, agar kami kembali membangun rumah tangga kami seperti sebelumnya. Aneh kan?"


"Terus sekarang kamu maafkan dia?"


"Ya terpaksa ... Dia mohon-mohon waktu kondisinya mengenaskan seperti itu, aku kan jadi nggak tega Win. Memang aku masih marah dan dendam dengan perbuatannya, tetapi aku juga pernah mencintai dia. Kami sudah bertahun-tahun hidup bersama. Apalagi anakku nangis terus melihat ayahnya luka parah seperti itu. Mana tega aku?"


"Ya ... Aku tahu rasanya."


Aku tahu persis apa yang dirasakan Likha. Apa yang dia rasakan sekarang juga pernah aku rasakan dulu, waktu masih bersama Mas Adji.


"Bagaimana mantan suamimu? Apa dia masih mengganggumu?"


"Sepertinya dia sudah hidup bahagia bersama istri barunya. Dia sudah tidak pernah mengunjungi anak-anakku. Dia juga tidak memberikan uang bulanan untuk mereka."


"Hebat banget perempuan itu sampai bisa membuat Adji lupa sama anak-anak kalian."


"Aku tidak masalah dengan uang yang tidak dia berikan, aku hanya kasihan jika Keisha menanyakan papanya. Kalau si kecil sih tidak begitu kenal papanya. Tapi Keisha? Dulu aku bisa membohongi dia dengan mengatakan papanya sedang ke luar kota."

__ADS_1


"Sekarang Keisha sudah besar. Dia sudah mengerti aku dan papanya sudah berpisah dan sekarang papanya menikah lagi. Dia sudah mulai berpikir jika papanya sudah tidak menyayanginya lagi."


"Kamu kan tinggal mengantarkan dia ke rumah Papanya kalau dia kangen Win, gampang kan?"


"Itu sih kalau Keisha yang kangen. Kalau sudah aku antar tetapi mereka tidak suka Keisha datang kesana bagaimana? Mereka sekarang sudah punya anak. Aku takut kehadiran Keisha tidak diinginkan di sana. Aku jadi serba salah."


Saat kami tengah asyik membicarakan kehidupan kami masing-masing, tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk.


"Siapa lagi yang datang." Likha berdiri untuk membukakan pintu sementara aku diam di tempatku duduk.


Tidak berapa lama aku mendengar suara Likha ribut dengan seseorang. Aku langsung keluar untuk melihat ada apa.


"Untuk apa kamu ingin bertemu suamiku hah? Kamu sudah punya suami, jangan kegatelan masih ingin menggangu suami orang!"


Aku menarik tangan Likha tanpa melihat siapa orang yang sedang dia marahi.


"Jangan ribut di depan pintu! Suruh dia masuk, bicarakan baik-baik. Nanti tetangga-tetanggamu dengar, bisa jadi omongan orang!"


"Tapi aku ada perlu dengan suamimu. Tolong panggilkan dia."


Aku menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya aku melihat Eva berdiri di depan pintu. Dia menggendong anaknya yang masih bayi. Samar-samar akun juga melihat bekas memar di wajahnya. Penampilan Eva sangat berantakan.


"Ayo masuk ... " Aku segera mengajak Eva masuk meski ini bukan rumahku.


"Win ... Apa-apaan sih?" Likha tidak terima.


"Kalau dia ingin bicara sesuatu sebaiknya dia bicara di dalam agar tetangga-tetanggamu tidak ada yang melihat!"


Aku malah bertindak layaknya aku yang punya rumah di sini. Kalau tadi aku biarkan saja, pasti Likha sudah mencaci maki Eva di depan rumah dan pasti akan menimbulkan keributan.


Jujur aku kasihan melihat Eva. Aku juga perempuan, dan kami sama-sama punya anak kecil. Terlepas dari apa yang telah dia lakukan kepadaku, aku kasihan kepadanya karena sama-sama seorang ibu.


"Katakan ada perlu apa kamu ingin bertemu suamiku?!" tanya Likha ketus.


"Aku ingin bicara dengannya? Apa aku bisa bertemu dengannya?"


"Iya, aku tahu kamu ingin bertemu dengan suamiku, tapi ada perlu apa kamu bertemu dengannya?!! Itu yang aku tanyakan!!!" Likha sudah kehilangan kesabaran.


"Aku ... Aku ingin meminta pertanggungjawaban nya."

__ADS_1


__ADS_2