
Aku menerima gaji pertamaku. Yang pertama aku lakukan dengan gajiku adalah melanjutkan terapi untuk Mas Adji, pokoknya Mas Adji harus segera sembuh, titik. Setelah itu baru biaya sekolah Keisha, sisanya untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Dan ternyata hanya sampai di situ, gajiku sudah habis.
Aku sudah tidak berani untuk meminjam uang kepada ibu. Selain karena hutangku kepada ibu sudah cukup banyak, ibu juga sudah menanggung uang saku Keisha. Aku merasa sangat tidak tahu diri jika masih meminjam uang kepada ibu.
Tidak apa, yang penting stok sembako aman untuk sebulan ke depan.
Pagi ini aku akan berangkat kerja. Aku sudah berusaha menyalakan motorku tapi tidak berhasil dan aku tahu sebabnya, tidak ada bahan bakar. Aku masuk kembali ke dalam rumah untuk menaruh kunci motor.
"Ada yang ketinggalan?" Suara Mas Adji mengagetkanku.
"Oh ... Aku mau menaruh kunci motor. Aku akan naik sepeda saja."
"Tumben?"
Aku tidak menjawab, jika aku jawab aku sudah tidak punya uang untuk membeli bahan bakar mungkin Mas Adji tidak tidak akan mau pergi terapi lagi.
Lalu aku mengeluarkan sepeda yang dulu sering dipakai Mas Adji bersepeda bersama teman-temannya. Sudah lama sekali sepeda ini tidak dipakai, harganya mungkin setara dengan motorku.
Akhirnya aku berangkat naik sepeda. Aku tidak peduli dengan tetangga-tetanggaku yang menatapku dengan tatapan kasihan dan sebagian lagi dengan tatapan mengejek, terserah. Aku tidak malu.
Aku juga masih berjualan online meskipun belum memperlihatkan hasil. Biasanya setelah selesai dengan pekerjaan rumah aku lalu fokus dengan handphoneku untuk mengiklankan daganganku.
...****************...
Waktu cepat sekali berlalu. Aku merasa badanku semakin ringan. Baju-bajuku juga terasa semakin longgar. Aku sendiri kaget ketika menimbang ternyata berat badanku turun hampir tiga belas kilo.
Mungkin karena aku selalu naik sepeda dan aku juga tidak pernah lagi membawa bekal saat kerja. Di rumah pun aku jarang makan. Sehari dua kali sudah cukup, sebelum berangkat kerja dan sepulang kerja. Prinsip hidup hematku sudah mulai mengorbankan diriku sendiri.
Selama jam istirahat aku tahan rasa laparku dengan bermain ponsel dan menawarkan dagangan di dunia maya.
Aku sudah tidak begitu memperhatikan penampilanku jadi aku tidak begitu peduli dengan berat badanku. Yang ada di pikiranku hanyalah uang dan uang, bagaimana caranya agar aku bisa menghasilkan uang.
"Mbak, pesenanku kapan ya datangnya?" Shanti menyambut kedatanganku dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Besok baru datang. Kamu bisa langsung terima besok karena alamat pengirimannya aku alamatkan ke toko."
Shanti menjadi pelanggan setiaku. Terkadang dia memesankan baju untuk teman-temannya.
"Nanti kalau grup senam di kampungku mau beli seragam, aku pesankan di Mbak Winda aja. Nggak perlu diragukan soalnya."
Aku tersenyum mendengar kata-kata Shanti.
"Iya, nanti kalau banyak aku kasih komisi," jawabku
"Biasanya di kampung kan ada banyak grup ibu-ibu tuh, arisan, pengajian, pkk, senam, posyandu banyak kan? Coba aja kamu tawarin."
Shanti balas tersenyum mendengar kata-kataku. Dan kami pun lanjut bekerja sambil ngobrol. Aku tidak menyangka jika Shanti yang terlihat lugu ini mempunyai pemikiran yang luas dan bisa melihat peluang. Dia terbiasa hidup sendiri tanpa pasangan. Kemandiriannya membuatku merubah sudut pandangku terhadap masalah yang sedang aku hadapi.
Aku rasa saat ini Shanti lah yang paling banyak aku ajak bicara. Di rumah aku hanya bicara seperlunya dengan Mas Adji, dengan ibuku pun demikian. Aku terlalu malu dengan ibu.
Ibuku seperti mendengar penderitaan dan kesengsaraan dari setiap kata yang keluar dari mulutku. Jadi lebih baik aku diam. Menatap mata ibuku saja aku tidak berani, takut dia melihat lebih banyak lagi dari mataku.
Ponselku bergetar, ada pesan masuk. Aku melihatnya sekilas, siapa tahu ada orderan masuk. Tetapi ternyata itu pesan dari grup arisanku. Sudah lama sekali aku absen karena sibuk dengan mengurus Mas Adji. Aku abaikan grup arisan yang mendadak ramai.
"Winda, besok malam Minggu bisa datang ya. Arisannya di restoran XX."
Mungkin orang ini sadar jika aku tidak pernah aktif lagi di grup maupun di pertemuan.
"Akan aku usahakan." balasku singkat.
Aku tutup ponselku meski masih terus bergetar. Mereka pasti sedang heboh membicarakan pakaian dan semacamnya untuk arisan nanti. Dulu mungkin aku akan ikut-ikutan heboh seperti mereka. Memikirkan baju apa yang akan aku pakai, tas yang mana, sepatu yang mana.
Bahkan jika bilang aku ke Mas Adji aku tidak punya baju untuk dipakai ke arisan, dia langsung memberiku uang untuk membeli yang baru.
Ponselku terus saja bergetar hingga lama-lama mengganggu konsentrasiku.
Apa aku datang saja ya? Sudah lama aku tidak berkumpul dengan teman-temanku.
__ADS_1
Teman? Aku kembali teringat Likha. Teman yang ternyata membicarakan aku di belakangku. Setelah kejadian waktu itu aku belum pernah bertemu lagi dengannya. Kalau aku datang ke arisan pasti nanti bertemu dengannya.
Ah sudahlah, kenapa pusing memikirkan hal seperti itu. Lagian masih beberapa hari.
Adji POV
Semakin hari aku semakin kasihan melihat Winda. Dia terlihat sangat kelelahan. Aku berusaha sebisaku untuk membantunya dengan mengerjakan pekerjaan rumah sebisaku.
Suatu pagi aku melihat Winda urung menggunakan sepeda motornya untuk kerja. Dia bilang dia ingin naik sepeda tapi aku yakin itu bohong. Semenjak berat badannya naik, dia sangat tidak suka naik sepeda. Aku pikir mungkin sepeda motornya macet karena sudah lama tidak diservis.
Setiap aku melihat Winda sengsara aku lalu melihat kakiku. Semuanya karena aku.
"Kamu sudah makan Adji?" tanya ibu mertuaku. Beliau sedang mengantarkan Keisha pulang.
"Sudah Bu, tadi pagi Winda sudah masak."
"Winda banyak berubah ya ... " Ibu mertuaku memulai bicara serius. Aku tahu ke arah mana pembicaraan ini. Aku diam mendengarkan.
"Sekarang jadi pendiam. Dulu wajahnya sumringah kalau sekarang lebih banyak murung. Dulu kalau sudah mulai bicara nggak ada yang bisa menghentikan. Sekarang, bicara juga kalau ada yang ngajak bicara duluan. Kalau nggak ya diam aja kaya patung."
Aku masih diam. Tidak tahu harus bagaimana merespon mertuaku.
"Mbok ya kalau ada masalah itu cerita, jangan dipendam sendiri. Ibu tahu kalian ini sedang kesulitan keuangan. Kan bisa bilang sama ibu, nanti ibu dan bapakmu bantu. Walaupun ibu tidak punya banyak uang, tapi kalau buat anak cucu pasti ibu usahakan."
Ibu mertuaku sangat baik. Dia memperlakukan aku seperti anak kandungnya, sama seperti memperlakukan Winda.
"Ini semua kan cobaan, namanya hidup ya naik turun. Jangan terlalu dipikirkan. Kalian berdua harus sabar."
"Iya Bu ... "
"Kamu tolong beri tahu Winda untuk sabar ya Adji. Ibu nggak bisa ngomong langsung sama dia. Ibu merasa Winda seperti menghindari ibu. Ibu takut dia stress karena sering diam."
Sekali lagi aku seperti diingatkan jika semuanya karena aku. Jika saja ibu mertuaku tahu jika Winda berubah bukan karena badai keuangan ini, tapi juga karena kelakuanku dulu.
__ADS_1
"Kamu juga Adji, kamu harus semangat untuk sembuh. Jangan menyerah."
"Iya Bu ... "